
Oke, jadi ini adalah awal dari arc 2.
...----------------...
Bulan dan hari mengalir dengan cepat.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak aku datang ke dunia ini dari dunia lain.
….Itu bohong. Ini hanya baru sekitar dua minggu.
Aku tidak akan mengatakan aku bisa hidup tanpa masalah sejauh ini selama melewatkan waktu-waktu itu.
Aku bangun perlahan, mencuci muka dan pergi ke dapur.
Pertama, aku perlu membuat api. Yah, aku sudah terbiasa membuat api dengan menggunakan batu api, jadi mudah.
Kemudian aku menghangatkan sup yang banyak aku buat saat makan malam kemarin.
Di panci lain, aku merebus air untuk merebus telur.
Sejujurnya aku suka setengah matang, tapi… Huh, aku rindu kontrol kualitas Jepang.
Aku yakin akan sulit mengembangkan antibiotik, tapi bagaimana dengan teknologi pasteurisasi?
Jika aku bisa menjaga suhu air panas tetap konstan, aku bisa menggunakannya untuk membuat telur rebus… Tapi, aku tidak bisa. Di sini, tidak ada termometer.
“Apakah tidak ada yang bisa aku lakukan….”
Aku meletakkan telur rebus ke dalam air dingin dan membiarkannya sebentar.
Lalu, meletakkan panci di tengah meja, lalu cuci tiga mangkok kayu sebelum aku taruh di atas meja.
Sambil meniriskan telur rebus, aku pindahkan ke saringan dan juga menaruhnya di atas meja.
Terakhir, beberapa buah dan pisau buah.
Hmm, melihat ini membuatku ingin yogurt juga.
Aku ingin membuat bacon dan telur daripada telur rebus, tetapi biaya pembuatan bacon adalah….
Sungguh, orang yang memasak makanan Jepang di pagi hari itu luar biasa.
[TN; Mengapa? karena butuh banyak waktu untuk mempersiapkannya]
Aku menuangkan sup ke mangkuk. Dan mengatupkan tanganku seperti ketika seseorang ingin berdoa.
Kupas telur rebus dan taburi sedikit garam.
Bagian luarnya agak dingin, tetapi bagian dalamnya agak hangat.
Dan sebelum supnya menjadi dingin, aku menyesapnya ke mulutku.
Huuu, aku menarik nafas, dan makan satu butir telur.
Dan, salah satu teman serumahku datang.
"Shisho, Selamat Pagi!" (Wolfe)
“Pagi, Wolfe. Hari ini juga, kamu sangat bersemangat.”
"Wolfe selalu semangat!" (Wolfe)
Kecepatan belajar Wolfe sangat cepat.
Dia tidak membutuhkan Sihir Kepemilikan lagi.
Dia belum bisa mengucapkan kata-kata yang sulit, tapi dia sudah bisa berbicara bahasa yang umum di dunia ini.
Beberapa hari yang lalu adalah periode tunggu dan lihat setelah membatalkan kepemilikan, tetapi dia tampaknya tidak memiliki masalah apapun.
Hm? Bagaimana dengan orang dari dunia lain ini?
Hahaha, masih dalam proses.
Mampu berkomunikasi dengan orang lain sangat menarik bagi Wolfe, Jadi, upaya dan motivasinya untuk mendapatkannya sangat bagus.
Di sisi lain, karena aku masih terbiasa dengan bahasa Jepang, sulit bagiku untuk menghilangkan kesenjangan antara bahasa, dan karena sihir yang nyaman seperti Sihir Kepemilikan ada, aku ingin tetap mengandalkan itu. Te-he
[TN; Te-he adalah… cari sendiri kalau tidak tahu. Te-he]
Tapi baru seminggu atau lebih sejak aku mulai belajar, kau tahu?
Jadi, apakah tidak cukup jika aku bisa mengatakan 'Halo' atau 'Senang bertemu denganmu', bukan?
Setidaknya aku membuat beberapa kemajuan. Sering kali beberapa kata tidak diterjemahkan dengan benar menggunakan Sihir Kepemilikan ini.
Misalnya kata 'Sampel', awalnya Kakek Kara tidak mengerti arti kata tersebut.
__ADS_1
Alasannya sederhana, karena arti dari 'Sampel' itu adalah 'Sampel' itu sendiri yang melekat di kepalaku.
Tampaknya jika, ketika aku berbicara tentang 'Contoh' itu ketika berpikir kuat bahwa artinya adalah 'Contoh' itu, maka mereka akan mengerti itu.
Aku perhatikan banyak sekali masalah seperti ini ketika menulis menggunakan bahasa barat.
Aku mencoba menulis 'Agenda' dan 'Resume' dalam bahasa barat, dan tidak ada yang memahaminya.
Nah, itu dia.
[TN: jadi, maksud MC adalah, Jika dia mengucapkan kata 'Sampel', dalam hal ini dia mengatakannya dalam bahasa Inggris, dan terus berpikir bahwa artinya juga 'Sampel', tidak ada yang bisa memahaminya. Jadi, yang perlu dia lakukan adalah ketika dia mengucapkan kata 'Sampel', dia perlu memikirkan artinya dalam kata Jepang.]
“Hmmmm♪ Hmmmm♪ Hmmmm♪” (Wolfe)
Wolfe menuangkan lebih banyak sup sambil bersenandung dan memegang kedua tangannya sendiri.
Awalnya tidak perlu bergandengan tangan di dunia ini. Namun, doa dengan tangan bersama ada dalam ajaran agama Yugura.
"Itadaki-masu!" (Wolfe)
Tentu saja, bahasa yang dia gunakan adalah bahasa Jepang. Aku tidak memaksanya untuk mengatakannya, tetapi dia telah sepenuhnya mempelajari bahasa Jepang ini.
Tetap saja, dia makan lauk sederhana ini dengan sangat nikmat.
Itu membuatku ingin memasak sesuatu yang lebih baik untuknya.
"Shisho, kemana kita akan pergi hari ini?" (Wolfe)
“Hari ini kita akan pergi ke tempat Marito. Jadi, Wolfe harus berlatih dengan Kakek Kara dan ksatria lainnya, oke?”
"Oke!" (Wolfe)
Dan akhirnya, teman serumah terakhirku bangun.
Dia seharusnya mencuci muka dulu, karena dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang mengantuk.
"Illias, Pagi!" (Wolfe)
“… Pagi, Wolfe.” (Illias)
Illias menuangkan sup dengan cara yang sama dan mulai makan.
Sambil menatapku, Dia mengulurkan tangan mengambil buah dan berbicara kepadaku.
“Ketika aku pertama kali melihatmu, aku pikir kau adalah orang yang tidak akan bangun begitu kau tidur.” (Illias)
“Aku sangat lelah saat itu. Aku biasanya bangun jika merasakan matahari pagi di kulitku selama satu jam.”
Dan cara aku tidur saat itu lebih mirip dengan pingsan, kau tahu?
Aku harus menyembunyikan dendam ini padanya.
“Dan di sini aku kira bahwa Illias selalu energik dari pagi.”
“Aku akan seperti itu setelah berganti pakaian. Itu sebabnya aku selalu mencoba memakai baju zirah besiku bahkan di rumah.” (Illias)
Aku bisa mengerti jika memakai armor di rumah seperti pekerja kantoran yang memakai jas. Tapi, rasanya lebih seperti pemadam kebakaran yang memakai pakaian pemadam kebakarannya, lho?
Aku memutuskan untuk berpikir seperti itu. Dan aku yakin Wolfe juga akan seperti itu… Bagaimanapun, aku mulai mengupas buah untuk Wolfe dan Illias.
“Tapi bukankah itu alasan mengapa citra disiplin dan kaku diarahkan padamu oleh orang-orang?”
"Itu... aku tidak bisa menyangkalnya." (Illias)
Menurut Saira, yang merupakan perwakilan nasional dari seseorang yang akrab dengan situasi ksatria, citra Illias yang dimiliki warga adalah “Tegas”, “Serius”, “Bermartabat”, “Dia tidak bisa membuat lelucon”, “ Aku akan mati jika Dia marah”, dan mungkin yang lainnya.
Ketika Dia mendengar yang terakhir, dia membuat wajah yang sangat tertekan.
Aku dan Saira setuju bahwa citra seperti itu harus dihilangkan sampai batas tertentu, jadi sekarang, kami sedang membuat rencana untuk itu.
“Mencapai prestasi itu penting. Tapi, kau juga harus berhati-hati tentang kesan seperti apa yang harus kau berikan kepada orang lain.”
“Hmm… bisakah kamu memberitahuku secara detail apa yang harus aku lakukan?” (Illias)
“Saat seseorang menyapamu, balaslah dengan senyuman. Itu cukup untukmu.”
"Senyum. Senyum." (Illias)
Jangan bilang kalau itu adalah senyuman?
Jika sapaan itu dibalas dengan wajah seperti itu, warga akan berpikir ‘Hei, apakah aku melakukan kesalahan?’. Itu akan membuat mereka takut!
“Pertama-tama, berlatihlah tertawa secara alami. Terkadang kau bisa melakukannya.”
"Bukankah sulit untuk tersenyum saat menyadarinya?" (Illias)
“Tentu saja sulit. Apalagi jika jarang melakukannya. Lagi pula, tidak ada ruginya melakukannya, jadi berlatihlah dengan giat.”
__ADS_1
"….Apakah kau bisa?" (Illias)
"Tentu saja bisa."
Aku menunjukkan senyum yang menyegarkan. Tapi, dia malah menjauh.
Gadis gorilla ini. Senyumku dan senyummu seperti langit dan bumi lho!?
"Apa? Apakah kau punya masalah dengan itu?"
"Tidak, tidak apa-apa, aku hanya berpikir bahwa 'kamu juga bisa membuat wajah seperti itu ya'... Pokoknya, aku harus berusaha keras untuk itu." (Illias)
Setelah itu, Illias berganti ke baju zirahnya dan menuju ke kastil terlebih dahulu.
Aku membersihkan piring dan melakukan bersih-bersih rumah secukupnya. Tentu saja Wolfe juga akan membantu.
Sekarang Illias bahkan memintaku untuk membersihkan kamarnya juga. Ini bukan berarti Illias tidak suka membersihkan kamarnya sendiri.
Biasanya, aku melakukannya setiap hari, tetapi setelah pulang ke rumah, itu selalu sore atau malam. Jadi, selama aku tidak bisa melakukan bersih-bersih dan mencuci dengan baik, aku mencoba melakukannya bersamaan saat aku libur.
Selain itu, aku biasanya melakukan laundry di tempat seperti toko laundry.
Setelah dibersihkan dan dicuci, kami berangkat ke kastil. Aku berjalan karena aku tidak memiliki yang namanya kereta pribadi.
Untuk mempermudah, aku mencoba membuat Wolfe membawa tubuhku seperti yang dilakukan Gorilla sebelumnya, tetapi aku menyerah karena aku khawatir dengan pandangan orang-orang. Jadi, mari kita terima saja sebagai jalan-jalan setelah makan dan berolahraga ringan.
Wolfe juga mengikutiku sambil bersenandung. Ketika Wolfe sedang tidur siang sebelumnya, seseorang yang sedang membuat makan siang sedang menyanyikan lagu bersenandung, dan dia mendengarnya, jadi pria itu memutuskan untuk mengajarinya.
(TN : Pria itu adalah MC kita, lol)
Sejak saat itu, aku sering mendengar ungkapan yang hanya pernah aku dengar di suatu tempat di Jepang…
Pandangan semua orang di sekitarku…. Sepertinya mereka mulai terbiasa.
Dalam beberapa hari terakhir, Beberapa orang dari suku Serigala Hitam sering datang ke Tiez.
Dan Kerajaan juga secara resmi mengumumkannya. Jadi, tidak heran jika ada Demi-Human yang berjalan-jalan.
Namun, reaksi mereka tidak sebanyak reaksi orang-orang di Jepang saat melihat orang asing di Tokyo.
Jika ada, itu hampir sama seperti ketika kau melihat sesuatu yang tampak sedikit tidak biasa ketika kau mengunjungi daerah pedesaan.
Ngomong-ngomong, Wolfe menonjol dengan warna putihnya. Itu membuatku ingin bertanya merek pemutih apa yang dia gunakan…. Jangan khawatir, aku belum pernah menggunakannya.
Jika mereka terbiasa melihatnya sedikit lagi, dia akan diterima sebagai gadis Demi-Human yang populer di lingkungan ini, tetapi tampaknya dia sedikit enggan untuk berbicara dengan orang lain yang dia belum tahu namanya.
Oh, dan karena seseorang dengan rambut hitam dan mata hitam itu langka, jadi terkadang aku merasa mereka menatapku seperti turis asing.
Akhirnya kami pun tiba. Aku menunjukkan surat izin lewat kepada prajurit di depan jembatan dan memasuki pekarangan kastil.
Sertifikat lewat ini diberikan oleh Lord Ragdo. itu adalah item luar biasa yang memungkinkanmu untuk bertemu dengan Lord Ragdo dan Raja Marito dengan hampir tanpa prosedur.
Alasan aku bilang hampir karena, aku harus menunggu saat mereka sedang sibuk seperti saat rapat atau saat berhadapan dengan tamu asing.
Kami melanjutkan perjalanan melalui lorong ke kantor. Aku menyapa para penjaga dan mereka membiarkanku masuk.
Di dalam, ada sosok Marito menghadap ke meja dan dokumen.
"Yang Mulia, Selamat Pagi!" (Wolfe)
“Pagi, Wolfe. Pagi, temanku.” (Marito)
"Apakah ini akan memakan waktu lama?"
"Itu benar. Jadi, duduklah sebentar dan tunggu aku.” (Marito)
Aku duduk di kursi yang telah disiapkan untukku. Ada buku pribadi di atas meja.
Marito sedang membereskan dokumen di kantornya selama kami menunggu. Karena dia butuh waktu untuk menyelesaikannya, jadi dia memberiku sebuah ruangan untuk membuatku sibuk.
Itu sebabnya aku menghabiskan waktu membaca dan belajar dengan Wolfe. Setelah itu, saatnya untuk kembali ke tujuan awal kami datang sini.
"Apakah ada yang berubah?"
"Ya. Umumnya orang membiarkan orang memilih apa yang ingin mereka pelajari di sekolah. Tampaknya program akan dimulai setelah memilih beberapa kandidat. Namun, seperti yang diduga, menaikkan tingkat pendidikan seluruh kerajaan tidak mendapat banyak dukungan.” (Marito)
“Yah, kurasa begitu. Anak-anak disini dianggap sebagai potensi pekerja yang sangat berharga. Jika masa belajarnya diperpanjang, mereka akan belajar terus sampai bisa bekerja. Sayang sekali tidak menggunakan tenaga kerja seperti itu.”
“Jika ada yang bisa mengincar menjadi pejabat tinggi seperti duniamu, kurasa kita bisa berharap. Namun, banyak orang mendengarkan cerita tentang pemberian insentif atau beasiswa untuk mengizinkan anak-anak biasa yang menjanjikan bersekolah di sekolah tempat para bangsawan bersekolah." (Marito)
“Apakah para aristokrat menunjukkan keengganan untuk menambahkan orang-orang biasa ke dalam pekerjaan yang didominasi aristokrat?”
“Tidak banyak yang bisa dikatakan tentang itu. Namun, ada juga pendapat bahwa anak-anak bangsawan akan dimotivasi dengan membangkitkan harga diri mereka.” (Marito)
"Jadi begitu. Tapi ketika akhirnya diperkenalkan, aku merasa mereka akan dilecehkan oleh kelas aristokrat.”
Apa yang aku lakukan sejauh ini adalah menjawab pertanyaan dari Marito.
__ADS_1
Mengapa? Karena ketika dia memintaku untuk berbicara tentang Bumi, aku tidak tahu harus mulai dari mana, jadi kami memutuskan seperti ini.
Dia bertanya, aku menjawab.