
Setibanya di Rumah aku langsung membuka pintu rumah
Cklekk...
Saat pintu terbuka di depan sudah terlihat wajah Ibu Mertua ku dengan wajah yang kusut seperti menahan marah. Tubuhku yang sudah lesu ini Tak mau ambil pusing dengan Ibu Mertua ku aku lebih memilih untuk langsung ke kamar
Aku langsung saja berjalan melewati Ibu Mertua ku itu
"Hei! Dasar kau menantu kurang ajar Mertua lagi berdiri di depan bukan salam bukan ngomong malah ngeleos kamu tau sopan santu atau tidak Winda!!" Sungut Ibu Mertua ku dengan teriakan nya yang mampu memecah gendang telinga ini tapi aku sama sekali tidak peduli dengan teriakan ini, saat aku berjalan di tangga tiba tiba anak ku Alfi menghampiri ku dengan senyum yang tidak pernah luntur dari wajah nya itu
"Mamah, ko baru keliatan? Mamah tadi kemana?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut kecil anak ku ini mampu membuat ku tersenyum kembali
"Mamah tadi abis nganterin makan siang ayah, kamu gimana tdi sekolah nya?" Tanya ku sambil berjongkok untuk menyamakan tinggi badan anak ku ini, menurut ku sangat penting untuk menanyakan aktivitas apa saja yang telah di lakukan anak ku saat Sekolah
"Baik mah, tau gak tadi aku dapet nilai seratus trus aku di kasih hadiah sama Bu Guru"
"Pinter banget anak mamah ini" ucap ku sambil memeluk anak kesayangan ku ini. Alfi memang lah sangat pintar dia selalu menjadi kembagaa gurunya di sekolah aku beruntung dan bangga punya Alfi
Tetapi meskipun Alfi pintar selalu mendapat peringkat satu Mas Adi tak pernah memperdulikan nya sama sekali ia lebih memilih bekerja dan bekerja di banding melihat anak nya Tumbuh
Setelah itu aku biarkan Alfi untuk makan dan aku bergegas pergi ke kamar rasanya penat sekali tubuh ini, ya Allah apakah aku kuat menjalani ini semua apakah aku kuat mendapatkan perlakuan tidak baik dari Suami dan Ibu Mertua ku sendiri rasanya kepala ini ingin pecah saat memikirkan ini semua Rumah Tangga yang sudah di bangun 10 tahun harus goyah seperti ini
Aku langsung bergegas menuju cermin dan melihat diriku yang sering di bilang cupu oleh Mas Adi dan juga Ibu
Saat tengah bercermin sepertinya aku memang sedikit berpenampilan kumuh dan seperti sudah berkepala lima sedangkan umur ku saja baru 30 tahun, aku dulu memang menikah muda karena aku sangat tergila gila akan Mas Adi yang tampan, mapan, baik lagi tapi apa sekarang sepertinya Mas Adi sudah sangat berubah sekali
"Apa aku harus perawatan, tapi aku dapat uang darimana sedangkan Mas Adi hanya ngasih uang 500 Ribu untuk satu bulan sangat tidak cukup kalo aku perawatan"
Rasanya pusing sekali memikirkan ini tapi lebih baik aku langsung mandi dan menyiapkan makan sore untuk Mas Adi, Ibu dan juga Alfi
15 menit kemudian...
Hari ini aku akan masak Sup daging saja dari pada nanti ibu ngomel ngomel karena aku selalu masak itu itu aja
Aku langsung bergegas ke dapur untuk memasak tak perlu waktu lama 20 menit aku sudah siap dengan sup daging ku ini
"Wah, tumben kamu masak sup daging biasanya nasi goreng sama ayam kecap Mulu" ucap Ibu Mertua ku dengan muka yang tak suka kepadaku aku rasanya ingin sekali mencabik cabik mukanya itu
"MAMAH" teriak anak ku dari arah tangga dengan muka ceria nya. Aku selalu bersyukur anak ku ini selalu ceria dan tak pernah mengeluh soal apapun
"Kamu berisik banget, jadi anak itu yang sopan malah teriak teriak kaya gitu ibu sama anak sama aja sama sama gak tau sopan santun" ketus Ibu dengan mata yang meolotot nya itu. Aku segera bergegas menggendong Alfi dari situ dan pergi keluar meninggal kan Ibu yang masih mengomel, biarlah Ibu bicara sendiri lebih baik aku ajak Alfi ke luar untuk mencari makan jarang jarang aku ajak Alfi untuk makan di luar
__ADS_1
Biarlah uang belanja buat kemarin aku pakai toh ini juga bukan salahku karena Mas Adi sama sekali tidak pernah memberi ku dan Alfi uang jajan
"Mah kita mau kemana?"
"Kita mau makan di luar sayang" ucap ku dengan lembut
"Horeeee, makan di luar" ucap anak ku dengan senang dan ceria dia sangat bahagia ketika aku berbicara akan makan di luar memang aku baru pertama kali ajak Alfi makan di luar mau ajak pun selalu tidak di perbolehkan oleh Mas Adi katanya selalu menghambur hambur kan uang seketika aku ingin sekali menangis tapi aku tahan dengan sekuat kuat nya aku tidak boleh lemah di depan Alfi aku harus kuat
Setelah beberapa menit kami berjalan tibalah kami di sebuah pedagang kaki lima dengan gerobak yang bertuliskan bakso
"Mas bakso nya dua ya" ucap ku ke pedagang bakso tersebut sambil menunggu aku melihat wajah anak ku yang terlihat sangat bahagia itu
"Gimana sayang, seneng?"
"Seneng banget mah, makasih yah udah ajak aku makan di luar"
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya pesanan ku sudah datang, saat aku ingin melahap bakso tersebut tiba tiba aku melihat Mas Adi dengan wanita ular berada di taman sebrang gerobak bakso ini seketika mata ku memanas hatiku sakit darah ku mendidih menyaksikan pemandangan di depan namun aku bersikap biasa saja karena sedang ada Alfi jika Alfi melihat Ayah nya dengan Wanita lain, apa katanya nanti sebaikanya aku menahan dulu nafsu ku ini
"Mah, kenapa bakso nya gak di makan?"
"Eh, iyah mamah ini juga mau makan ko. Kamu makan yang banyak yah biar tambah gede"
Melihat anak ku makan dengan lahap nya rasanya hatiku sedikit lebih hangat namun tetap saja selera makan ku sudah hilang aku hanya memakan dua suap bakso rasanya tidak enak sekali karena sudah melihat pemandangan yang mendidihkan darah tadi setelah beberapa lama aku langsung saja pulang sesampai nya di dalam Rumah aku sudah melihat Mas Adi dan Ibu yang tengah duduk di Ruang tamu
"Dari mana aja kamu?" Sungut Ibu dengan sewot nya
"Abis makan bakso Bu sama Alfi" terang ku
"Enak yah kamu makan bakso di luar sementara Ibu kamu tinggal di rumah sendirian dasar istri durhaka kamu" ucap Mad Adi dengan begitu lantang nya yang membuat mata ku memerah seketika
"Alfi kamu ke kamar gih" titah ku pada Alfi karena aku tidak mau Alfi sampai mendengar perdebatan ini setelah ku pastikan Alfi telah masuk kamar aku langsung saja membela diri ini yang selalu di salahkan
"Aku tadi keluar karena memang ingin jalan jalan toh kamu juga tidak pernah mengajak Alfi jalan jalan dan yah Mas asal kamu tau aku liat tadi kamu jalan jalan dengan Wanita ular itu di taman"
Setelah mendengar penuturan ku seketika wajah Mas Adi terlihat tegang
"Wanita ular? Apa maksudnya istri kamu itu Adi" ucap Ibu dengan menatap heran Mas Adi Aku yakin Ibu akan marah ketika mendengar anak yang selalu ia banggakan tega teganya selingkuh
"Jadi aku selingkuh dari Winda karena aku udah bosan Bu sama dia yang cupu seperti ini aku malu Bu masa Istri dari Direktur seperti ku berpenampilan cupu dan kampungan seperti ini"terang Mas Adi yang lagi lagi menggores hati ini
"Kamu lihat Winda dan kamu dengar dengan apa yang anak saya ucapkan itu memang benar"bela Ibu
__ADS_1
Seketika tubuh ku melemas mata ku melotot dengan apa yang Ibu katakan, aku sama sekali tidak habis pikir ada seorang Ibu yang membela kesalahan anak nya sendiri
Mas Adi yang mendengar itu seketika terlihat sangat senang
"Bu, Ibu ini perempuan seharusnya Ibu mendukung aku seharusnya Ibu bisa merasakan kesedihan ku sekarang"lirih ku dengan air mata yang sudah tidak bisa di bendung lagi
"Heh kamu seharusnya sadar betul apa yang dikatakan Andi kamu itu kampungan cupu saya juga malu punya menantu kaya kamu"
Deg
Bagai di sambar petir hati ku seketika remuk tubuh ku seketika seperti tidak berjiwa lagi sangat sulit untuk bernafas
"B--Bu, kenapa ibu berbicara seperti itu tidak apa jika Ibu menghina ku tapi aku tidak terima jika Ibu menghina ku seperti ini" ucap ku dengan terbata bata dan suara lirih ini tenggorokan ku sudah serak mata ini semakin deras banjir
"Kamu gak usah cengeng kaya gitu aku udah bosen sama kamu yang seperti ini bisa nya cuma nangis" ketus Mas Adi dengan Wajah yang terlihat jijik menatap ku
"Kamu ceraikan saja istri kamu itu"
"Bu seharusnya Ibu tidak menyuruh anak Ibu sendiri untuk melakukan perbuatan yang di benci Allah"
"Ibu benar seharusnya kita cerai saja"
"Mas kamu ingat Alfi kita masih punya anak yang harus di bahagiakan jangan gegabah seperti ini Mas kita masih bisa membicarakan ini dengan kepala dingin jangan mengambil keputusan besar seperti ini dengan waktu singkat" belaku dengan wajah memelas aku sangat tidak ingin jika berpisah dengan Mas Adi bagaimana nanti orang tuaku jika mendengar Anak nya bercerai hati mereka pasti sangat sakit mereka pasti sedih mendengar anak perempuan nya telah di ceraikan oleh Suami nya
"Apa lagi yang mau kita bicarakan kamu sendiri tidak bisa mengubah penampilan mu" ketus Mas Adi dengan nada yang meremehkan
"Baiklah beri aku waktu satu bulan untuk mengubah penampilan ku ini jika aku gagal kamu boleh ceraikan aku"
"Baiklah aku setuju jika dalam waktu satu bulan kamu belum berubah aku akan cerai kan kamu" jawab Mas Adi dengan lantang nya aku pikir dia akan sadar dan membatalkan ucapan ku tadi dan segera meminta maaf kepadaku namun pikiran ku salah ternyata Mas Adi menyetujui nya dan malah meremehkan ku sakit sangat sakit rasanya tapi aku harus bisa bertahan untuk anak ku dan keluarga ku
"Apa apaan kamu Adi seharusnya kamu langsung ceraikan saja istri yang tidak berguna ini" sungut Ibu tak terima
"Biarkan lah Bu kita lihat bagaimana Wanita cupu ini akan berubah aku yakin dia tidak akan bisa sementara waktu satu bulan itu sangat singkat" remeh Mas Adi
Aku terduduk lemas di lantai dengan wajah yang sudah basah akibat air mata ku ini sampai mana lagi aku akan kuat
"Kamu benar sekali Adi ibu juga tidak butuh menantu modelan begini"
"Baiklah Bu,Mas aku akan membuktikan kepada kalian kalau aku juga bisa berubah" bela ku dan langsung berdiri untuk berlari ke dalam kamar rasanya sudah tidak kuat mendengar hinaan yang keluar dari mulut Ibu Mertua dan Suamiku lagi langsung saja aku menuju kamar mandi dan membasuh wajah ini dengan air yang sangat dingin aku menatap cermin di depan ku dengan mata yang sudah bengkak
"Hiks..hiks.. kenapa kalian tega kenapa kamu tega Mas sama aku, tapi lihatlah nanti aku akan berusaha untuk berubah" Lirihku dengan mata yang sudah perih akibat kelamaan menangis
__ADS_1