
“Apa kamu yakin mereka ada di sini, Nii-chan?” tanya Sachiko.
“Ya, aku sudah memastikannya menggunakan [Kenbunshoku Haki].” Keith mengangguk. “Jarak asli dari Haki-ku adalah 20 meter, namun dengan berfokus diri, aku bisa meningkatkan jangkauannya, meski hanya sekitar 5 meter.”
Karena situasi mendesak, yaitu Rikka dicurigai sebagai individu yang terpengaruh kutukan, Keith bersama Suiseiseki dan Sachiko masuk ke dalam mode pengamat dan bergerak dengan cepat dalam garis lurus. Untung saja Keith menggunakan [Shikigami no Mai] memiliki kemampuan untuk melayang, kemudian dua sisanya tidak perlu dipertanyakan.
Untuk Miko, dia ditinggalkan bersama Souseiseki. Sendirian terlalu berbahaya bagaimanapun juga, sedangkan Miko yang tidak bisa menembus tembok akan memperlama mereka karena harus mengikuti lorong yang berkelok-kelok. Bahkan, Keith sendiri tidak tahu mana lorong yang benar dan mana lorong yang menyesatkan, sedangkan Miko sendiri sampai lupa jalan sebelumnya. Dia juga perlu melawan beberapa monster di tengah jalan.
Kino mulai ke luar kelas untuk mencari keberadaan Rikka Takanashi yang tidak tentu di mana.
Lorong-lorong di sini gelap dan lembab. Tanda-tanda kehidupan dipenuhi dengan warna merah darah dan redupnya lampu ruangan. Perasaan menekan dan semakin membuat Kino merasa tidak nyaman, tetapi dia tetap berhasil mempertahankan wajahnya yang dipenuhi ketenangan. Dia sangat ahli dalam itu.
Langkah di lorong panjang dan beberapa belokan dilalui Kino sampai dia akhirnya berada di tempat toilet, di mana Rikka seharusnya berada di sana. Semakin dekat dia di tempat itu, semakin jelas pula dia mendengarkan suara Rikka Takanashi yang seperti sedang berbicara dengan sesuatu, tetapi hanya suaranya saja yang terdengar tanpa suara lawan bicara.
Ketika dia berbelok, betapa terkejutnya dia melihat penampilan Rikka.
"Sudah kuduga, ya. Bukan Miko yang menjadi gila di tempat ini, tapi kamulah yang telah menjadi gila…," kata Kino pelan.
Dia melihat sosok Rikka sedang berbicara, bukan ke pada sosok normal seperti manusia, namun sosok tersebut adalah hantu.
Yang pertama adalah hantu gadis kecil tanpa kepala dengan pakaian bersimbahan darah, sedangkan yang kedua adalah bocah dengan kepala telah terpotong mulai dari rahang sampai ke atasnya. Tentu saja kedua hantu ini tidak bisa menanggapi perkataan Rikka, namun mereka berdua seperti mendengar apa yang Rikka katakan.
"Oh… Kino kah?" Dia berbalik pada Kino dengan wajahnya dipenuhi senyuman gila. "Lihat ini, Kino. Mereka berdua adalah teman baruku. Keduanya adalah anak-anak yang baik, sayang sekali mereka berdua terjebak di tempat ini. Bagaimana menurutmu jika kita membawa mereka pergi dari sini?"
"Maaf, tapi harus kutolak." Kino mengambil senapan persuader di balik punggungnya.
*Dor!* *Dor!*
__ADS_1
Dua tembakan dengan atribut cahaya langsung menembus dua sosok hantu itu, kemudian langsung memusnahkannya dalam sekali serang.
"Bagaimanapun mereka berdua bukanlah seseorang yang seharusnya ada di dunia ini," jawab Kino datar sambil masih memegang senapannya.
“Kenapa? Kenapa kamu bisa melakukan hal sekejam itu?” Rikka bertanya dengan mata polos, tidak mengetahui akan kesalahannya. “Padahal mereka berdua hanyalah anak-anak yang ingin berteman baik. Kenapa kamu tega melenyapkan mereka berdua? Apa kesalahan yang mereka berdua lakukan sampai harus menanggung semua rasa sakit itu?”
“Rikka, dengarkan aku. Saat ini kamu sedang tidak sehat.” Kino mengarahkan senapan persuadenya pada Rikka. “Lebih baik, kamu beristirahat saat ini. Jangan melakukan apapun, jangan menggunakan kekuatanmu, dan tenangkan pikiranmu sendiri.”
Kino tidak berniat untuk membunuh Rikka. Dia mengarahkan senapan pada bahu Rikka, yang mana ini hanya akan melumpuhkannya jika situasi menjadi memburuk. Bila ini masih kurang, dia masih bisa menembak ke bahu satunya, kaki, atau area manapun yang bukan titik vital. Meskipun Kino tidak memiliki skill tipe pemulihan, apalagi yang bisa dilakukannya selain melumpuhkan dengan cara itu?
Dia tidak seperti Miko yang merupakan anggota grup dengan cara bertarung membuat jebakan. Dia tidak seperti Miko yang memiliki kemampuan untuk mengikat lawannya. Tidak banyak yang bisa dilakukannya selain melukai lawan untuk melumpuhkan. Teknik bela diri? Lupakan saja, karena dia tidak memiliki kemampuan ini di dalam daftar skillnya.
“Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?” Rikka hanya mengulangi kata yang sama dengan gilanya.
“Merepotkan saja…. Sayang sekali aku tidak bisa menolongnya,” monolog Kino datar.
*Dor!*
*Trank!*
Sayang sekali, Rikka menggunakan [Accel] untuk mempercepat dirinya, kemudian membentuk elemental waffe yang menangkis peluru tersebut menggunakan ganggang dari palunya.
Ekspresi Rikka sangat dingin seakan dia sama sekali tidak peduli pada apa yang ada di sekitarnya. Itu adalah mata seseorang yang telah kehilangan keinginannya untuk hidup dan berada di bawah depresi mendalam. Namun tidak seperti orang-orang yang berputus asa, kemauan yang dimiliki Rikka bukanlah mengakhiri hidupnya, namun dia ingin mengakhiri hidup siapapun yang berusaha menghentikannya.
‘Cepat! Kemampuan dari grup memang tidak bisa diremehkan!’
*Ses!*
__ADS_1
Rikka tiba-tiba saja muncul di belakang Kino menggunakan [Accel] dan [Gap-Cleaver (Shukuchi)]. Elemental waffenya telah berubah dari bentuk palu menjadi bentuk pedang yang sangat tebal.
*Ses!* *Sis!* *Sis!* *Sis!*
[Fluoroscopy] Kino telah memberitahukan tentang Rikka yang muncul di belakangnya. Dia langsung melompat menjauh menggunakan [Accel] dan [Shunshin no jutsu], kemudian selama dia melompat beberapa lemparan pisau dilakukan Kino.
*Swirl!* *Clank!* *Clank!* *Clank!*
Rikka memutar pedangnya seperti tongkat di depan tubuhnya, membuat ketiga pisau itu terpantul.
‘Menakjubkan, ya. Aku tidak menyangka dia bisa memutar pedang seperti tongkat. Juga, apakah dia tidak peduli pada bilah dari pedang itu?’ Kino mendarat beberapa meter jauhnya. ‘Tapi seranganku ini masih belum selesai! [Homing Enchant]!’
*Floating!*
Ketiga pisau tersebut melayang seperti ada yang mengendalikannya.
Yap, Kino lah yang melakukannya menggunakan [Homing Enchant]. [Homing Enchant] sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk dapat mengendalikan proyektil dari jarak jauh dengan membuat hubungan seperti “benang” dengan benda tersebut. Ini adalah sihir yang digunakan Alma dari dunia Shikkaku Mon no Saikyou Kenja.
*Poof!* *Trank!* *Trank!* *Trank!* *Trank!*
Rikka mengubah pedang besar miliknya menjadi katana, kemudian satu per satu mulai menangkis pisau yang mengarah padanya.
*Trank!* *Trank!* *Trank!* *Trank!*
Namun Kino tentu saja bukan seorang amatir dalam pertarungan, jadi hujaman pisau dari berbagai arah terus menyerang Rikka berkali-kali selama beberapa lama.
Kino sendiri tidak melakukan banyak tindakan selain mengamati pergerakan Rikka yang sangat aneh, berbeda dari cara bertarung biasanya. Selain karena dia harus fokus untuk mengontrol ketiga pisau miliknya, tidak banyak serangan yang bisa dilakukan. Lemparan pisau ketika dalam [Accel] dan [Shunshin no jutsu] saja berhasil ditangkis, jadi bagaimana dengan peluru biasa? Kecepatan dari skill [Accel] bisa mengatasi banyak hal.
__ADS_1
‘Pergerakannya benar-benar berbeda dari sebelumnya. Dia bagaikan menjadi seseorang yang sangat terlatih, bukan gadis yang suka bermain-main seperti sebelumnya. Apakah ini kemampuan dari kutukan di tempat ini? Sayang sekali dia menjadi gila dan liar.’