
Seorang wanita berusia dua puluh tiga tahun, tampak berlari menyusuri koridor rumah sakit. Wajahnya panik, menandakan bahwa ada hal buruk yang terjadi. Ia berlari menuju sebuah ruang ICU, tempat di mana seseorang paling berharga darinya, sedang berjuang untuk mempertahankan hidup.
"Kiara, kau sudah datang?" Wanita berjilbab abu-abu berdiri, menyambut kedatangan putri pertamanya.
"Bu, apa yang terjadi pada Rindu? Kenapa dia sampai di rawat di ruang ICU?" tanya Kiara, dengan napas yang terengah.
"Adikmu mengalami kecelakaan saat menuju bandara. Entahlah, ibu tidak tahu seperti apa ceritanya. Tapi, menurut keterangan polisi, ada sebuah mobil yang menabrak mobil lainnya."
"Seperti kecelakaan beruntun, begitu?" tanya Kiara lagi.
"Iya, seperti itu."
"Lalu, bagaimana kondisinya sekarang? Apakah --"
Ucapan Kiara terhenti, ketika pintu ruang ICU terbuka. Seorang dokter wanita, keluar dengan melepaskan sarung tangannya.
__ADS_1
"Kondisi pasien semakin memburuk. Luka di kepalanya, mengakibatkan kerusakan, sehingga harus segera ditangani. Jika tidak, kemungkinan untuknya selamat sangat tipis," kata Dokter itu.
"Dok, apa tidak ada cara lain, selain operasi? Biaya yang harus dikeluarkan sangat banyak dan kami tidak memilikinya," kata Jamila, ibu dari Kiara dan Rindu.
"Tidak bisa, Bu. Operasi harus dijalankan jika ingin pasien selamat. Namun, jika Anda mengkhawatirkan masalah biaya, bisa konsultasi ke bagian administrasi, barangkali bisa menggunakan BPJS atau sejenisnya." Dokter menerangkan mengenai persyaratan dari biaya berobat gratis. Kemungkinan mendapatkan sepenuhnya jaminan tersebut sangatlah kecil. Selain karena biayanya yang mahal, rumah sakit tersebut juga bukan rumah sakit umum daerah.
"Tapi, kami tidak memiliki asuransi kesehatan. Bagaimana ini?" keluh Jamila.
"Untuk masalah itu, Ibu bisa pertimbangkan dengan keluarga yang lain."
Kiara meraup wajahnya dengan kasar. Ia kemudian menoleh pada ibunya, menatap wanita setengah baya itu dengan tatapan mata yang penuh akan kesedihan.
"Berapa biayanya, Bu? Apakah mahal sekali?" tanya Kiara.
"Satu Miliar."
__ADS_1
Tubuh Kiara seketika jatuh dengan limbung, setelah mendengar nominal yang dikatakan oleh ibunya.
Satu miliar? Bukan perkara mudah untuk mencari uang sebanyak itu. Apalagi, dengan latar belakang dirinya yang hanya seorang office girl, di salah satu perusahaan tambang raksasa, di daerah kota.
Gajinya tidaklah banyak dan bahkan hanya cukup untuk membayar kontrakan yang ditempatinya, juga untuk makanan sehari-hari. Bahkan, makanan yang dia konsumsi bukanlah makanan mewah, mengaitkan makanan sederhana yang apa adanya.
"Darimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu, Bu? Sangat banyak sekali. Bahkan mungkin, aku tidak akan mendapatkan uangnya meskipun telah bekerja seumur hidup."
Jamila menggelengkan kepalanya, "Ibu juga tidak tahu, dari mana kita akan mendapatkan uang sebanyak itu."
Kedua wanita tersebut menangis sambil berpelukan, meratapi nasib sial yang terus menimpa mereka silih berganti. Dari mulai kematian sang ayah karena serangan jantung, beberapa waktu yang lalu. Toko milik Jamila yang kerampokan hingga bangkrut dan juga tragedi kecelakaan yang menimpa Rindu.
"Bagaimana kalau jual saja rumah kita? Bukankah kita bisa mendapatkan uang 100 juta atau mungkin lebih dari hasil penjualannya?"
Kiara langsung menggelengkan kepala, "tidak. aku tidak setuju jika Ibu harus menjual rumah itu. Rumah kita adalah satu-satunya benda berharga yang dipunyai."
__ADS_1
"Lalu kita harus mendapatkan uangnya dari mana? Setidaknya kita bisa membayar DP terlebih dahulu, sisanya kita bisa mencari ke tempat lain. Ibu juga akan mencoba untuk meminta bantuan dari paman dan bibimu," kata Jamila.
"Bu, jika rumah itu dijual, Ibu dan rindu akan tinggal di mana?"