Indentity

Indentity
bab 1


__ADS_3

"PLAKK!!.."


satu tamparan keras melayang tepat di pipi hera. seketika pipi itu terasa panas terlebih air mata hera sudah sampai batasnya. ia menatap sang suami, ares.


"PAPA!!"


terkejut melihat ayahnya menampar ibunya, ia berlari memeluk sang ibu, hera.


"papa ngapain? papa jangan sakitin mama.." gadis kecil itu langsung mengelus lembut pipi sang ibu dengan hangat, dan senyumnya terlihat tulus saat menatap wajah sang ibu.


hera dan ares berusaha untuk terlihat baik baik saja didepan gadis kecil berusia 6 tahun itu. hera mengusap mata dan pipinya sembari memandang gadis kecilnya dengan senyuman hangat.


ares berusaha untuk terlihat baik baik saja, ketika emosinya memuncak, ia berusaha untuk tidak memperlihatkan kemarahannya sedikitpun di depan gadis itu, thena.


"maaf sayang, papa gak sengaja.." ucapnya penuh hangat dengan terus memebelai rambut thena.


"maaf mama sayang, papa udah bersikap kasar.." dengan senyuman palsu yang ia perlihatkan ketika ia menatap istrinya sendiri, hera.


"papa kerja dulu ya thena, kamu baik baik dirumah sama mama, okey? inget kata papa jangan nakal dan selalu nurut." senyuman hangat itu bisa dirasakan gadis 6 tahun, thena.


"iya papa, hati hati ya.." balas thena, dengan wajah imutnya dan senyum yang tidak pernah pudar sampai papanya keluar dari rumah.


raut wajah yang benar benar bisa dibaca dengan jelas oleh orang orang sekitar. ia berjalan tanpa arah dan tujuan dengan raut wajah itu. seketika langkahnya terhenti melihat gedung tinggi dengan banyak karyawan yang lalu lalang.


ia berjalan lagi dengan wajah menunduk, raut wajahnya masih sama.ia benar benar merasa putus asa sekarang, pertengkaran dengan istrinya dan pekerjaan yang sama sekali tidak bisa didapat ares. mencari segala cara agar dapat melihat peluang di depan mata tetapi tetap gagal.


"AAAAA.."


suara jeritan wanita itu mengalihkan pandangan mata semua orang yang ada disitu termasuk ares.


"LARI..LARII.."

__ADS_1


gerombolan orang yang dari arah sebaliknya berlari dengan sangat kencang, membuat semua orang terkejut, begitu juga dengan ares, ia berusaha melihat apa yang terjadi seketika gunungan air menutupi sebagian langit, diikuti dengan gedung gedung bertingkat mulai berjatuhan. ares menyadari hal itu langsung melarikan diri dan menyelamatkan dirinya mencoba untuk mendapatkan perlindungan teraman.


terlambat. ares mulai merasakan bahwa tubuhnya sudah diselimuti oleh air, ia mencoba berenang sekuat tenaga. pikirannya kini terus melayang ia memikirkan sang buah hati yang masih berada di rumah.


kini airnya mulai mengembang, air sudah dapat menelan ratusan orang di belakang ares. ares yang masih berusaha untuk menyelamatkan dirinya walaupun hanya kepalanya saja yang terlihat.


"tolong selamatkan aku, selamatkan putriku.."


batin ares terus menyuarakkan kalimat tersebut. lalu Tuhan menjawab doanya ada sebuah papan berada di tepat depannya. ia berusah meraih papan tersebut.


"dapat.." suara nafas ares yang terengah engah. ia mencoba menenangkan diri dan mencari tempat lebih tinggi agar bisa selanat. tetapi sayang, tidak ada satupun. ia terus bergerak.


sekitar lima belas menit ares berenang. ia terus mengitari jalanan yang sudah penuh dengan air agar dapat sampai kerumahnya. gelombang tsunami itu sudah mulai tenang. banyak sekali orang yang berusaha untuk mempertahankan dirinya. sekeliling ares banyak sekali orang yang ketakutan, menggigil karna terlalu lama didalam air, ada yang terus memanggil nama sahabat, keluarga dan saudara agar mereka dapat bersama melewati tsunami ini.


ares terus melihat sekeliling, ia mengkhawatirkan anaknya. batinnya selalu bicara semoga anaknya selamat. petugas penyelamat tiba tiba datang. mereka segera bergegas untuk menyelamatkan orang orang sudah kuwalahan menghadapi tsunami begitu pula dengan ares. ia dibawa oleh petugas ke tempat yang lebih aman.


setibanya di tempat keamanan, ares diperiksa oleh beberapa perwat yang berjaga dalam pos tersebut. keadaannya baik baik saja hanya terdapat luka luka kecil yang berada di wajahnya tepatnya, di pipinya.


"PAPA.." suara manis itu terdengar nyata di telinga ares. ia langaung menoleh ke sumber suara. ares melihat arah sumber suara. benar. itu thena anaknya, thena langsung berlari ke arah ayahnya. ia memeluk ayahnya dengan sangat erat.


"sayang, kamu gak papakan?.." ares mengecek semua bagian tubuh thena.


"thena gak papa kok pa, thena baik baik aja.." senyum manis itu bisa dilihat sekaligus bisa dirasakan ares lagi dan lagi semoga ia tidak kehilangan anak semata wayangnya yang imut ini.


"mama disana pa, mama juga nyariin papa bareng thena juga.." jelas thena dengan suara imutnya.


"ayo kita ke mama.." ares menggandeng thena dengan senyum hangat mereka bertatapan sebentar lalu bergegas menyusul hera.


"MAMA.." suara thena membuyarkan pandangan hera. ia menoleh ke arah thena, sekaligus mengalihkan pandangannya ke ares tanda bahwa ares ketemu dan selamat.


"papa udah ketemu ma.." dengan senyum kecil di bibirnya membuat hera lega bahwa ares sudah ditemukan.

__ADS_1


"mama baik baik aja?" tanya ares dengan senyum kecilnya.


hera hanya mengangguk dengan tersenyum. lalu mereka langsung ke tempat peristirahatan. thena yang lelah akibat bencana yang dialaminya langsung saja tertidur di paha sang ibu. hera pun membelai lembut rambut hera agar thena lebih nyenyak tidur dan tidak mendengar suara suara kebisingan.


mereka sangat lega ahkirnya bisa berkumpul dengan utuh di pos keamanan. ares lega bahwa anak dan istrinya selamat dan tidak kekurangan apapun begitu juga dengan hera dan thena yang lega bisa berkumpul bersama tanpa meninggalkan siapapun.


malam hari pun, ares mencoba melihat beberapa orang yang ada di luar. semua orang sibuk dengan permasalahannya masing masing sedangkan hera dan thena sudah tidur bersama.ares lun melihat bahwa banyak sekali korban yang sudah tak dapat di selamatkan ia, sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk bertahan dan hidup.


ketika ia sudah ingin masuk ke tenda keamanan dan segera menyusul hera dan thena yang terlelap, orang-orang disana merasakan bahwa tanah bergoyang, begitu pula dengan ares yang masih berada di luar seketika merasakan hal itu, orang orang disana terdiam dan mencoba untuk memastikan yang terjadi barusan, begitu pula dengan ares.


orang orang di tenda keamanan berlarian menjauh dari tempat itu mencoba melarikan diri yang pos keamanan. situasi berdesak desakan ares terdorong keluar dari tenda karena seretan orang banyak berada disana, sedangkan ia berusaha untuk lari karena ingin menyelamatkan thena dan istrinya. ia berusaha keras tetapi tim penyelamat pun menyeretnya keluar dari tenda karna sangat berbahaya untuk kembali. pohon pohon besar mulai tumbang dan berjatuhan.


"ENGGA.. SAYA MAU NYELAMATIN ANAK SAYA.."


"ANAK SAYA ADA DI TENDA, SAYA MAU KESANA.."


"LEPASIN SAYA, SAYA HARUS SELAMATIN ANAK SAYA.."


teriakan ares tak berguna. ia terus dibawa keluar oleh tim penyelamatan. tim penyelamat pun berusaha mencari tempat agar terhidar dari runtuhan gedung gedung dan pohon pohon yang berjatuhan. sekali lagi bencana datang. tetapi kali ini berbeda ares tidak bisa menyelamatkan istri dan anak semata wayang. senyum itu terahkir obrolan itu terahkir tetapi ares berusaha mengelak semua pikiran negatifnya.


ares pun ahkirnya mengeluarkan tenaga besarnya, ia mendorong semua kedua tim penyelamat. ia bergegas lari tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi ke depannya. ia berlari sekuat tenaga agar dapat bisa menyelamatkan istri dan anak semata wayangnya, hera dan thena.


"bertahanlah, aku mohon.." dengan terus berlari dan tetap berusaha memikirkan hal hal yang baik. ia berlari tanpa ragu. diikuti dengan banyak reruntuhan jalan yang mulai roboh akibat gempa yang besar bahkan itu tak membuat tekadnya luntur. tibalah dia di pos keamanan bahkan semua tenda sudah tak bisa berdiri kokoh. pohon pohon tersebut berhasil membuat tenda tenda hancur dan sobek.


"THENA, DIMANA KAMU NAK?!."


"HERA, DIMANA KAMU?."


"THENA INI PAPA, DIMANA KAMU NAK?!."


dengan keras ia berusaha mencari dan memanggil nama thena dan hera. kini ia masih berusaha mencari sekeliling tempat untuk menemukan keberadaan keluarga satu satunya yang ia miliki. hal terjadi begitu saja, tiba tiba gempa yang terjadi hilang, ini sungguh aneh. ares tak memperdulikannya.

__ADS_1


__ADS_2