
"Hai, udah lama nunggu ya?" Tanya seorang pria yang datang dari arah belakang Winda
Mendengar suara itu Winda langsung saja berbalik ke arah belakang dan terlihat lah sosok Anton yang gagah dan juga tampan
"Eh Anton, enggak ko baru aja aku sampe. Maaf yah aku datang nya telat soalnya nganterin anak aku dulu ke Sekolah"
" Iya gak papa, tenang aja kali aku juga ngerti ko"
Terlihat jelas Anton dengan wajah yang sangat tampan itu tersenyum ke arah Winda membuat Winda menjadi salah tingkah sendiri
"Eh, silahkan duduk ko berdiri aja" ucap Winda ramah dengan berusaha tersenyum untuk menghilangkan kegugupan tersebut
Anton langsung saja duduk dan memulai pembicaraan mereka, tapi sebelum itu ia memesan minum dan makanan ringan untuk nya dan Winda
"Tumben banget nih Win kamu mau kerja sama aku biasanya juga kamu suka nolak apalagi pas waktu kita lagi SMA kamu kan murid paling pinter di sana" Sindiran Anton itu mampu membuat Winda salah tingkah kembali memang dulu ia sering sekali menolak jika di ajak kerja dengan Anton
"Yah kan beda kalo sekarang mah kebutuhan ku banyak Ton" Ucap Winda dengan wajah yang sangat lesu tetapi ia mencoba untuk menormalkan kembali wajah nya seperti semula ia tak mau jika orang lain tau tentang masalah nya yang sekarang ia hadapi
"Ko wajah mu kaya kusut gitu cerita sini siapa tau aku bisa bantu"
Winda terlihat sangat enggan untuk mengatakan nya bagaimana pun ini juga aib keluarga nya ia lebih baik menggelengkan kepalanya walau sebenarnya ia sangat ingin bercerita dan mendapat teman curhat yang bisa menampung semua kisah nya ini. Tiba tiba dari arah sebelah kanan terdapat pelayan Wanita yang menuju ke meja Winda dan Anton dengan makanan di nampan yang ia bawa
"Ini Pak pesenan Bapak"ucap pelayan itu ramah dengan memberikan jus alpukat dua dan cemilan ringan untuk mereka
"Ok, makasih" ucap Anton tak kalah ramah dengan senyum yang tidak pernah luntur dari mulutnya itu
__ADS_1
"Sama sama pak, saya permisi dulu" pamit pelayan itu dan segera pergi meninggalkan Anton dan Winda
POV Winda
Hari ini aku sangat senang bisa bertemu teman ku dulu dan dia mau menawarkan aku pekerjaan awalnya aku sangat malu saat dia mengatakan bahwa aku mau mau nya menerima pekerjaan dia. Yah dulu aku memang sering menolak ajakan dia jika menawarkan pekerjaan
Aku juga malu sama Anton dia ini dulu murid paling lemot di kelas ku tapi sekarang dia sudah sukses seperti sekarang dan dulu yang aku kenal dia itu tidak setampan sekarang boleh di bilang dulu dia jauh dari kata tampan. Sedang kan aku yang dulunya selalu mendapat peringkat pertama apa sekarang aku bahkan tidak sesukses ini dari sini aku belajar bahwa kepintaran bukan masalah kita untuk menjadi sukses apa tidak manusia sukses dengan cara nya sendiri dan kesuksesan itu juga sudah ada yang ngatur
Aku berharap aku bisa se sukses Anton sekarang
Kini aku telah membicarakan tawaran nya Anton dan kini aku akan di tetapkan menjadi kepala pelayan di lestoran ini. Menurutku sih cukup layak untuk ku jika bukan saja dia teman SMA ku mungkin aku akan di tetapkan menjadi pelayan di sini bukan nya kepala pelayan apalagi ini adalah lestoran mewah disini
"Jadi gimana? Kamu mau gak" tanya Anton yang membuat ku berfikir sejenak aku sengaja berpura pura berfikir. Gengsi dong kalo langsung seneng maen terima aduh malu aku kalo sampe gitu
"Hemm, baiklah aku terima" putusku dengan tersenyum ramah
Aku pun mengangguk mengerti dan sebagai tanda obrolan ini selesai aku dan Anton saling berjabat tangan setelah itu aku langsung keluar mencari angkutan umum sayang uang jika aku harus naik taksi lagi. lama menunggu akhirnya mobil yang ingin ku taiki melintas di depan ku aku segera memberhentikan mobil tersebut dan pulang menuju rumah
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama aku sudah sampai di depan rumah saat ingin membuka pagar rumah tetangga sebelah ku menyapa
"Eh Bu Winda, dari mana Bu?" Tanya nya ramah tetangga ku yang satu ini memang ramah namanya Lita ibu rumah tangga yang memiliki dua orang anak
"Ah, habis nganterin Alfi Bu sekalian jalan jalan sebentar" bohong ku. Aku tak mau Sampai ada orang yang mengetahui kalo aku habis mencari pekerjaan dan sudah mendapat pekerjaan nanti Ibu dan Mas Adi bisa tau bisa berabe jadinya
"Oh, Iya dong Bu sekali jalan jalan jangan di rumah Mulu saya lihat Ibu ini sering di rumah Mulu" ucapnya dengan kekehan kecil di akhir kalimat
__ADS_1
Aku tak merespon ucapan nya aku hanya tersenyum dan pamit untuk masuk ke dalam rumah
Saat masuk aku tak melihat Ibu di depan pintu biasanya kalo aku ke mana mana dan baru pulang biasanya Ibu udah kaya satpam depan komplek sudah bersiap jaga depan pintu dengan Omelan nya yang sudah siap memecah gendang telinga ini
**********************************************
kini di sebuah cafe yang terbilang cukup mewah terlihat sepasang kekasih yang sedang berkencan mereka berdua terlihat saling tertawa bahagia dan sesekali melakukan hal romantis
"sayang, aku mau secepatnya kamu ceraikan Winda" tegas Astri yang kini tengah meminum sebuah kopi yang di pesan nya
"pasti dong sayang. aku akan menceraikan Winda segera dan kamu bisa menjadi nyonya rumah ku nanti" ucap Adi dengan tangan kanan nya yang mengelus tangan kiri Winda
"serius?" tanya Astri dengan wajah antusias nya
"ya serius lah, apa sih yang enggak buat kamu" rayu nya
Astri yang mendengar itu sudah membayangkan bagaimana dia akan hidup bahagia dengan Adi dan menjadi nyonya di rumah Adi rasanya sangat tidak sabar bagi Astri untuk menjadi nyonya disana
" tapi kalo Winda nolak cerai sama kamu gimana?" tanya Astri yang mulai memikirkan hal itu ia tak mu sampai Adi tidak bisa menceraikan Winda
"kamu tenang aja aku udah atur semua ko, sekarang yang terpenting kita bisa bahagia"
"tapi kalo ibu kamu gak setuju sama hubungan kita gimana mas?" tanya Astri lagi yang mulai resah memikirkan masalah itu semua
"kamu tenang aja ibu udah tau hubungan kita, ibu juga gak suka sama Winda tapi dia malah suka sama kamu" terang Adi yang mampu membuat Astri kaget sekaligus senang. akhirnya ia bisa menjadi nyonya Adi Wijaya tanpa harus bersusah susah menyingkirkan orang yang menghalangi nya
__ADS_1
Astri langsung saja memeluk Adi dengan erat. dengan prasaan tak tahu malu nya karena semua mata yang sedang di sana tertuju pada mereka.