
Aku membaca judul yang tertulis di sampulnya dengan lantang, dan seketika hening.
Jika tempat di mana aku mendapatkan ini adalah Jepang, aku hanya akan memberinya senyum pahit... Tapi di sini, ini adalah hal yang buruk.
Di kepalaku, aku teringat rumor tentang Dokora dari apa yang aku dengar dari Maya.
Raja Iblis, mereka yang menghidupkan kembali Sihir Kebangkitan Terlarang mungkin sudah berakhir, Merekalah yang membuat sejarah terburuk di dunia ini.
Dan penduduk bumilah yang dikatakan telah menciptakan Sihir Kebangkitan.
Buku ini jelas terkait dengan itu.
Itu bohong jika ku katakan bahwa aku tidak penasaran. Ini adalah titik kontak pertama, yang aku miliki dengan sesuatu yang berhubungan dengan Bumi, yang aku lihat di dunia ini.
Namun, kata-kata yang tertulis tak menyenangkan.
Sampel, Catatan Investigasi…
Mungkin karena aku memikirkannya terlalu keras, Isi yang mungkin ditulis muncul di benakku.
Itu adalah barang yang ditinggalkan oleh Dokora yang bekerja dalam kegelapan. Sekarang, aku tersesat dalam pemikiranku yang terus berjalan ke 'Jalan Itu'.
“… Apakah kau tidak ingin membacanya?”
Suara Kakek Kara menarikku kembali ke dunia nyata.
Itu benar, aku bukan satu-satunya di sini.
Kakek Kara juga ada di sini.
“Kakek Kara, ada yang ingin aku bicarakan dulu. Ini adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh Illias dan Maya, jadi ku mohon, jangan katakan kepada siapa pun.”
"Aku mengerti."
Aku dengan jujur mengatakan kepadanya tentang keseluruhan cerita.
Aku tidak mengerti alasannya, tetapi aku dipindahkan dari Bumi, Jepang, dan sekarang aku dapat berkomunikasi melalui mantera yang di lafalkan oleh Maya.
Aku berbicara tanpa menyembunyikan apapun.
Dan pada saat itu, aku juga menceritakan apa yang dikatakan Dokora.
"Jadi sekarang, buku ini ada di depanku….."
“Begitu ya… Aku agak mengerti kenapa kamu gemetaran. Tapi, apa yang ingin kamu lakukan?”
“Yang ingin aku lakukan adalah…”
Aku berpikir, dan menghela nafas.
"Aku tidak akan membacanya... Untuk saat ini."
“Jika kau tidak melakukannya sekarang, kau mungkin kehilangan kesempatan membacanya nanti. Apakah kau baik-baik saja dengan itu?
Di dunia ini, mencari ilmu tentang Sihir Kebangkitan adalah Dilarang.
Dan jika isi buku ini persis seperti yang dikatakannya, membacanya akan menjadi tindakan uang menjangkau wilayah Terlarang.
Tentu saja, ada kemungkinan buku ini menggambarkan hubungan antara Bumi dan dunia ini.
Tapi, lebih dari itu, sepertinya ada banyak hal yang seharusnya tidak aku ketahui.
“Aku mungkin sudah membaca ini jika aku sendirian, tapi, Sekarang aku telah membaginya dengan Kakek Kara, aku akan mengikuti aturan dunia ini.”
"Bibirku disegel."
" Kau memang memiliki kepercayaan diri seperti itu, dan aku mengakuinya. Tapi aku sendiri tidak, aku bisa saja membocorkannya walau hanya baru dipukul sekali."
Setidaknya aku tidak percaya diri untuk menyembunyikannya ketika seseorang mencurigaiku dan mencoba menginterogasiku.
Akan sangat menyakitkan untuk disiksa hanya karena itu. Bahkan salah satu kuku di jariku terkelupas akan membuatku kehilangan akal.
Dengan senyum pahit, aku memberikan buku itu kepada Kakek Kara.
“Aku hanya ingin mempercayakan ini kepada seseorang yang bisa aku percayai. Dan, aku tidak ingin ksatria lain seperti Lord Leanor menemukan ini. Bolehkan kau yang melakukannya? "
“Tapi jika kau mempercayakannya kepadaku, buku itu akan berakhir di tangan Lord Ragdo, atau bahkan di tangan Raja.”
“Aku tidak bisa mengatakan apa-apa karena aku belum bertemu mereka. Tapi, jika itu seseorang yang dipercaya Kakek Kara, aku tidak keberatan.”
"Kupikir aku dipercayakan dengan harapan yang berat, tapi, jangan khawatir. Akan ku coba untuk memenuhi harapanmu."
"Yah, akankah kita pulang sekarang?"
Ini baik-baik saja.
Jika buku ini dianggap berbahaya, apa yang aku baca akan diperlakukan sama.
Tapi, bagi orang asing yang dibiarkan tinggal di Kerajaan ini diperlakukan seperti itu tidak baik.
Kakek Kara adalah ksatria tepercaya di Kerajaan ini.
Kalau ada bukti bahwa aku tidak membaca buku itu didepannya, Kakek Kara bisa menjadi saksi ku.
Aku yakin meskipun aku membacanya, Kakek Kara mungkin tidak akan membicarakannya kepada siapa pun.
Namun, Kakek Kara adalah seorang ksatria. Jika dia harus memilih antara kesetiaannya pada kerajaan ini, sang Raja, dan janji yang dia buat saat ini, dia mungkin akan goyah. Tetap saja, alu yakin dia akan menepati janjinya di sini.
Tapi aku tidak ingin ksatria hebat seperti dia melakukan itu.
Aku tidak ingin dia mengkhianati kesetiaannya atau mengingkari janjinya.
"Biarkan aku bertanya untuk terakhir kalinya, apakah kamu benar-benar baik-baik saja dengan ini?"
“Aku ingin hidup damai di sini bersama semua orang.”
"Fohoho, Mumpung masih muda, tidakkah kau ingin berpetualang?"
Kesempatan untuk membaca buku ini belum sepenuhnya hilang. Mungkin… ada harapan, aku pikir alasan apa yang bisa aku gunakan… Sudahlah, lupakan saja.
Aku sudah membuat pilihanku, aku akan membiarkan arus melakukan sisanya.
Jadi kami kembali ke Tiez.
◇
Setelah berpisah dengan pemuda itu, Karagyugjesta menuju ke tempat Lord Ragdo.
Ini kunjungan mendadak, dia pasti merasakan keanehan.
Udara tegang mengalir di antara keduanya di ruangan itu.
"Jadi, ada masalah yang mendesak ?"
“Hari ini, berdasarkan peta yang ditinggalkan oleh pemimpin aliansi bandit, Dokora, aku melakukan penelitian sendiri di pangkalan tertentu.”
“… Aku yakin kau tahu bahwa Lord Leanor sedang bersiap untuk mengirim regu investigasi, bukan?”
"Yah, banyak yang terjadi, aku benar-benar minta maaf."
"Tidak apa-apa, Silakan lanjutkan."
"Ini.."
Mengatakan itu, dia menyerahkan buku yang dia temukan di gua.
Lord Ragdo mengambil buku itu dan melihat sampulnya.
"Hmm, huruf-huruf yang belum pernah aku lihat sebelumnya."
Dan ketika Lord Ragdo membuka buku itu, dia tidak bisa membaca apa pun.
Namun, terkadang, sesuatu seperti ilustrasi tergambar di dalamnya.
Tetap saja, maknanya, sama sekali tidak dapat dipahami.
Setelah membalik buku beberapa saat, Lord Ragdo tiba-tiba berhenti bergerak.
“Karagyugjesta, Apakah kau membaca buku ini?”
“Tidak, aku tidak pernah membuka buku itu sejak aku menemukannya. Aku berani bersumpah, di sini sekarang.”
"Aku mengerti. Itu bagus. Tapi 'Pemuda' itu juga bisa menahan diri dengan baik.”
Mata Kragyugjesta terbuka lebar.
"Bagaimana kau tahu?"
“Aku mendengar cerita dari Maya. Tapi, Illias hanya memberiku jawaban yang tidak jelas.”
Ketika Dokora sedang berbicara dengannya, ada kesatria Ragdo lain di tempat itu.
Jadi tidak heran jika beberapa orang akan mendengar bahwa orang Bumi menciptakan Sihir Necromancy dan Kebangkitan. Dan, tentu saja tidak ada alasan untuk tidak melaporkannya kepada Lord Ragdo.
Lalu, ketika aku mencoba mendengar latar belakangnya dari Maya, Apakah dia akan pergi ke markas itu sendirian kali ini?, Tentu saja tidak, mudah ditebak siapa yang akan dia mintai tolong untuk menemaninya.
__ADS_1
Karagyugjesta membungkuk dan meminta maaf lagi.
"Aku mencoba menyembunyikan ini darimu, tolong maafkan aku!"
"Aku memaafkanmu. Lagipula kita adalah teman.”
Lord Ragdo menutup buku itu setelah dia menyapu seluruh buku.
“Aku yakin kau belum membuka buku itu. Jadi orang itu bisa membaca judul buku ini?”
“Ya, Ketika aku mengatakan aku tidak bisa membacanya, dia membacakannya untukku.”
"Dan, Apa yang dia katakan?"
"Aku yakin dia berkata, Sampel no.4 Catatan Investigasi 'Raja Iblis Hijau'."
Ekspresi Lord Ragdo menjadi lebih suram.
"Banyak Raja Iblis menciptakan sejarah terburuk, salah satunya adalah 'Raja Iblis Hijau', yang muncul sebagai Yang Keempat."
"Benar."
Ilustrasi dalam buku yang hampir tidak bisa aku mengerti, dan arti dari judulnya.
“Sepertinya kita perlu melihat asal usul buku ini.”
“…”
"Jangan khawatir. Baik kau maupun pemuda itu tidak bersalah."
"Benarkah? ... Itu melegakan."
Bertentangan dengan Karagyugjesta yang lega, hati Lord Ragdo bergetar.
Ini harus diberitahukan kepada Raja Marito. Dan harus menyelidikinya secara diam-diam.
Jika informasi tentang ini masih tersedia di suatu tempat, itu tidak dapat diabaikan.
Lord Ragdo memasukkan buku itu ke dalam tas tangan dan dia bangkit.
◇
Setelah menjelajahi hutan, aku berpisah dengan Kakek Kara.
Ada barang bagus, tapi aku tidak ingin mengambilnya dan menjadi penjahat.
Walaupun kuda sudah mengurangi waktu tempuh kami, tapi waktunya sudah sore tepat matahari terbenam.
Aku baru saja makan siang ringan di siang hari jadi sekarang aku merasa lapar.
Bagaimanapun, aku berencana untuk pergi dan memeriksa 'Dog's Bone' di malam hari, jadi aku mungkin akan makan malam di sana.
Karena aku melewati hutan sehingga tubuhku berkeringat dan lengket sekarang.
Aku akan pulang sebentar, mengelap tubuhku dan berganti pakaian.
Nah, punya rumah untuk pulang, dan bahkan ada baju ganti…. Sungguh luar biasa.
Itu sekitar satu hari ketika aku tinggal di pegunungan waktu aku pertama kali di pindahkan ke dunia ini dan itu pelajaran yang bagus, kini aku merasa lebih bersyukur dengan kehidupan sehari-hari yang normal.
"Aku.. Pulaannggg…"
Bahkan jika aku hidup sendiri, aku akan tetap mengatakannya, terutama ketika aku merasa suasana hatiku baik.
"… Selamat datang kembali"
“Whooaaa..!?”
Di pintu masuk adalah Illias, yang sedang duduk di lantai memegangi lututnya dan menatapku.
Illustrasi,
Oh ya. Ini rumah Illias!
Tunggu, kenapa dia duduk di pintu masuk?
Selain itu, dia tampaknya berada dalam suasana hati yang sangat buruk. Pasti ada sesuatu yang terjadi di tempat kerja.
Itu tidak dapat membantu sama sekali. Aku harus menindaklanjuti sebagai orang dewasa di sini.
“Jangan mengejutkanku! Ini adalah pintu masuk tahu? Atau Apakah kau selalu melakukan ini?
“Tidak selalu, Tapi hari ini, aku melakukan ini sejak pagi.”
Aku yakin Kakek Kara tidak bertugas hari ini.
Itu juga berarti Illias, Mungkinkah dia kembali kemarin?
Tapi, untuk melakukan ini sejak pagi…
Hmm, Hmmmm…..
Angin sepoi-sepoi, Agak sejuk… Namun, aku berkeringat dari dahiku.
"Apakah kamu ... menungguku sepanjang hari?"
"Mengapa? Hari ini, aku mengalami kesepian karena ditinggal sendirian sepanjang hari. Ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Aku rasa kau tidak membutuhkanku untuk memandumu berkeliling kota."
"Begitu ya... erm... Aku minta maaf?"
“…”
Oh, dia main-main, kan? Aku masih berkeringat.
Matanya tidak menatapku.
Apa yang harus kulakukan?
“Oh, benar. Apakah kau mau makan malam bersama?”
“Tidak ada bahan makanan mentah. Aku bahkan tidak pergi berbelanja hari ini.”
“Itu, tidak apa-apa. Aku menemukan tempat yang bagus. Manajer dan pramusajinya adalah orang-orang baik…”
"Betulkah? Sementara aku menunggu kepulanganmu sepanjang malam tadi malam, apakah kau ada di sana?”
Buruk! Ini buruk!
“Dan hari ini kau bersenang-senang di tempat itu, kan?…”
"T, Tidak, pada siang hari, dengan Kakek Kara, kami ... Kami berjalan-jalan!"
“Sementara aku menunggu kepulanganmu di pintu masuk, kau bersenang-senang dengan Kakek Kara…”
Ada apa dengannya, sangat merepotkan!
Lebih baik aku diraih dan diguncang olehnya lagi!
"Maafkan aku... aku membentakmu."
Ketika aku memikirkan itu, Dia meminta maaf.
“Aku merasa kalau aku masih belum dewasa. Aku berpikir bahwa seseorang sedang menungguku di rumah, Ketika aku berpikir untuk menghabiskan waktu luangku dengan orang lain, aku menjadi bersemangat… Aku yakin kau memiliki alasan dan keadaanmu sendiri… Maafkan aku.”
Ah, begitu.
Apapun itu, aku telah berkhianat tanpa menyadari harapan Illias.
Dia benar-benar ksatria kelas satu dalam hal pertarungan.
Namun, selain itu, aku pikir dia sama seperti gadis lainnya.
Dia, yang menaruh harapan pada orang-orang, seperti diriku yang dulu.
"Tunggu sebentar. Aku akan berganti pakaian. Dan kemudian kita akan keluar.'
"Ah, oke."
Tidak dapat dihindari jika aku mengecewakannya. Ini tidak seperti kita memiliki kesalahan satu sama lain.
Jadi, apa yang perlu aku lakukan sekarang hanyalah satu hal.
Aku mengambil apa pun yang aku lihat dan langsung mengenakannya.
Dan saat matahari benar-benar terbenam. kami mengunjungi 'Dog's Bone'.
"Bukankah ini ... 'Dog's Bone' itu?"
Ah, Seperti yang diduga, Dia juga mengetahuinya.
"Ya, itu 'Dog's Bone' yang makanannya sudah dikenal."
“Aku memang berpikir untuk berkunjung ke sini ketika aku ingin menghukum diriku sendiri. Aku kira bahwa hari ini adalah waktunya.”
__ADS_1
Apakah seburuk itu? Oh, benar, itu sangat buruk.
"Jangan khawatir. Makanannya terlahir kembali dengan benar.”
“?”
Aku masuk ke dalam, dan sudah ramai banyak pelanggan.
Aku melihat Saira yang sedang sibuk melayani pelanggan. Aku akan menyapanya.
"Selamat datang... Ah!"
“Ini lebih ramai dari kemarin, ya.”
"Huh, aku sangat sibuk sekarang."
Matanya sedikit berkaca-kaca, apakah kamu sebahagia itu? Aku pikir tidak? Sudahlah, aku hanya akan memikirkan itu nanti.
Aku merasa tidak pada tempatnya saat aku menatap dan melihat sekeliling.
Hmm, aku baru menyadari sesuatu yang aneh…
"Mengapa aku melihat orang asing bekerja di sini?"
“Mereka adalah kenalan Madam Domitorkofkon. Dia berkata, 'Bagaimana bisa tiga orang melayani toko yang memiliki makanan enak di menu mereka? Tunggu sebentar, aku akan menghubungi temanku!’.”
Ah, para wanita seusianya sedang melakukan yang terbaik untuk menjadi pramusaji.
Untuk dapur, ada yang memasak selain Gozz dan istri Kakek Kara.
Aku sudah menduga bahkan dengan tiga orang tetap akan sulit, jadi aku pikir aku akan membantu setelah makan, tetapi kurasa itu tidak perlu.
"Hei, bukankah wanita itu adalah istri dari ksatria Ragdo?"
“Ya, aku sudah bisa mati bahagia!”
Jika pengagum bisa melihat istri para ksatria saja sudah bisa bahagia, bisa jadi tempat ini menjadi seperti surga bagi banyak orang.
Saat aku melihat sekeliling dengan hati-hati, apakah kesatria Ragdo juga datang ke sini?
Kakek Kara juga ada di sini. Dia dalam kelompok yang makan di sekitar tepi.
Oh, benar. Mereka sedang tidak bertugas, tetapi istri mereka ada di sini, jadi mereka harus datang ke sini untuk makan. Bahuku terasa berat… melihat pemandangan yang begitu menyedihkan. Itu benar-benar tak terduga.
Yah, mereka makan makanan dengan wajah bahagia, jadi kurasa tidak apa-apa.
Beri mereka lebih banyak alkohol, dan aku yakin mereka tidak akan peduli lagi dengan sekitarnya.
Pokoknya, Mari kita duduk untuk saat ini. Aku memanggil Illias yang melirik dari luar pintu masuk.
“Illias, sepertinya tempat itu kosong, ayo duduk di sana.”
"Y, ya!"
“No, No… Nona Illias!?”
Saira menunjukkan wajahnya yang paling terkejut sejak aku bertemu dengannya.
Dan Illias juga terkejut melihat wajah itu.
“Anda sudah memberkatiku yang rendah ini dengan kehadiranmu! "
"Untuk pramusaji yang mengatakan rendah ke tempat kerja mereka …"
Saira mengulurkan kedua tangannya, Illias menjawab dengan canggung.
Seperti yang kuduga, sepertinya dia tidak terbiasa menerima sambutan semacam ini dari para warga Kerajaan ini.
"Jangan hancurkan tangannya, oke?"
"Mana mungkin lah!"
Kami duduk dan menyerahkan pesanan ke Saira.
Minuman keras seperti anggur disajikan, dan untuk hidangan pembuka adalah keripik dan kentang goreng.
Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku datang ke dunia ini untuk minum.
Aroma dan rasanya mirip dengan wine, namun persentasenya sedikit lebih tinggi dan rasa manisnya lebih kuat.
Jika aku meminum ini tanpa hati-hati, aku mungkin akan segera mabuk.
Aku meraih makanan untuk mengisi rasa laparku.
"Ini ... ini enak."
"Benarkan? Kau tidak pernah makan makanan yang menggunakan garam, karena bahan itu memang tidak umum. Makanan di sini sangat buruk sampai kemarin.”
Kemudian aku berbicara tentang acara kemarin.
Bagaimana aku bertemu Saira dan datang ke toko ini.
Bagaimana aku membawa Gozz ke Maya, untuk melatihnya.
Dan Bagaimana aku pergi ke perusahaan perdagangan Mr.Ban dan mendapatkan garam, dan memikirkan menu baru bersama.
Terakhir, Bagaimana kami membuka tempat ini sampai larut malam, aku benar-benar kelelahan dan tertidur di sini.
"Meskipun ini adalah pertama kalinya kau di kota ini, kau melakukan banyak hal tanpa aku walau hanya untuk satu hari."
“Berkat itu aku kelelahan.”
“Padahal kau bekerja keras untuk orang lain, aku menyimpan dendam sambil menunggumu… aku malu.”
“… Bagaimana menurutmu setelah melihat sambutan Saira?”
“Benar, aku sedikit terkejut… dan bingung.”
"Tapi kau bahagia, kan?"
"Ya, kau benar.."
“Bukan hanya para Ksatria di korps Lord Ragdo. Di luar sana, ada banyak orang yang mengenali dan mengagumimu. Kau selalu melihat orang-orang yang menyalahkanmu. Sedih rasanya kau hanya mempedulikan mereka yang tidak menghargaimu.”
“Benar… aku perlu merenungkannya… Seperti yang diduga, aku masih belum dewasa.”
"Kenapa kau masih mengatakan itu?"
“Aku telah hidup untuk menjadi ksatria yang baik seperti ayahku. Tapi, pada akhirnya, aku terganggu oleh penilaian orang lain, aku selalu gelisah…”
“Tidak apa-apa, kau tahu. Wajar jika manusia dikritik oleh seseorang dan merasa tidak nyaman, atau disukai dan disenangkan oleh seseorang. Itu bukannya tidak dewasa, itu hanya kelemahan manusia.”
“bukan begitu…”
“Illias, apakah ayahmu tidak pernah tersenyum padamu? Apakah dia pria dingin yang terus membunuh hatinya bahkan di depan putrinya?”
“Ayahku… selalu bangga, berani, dan juga tegas…”
Illias melihat ke bawah, dan menatap alkohol di gelas.
“Oh, tapi aku ingat, ketika aku masih kecil, aku membuat mahkota dari bunga… Dia tersenyum ketika aku memberikannya.”
“Jangan pernah kehilangan itu… Terima dan tangkap. Jika ada sesuatu yang tidak kau sukai, ubah kemarahanmu menjadi kekuatan dan tekuklah. Jika ada sesuatu yang membuatmu senang, pegang erat-erat dan gunakan itu sebagai kekuatan untuk bergerak maju.”
"Apakah itu ... sesuatu seperti itu?"
"Ya."
“Tapi pada akhirnya, untuk menunjukkan emosiku, itu dianggap tidak dewasa, kan?”
“Aku tidak bisa menyangkal itu. Tapi, lakukan saja yang terbaik tanpa membuat kesalahan sambil terus bergerak maju. Itulah caraku."
"Ah, tapi jalanmu... itu lebih berbahaya daripada jalanku."
"Apakah itu berbahaya?"
“Itu sangat berbahaya.”
Illias tertawa. Mungkin karena dia minum alkohol.
Senyum kemerahannya terlihat lebih dewasa dari usianya.
Aku akan sering membawanya ke sini. Ada banyak teman Illias di sini.
Ini akan menjadi kekuatannya.
Aku melihat sekeliling… Ya, ada banyak orang yang dapat diandalkan di sini.
Saira tersandung saat mengangkut piring kosong.
Gozz dengan mata berkaca-kaca dimarahi istri Kakek Kara.
Ngomong-ngomong, apakah tidak ada meja kosong yang tersisa karena bertambahnya pelanggan? Anggota korps Lord Ragdo lainnya sampai duduk di lantai, lho?!
Ya… kurasa, terkadang melakukan hal seperti itu tidak apa-apa.
__ADS_1
Lalu, dalam perjalanan pulang, aku menggendong Illias yang mabuk.
Rupanya, hari-hari nyeri ototku sepertinya terus berlanjut.