
Hari demi hari terjalani selama di Desa ini. Desa ini bernama Agrabinta, sebuah desa yang dibangun satu keluarga konglomerat membuka lahan di sebuah hutan untuk bisnis yang memberikan peluang bagi orang-orang menetap serta bekerja kepadanya. Hal ini ku ketahui dari Axel saat perbincangan di kantin.
"Ahhh" aku menghela nafas panjang dengan muka kusut.
"Kamu seperti punya banyak masalah. Kenapa?" Tanya Axel sambil menyeruput cappucino.
"Aku kesal dengan aturan desa ini. Seperti desa maju dengan banyaknya fasilitas lengkap. Tapi jaringan internetnya lemah. Wifi sekolah bisa di akses tapi semua sosial media di Banned. Siapa sih yang bikin peraturan?" Kutempelkan pipi kiri ku ke meja kantin frustasi.
"Tentu saja pendiri desa ini"
"Siapa?"
"Keluarga Agrayaksa-lah" nada Axel sedikit sinis dengan wajah ketidaksukaan.
Aku melihat ada rasa tidak nyaman dari Axel membahas keluarga terkenal itu. Aku berprasangka mungkin saja ada hubungan tidak baik antara keluarganya dengan Keluarga pendiri desa.
"Memangnya kenapa kalau jaringan internet lemah?" Kembali Axel mencoba membujukku.
"Aku mau menghubungi ibuku. Kenapa sudah sebulan ini tidak ada kabar. Aku takut ibu kenapa-kenapa. Aku juga sebenarnya penasaran ayahku kabur kemana dengan selingkuhannya" seketika aku syok kok bisanya keceplosan mengatakan aib keluarga di hadapan orang asing.
"Kalau gitu, aku tau lokasi yang jaringan internetnya bagus. Tapi kita harus jalan agak jauh. Kalau mau aku antar kamu kesana" tawar Axel dengan wajah yang menahan rasa penasaran. Aku rasa dia kasihan padaku dan aku tidak menyukai orang yang menganggap aku menyedihkan. Tapi aku butuh bantuannya kali ini.
"Oke, thanks" jawabku singkat.
Sepanjang sisa pembelajaran fikiranku melayang. Tidak ada satupun yang terasa bisa ku pahami. Berada di kelas bersama anak-anak ambis membuatku kian hari semakin mengecil bahkan kini terasa seperti manusia transparan. Keberadaanku seperti tidak disadari. Ketika bell sekolah Aku merasa seperti diselamatkan dan bebas bernafas.
__ADS_1
"Ayok kita berangkat Ay, jalannya cukup jauh. Atau aku pinjam sepeda temanku" Axel membantu mengemasi bukuku. Padahal dari kelas sebelah, tapi nggak ada segannya dia masuk. "Ay? Lengkaplah manggilnya" sungutku tidak terima.
"Ayfa, ayok berangkat. Oh ya adikmu gimana?" kembali Axel melunak. "Bawa aja".
***
Aku fikir Axel bercanda kalau tempatnya jauh. Ternyata dia serius, lokasi yang jaringannya bagus tentunya adalah dataran tinggi setelah gerbang utama atau lebih tepatnya di depan rumah Agrayaksa. Kami mengendap masuk lewat dinding belakang. Lalu duduk di bawah pohon jambu. Setelah melepas penat, Axel mengambil Kaif dari gendonganku.
"Wah jaringannya bagus. Aku hubungi orang tuaku dulu" dengan sigap aku mengeluarkan Hpku dan mencek sosial media ibu. Sayang sekali pesan terakhir masih centang satu. Aku masih tidak patah semangat, aku mencari teman ibu yang sama TKW di Malaysia.
Ada beberapa teman ibu yang merespon tapi jawabannya sama "ibumu dan kami juga hilang kontak". Hatiku sedikit miris, ingin rasanya merengek tapi aku sudah merasa sendirian. Axel berjalan meninggalkanku ke arah dahan paling rendah bagian belakangku mengambil beberapa buah jambu.
"Kami yakin ini aman? kita nggak lagi buat sesuatu yang dilarang kan? ini juga nggak maling jambu kan ceritanya" ujarku memastikan. "Udah semuanya aman kok. Keluargaku kerja disini" kembali Axel meyakinkanku.
Setelah semua keperluan terselesaikan aku mengajak Axel pulang. Kami kembali ke rumah, walau sebenarnya aku tidak tau persis rumah Axel ada dimana.
***
Makan malam kali ini cukup berbeda, Nenek meminta Pakde Tamir dan keluarga kecilnya juga. Perbincangan tidak lepas dari perkembangan desa, instruksi pendiri, juga akhirnya menyentil tentang bapak. Aku tidak di libatkan dalam perbincangan bukanlah masalah, hanya saja ketika mereka membahas bapak dengan nada yang tidak ramah, hatiku teriris juga. Padahal aku juga belum memaafkan bapak.
"Kamu sudah paham semua aturan khusus desa kan ayfa?" tanya Pakde padaku mengalihkan pembicaraan.
"Selain Aturan tidak ada kendaraan bermotor, memotret desa dan menyebar di sosial media aku tidak tau hal lain pakde" jawabku singkat.
"Disini berlaku aturan tidak boleh melakukan kejahatan apapun bentuknya, seperti mencuri, melukai ataupun membahayakan orang lain. Disini hukumnya hanya 1, yaitu pengusiran keluar desa. Disini juga ada aturan jam malam jadi tidak ada yang boleh berkeliaran setelah jam 9 malam" terang pakde padaku. Aku hanya mengangguk tanpa menyela. Padahal aku juga tidak ada keinginan keluyuran malam, mending tidur di kamar melepas penat atau sekedar membaca beberapa novel yang sempat aku selipkan dalam koper.
__ADS_1
"Sekarang Kaif tidur sama kamu aja yah!, nenek lelah dan butuh tidur cukup" ujar nenek menutup makannya dengan menumpuk piring kotor ke wastafel. Aku termangu lama, apa nenek sudah berlepas tangan dengan pengasuhan Kaif? Apa aku harus menjaganya sepenuhnya? Aku kan juga harus mengerjakan tugas sekolah, membereskan rumah, sesekali juga kadang nenek meminta memasak.
Aku membersihkan ruang makan dan membiarkan anak Pakde dan istrinya bermain bersama Kaif. Mereka bercengkrama yang menimbulkan sedikit rasa iri pada hatiku. Perasaan yang cucu kandung disini adalah aku, tapi kehadiranku seperti tidak begitu di harapkan.
Selepas mereka pulang, aku kembali ke kamar. Membersihkan Kaif, mengganti baju dan menidurkannya ke paling sudut dinding dan menghalanginya dengan bantal. setelah semua beres aku melihat jadwal pelajaran besok serta memeriksa apa ada tugas rumah yang harus di kerjakan.
"Sebentar lagi ukuranmu akan membesar Kaif dan kasur kecil ini tidak akan muat untuk kita, apa aku Cek out Tempat Tidur baru yang muat untuk dua orang dan aman bagi bayi yah?. Tapi sayang uangnya. Masak gunain uang hasil kerja ibu buat bayi selingkuhan bapak" perang bathinku berkecamuk. Disatu sisi aku merasa tidak ada kewajiban menjaga anak ini, tapi di sisi lain aku juga kasihan karena dia tidak punya siapa-siapa yang mau mengurusnya.
...***...
Pagi menjelang begitu cepat. Sebelum Kaif bangun dari tidurnya aku cepat-cepat mandi dan bersiap menggunakan seragam sekolah di kamar mandi. Namun aku di kejutkan suara tangisan kenceng
"Huwaaa aa taaa taak" Suara tangisan itu dari Kaif yang telungkup di lantai sisi tempat tidur.
"Ya Ampun dek, maafkan kakak" aku langsung melempar handuk di tangan, langsung saja aku menggendongnya dan menimang mencoba menenangkan. Tapi tangisannya tidak berhenti, kepala bagian depannya merah serta ada bekas goresan. Aku langsung nemuin nenek mengadukan hal tersebut. Nenek mengarahkanku untuk cepat pergi ke Puskesmas yang ada di seberang kantor tempat nenek kerja. Namun nenek pergi sebentar mengambil absen kerja dulu baru kembali lagi menemui kami.
Saat berada di ruangan pemeriksaan dan penanganan dokter, aku melongo tak percaya. "Dokter di desa? Dokter anak pula? seberapa kaya desa ini sampai bisa punya banyak kontrak dokter spesialis di bangunan puskesmas yang terbilang tampak luar biasa saja. Memang luas lahan tidak mencolok tapi bangunannya mempunyai tiga lantai dan fasilitasnya lengkap termasuk alat cek kesehatan lengkap seperti MRI juga CT Scan atau bahkan aku lewat ruang Radiologi dan USG. Berarti jaringan internet juga bagus kan ya disini" bathinku bertanya-tanya.
"Dia baik-baik saja. Dia menangis karena Syok dan luka gores. Bagian kepalanya juga baik" Ujar dokter menjelaskan padaku.
"Syukurlah" gumamku lega.
"Kamu hari ini izin saja yah. Nenek akan menelfon wali kelasmu"
^^^Bersambung^^^
__ADS_1