ISTRI KONTRAK TUAN MUDA ANGKUH

ISTRI KONTRAK TUAN MUDA ANGKUH
EPISODE 02 PINJAMAN SATU MILIAR


__ADS_3

Jamila terdiam, menyadari bahwa dia tidak akan lagi memiliki tempat jika sampai rumah itu terjual. Ibu dari dua anak itu menangis sejadi-jadinya, membayangkan nasib Rindu yang entah akan bagaimana. Bayangan mengerikan bahwa dia akan mengiring jasad putrinya, benar-benar satu pemikiran yang sangat mengerikan.


"Ibu tidak mau kehilangan Rindu. Lalu kita harus bagaimana sekarang?"


Sejenak, Kiara terdiam dan berpikir. Apakah kiranya dia memiliki peluang untuk mendapatkan uang satu miliar dalam semalam? Apakah dia harus mengajukan pinjaman ke perusahaan? Dia yang hanya bekerja sebagai seorang office girl, apakah mungkin akan mendapatkan kepercayaan untuk mengajukan pinjaman sebanyak itu?


"Bu, aku akan coba mengajukan pinjaman ke perusahaan. Barang kali, mereka mau berbaik hati dengan memberikan pinjaman tersebut."


"Apa kau yakin, Nak?" tanya Jamila dengan ragu.


"Tidak ada salahnya jika harus mencoba. Kiara akan mencoba untuk mengajukan pinjaman tersebut, supaya Rindu bisa dioperasi sesegera mungkin."


**


Dengan memesan ojek online melalui aplikasi, Kiara akhirnya kembali ke kota siang itu juga. Selama perjalanan, pikirannya terpecah belah. Semuanya terasa sangat membingungkan.


Tiba-tiba saja semua masalah seperti menimpa nasib keluarga mereka tanpa henti. Kiara sebagai anak tertua, tentu memiliki bebannya tersendiri. Apalagi melihat kondisi mengenaskan dari Rindu dan tangisan ibunya. Ia tak bisa bernapas dengan lega.


Satu miliar?


Bayangan uang sebanyak itu terus saja berkelebat. Bahkan, Kiara berharap akan ada satu koper besar berisi uang satu miliar tersebut, jatuh dari langit. Dengan begitu, dirinya tentu saja tidak harus bersusah payah untuk mengajukan pinjaman.


Hingga tanpa terasa, objek yang dia pesan telah mengantarkannya sampai pada sebuah gedung perkantoran milik salah satu perusahaan tambang raksasa di Asia. Sebuah perusahaan yang telah menjadi tempat untuknya mengadu nasib selama 5 tahun terakhir.


Terdapat harapan besar, ketika Kiara kembali menginjakkan kakinya di sana. Harapan bahwa manajer keuangan nanti akan memberikan pinjaman tersebut tanpa basa-basi, meskipun sebenarnya Tiara yakin bahwa itu mungkin tidak akan terjadi.

__ADS_1


Maka, setelah membayar ojek online pesanannya, Kiara segera berjalan memasuki gedung perkantoran tersebut melalui pintu khusus. Ia berjalan dan menapaki anak tangga, menuju lantai empat, tempat di mana bagian keuangan berada.


Saat Kiara telah menginjakkan kakinya di lantai empat tersebut, sebuah keraguan pun kembali muncul. Apakah mungkin jika pegawai rendah harus sepertinya akan diberi kepercayaan oleh mereka untuk memiliki pinjaman sebesar itu?


"Belum coba, belum tau," ujar Kiara, memberikan semangat pada dirinya sendiri.


Tangannya pun kemudian terulur dan mengetuk pintu ruangan manajer keuangan tersebut. Hingga tak lama kemudian, pintu terbuka dan seorang wanita yang tak lain adalah sekretaris dari manajer keuangan, mempersilahkannya untuk masuk.


Suasana tidak menyenangkan terjadi, ketika Kiara perlahan duduk.


"Ada apa, Kiara?" tanya Abraham, meneger keuangan.


"Saya, anu, Pak. Sebenarnya --"


"Saya membutuhkan pinjaman." Kiara menjawab dengan cepat, memotong perkataan meneger keuangan.


Kening laki-laki itu berkerut, mendengar ucapan dari Kiara. Namun, ia kemudian tersenyum, "mau kasbon ternyata. Bilang dari tadi," ujar Abraham.


"Berapa?" sambungnya.


Laki-laki itu kemudian menulis sebuah surat pengajuan pinjaman, sembari menunggu jawaban dari Kiara yang tampak sedang berpikir.


"Berapa, Kiara? Jadi atau tidak, sebenarnya? Jika tidak, saya akan --"


"Satu Miliar!"

__ADS_1


Manajer keuangan itu seketika ternganga, mendengar nominal yang disebutkan oleh Kiara. Laki-laki bertubuh tambun tersebut bahkan menggosok telinganya, barangkali ada permasalahan yang membuatnya salah mendengar.


"Sepertinya kembali dari liburan di puncak, telingaku cukup terganggu hingga kurasa aku salah mendengar nominal yang kau sebutkan tadi. Berapa? Satu juta?"


Ucapan dari laki-laki itu, membuat Kiara tersenyum dengan miris. Apakah tidak begitu meyakinkan baginya untuk mendapatkan pinjaman sebanyak itu?


"Aku akan tuliskan satu juta untuk pinjamanmu. Kau bisa mengembalikannya dalam 3 bulan bekerja dengan cara dipotong. Atau kau mau menambah satu juta lagi?"


Semakin miris saja Kiara, "saya tadi berkata satu miliar, bukan satu juta."


Pak Tama, yang tak lain adalah manajer keuangan di perusahaan tersebut, melepaskan kacamatanya dan meletakkan pena di atas meja. Ia menatap dengan serius pada wanita yang berdiri di depannya, hingga membuat Kiara jadi salah tingkah sendiri.


"Apa kau ingin aku digantung oleh atasan? Bicaralah yang masuk akal karena aku tidak sedang ingin diajak bercanda saat ini."


"Tapi yang saya katakan tadi benar. Saya ingin mengajukan pinjaman satu miliar," jawab Kiara, membuat manajer keuangan tersebut langsung menggebrak meja dan membuatnya terkesiap hingga nyaris terjungkal.


"Apa kau gila? Kau mengajukan pinjaman sebanyak itu dengan posisimu saat ini? Kiara, kau benar-benar cari mati."


"Mungkin nominal yang saya sebutkan tadi memanglah tidak masuk akal, tapi saya benar-benar membutuhkan uang itu segera. Apakah bapak tidak bisa membantu saya? Bukankah bapak manajer keuangan, yang mengatur keluar masuknya uang perusahaan?"


Melotot dengan berkacak pinggang, Tama menatap horor pada Kiara.


"Lalu kenapa jika saya meneger keuangan?"


"Bapak bisa korupsi satu miliar dan pinjamkan itu pada saya."

__ADS_1


__ADS_2