
Malam seperti yang di janjikan, bapak pengrajin datang mengantarkan ranjang pesananku. Nenek tidak dapat berkata-kata. Melihatku bertransaksi dan menawarkan bapak tersebut untuk minum terlebih dahulu, namun ditolak dengan sopan. Bapak itu pulang dan aku terlibat perbincangan serius dengan nenek.
"Kamu dapat uang darimana bayar ranjang itu? Kamu kapan pesannnya? Dan kamu dapat info darimana tentang pembelian ranjang begini?" aku di berondong pertanyaan oleh nenek. "Aku dapat info dari Axel Nek. Daripada bongkar ranjang kamarku, bagus Kaif punya tempat tidur sendiri" jawabku santai. Aku ke kamar mencari Kasur kecil yang tersimpan di kamar belakang dekat dapur dan memasukkannya ke dalam Ranjang Kaif dan ternyata muat. Bentuknya jadi cantik
(ilustrasi cuma pemanis, gambar diambil acak di google)
Aku mengangkat ranjang Kaif sendirian ke kamarku. Menempatkannya di bagian kiri kamar atau tepatnya sisi atas dari ranjangku. Tidak lupa boneka buaya juga aku selipkan di dalamnya dan memastikan bagian bawah kasur adalah karpet busa tebal dan akan aku tutup sisi pembuka ranjang saat si bayi ini tidur.
"Kamu punya banyak uang?" tanya nenek penuh selidik. "Mana pula aku punya uang nek, Atm ibu di bawa lari bapak dengan tante Inarah. Ini hasil tabunganku nek" jawabku bohong. "Oo gitu. Yasudah. Kamu pasti capek seharian tadi ngasuh Kaif. Sudah tidurlah! Besok kan mau sekolah" nenek membantu membereskan dapur. Hatiku senang sekali setelah mendengar kata Sekolah. Berasa aku sudah selesai liburan panjang.
Ke esokan harinya, Kelas dan sekolah berlangsung seperti sebelumnya. Aku mendapat kelas tenang tanpa ada yang membuat berisik, Makan di kantin dengan tenang sendirian dan yang berbeda adalah saat jam pulang sekolah, namaku terdengar di panggil oleh petugas TU sekolah agar pergi ke ruang kantor Utama karena Kepala sekolah memanggil.
Selepas pengumuman itu berlangsung, jantungku sudah terasa tidak aman lagi. Kakiku gemetar dalam melangkah. Rasanya sejak pagi aku tidak ada membuat masalah, kenapa sampai kepala sekolah memanggilku ke ruangan. Aku sangat bertanya-tanya juga ketakutan. Axel dari sepanjang lorong dan kelas tidak ada kutemui sekalipun. Malahan seharian tadi dia juga tak ada tampak batang hidungnya.
Ketika aku melalui gedung Paud serta penitipan anak, Guru penjaga Kaif memanggilku. Tapi dengan sopan aku jelaskan singkat aku dipanggil oleh kepala sekolah. Sampai di depan Ruang Kepala Sekolah, Sekretaris yang ada di depan ruangan membukakanku pintu dan aku masuk dengan langkah yang sangat hati-hati.
__ADS_1
"Permisi pak, Ayfa sudah datang"
"Silahkan masuk dan duduk nak Ayfa" Bapak dengan penuh wibawa memakai jas hitam rapi yang kutebak merupakan Kepala Sekolah sedang duduk bersama seorang Perempuan muda memakai rok span Abu-abu dan kemeja Putih gading dan memakai kacamata. Gelagat yang ditunjukkan oleh Pak Kepala Sekolah seolah sangat menghormati perempuan itu, terkesan perempuan itu merupakan tamu penting.
"Nak Ayfa, ini Nona Kirana Sekretaris Keluarga Agrayaksa katanya datang menemui mu" Pak Kepala Sekolah mengajakku duduk di dekat nona mata tajam tersebut. Aku menundukkan kepala memberi salam.
"Saya mendengar dari anak berandal kalau kamu punya ide brilian mengenai pengelolaan sampah desa menjadi barang berguna. Saya minta memanggilmu kesini karena tidak mungkin saya menemuimu langsung. Jadi kita akan membuat janji di ruang rapat sekolah satu minggu lagi. Pastikan kamu sudah menyiapkan presentasi dan kami akan membawa Pengrajin besi, Ahli mesin dan seniman seperti yang kamu minta. Dan ini kontrak kerja kita, didalamnya ada angka yang mungkin bisa kita negosiasi" ujar Nona Kirana dengan percakapan yang terkesan cepat.
Aku mengambil amplop warna coklat yang berisi kontrak tersebut dan tentunya sangat tercengang melihat angka nol yang berjibun dan beberapa klausul pasal yang mengikat juga aku baca sekilas. "Silahkan kamu bawa pulang kontraknya, Kita bertemu minggu depan di hari yang sama dan waktu yang sama. Tunggu kami di ruang rapat pimpinan" Nona Kirana bangkit dan keluar dari ruang Kepala Sekolah di iringi Pak Kepala Sekolah dari belakang.
Aku pulang sekolah dengan perasaan tidak percaya. Aku butuh konsultasi dan saran orang dewasa mengenai ini, tapi aku masih mempertimbangkan untuk mendiskusikan pada nenek.
...****************...
Makan malam-pun berlalu dengan suasana diam. Isi kepalaku rasanya melimpah ruah ingin di sampaikan pada nenek. Akan tetapi aku memilih bungkam menutup rapat informasi tentang berita baik ini karena ku fikir nenek akan melarangku ikut kegiatan di luar rumah karena nanti akan menghambat tanggung jawabku untuk menjaga Kaif.
"Kamu kenapa senyam senyum gitu?" selidik nenek sambil menyuapi makan Kaif.
__ADS_1
"Nggak papa nek" jawabku mengatur kembali ekspresi yang tidak terkontrol ini.
...****************...
Keesokan paginya berlangsung seperti biasanya tapi dengan mood yang berbeda. Aku bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan sekaligus bekal makan siang. Tak lupa aku juga sudah mengemas peralatan Kaif, Snack dan segala keperluannya. Sarapan pagi berjalan sedikit drama karena Kaif sepertinya kembali rewel karena masih proses tumbuh gigi. Beberapa kali kutemukan dot penyet digigit oleh Kaif.
"Nek, Kami berangkat dulu" ujarku berpamitan. Walau sedikit rempong karena membawa banyak barang, kami sudah jarang di antar nenek ke sekolah. "Iya hati-hati" jawab nenek juga mengemas tas hendak ke Kantor desa.
Perjalanan ke Sekolah sedikit terhambat dengan banyaknya barang yang ku pikul. "Huah.. Ibu tunggal lagi ke Sekolah" Axel mengagetkanku dari belakang. "Kemana aja kamu kemarin?" tanyaku memperbaiki gendongan Kaif.
Axel tidak menjawab. Dia justru mengambil tas perlengkapan bayi di tanganku dan juga ransel belakang. Aku rasanya melangkah lebih ringan atas bantuan Axel. "Jawab" ujarku lagi. "Kemarin aku diare. Jadi nggak ke sekolah" Axel mengalihkan pandangannya ke sekeliling.
Aku ceritakan semua kejadian kemarin padanya sepanjang perjalanan dan Axel bersorak girang seolah itu adalah keberuntungannya. Dia juga menawarkan padaku untuk ikut serta dalam projek Recycle Sampah sebagai asistenku dan minta bagian 10% atas usahanya membujuk sekretaris Keluarga Agrayaksa, akupun menyetujuinya.
Sepulang sekolah sepanjang satu pekan kami menghabiskan waktu bersama di rumahku sampai sore membuat presentasi Projek Recycle bersama di kamar ditemani Kaif. Bahkan Kaif juga terkadang ikut mencoret kertas karton seperti tidak ingin ketinggalan atas kesibukan kami yang seolah meninggalkannya main sendirian.
Akhirnya hari presentasi itu datang
__ADS_1
^^^Bersambung^^^