Imperfect Heaven

Imperfect Heaven
C. Rumah Hangat


__ADS_3


Aku terpaku melihat rumah nenek. Baru kali ini aku datang ke desa ini, tapi aku langsung jatuh cinta pada hawa udara sejuk, juga rumah-rumah kayu yang indah. Aku menurunkan Kaif ke teras perlahan.


..."Nah bocah, jalanlah. Tapi sekitar sini saja" aku berharap terlalu banyak bahwa bayi akan mengerti ucapanku. ...


..."Aa aa" Kaif langsung girang berjalan sambil berpegangan ke sisi dinding teras kayu nenek. ...


Dari kejauhan kulihat pakde datang membawa barangku di bantu oleh seorang pemuda yang kurasa masih seumuran denganku. Kulitnya putih, rambutnya sedikit pirang dan mulus mengalahkan gadis kota. Kesannya dia lebih identik ke cantik, apalagi saat aku lihat dengan jelas wajahnya yang memiliki bibir pink, bulu mata yang panjang dan lentik serta alis mata yang lebat dan sekilas bertaut.


..."Hai, aku Axel. Salam kenal! Aku dengar dari Paman Tamir kamu akan tinggal disini yah? Ayo berteman" dia mengulurkan tangan padaku dengan sangat riang. Suara cerewetnya yang terdengar ngebass tidak sesuai dengan wajah cantik itu....


Aku yang sedari awal duduk di teras ingin bangkit, Kaif berlari padaku seolah takut ditinggal. Aku langsung mengangkatnya dan memandang datar.


..."Aku Ayfa. Maaf tanganku penuh" secara sopan menolak uluran tangannya. "Itu anakmu ya? Imutnya" dia berjalan mendekatiku dan Kaif. ...


...Kaif tetap tenang tanpa merasa terancam. Saat Axel mengulurkan kedua tangan Kaif langsung menerima tangan itu. "Ini anak ayahku" Aku juga tidak keberatan jika sementara bayi ini lepas dariku karena aku butuh istirahat sejenak dulu. "Apa susahnya bilang adik, ribet" ...


..."Pakde aku minta kunci rumah, aku akan memakai kamar atas seperti yang pakde bilang tadi di jalan. Kopernya di letakkin di bawah aja dulu. Aku mau tidur dulu yah pakde" Aku mengambil kunci rumah masuk dan langsung naik ke kamar lantai atas merebahkan tubuh yang capeknya lain. ...


...***...


..."Ayfa .. bangun makan malam" berulang suara ketukan pintu kamar mengusik tidur singkatku. Aku pandangi hp ku dan waktu menunjukkan jam sembilan malam. "Iya sudah bangun Pakde" jawabku singkat....


Di dapur aku melihat Axel berdiri masih menimang Kaif untuk tertidur. Pakde sedang sudah meletakkan piring dan masakan di meja makan.


..."Kurasa adikmu menyukaiku Ayfa" ujarnya setengah berbisik. ...

__ADS_1


..."Baguslah, kau bisa membawanya pergi" jawabku tanpa rasa bersalah. ...


..."Ayfa sudah! Makan" Pakde menengahi dan menyendok nasi ke piring. ...


..."Pakde masak?" Tanyaku lagi × jam lalu. Pakde tinggal memanaskannya" ...


..."Terus bude dimana?" ...


..."Udah kembali ke rumah lagi, Jaga Salma. Pakde juga punya bayi, tapi baru enam bulan" Jelas Pakde melanjutkan makan. ...


Setelah Kaif tertidur. Axel membaringkannya di kamar dekat dapur. Axel tanpa canggung ikut makan bersama kami. Sikapnya santai, pembawaannya ceria. Yang awalnya kami makan tenang menjadi beberapa pembicaraan setelah bergabungnya Axel.


Aku sebenarnya penasaran seberapa dekat dia dengan Pakde atau nenek. Tapi energiku terlalu sayang jika dipakai untuk menanyakan hal tidak berguna. Lambat laun aku juga akan tau siapa dia.


..."Nenekmu akan kembali besok. Jadi besok pagi pakde akan langsung berangkat kerja. Kamu juga harus sekolah besok Axel, jadi habis ini kamu pulang. Sekalian besok kamu bisa ke rumah Pakde bertemu Bude Naina dan Salma" ujar pakde menutup pembicaraan. Pakde meninggalkan dapur ke halaman belakang untuk merokok. ...


..."Sudah kamu tidur saja. Biar Kaif tidur sama pakde" aku mengangguk dan naik ke lantai atas sebelum tidur aku sempatkan menggosok gigi dan mencuci muka. ...


...***...


Alarm pagiku berbunyi. Aku menyetelnya tepat jam enam. Saat kubuka jendela dan berjalan di balkon kecil, suhu dingin menyeruak masuk ke tubuh sehingga tak sadar gigiku sampai bergemeletuk. Rasa ingin kembali ke kasur menjadi besar, namun ku urungkan niat mager dengan mencuci muka dan gosok gigi.


Aku membuka pintu kamar untuk menyiapkan sarapan pagi, tapi aku terhenti langkah saat kulihat barang-barang dan koperku sudah ada di depan pintu. Sepertinya Pakde sudah membawanya ke atas. Kubereskan semua pakaian dan turun menyiapkan sarapan.


..."Nyenyak tidurmu Ayfa" Pakde keluar dari kamar menggendong Kaif. "Iya pakde, sampai pagi nggak kebangun sama sekali, Kaif rewel tadi malam pakde?" Jawabku sambil menyiapkan nasi goreng di meja dapur. ...


..."Yah dia bangun sekali tadi malam jam tigaan karena pampersnya sudah penuh. Pakde bersihin dan dikasih susu dia tidur lagi. Ini baru bangun, nggak nyusahin" ujar pakde sambil menarik pelan hidung bocah kecil itu. ...

__ADS_1


..."Sini Kaif sama aku aja pakde, pakde makan dan berangkat kerja aja" aku mengambil Kaif dan anak itu saking girangnya loncat-locat di gendongan. "Kalau kamu bosan, nanti tanyain aja ke tetangga dimana rumah pakde" ujar pakde memakai sepatu boot dan pergi dengan jalan kaki. ...


Karena waktu masih panjang menjelang nenek kembali, aku membawa Kaif ke balkon atas. Kami berjemur berdua sekitar setengah jam. "Kaif, aku yakin keterlambatan bicaramu itu pasti karena tidak ada yang mengajakmu ngobrol" ujarku sambil melihat dia asik bangun dan jatuh.


..."Aku belum bisa sepenuhnya menerimamu Kaif. Walau kau tidak salah apapun, tapi tiba-tiba punya saudara setelah lima belas tahun lebih jadi anak tunggal rasanya aneh" aku merapikan rambutnya yang sebagian berdiri. ...


..."Aa aa" Kaif memukul-mukul tanganku. ...


..."Kakak, panggil aku kakak" Ujarku padanya. ...


Aku kembali melihat pemandangan desa dari atas. Sungguh sangat cantik. Suara aliran sungai sampai atas masih terdengar, kicauan burung banyak ragam juga bercicit, belum lagi warga yang berlalu lalang sepanjang jalan setapak antar rumah warga. Tidak ada satupun kendaraan bermotor terlihat. Yang ada hanya sepeda atau sepeda becak. Jika aku mau mengatakan kuno, tapi warna dan pola desa ini justru berarsitektur modern klasik.


..."Ayo kita mandi Kaif. Setelah itu baru rebahan lagi nunggu nenek" aku bangkit menuju kamar mandi dan Kaif berjalan tertatih mengikuti dari belakang. ...


...***...


Hari sudah menjelang sore, Pakde tidak kembali dan aku makan siang dengan mie instan yang ada di lemari nenek. Saat sedang bermain bersama Kaif di ruang tengah, Pintu depan terbuka dan kulihat nenek kembali dengan wajah lelah. Aku membuatkan teh manis dan mengantarkan ke hadapan nenek.


..."Berkas kepindahanmu sudah selesai nenek urus. Besok kita akan ke sekolah barumu di ujung desa ini. Bagaimana suasana disini Ayfa?" Tanya nenek setelah meminum beberapa teguk air. ...


..."Lancar nek, nggk ada kendala kok. Pakde pergi kerja dari pagi dan nampaknya kembali ke rumahnya" jawabku enteng. ...


..."Dia pasti rindu anaknya" nenek bangkit masuk kamarnya yang berada di bagian paling depan ruang tengah. ...


..."Ah sekolah lagi, kadang aku berharap kita di rumah saja Kaif. Walau membosankan tapi setidaknya nggak ketemu manusia lain yang membuatku sesak" ...


^^^Bersambung^^^

__ADS_1


__ADS_2