
Hari yang dinantikan itu datang. Pagi sampai jam istirahat aku menetralkan detak jantungku yang sudah tidak beraturan dari bangun tidur. Kertas projek yang kami rancang ada bersamaku, tapi untuk video penjelasan dan contoh produk ada pada Axel. Sampai jam istirahat aku menunggu Axel di kelas. Karena tak kunjung datang, aku yang berencana masuk ke kelasnya. Belum melangkah ke arah dalam, aku terdiam sesaat karena mata yang melihatku berseliweran dan membuatku tidak nyaman.
Axel terlihat tertidur di mejanya. Aku mengurungkan niatku masuk, Aku memutuskan ke kantin membelikan Axel minuman dan membelikannya roti pengganjal lapar takutnya dia nanti tidak sempat ke kantin. "Hei, anak baru" sebuah suara cempreng menghentikan langkahku. Aku berbalik menengok sang pemilik suara dan seorang gadis bertubuh ceking berambut pendek tergesa-gesa menghampiriku.
"Kamu akhir-akhir ini seringkali kulihat bersama Axel. Kamu siapanya dia?" aku melongok kanan kiri dan tidak ada siapapun, ku rasa dia berbicara denganku. "Hmm adegan Klise neh, di labrak sama teman ngaku gebetan, dah hafal aku alur isi kepala ini manusia" bathinku tersenyum.
"Kenapa?" aku malah balik bertanya. "Axel itu sekarang seperti banyak beban, nggak fokus belajar" Ujaran nya mengisyaratkan aku seolah memberikan banyak tugas atau masalah pada Axel. "Terus kamu mikir itu karena aku? Kenapa kamu nggak nanya langsung aja sama dia? Bilang gitu, aku khawatir ngeliat kamu. Sekalian pake Toa biar satu sekolah tau? Aneh" jawabku dengan nada mengejek. Dia pikir aku akan terintimidasi karena masih jadi anak baru? Terus akan ciut di tanya-tanya begituan, huek pengen muntah liat cewek caper.
Setelah mendapat apa yang aku cari, rasa sungkanku sama kelas Axel menjadi hilang. Aku main masuk saja mengantar kresek hitam yang ku bawa ke atas mejanya. Axel ternyata terbangun, "Apa nih?" dia membuka kresek itu dan mengambil minumannya langsung di teguk.
"Editing videonya udah selesai?" aku duduk di bangku kosong di depan Axel. "Udah nanti kita tinggal ke sana aja, aku dah minjam perangkat ruang rapat lengkap sama infokus juga" aku merasa tenang mendengar jawaban Axel.
...****************...
"Baiklah presentasi kali ini saya akan jelaskan dibantu oleh kertas dan video jenis produk olahan sampah yang akan di perlihatkan kali ini. Yang pertama adalah sampah organik yang akan di produksi menjadi pupuk kering dan cair. Kita membutuhkan tong pengolah dan mensuling pupuk cair agar di kemas dengan baik. Makanya saya butuh ahli mesin dan teknisi besi atau baja membuat alatnya. Seperti ini contoh mesin sederhananya
"Kalau bisa mesinnya di modifikasi dengan kapasitas lebih besar mengingat sampah yang di hasilkan di desa ini lumayan menumpuk. Untuk menguji efektivitas pupuknya kita olah tanah gersang sebelah hutan jati dengan menanam beberapa tambulapot dan jaga-jaga di tempatkan rumah kaca untuk kestabilan suhu terlebih dahulu. Lalu jika hasil pupuk menunjukkan tanda-tanda keberhasilan produk ini bisa di jual di market produk agrabinta di kota atau online shop"
"Seberapa yakin kamu kalau pupuk itu akan berhasil" potong nona Kirana dengan bersedekap.
"Saya juga butuh ahli teknik pertanian karena merekalah yang paham apa saja keunggulan dan kelemahan kita" jawabku tenang.
"Baik lanjutkan" Nona kirana mengangguk.
"Selanjutnya adalah sampah plastik botol atau kaleng kualitas baik kita olah kembali menjadi kerajinan atau benda-benda yang masih bisa di pakai. Contoh kita menjadikan gantungan kunci, bunga hiasan, atau Plastik itu di cairkan dan di olah menjadi barang keseharian seperti Vas bunga, ember air atau gayung. Ini contoh mesin yg sudah kualifikasi pabrik yang masuk market.
__ADS_1
dan ini beberapa contoh sederhana olahan produk sampah. Kita bisa mengajak beberapa penduduk yang masih belum bekerja atau anak-anak diberikan pelatihan kreatifitas seni mengisi waktu bermain.
Ketiga, Olahan sampah kertas dan karton akan lebih bermanfaat saat kita olah kembali menjadi kertas baru dan tambahkan pewangi ramah lingkungan atau istilahnya jadi kertas wangi. Kita juga bisa membuat hiasan dinding, lukisan atau figura photo"
Semua orang terdiam mematung memandangi photo kompilasi yang kami kumpulkan, tidak terkecuali nona Kirana dan beberapa seniman yang di ikutsertakan dalam rapat.
"Jika memang produk kerajinan kita punya kualifikasi yang bagus, alangkah lebih bagus kita punya galeri seni sekaligus rumah lelang tersendiri agar lebih memberikan income fantastis nantinya"
"Mengenai produk kertas daur ulang akan di gunakan sebagai alat bantu praktisi anak-anak seperti event menggambar setiap hari libur atau lomba hari penting. atau di buat lebih tebal menjadi kertas Canvas bagi anak-anak yang suka melukis.
"Hasil pembuatan batanya cukup cantik jika di tambahkan pewarna atau di bentuk unik. Jadi kesimpulannya jika kita bisa manfaatkan sebaik mungkin, sampai abu pembakaran sampah akan medapat nilai jual. Sekalian sebagai bahan promosi kita bangun gedung galeri atau Toko bangunan yang menjual produk kita, kita bangun dari bata yang kita hasilkan sendiri. Saya juga butuh bantuan ahli bangunan agar bisa menanggulangi produk bata abu limbah ini agar nanti tidak memberikan efek panas pada bangunan. Sekian presentasi saya, seiring berjalannya projek kita, semaksimal mungkin ide-ide lain juga akan di peroleh. Terima Kasih" Rasanya lidahku ingin cepat sekali menutup rapat yang sedang berlangsung ini.
"Bagus, ide yang cemerlang! untuk langkah awal apa yang semestinya kita lakukan?" tanya nona Kirana dengan mengangguk-anggukkan kepala.
"Hal pertama yang seharusnya dilakukan. Dalam projek kita adalah membuat mesin pembakar utama. Jadi kita utamakan membakar sampah yang tidak bisa diolah agar terlihat perubahan kuantitas sampah di pembuangan ini. Tapi tentunya kita sudah memilah dari awal sampah mana yang masih bisa di recycle selanjutnya" aku menarik nafas sepertinya jawabanku belum memuaskan.
"Setelah klasifikasi dan pembakaran, kita dirikan pabrik limbah dan usahakan ruang yang disiapkan harus besar mengingat banyaknya mesin yang akan di tempatkan di dalamnya". Suasana makin serius, wajah dan pandangan orang-orang tertuju padaku.
"Kita mungkin mrmbutuhkan waktu satu sampai tiga bulan pada proses pemisahan jenis sampah dan pembuatan mesin ataupun pabrik. Selama proses setidaknya sekali seminggu kamu harus mensurvei lokasi dan perkembangan pabrik. Kamu juga saya beri kuasa merekrut pegawai baru manapun yang sekiranya punya potensi dalam seni atau lini apapun" ucap Nona Kirana dengan lugas.
__ADS_1
"Mau rekrut siapa? teman dan kenalan aja nggak punya" bisikku pada Axel dan dia terkekeh menahan tawa. "Sudah ntar aku aja yang nyari karyawannya" jawab Axel sambil memberi isyarat jari oke.
"Lalu mengenai mesin pembakaran ini, bagaimana bapak-bapak? Apa ada kendala dalam model dan bahan?" Kini Nona Kirana mengalihkan pandangan pada bapak teknik mesin dan pandai besi"
"Kami akan mensurvei keluar terlebih dahulu contoh mesin pembakaran yang sudah di perlihatkan. Jika model dan baja nya sesuai, sekalian kami akan membeli bahan baku dan merekrut pegawai untuk mempermudah menjalankannya" Jawab seorang bapak yang sedang memainkan kumis tebalnya.
"Baiklah, bapak berdua boleh ajak dua orang lagi melakukan perjalanan studi banding dan survei lokasi daerah yang sudah menerapkan mesin yang akan kita buat ini. Transportasi, akomodasi selama satu minggu akan saya siapkan. Selanjutnya jika semua pembelajaran itu selesai, temui saya laporkan terlebih dahulu. Baru kita ke kota mencari bahan baku besi atau baja dan perlengkapan lainnya" jawab nona kirana.
"Baik nona" jawab kedua bapak itu serentak.
"Dan untuk limbah plastik dan kertas yang akan di olah, Kita pakai rumah bapak Suwardi yang ada di muara sungai yang di tinggalkan karena dia sudah di usir dari desa akibat kejahatan penganiayaannya, kita gunakan sebagai pabrik pengolahannya. Rumah itu dua lantai, Lantai atas jadi Rumah produksinya dan lantai bawah sebagai tempat bahan baku. Disana ada dua kamar, pekerjakan dua orang sebagai penanggung jawab dan keamanan tempat. Besok saya akan minta petugas umum mengangkat dan membersihkan tempat itu untuk kita" Nona Kirana akhirnya bangkit dari duduknya.
"Baiklah, rapat kita berakhir. Ayfa bagaimana surat kontraknya? Apa sudah ditanda tangani atau ada klausul tambahan di dalamnya?"
Aku dengan cepat mengeluarkan amplop coklat dari tasku dan menyerahkannya pada Nona Kirana. "Tidak nona, Semuanya saya setujui" jawabku tenang.
"Saya undur diri dulu. Senang bekerja sama denganmu Ayfa" aku menyambut uluran tangan Nona Kirana dengan senyum bangga. Satu persatu peserta rapat meninggalkan ruangan. Axcel membantuku berkemas mematikan laptop dan merapikan ruang rapat menjadi seperti sedia kala.
" Kayaknya aku harus mentraktirmu hari ini, gimana kalau kita pergi makan. Kamu mau makan apa?" Tanyaku sembari menggulung kembali kertas presentasi." sore gini enaknya makan mie ayam dekat Balai Desa sekalian di sana juga pakai topping bakso yang enak banget ada bonus pangsit satu mangkok aku laper banget soalnya" usul Axel yang aku jawab dengan senyuman.
Dengan cepat Kami pergi ke arah Balai Desa di sebelah kios mie ayam terdapat kantor nenek, saat hendak pulang nenek melihat aku dan Axel sedang menikmati makan sambil memangku Kaif . Nenek menghampiriku dan mengambil Kaif untuk pulang lebih awal. Tidak lupa nenek juga memesan bakso tanpa bumbu untuk makan malam Kaif nanti dan membayarkan mie ayam kami.
Kami pulang sambil berjalan lambat menikmati Taman kosong di Balai desa. Axel bercerita dulu di taman ini pernah ditanam beberapa bunga terompet kuning yang wangi banget tapi karena musim kemarau dan kekeringan pernah melanda Desa ini cukup parah sampai beberapa bunga dan tanaman palawijaya pertanian ikut gersang dan mati. Aku menikmati kisah yang diceritakan Axel sampai akhirnya kami sampai di rumah.
Aku tidak menawarkan untuk Axcel singgah dan dia mengerti. Pada saat makan malam aku hanya menemani nenek dan juga Kaif. "Kamu Ternyata tidak terbuka terhadap nenek ya Ayfa, nenek bahkan tahu dari orang lain mengenai project-mu tentang limbah sampah bersama Nona Kirana dan rasanya nenek kecewa padamu"
^^^Bersambung^^^
__ADS_1