Imperfect Heaven

Imperfect Heaven
B. Surat Kutukan


__ADS_3

Seorang warga mengetuk pintu rumahku berulang kali dengan keras. Dengan langkah gontai aku meninggalkan kasurku ke ruang depan membuka pintu.


..."Nak Ayfa, bisa ikut bapak ke rumah sebelah. Bayi Kaif tidak berhenti menangis. Dan yang bapak tau Nak Ayfa sering mengasuhnya. Zoya ditemukan tidak bernyawa di kamar mandi meminum racun" ujar bapak tersebut dengan segera menarik tanganku ke rumah sebelah yg sudah sesak di kerubungi orang....


Penampilanku rasanya sangat berantakan, mata sembab dan masih menggunakan seragam sekolah menerobos kumpulan orang dan mengambil Bayi Kaif dari tangan Pak RT. Baru saja pindah tangan, Kaif langsung tenang dan menempelkan kepalanya di pundakku.


..."Bapak terpaksa mendombrak pintu rumah Zoya karena berdasarkan keterangan warga suara bayi Kaif menangis tak berhenti lebih dari 10 menit siang tadi. Sedang Zoya tidak ada keluar rumah sejak pagi" Pak RT menjelaskan kronologi hal tersebut tanpa aku minta bahkan rasanya empatiku juga sedang tidak ada....


..."Polisi sudah datang dan mobil Ambulance, Zoya sudah di bawa ke rumah sakit. Ayahnya akan datang mengurus semuanya tapi Inarah tidak ada kabar sejak pagi. Kami juga memukan dua surat di samping bayi Kaif nak Ayfa"...


Kembali Pak RT menyerahkan dua lembar kertas, satu sedikit kusut yg berisi pesan terakhir tante Inarah pada Kak Zoya tentang menjaga Kaif dan Satu lagi Pesan Kematian kak Zoya yang berisi Kutukan untuk ibunya, yang membenarkan perselingkuhan ibunya dan bapakku serta Ancaman Karma untuk semua tetangga yang selalu mengganggunya juga teman sekelas yang selalu membully-nya.


Beberapa ibu-ibu mendekatiku menanyakan kebenaran isi pesan itu. Bahkan ada dengan kurang ajarnya bertanya keberadaan bapak nafasku nafasku sesak menahan Hawa yang tidak menyenangkan dari pandangan orang sekitar. Aku membawa Kaif kembali ke rumahku tanpa menghiraukan pertanyaan-pertanyaan dari ibu-ibu yang terus saja berdatangan.


ketika Magrib menjelang nenek datang bersama seorang lelaki paruh baya. nenek menjelaskan kepadaku bahwa Bapak sudah menelponnya tadi tadi malam dan meminta nenek untuk menjemputku bersama Kaif. "Besok surat kepindahanmu akan nenek urus. Kamu berangkat ke desa duluan dengan Pak de Tamir" tutur nenek saat sedang makan malam bersama.


..."Nenek nggak kecewa dengan bapak?" tanyaku lirih. Sebab raut wajah nenek tidak menunjukkan emosi apapun. Aku memang tidak sering bertemu nenek, tapi sesekali lebaran nenek datang ke kota mengunjungi kami....

__ADS_1


...Nenek tersenyum kecut dan menjawab "Buat apa? Toh nenek jadi makin yakin darah tidak pernah menipu". Keningku mengkerut makin tidak paham dengan reaksi nenek "Maksud nenek apa?" tanyaku. "Kakekmu kelakuannya juga seperti itu. Nenek fikir dia akan berbeda karena melihat perjuangan nenek sendirian membesarkan bapakmu dan Tamir. Ternyata dia tetap saja mengkhianati ibumu". Aku hanya bisa mendengar ucapan nenek dengan tertunduk lesu....


Malam itu aku tidur di kamarku bertiga bersama nenek dan juga Kaif. Tengah malam aku mendengar bunyi ambulans datang ke rumah sebelah. tidak ada Niatku untuk melihat wajah Kak Zoya sebelum esok dimakamkan. Karena sudah tidur sepanjang hari mataku tidak bisa terpejam, Aku akhirnya memutuskan mempacking bajuku ke dalam koper dan beberapa buku pelajaran aku juga tidak lupa menyelipkan satu buah pas foto ibu ke dalam tas.


Keesokan paginya aku tidak menemukan nenek di rumah. Pakde tamir ikut membantuku menyiapkan peralatan Kaif ke dalam sebuah tas yang sudah disediakan oleh nenek dari desa. aku masih menyempatkan diri menanyakan tentang keputusan membawa Kaif kepada Om Dadang yang merupakan mantan suaminya tante Inara. akan tetapi Om Dadang bahkan tidak sudi memeluk Kaif.


"Aku sudah dari awal yakin tentang Kaif sampai kami bercerai aku tidak mengizinkan Inarah mencantumkan namaku di akta kelahirannya. Ini berkas akta Kaif yang kutemukan di lemari. Akan ku bantu nenekmu untuk membawa Kaif. Pergilah" usir om Dadang setelah menyerahkan map yang berisi beberapa berkas padaku. Matanya sembab, dan mukanya sangat kusut.


di depan rumah Pakde tamir sudah menyiapkan koperku dan berangsur membawanya ke jalan besar di depan gang rumah. Pakde juga mengarahkan ku untuk untuk ikut bersamanya naik mobil sewaan kembali ke desa. walau aku ragu meninggalkan nenek tapi Pakde tetap memaksaku berangkat sekarang.


perjalanan sangat panjang aku merasa sangat lelah sampai setelah dzuhur kami berhenti di sebuah rumah makan untuk beristirahat aku juga ingin melepas penat. Aku tidak terlalu ingat persis di mana desa kelahiran bapak. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan sampai menjelang magrib mobil sewaan diantarkan ke tempatnya dan kami lanjutkan perjalanan dengan sebuah truk sayur yang berangkat menuju Desa nenek. truk sayurnya agak berbeda dengan mobil Kebanyakan karena rodanya yang dikhususkan untuk Medan rawa atau pendakian tajam.


"Sebentar, lagi" jawab pakde singkat.


Ketika kami sampai di gerbang desa yg terbuat dari pohon bambu yg di atur dengan sangat baik. Ada dua ruang kecil di setiap sisi yg seukuran satu setengah meter kali dua meter untuk ruang penjaga gerbang.


..."Ayfa, Desa ini punya otonomi sendiri untuk tidak membiarkan sembarang orang masuk karena kami desa yang tidak ingin di publikasikan. Ini pesan dari pendiri desa ini" ujar Pakde Tamir....

__ADS_1


Mobil yang mengangkut kami berhenti. Pakde ikutan turun dan berbincang cukup panjang. Salah satu penjaga gerbang keluar dari posnya mendekati mobil dan mendongakkan kepala melihatku dan Kaif. Lalu menganggukkan kepala pada pakde Tamir. Pakde naik kembali ke mobil, tidak sampai dua puluh meter di sisi bahu jalan sebelah kanan kami melihat sebuah rumah kayu klasik unik yang sangat luas, halamannya sangat luas karena batas pagarnya sangat jauh dari sisi rumah sebelahnya. Hal ini terlihat jomplang dengan rumah di sebelahnya yang kebanyakan semi permanen sederhana dan termasuk minimalis.


..."Itu rumah pendiri desa Ayfa, udah generasi ke empat" celutuk pakde padaku melihat reaksiku yang tampak antusias. ...


..."Luas banget pakde, mana cantik dengan banyaknya tatanan pohon dan bunga" sahutku takjub. "iyah" pakde menjawab singkat. ...


Medan yang kami lalui makin menurun ke bawah. Ternyata rumah pertama dari gerbang merupakan dataran paling tinggi dari desa tersebut. Semakin masuk ke dalam desa, daerahnya makin sejuk dan kearah dingin. Seperti lembah yang di kelilingi bukit, sampai mentok pada ujung jalan aspal terakhir sebelum jembatan kayu kecil yang setelahnya adalah jalan bebatuan. jembatan itu penghubung dua tempat yang di belah sungai jernih biru yang sangat deras tapi terlihat dangkal karena pantulan batu kecil di dasarnya terbias dengan jelas.


..."Kita turun disini Ayfa, biar Pakde yang bawa semua barang. Kamu bisa lihat rumah coklat yang ada pohon mangga di ujung jalan kecil ini? ada pohon kelapa pendek yg berbuah itu rumah nenekmu. Kamu jalan duluan saja" Pakde turun duluan menyambut Kaif baru setelah itu aku. Bayi kecil itu di pakaikan dibiarkan telanjang kaki jalan oleh pakde. Aku menjaganya dari belakang. baru lima langkah bayi itu sudah jatuh dan aku serongkan dia ke arah rerumputan jalan dan kaif bergelayut di kakiku minta gendong. ...


..."Ini rumah kita Kaif, kedepannya mohon kerjasamanya agar tidak menyusahkan yah" ujarku menatap matanya lekat. ...


..."Aa aa" Kaif menepuk-nepuk mulutku lalu memeluk leherku. ...


^^^"Kau terlambat berbicara ternyata. Setidaknya satu dua kata kau bisa ucapkan anak malang" Aku berjalan pelan menuju rumah nenek sembari menikmati pemandangan asri tanpa polusi. Tidak ada kendaraan yang lewat. ^^^


"Semoga semuanya berjalan baik"

__ADS_1


^^^Bersambung^^^


__ADS_2