ISTRI KONTRAK TUAN MUDA ANGKUH

ISTRI KONTRAK TUAN MUDA ANGKUH
EPISODE 06 TIDAK ADA JALAN UNTUK RINDU


__ADS_3

Mendengar dirinya disindir tentang gaya hidup yang hedonis, Tari menoleh dengan tatapan mata yang sinis, "meskipun aku hanya seorang cleaning service, tapi penampilanku juga harus menunjang gaya hidup. Dimiskinkan oleh orang-orang kantor, tapi aku tidak boleh terlihat miskin di depan tetangga-tetanggaku."


Siska hanya memutar bola matanya malas untuk menanggapi perkataan absurd dari wanita satu ini. Yang selalu mementingkan gaya hidupnya, adalah fashion dari seorang Tari.


"Aku tidak percaya dengan kata-katamu itu."


"Kalau begitu segera kejar saja temanmu itu dan tanyakan sendiri kepadanya. Kau akan terkejut ketika mendengar pengakuan darinya dan kau juga akan terkejut kalah mendapati fakta yang baru saja aku ungkapkan ini."


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Siska segera berlari untuk menyusul langkah dari Kiara yang mulai beranjak keluar dari area perusahaan.


"Kiara tunggu! Berhenti di tempatmu sebentar!"


Kiara yang merasa namanya terpanggil pun akhirnya berhenti dan menoleh. Dia mendapati Siska sedang berlari ke arahnya. Kening Kiara berkerut dalam ketika melihat Siska yang sepertinya sangat terburu-buru itu.


"Kenapa kau sampai berlarian?" Kiara bertanya dengan tatapan bingung.


"Tentu saja aku mengejarmu. Kau berjalan seperti orang yang tidak tahu kemana tujuan dan juga telingamu itu tidak bisa mendengar sejak aku memanggilmu dari lantai atas. Kau baru keluar dari ruangan CEO bukan?"


Kiara tentu saja terkejut, "i-iya. Memangnya ada apa?"

__ADS_1


Siska menelisik wajah Kiara dari ujung rambut hingga ujung kaki, menatap pada sahabatnya yang tampak kuyu hari ini.


"Apa kau sedang dalam masalah? Kenapa saja keluar dari ruangan CEO tadi aku melihat wajahmu begitu murung? Kau tidak dipecat bukan?" Pertanyaan to the point dari Siska membuat Kiara terbelalak.


"Memangnya aku membuat kesalahan apa sampai harus diberhentikan dari kerja? Hari ini aku sudah mendapatkan izin dari Mbak Bintang untuk libur selama dua hari."


"Jadi kau benar-benar tidak akan didepak dari perusahaan karena baru saja meminta manajer keuangan untuk korupsi?" Semakin terbelalak saja mata Kiara mendengar ucapan dari Siska barusan.


Wanita berusia 23 tahun itu kemudian menengok kanan dan kiri, melihat apakah ada seseorang yang mungkin mendengarkan pembicaraan mereka. Dia kemudian meletakkan telunjuknya di bibir Siska dan berkata, "dari mana kau mendengarkan gosip itu?"


"Seluruh divisi sepertinya sedang membicarakanmu. Bahkan mungkin semua orang di kantor ini juga tahu jika kau baru saja meminta pada manajer keuangan untuk melakukan korupsi supaya kau bisa mendapatkan pinjaman 1 miliar. Katakan jika itu tidak benar!"


Seperti kerbau yang linglung, Siska tak bisa berkata apa-apa setelah mendengarkan pengakuan dari sahabat satu-satunya. "Kita sudah bekerja di sini selama 5 tahun. Meskipun begitu apakah kau sudah gila karena mengajukan pinjaman sebanyak itu? Kita ini hanya pegawai rendahan yang tentunya tidak akan pernah bisa melakukannya. Meskipun kita bekerja seumur hidup di tempat ini, kita tidak akan pernah bisa melunasi pinjaman sebanyak itu."


"Aku tahu kalau aku ini sudah gila. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika adikku saat ini sedang terkapar tak berdaya dan membutuhkan uang satu miliar itu demi pengobatannya. Aku tidak bisa apa-apa," kata Kiara dengan wajah memelas.


"Ada apa dengan Rindu?"


"Rindu mengalami kecelakaan ketika dia hendak berangkat menuju bandara. Ibu bilang itu adalah kecelakaan beruntun dan salah satu dari korbannya adalah Rindu."

__ADS_1


Melihat mata Kiara yang berkaca-kaca membuat Siska mendadak pias. Dia begitu paham tentang bagaimana sosok Kiara yang sangat menyayangi keluarganya terutama sang adik yang bernama Rindu. Kiara dulu bahkan putus sekolah, demi untuk membiayai pendidikan dari adiknya.


Kiara juga bahkan melepaskan cita-citanya sebagai seorang desainer ternama, demi membiarkan adiknya mendapatkan pendidikan yang tinggi. Kiara adalah alasan kenapa saat ini Rindu memiliki karir yang cemerlang sebagai seorang model.


"Bukankah adikmu itu model yang terkenal? Setiap pemotretan pasti dia memiliki gaji bukan? Coba cek di dalam rekeningnya barangkali kau bisa menemukan uang yang mungkin bisa digunakan."


Seharusnya saran dari Siska adalah yang terbaik. Akan tetapi Rindu tetaplah Rindu, "dia tak memiliki tabungan sedikitpun karena semua bayaran yang dia dapatkan dari modellingnya selalu dihabiskan begitu saja. Aku sudah bertanya pada ibu tentang tabungan dari adikku itu tapi sepertinya dia benar-benar tidak punya apapun untuk saat ini."


Hanya bisa menatap sahabatnya dengan tatapan iba, Siska sendiri tidak bisa berkata-kata karena tentu saja dia tahu bagaimana gaya hidup seorang Rindu. Bahkan ketika kakaknya bekerja membanting tulang di kota orang, adiknya itu yang sudah menjadi model terkenal pernah berpura-pura tidak mengenal kakaknya karena malu.


"Aku ingat ketika dia menjadi ambassador salah satu produk yang dikeluarkan oleh perusahaan kita, dia tidak mau kau dekati atau sekedar kau sapa karena merasa malu memiliki kakak yang hanya seorang cleaning service. Seharusnya sejak hari itu kau tidak boleh memperdulikannya secara lebih," tutur Siska yang membuat Kiara hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja karena bagaimanapun juga dia adalah adikku. Mungkin memang benar jika seorang adik yang memiliki karir cemerlang sepertinya akan malu memiliki kakak yang sepertiku ini. Aku tidak bisa menyalahkannya karena tentu saja ini adalah bukti dari keprofesionalan kerja."


Siska menggeleng tak setuju, "itu bukan profesional kerja. Tapi anak yang tidak tahu terima kasih."


"Lalu sekarang jalan mana yang akan kau tempuh untuk membiayai pengobatan adikmu itu?"


"Sepertinya aku sudah tidak memiliki jalan lain untuk pengobatan Rindu selain menjual rumahku."

__ADS_1


__ADS_2