Imperfect Heaven

Imperfect Heaven
F.Singgasana Nyaman


__ADS_3

Aku tertegun cukup lama mendengar keputusan nenek untuk melarangku ke Sekolah. Di satu sisi memang kesalahanku tidak menjaga Kaif dengan baik, tapi di sisi lain aku juga berharap bisa menikmati keseharianku sebagai pelajar di Sekolah. Lagian yang membuat Kaif jatuh juga karena Item ranjang tidak mendukung. Aku berfikir akan konsultasikan dengan Pakde atau Nenek agar bisa mendapat ranjang baru untuk Kaif.


"Kamu tidak akan selamanya tidur di ranjangku kan bayi? Aku akan merawatmu sampai kapan?" ujarku padanya. "Tak tak" Bayi itu bergumam sambil tersenyum menepuk mulutku dengan telapak tangan mungilnya. Masih ku sempatkan memandikannya.


"Kau harus tidur siang hari ini! Aku akan menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum nenek pulang, Paham?" Aku membawa Kaif berbaring di Kasur tipis lantai kamar, Tak lupa aku juga memberikan dot susunya agar dia kenyang. Hari ini akan panjang tanpa kelas.


Tak lama Kaif tertidur. Aku berjalan ke arah balkon memastikan pintu ke sana sudah terkunci, aku juga memeriksa toilet di tutup dan pintu masuk kamar di kunci. Sebelumnya sisi tempat berbaringnya juga aku beri beberapa mainan seperti boneka buaya kesayangannya dan buku yg akan dia robek-robek.


Aku keluar dari kamar menuju dapur mengerjakan beberapa pekerjaan rumah dengan sedikit was-was Kaif akan bangun. Menyapu rumah, mencuci baju nenek yang sudah menggunung di sebelah mesin cuci. Juga menyiapkan makan siang. Tak lama setelah itu aku mendengar suara ketukan pintu depan.


"Lah, kamu ngapain ke sini?" aku tak percaya si Axel berkunjung tengah hari ini ke rumah.


"Aku dapat info dari walasmu kalau kamu sakit. Jadi aku datang bawa buah ni, jenguk ceritanya mewakili teman kelasmu yang pasti nggak akan sempat datang. Tahulah anak kelasmu ambis semua sampai berasa nggak ada yang punya ruang empati" jawab Axel menyerahkan kresek biru yang isinya jambu biji, jambu kancing juga beberapa mangga.


"Ya ela nggak masalah lagi! Bilang aja kamu yang nyari alasan bisa bolos kelas. Ini kamu maling darimana coba?" tanyaku sedikit dingin. "Hehehe aku ambil dari kebun belakang sekolah. Tapi itu bebas di makan siapa aja, jadi kamu jangan mikir aku nyari masalah di kebun warga cuma buat buah remeh ini".


Aku mengizinkan Axel masuk rumah dan duduk di ruang dapur menemaniku menyelesaikan mencuci beberapa peralatan masak. Belum tiga menit Axel duduk, aku udah dengar tangisan Kaif di lantai atas. "Mau aku aja yang ambil Kaif?" tanya Axel bangkit.


"Nggak usah, aku aja" jawabku sambil memercik air tangan di wastafel. Mengelapnya pada handuk kecil di sudut dapur. Aku ke atas mengambil Kaif bersama boneka Buayanya dan menyerahkannya pada Axel.


"Aku ngerasa kamu seperti orang yang sudah terbiasa masuk ke rumah ini dan tidak canggung yah? dan mindblowwingnya si Kaif berasa punya kontak bathin denganmu, tahu aja kamu disini" ujarku membuka topik bincang kami sembari makan siang bersama. " Hehe hehe, Aku memang cukup dekat dengan rumah ini, terutama Paman. Sebab Paman itu suami dari adik mamaku. Yah secara harfiah, Aku ponakan paman Tamir juga. Aku juga dari dulu dah sering main disini" jawabnya enteng.

__ADS_1


"Oo gitu" sahutku singkat.


"Kamu sakit apaan sampai nggak masuk sekolah tapi masih sempat beberes rumah dan memasak" Axel tidak lupa menyuapi nasi yang lunak pada Kaif yang sudah bisa makan bertekstur.


"Bukan aku yang sakit sih, Tapi Kaif. Tadi waktu aku ke kamar mandi, dia masih tidur di kasur. Tapi pas aku kembali dia udah jatuh ke lantai" Jawabku menghela nafas berat.


"Uuuh .. Kasihan bocah ganteng satu ini. Sakit? kepalanya sakit?" Axel mengusap ubun-ubun Kaif dan meraba kening serta kepala belakang Kaif hati-hati sedangkan bocah itu malah tertawa di ajak bincang begitu. "Nggak papa kok, aman. Cuma nenek bilang aku disuruh jagain di rumah aja" Aku kembali kepikiran mengenai ranjang kecil.


"Jadi sekarang kamu kepikiran sama tempat tidurnya yah. Makanya kamu kusut gitu mukanya" tebak Axel sembari bercanda sama Kaif. "Heh, ketebak yak? Yah kurang lebih gitu sih, aku bingung antara bongkar ranjang aja atau beli ranjang khusus bayi buat Kaif. Tapi kalau beli disini mau cari dimana coba?" keluhku sembari membereskan piring kotor.


"Yaudah, Kalau gitu ikut aku. Aku punya kenalan bapak yang bisa bikin perabotan gitu. Kamu mau bikin desaignnya kek mana?" tanya Axel antusias.


Rasa ingin Scrolling google menggejolak. Aku ingin melihat ranjang bayi unik setidaknya menambah estetik kamar ku. Tapi ya sudahlah, Aku bilang saja aku mau ranjang khusus yang tidak bersambung dengan ranjangku. Aku walau meletakkannya di kamarku tapi aku mau dia punya sudut sendiri.


Aku siapkan beberapa peralatan Kaif ke dalam ransel bayinya. Popok, Susu dan mainan, Tidak lupa minyak telon anti nyamuk juga. Aku membawa gendongan juga jika tangan kami berdua sama-sama capek. Perjalanan kesana ternyata cukup jauh. Kami menelusuri sisi tepian sungai jernih yang membelah desa. Sesampainya di muara sungai tepatnya sebuah waduk yang menyerupai danau kecil di sisi timurnya terdapat sebuah hutan jati yang cukup rapat.


Ada perasaan menggelitik di hatiku memasuki hutan jati tersebut. Karena tidak ada nya rumah disisi kanan kirinya lagi. Setelah sampai masuk seratus meter kemudian, akhirnya kami sampai di rumah tersebut. Sedikit banyaknya sepanjang jalan aku berpikir tidak baik pada Axel, Kalau tiba-tiba dia mau berbuat jahat, matilah aku bersama Kaif disini tanpa bantuan siapapun.


"Kita sampai" Axel berjalan lebih cepat menuju rumah gubuk kayu yang di depan halamannya terjemur banyak potongan kayu dan papan. Halaman luasnya dibersihkan dari pepohonan sehingga walau di tengah hutan, halamannya full mendapat cahaya matahari. Axel menghampiri laki-laki paruh baya tersebut dengan ramah.


"Kalau berdasarkan penyampaian Axel, nak Ayfa butuh ranjangnya hari ini yah? Bapak bisa buatkan kebetulan pesanan yang sama juga sedang bapak bikin, tapi yang mesan butuhnya bulan depan. Mau liat dulu? Kalau ada perubahan bisa bapak perbaiki" Bapak pengrajin mengajakku ke sebuah gudang belakang rumahnya.Tepatnya tempat bapak tersebut bekerja.

__ADS_1


Dalam Gudang yang lumayan besar itu terdapat banyak barang seperti kursi rotan, meja kayu, lemari kecil termasuk ranjang kayu. Ranjang bayi yang bapak itu katakan berada di tengah gudang berdampingan dengan rak buku berbentuk sarang lebah.


Ranjangnya berwarna coklat dan ukuran minimalis. "Kalau ini cuma bisa di pakai sekitar satu tahunan pak. Bisa nanti ukuran di perluas pak? saya mau sampai anak ini usia 5 tahun pak" ujarku sambil menunjukkan keberadaan Kaif. Bapak tersebut mengangguk paham. Aku juga turunkan Kaif biar tinggi badannya bisa di ukur oleh bapak pengrajin. Puas keliling gudang, kami diskusi harga dan pengantaran. Bapaknya berjanji akan mengantar paling lama jam 8 malam ini atau seterlambatnya besok sore. Aku berharapnya hari ini agar aku tidak tidur di lantai nanti malam. Aku juga sempat memberi Kaif susu karena dia tiba-tiba rewel haus. Untung sudah di persiapkan.


Sepulang dari tempat bapak pengrajin, Aku, Kaif dan Axel memutar jalan ke sisi berlawanan arah. Sampai ke tempat paling belakang desa yang pusat akhir sampah di tumpuk. Aku terkejut ada bagian tidak mengenakkan di lihat di lini keindahan desa yang sudah biasa ku nikmati. Walau ku lihat beberapa petugas berusaha membakar sampah dan memastikan arah asap tidak menuju rumah warga, sangat disayangkan sekali pengelolaannya tetap belum efektiv.


"Ada apa? Kamu nggak nyaman yah? Kita muter jalan yang tadi aja yah" ajak Axel menarik lengan bajuku. "Nggak papa kok. Kota tempat tinggalku dulu penampakan ini terkesan biasa aja sih" Aku terus berlalu bersama Kaif memasang wajah ramah pada bapak-ibuk yang bertugas memilah dan membakar sampah disana.


Sesekali beberapa hal melintas di kepalaku. Tentang teknologi desa ini yang lumayan maju pasti punya solusi dong untuk sampah seharusnya. "Kamu ngelamun lagi pas jalan. Udah sini Kaifnya sama aku aja. Ntar kalau kamu jatuh nih bayi nggk usah di ajak-ajak" Axel mengambil Kaif dari gendonganku.


"Bentar deh, aku kepikiran. Desa ini kaya kan Xel?" tanyaku memperlambat langkah. "Yah bisa di bilang gitu sih" jawabnya simpel. "Apa Desa ini juga punya pandai besi membuat tong besar dan punya teknisi menciptakan mesin pembuat pupuk organik dan pengolah limbah plastik?" kembali aku mikir serius.


"Tentu ada dong. Setiap anak yang disekolahkan disini bahkan di kuliahkan di berbagai keahlian agar nanti ikut membangun desa. Teknisi mesin dan pengrajin besi. Ya sudah nanti idemu aku sampaikan sama sekretarisnya keluarga Agrayaksa. Sebab semua ide yang ada di sini akan di rapatkan petinggi dan di eksekusi jawaban akhir sama pendiri dan perangkat desa, Malah dana dan pengeluaran besar itu di handel sama nenekmu" kali ini informasi Axel mengejutkanku.


"Aku nggak suka terlibat hal-hal ribet. Kamu aja sampaikan dan bilang itu idemu ajah deh Xel. Aku nggak nyaman ketemu orang-orang penting apalagi petinggi gitu. Kalau ngomongku belibet mending nggak jadi deh. Anggap aja aku nggak ngomong apa-apa atau kamu nggak dengar apapun dariku" ujarku menghindar.


"Jangan gitu, itu ide cemerlang loh. Kamu bisa dapat penghargaan dan yang pasti ide mu akan di hargai cukup mahal jika berguna. Sekalian kamu akan mendapat saham berapa persen jika idemu menghasilkan cukup banyak keuntungan desa. Kamu dapat ide itu darimana?" Axel lagi-lagi kembali bersemangat.


"Youtube, aku pernah nonton video mengenai sampah pembawa berkah gitu. Sekalian juga ada seniman yang menggunakan sampah plastik sebagai media warna dan corak dari lukisannya dan itu bagus banget, banyak hal lagi sih". Mata Axel berbinar sampai aku melihat pupil matanya yang indah itu melebar. " Tunggu besok, aku akan bawa kamu ke Sekretaris Pendiri. Siapa tau ide ini jebol, ini bagus banget tau" Kami pulang dengan perang isi kepala masing-masing.


^^^Bersambung^^^

__ADS_1


__ADS_2