
Kiara merasa gemetar karena kini dia harus berada di sebuah tempat yang tak pernah dia datangi sebelumnya. Berbagai pertanyaan muncul dalam benak gadis manis itu, tentang kenapa Boy memilih tempat ini untuk menjadi tempat pertemuan mereka.
"Apa sebaiknya aku pergi saja dari sini? Tapi, bagaimana dengan uang itu? Aku membutuhkan uangnya untuk pengobatan Rindu."
Batin dan pikirannya seolah saling bertentangan. Keinginan yang besar untuk mendapatkan uang satu miliar, tapi takut untuk masuk lebih dalam ke tempat itu.
"Ya Tuhan. Harus bagaimana aku sekarang? Takdir apa yang sudah kau siapkan untukku di dalam sana, hingga aku tiba di tempat ini?"
Hingga kemudian, seorang laki-laki yang tampak Kiara kenali sedang berjalan menuju ke arahnya, dari dalam klub malam itu.
"Hai, Kiara. Kenapa hanya berdiam diri di sana? Ayo masuk! Aku sudah menyiapkan uang satu miliar yang kau inginkan."
Mendengar perkataan dari Boy, hilang sudah rasa takut dari Kiara. Apapun akan dia lakukan demi bisa mendapatkan uang satu miliar, supaya Rindu bisa segera dioperasi dan kembali pulih seperti sedia kala.
__ADS_1
"Ayo! Aku akan memberimu uang itu."
Kiara pun akhirnya mengekor di belakang Boy. Berjalan untuk masuk lebih dalam ke klub malam itu. Hiruk-pikuk dalam ruangan tersebut terasa sangat memekakan telinga lantaran suara dari musik-musik yang sangat kencang.
Kiara beberapa kali harus menghindari orang-orang yang berusaha untuk menggodanya. Dia terus saja berdoa supaya jalannya hari ini lancar dan tak terhambat oleh apapun itu, supaya dia bisa datang tepat waktu menemui Rindu yang harus dioperasi malam ini.
Berjalan melewati orang-orang, Boy membawa Kiara untuk berjalan melewati satu pintu dengan tulisan khusus staf. Mengernyit, ketika melewati lorong sempit yang hanya bisa dilewati oleh dua orang saja. Lorong gelap dimana terdapat pintu-pintu di samping lorong tersebut.
Boy tak menjawab pertanyaan dari Kiara. Laki-laki itu hanya tersenyum sembari terus berjalan melewati lorong tersebut. Hingga kemudian, mereka tiba di ujung lorong dan Boy pun berbelok ke kiri, sampai mereka tiba di sebuah pintu besar.
Sejenak, Boy berhenti. Ia menatap pada Kiara dan berkata, "kau bisa mendapatkan lebih banyak uang jika bisa membuat orang-orang di dalam sana merasa bahagia."
Kiara tersenyum, "i-iya," jawabnya dengan ragu.
__ADS_1
Pintu besar itu kemudian dibuka dan tampaklah sesuatu di dalam sana, di mana tiga orang laki-laki sedang duduk sembari ditemani oleh tiga orang gadis.
"Ayo, masuk!" ajak Boy.
Kiara kemudian mengekor di belakang Boy dan duduk ketika laki-laki itu mempersilahkannya.
Melihat para gadis yang ada di dalam ruangan tersebut, tampak membelai dari mulai rahang hingga ke dada para laki-laki yang ada di dalam sana, membuat Kiara mendadak merinding.
Hingga kemudian, tatapannya beralih pada sesosok laki-laki yang memiliki tatapan tajam, berparas tampan dan tentunya tidak banyak bicara. Kiara langsung menundukkan kepalanya, ketika tatapan mereka saling bertemu.
Leo yang melihat keberadaan Kiara di sana, hanya tersenyum dengan sinis. Berpikir bahwa seperti inilah gaya hidup dari office girl itu sebenarnya.
"Pantas saja dia meminjam uang satu miliar ke perusahaan. Ternyata, ini pekerjaan sampingan yang dia lakukan selama ini," ujar Leo dengan sinis. "Dia seorang ******!"
__ADS_1