
"THENA..THENA.."
ares berlari karna melihat sosok perempuan kecil sedang pingsan diujung tempat itu. ia masih bisa berharap bahwa itu adalah putrinya dan tidak terjadi apapun padanya. itu benar, itu thena gadis kecil kesayangan ares yang selama ini ia jaga. tubuhnya dingin. tertimpa reruntuhan pohon besar.
disamping thena terdapat hera yang sedang mengenggam tangan thena dengan sangat erat, dia kewalahan saat berusaha menyelamatkan thena dari pohon besar. tetapi naasnya, reruntuhan pohon lain menimpa seorang wanita cantik, hera.
ares terdiam saat mengetahui dua wanita yang ia sayangi selama ini tewas. ia tak mengeluarkan sedikit air mata pun.
"ini salahku.. ini salahku.."
batin dan pikiran ares kini sedang menyalahkan dirinya. rasa bersalah pun kini mulai mengalir di dalam hatinya. ia membelai rambut thena dengan sangat lembut. ia juga menatap jasad thena dengan mata yang susah untuk dijelaskan. air matanya tertahan. kini mayat anaknya ada di depan matanya.
"KAKAK.."
"KAKAK DIMANA?.."
"AKU TAKUT KAK.."
suara laki laki itu membuyarkan ares, tetapi ia tak peduli.
"KAKAK.."
"TOLONG.."
lagi dan lagi suara itu masih terdengar jelas di telinga ares.
"HEI..!!"
pria itu menoleh ke arah suara.
"Sedang apa disini?.."
"mencari bantuan..?"
"kau pikir ada yang menolongmu? semua orang disini ketakutan dan bahkan terancam untuk mati, tak ada seorangpun yang mau ataupun rela menyerahkan seluruh jiwanya untuk menyelamatkan anak menyusahkan sepertimu.."
lelaki itu ketakutan, ia berusaha menghidari orang yang tidak jelas dan berusaha mengabaikan omongan gila laki laki itu.
"siapa yang tidak mau membantunya?.."
ares datang, mencoba menolong laki laki yang ketakutan tersebut.
"aku akan membantunya." dengan percaya diri ares menjawab.
"lebih baik selamatkan dirimu, jangan melakukan hal yang sia sia.." laki laki gila itu pergi meninggalkan laki laki sekitar umur 21 dan ares.
__ADS_1
ares meninggalkan lelaki itu.
"kak, tolong jangan pergi.." lelaki itu mengenggam tangan ares. ia sangat ketakutan.
"tolong bawa aku pergi juga.."
"aku vulcan, aku kehilangan kakakku.." ares yang merasa iba membawanya pergi dari situ.
mereka berjalan mengintari kota. sekarang tak baik baik saja, kota dipenuhi dengan gedung gedung sudah roboh, orang orang yang mati berserakan bahkan mobil semua rusak hanya kepingan kepingannya saja yang sudah tak bisa diperbaiki.
"siapa laki laki itu?.."
laki laki bernama vulcan itu diam saja, dia hanya memandangi ares sebentar lalu fokus pada jalannya.
"dimana kakakmu?.."
"aku akan bantu untuk mencari kakakmu.."
vulcan diam, wajahnya suram.
ares dan vulcan yang berjalan berdampingan melihat seisi kotanya sudah hancur akibat bencana alam. mereka tak tahu harus kemana. karna mereka hanya menemukan orang mati.
"TOLONG.."
"TOLONG..TOLONG.."
"biarkan saja, sebentar lagi dia juga akan mati.."
"kak, dia masih hidup dia butuh pertolongan kita.." jelas vulcan, dia ingin menyelamatkan suara wanita itu.
"oke.. kalau kakak memang gak bisa, biar aku.." vulcan mencari sumber suara, meninggalkan ares.
vulcan melihat seorang wanita yang tertimpa batu besar. ia segera menolong wanita tersebut, ia berusaha sekuat tenaga menyikirkan batu tersebut dari seorang wanita. tenaganya tak cukup kuat tiba tiba ada dua genggaman tangan yang mencoba membantu vulcan menyikirkan batu itu, ares.
"kakak.." dengan senyum tipis vulcan melihat ares dengan sorot mata yang kagum.
setelah menyikirkan batu besar itu, ares dan vulcan menbompong wanita tersebut. tak ada rumah sakit, tak ada alat medis bahkan wanita itu mengerang kesakitan ketika berjalan berdampingan dengan ares dan vulcan.
"tenanglah.." vulcan menguatkan.
melihat wajah perempuan 28 tahun itu membuat vulcan memberhentikan langkahnya.
"kenapa berhenti?.." tanya ares
"ada sesuatu..?" sambung ares
__ADS_1
vulcan merobek bajunya. ia mengaitkan baju tersebut di kaki perempuan itu dengan sangat hati hati. perempuan itu kesakitan.
"kami akan segera carikan alat medis, bertahanlah.." vulcan menguatkan lagi.
angin kencang tiba tiba menyerang kota itu. angin kencang yang awalnya pelan menjadi hembusan angin topan yang menjadi jadi. melihat keadaan dan kondisi yang terjadi membuat vulcan, ares dan perempuan itu mencoba mencari temoat perlindungan. mereka mencari tempat terbuka agar tidak terbawa angin topan tersebut. mereka berpegangan dengan erat dan mencoba mempertahankan diri agar tidak menjadi lemah.
banyak sekali barang barang yang tersedot angin topan itu. semua barang tersebut tersedot dengan sangat kencang bahkan gedung tinggi yang roboh akibat bencana tadi tersedot hebat karena angin topan. tak disangka vulcan, ares dan wanita itu menemukan tempat yang aman agar mereka tetap aman dan selamat.
kota ini benar benar hancur. tak ada satu pun bangunan yang berdiri kokoh semua lenyap habis tak tersisa. bahkan mayat yang berserakan pun ikut terseret oleh angin topan. ada beberapa orang yang masih selamat tetapi naas, akibat angin topan mereka terseret jauh dan bahkan terpental keluar dari kota ini.
vulcan yang melihat itu merasa iba. ia ingin menyelematkan orang orang yang tersisa. tetapi sekarang, ia hanya melihat dan membiarkan orang tersebut terseret tanpa pertolongan apapun.
angin topan terjadi sekitar lima belas menit. vulcan, ares dan wanita itu terus saja diam di tempat aman itu. mereka merasa beruntung selamat dari tiga bencana yang terjadi di kota kelahiran mereka ini. sekarang angin tersebut berubah menjadi agak pelan, mereka lega.
"TOLONG.."
"TOLONG.."
suara minta tolong terdengar lagi didekat mereka. vulcan yang mendengar itu langsung mengarahkan perempuan itu untuk menepi. vulcan melihat seorang wanita lagi, wanita tersebut terjepit dia antara 2 batu yang berdempetan.
"Tolong.." wanita itu mengais meminta tolong. ia mengulurkan tangannya agar dapat menggapai tubuh vulcan. vulcan merasa iba ia meminta tolong kepada ares agar dapat membantu wanita itu. ia benar benar tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong wanita itu. karna dua batu besar itu berhimpitan mengenai tubuh wanita itu.
"pakai itu.." wanita yang bersama ares dan vulcan sejak tadi menunjuk ke arah mobil yang sudah peyok. mengetahui itu, vulcan bergegas mengendarai mobil itu. mobil itu sudah rusak, vulcan berusaha untuk menyalakannya tetapi gagal. melihat itu, wanita itu segera membuka kap mesin dan segera mengotaj atik apa yang saja yang diketahui oleh wanita itu.
"sudah.. nyalakan.."
mobil menyala, melihat itu vulcan merasa senang. ia segera melajukan mobilnya ke arah batu. ia menabrakkan satu batu agar dapat menyelamatkan wanita tersebut. mobil dan batu itu hancur. wanita itu tergeletak pingsan. ares langsung membawa dan memeriksa keadaan wanita itu. sedangkan vulcan menemukan botol air di dalam mobil dan segera membawanya ke perempuan itu.
perempuan itu sadar, ia meminum air yang diberikann vulcan. dadanya agak sesak karna berhimpitan dengan batu besar cukul lama.
" terima kasih.." dengan senyum leganya ia mengatakan itu kepada 3 orang di depan matanya.
"aku venus.." perempun umur 25 tahun itu mengenalkan dirinya.
"vulcan.." dengan tersenyum ke arah wanita bernama venus.
"dia ares.." vulcan memperkenalkan ares dengan menunjuk ares.
"dan dia.." vulcan terdiam dia belum berkenalan dengan wanita yang di sampingnya itu.
"gue diana.." dengan wajah serius, diana memperkenalkan diri.
"ares.. lihat apa?.." vulcan membuyarkan fokus ares yang tengah melihat sesuatu. melihat itu vulcan melihat apa yang dilihat ares.
" itu.." vulcan diam.
__ADS_1
diana dan venus bergegas melihat apa yang dilihat 2 laki laki itu. mereka ikut terdiam.