ISTRI KONTRAK TUAN MUDA ANGKUH

ISTRI KONTRAK TUAN MUDA ANGKUH
EPISODE 07 SEPERTINYA MASIH ADA KESEMPATAN


__ADS_3

Kemana lagi ia akan mendapatkan uang itu? Ibunya bahkan sudah menghubungi beberapa kali, menanyakan apakah atasan Kiara bisa memberikannya. Namun, Kiara yang duduk di dekat pohon, tak jauh dari kantor, tampak hanya mengusap air matanya.


"Bu, aku harus bagaimana untuk mendapatkan uang itu? Aku bahkan tidak memiliki tabungan barang sedikitpun."


Menangis seorang diri tanpa ada yang mengerti posisinya, Kiara tak lagi bisa berbuat apa-apa.


"Satu-satunya barang yang aku punya hanyalah cincin ini. Apakah aku harus menjualnya?" tanya Kiara pada diri sendiri.


"Tapi, bagaimana jika Dewa datang dan memintanya lagi? Apa yang bisa aku katakan padanya?" batin Kiara.


Cincin yang melingkar di jari manisnya adalan cincin titipan dari seorang teman. Mana mungkin dia bisa menjualnya? Bagaimana jika pemiliknya nanti menanyakan kembali cincin itu?


"Ini sudah delapan tahun berlalu. Dewa tidak kembali dan aku bahkan tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Aku bisa menggunakannya, bukan?" ujar Kiara.


Pikiran dan hatinya tak sejalan. Dalam pikirnya, ia bisa memanfaatkan cincin dari Dewa dengan menjualnya. Namun, hatinya menolak untuk melakukan itu lantaran takut membuat temannya kecewa.


"Delapan tahun sudah berlalu, mungkin dewa juga sudah melupakan aku."


Dengan membulatkan tekad, Kiara melepaskan cincin pemberian Dewa dan memasukkannya ke dalam saku celana. Tepat saat ia beranjak dari tempat duduknya. Sebuah mobil berhenti di hadapan Kiara.

__ADS_1


Kiara berhenti sejenak, menundukkan kepala karena tahu siapa orang yang ada di dalam mobil itu.


"Kiara!" Panggilan itu membuat Kiara mendongak.


"Iya, Pak?"


"Kamu ada waktu? Saya ingin bicara. Temui saya di tempat ini, nanti pukul setengah tujuh malam. Datanglah sendiri dan saya akan memberikan padamu, bantuan yang kau inginkan."


Kiara menatap wajah laki-laki muda itu dengan cepat. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Saya dengar, kamu membutuhkan biaya satu miliar. Saya bisa memberikannya, dengan syarat. Datanglah ke tempat itu, sesuai jam yang saya katakan. Kamu akan mendapatkan uang itu dan bahkan mungkin lebih."


"Hm, datanglah. Jika tidak, kamu akan menyesal."


Mobil itu kemudian melenggang pergi, meninggalkan Kiara yang sedang berdiri dan termangu di tempatnya.


"Apa aku baru saja bermimpi? Pak Boy, akan memberikan uang itu?" tanya Kiara pada dirinya sendiri.


"Tapi, apa syarat yang dia maksud? Apa yang dia inginkan dariku? Kenapa dengan syarat itu sampai aku harus menemuinya nanti malam?"

__ADS_1


Tring ....


Notifikasi ponsel Kiara berbunyi. Ia mengambil ponsel tersebut dan mengernyitkan keningnya, melihat nomor asing yang baru saja mengirimnya pesan.


(+6285763098xxx)


[Dandan yang cantik dan buat aku terpukau]


"Nomor siapa ini?"


Kiara kemudian membuka balon foto profil, terkejut melihat foto direktur operasional, terpampang di sana.


"Ini aneh sekali. Tapi persetan, aku tidak peduli. Yang paling penting adalah aku mendapatkan uang untuk Rindu."


Kiara memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Kini ia sedikit bisa tersenyum dan mulai bergantung pada janji dari Pak Boy, selalu direktur operasional di perusahaan itu.


"Aku akan menemui ibu dan mengatakan ini. Semoga saja Pak Boy memberikan uangnya tanpa lama-lama. Dia 'kan kaya, banyak uang dan banyak aset. Dia pasti tidak pelit."


Tanpa Kiara sadari, kepolosannya akan menjadi sesuatu yang mungkin akan dia sesali seumur hidup.

__ADS_1


~To Be Continue~


__ADS_2