
Kiara menundukkan kepalanya dengan takut. Ia sangat tahu, jika nominal yang diajukan dalam pinjaman itu sangatlah tidak masuk akal. Akan tetapi, memang seperti inilah kenyataan yang harus dihadapi. Kiara membutuhkan uang sebanyak itu untuk kesembuhan adiknya.
Tidak ada lagi yang bisa Kiara harapkan, selain mengajukan pinjaman ke perusahaan, meskipun itu sangat mustahil. Akan tetapi baginya, lebih baik berusaha meskipun tidak ada hasil, daripada harus berdiam diri tanpa melakukan apapun dan melihat adiknya terus tersiksa.
Dia dan Rindu, memiliki rentan usia hanya satu tahun saja. Hal tersebut membuat hubungan keduanya sangat dekat dan rekat. Mereka bahkan saling melindungi, saling menyayangi dan saling mendukung satu sama lainnya.
Kiara selalu mencoba untuk menjadi kakak yang terbaik dan yang hari ini dia lakukan juga masih dalam hal yang sama.
Akan tetapi kembali lagi. Untuk menatap laki-laki yang kini sedang duduk di hadapannya itu, Kiara bahkan tidak berani. Tatapan matanya yang tajam dan menusuk, seolah siap menguliti Kiara.
Belum lagi dengan laki-laki yang kini berdiri di ujung ruangan, membuat tubuh Kiara semakin meremang. Dia bukan tidak tahu bagaimana kejamnya sang atasan, yang selalu mengambil tindakan tegas atas satu kesalahan.
"Kau tau, kenapa alasan saya, sampai memanggil mu kemari?"
__ADS_1
Suara maskulin dari seorang laki-laki yang kini sedang duduk di hadapan Kiara itu, terdengar menyeramkan. Apalagi, wajahnya yang memang terlihat sangat garang, semakin membuat Kiara merasa ketakutan.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau tuli?" sentak laki-laki itu.
Kiara semakin menundukkan kepalanya dengan dalam sembari meremas jari jemarinya.
"Kau benar-benar membuatku kesal!"
Permintaan maaf darinya, membuat laki-laki yang sedang di penuhi kabut kemarahan itu menjadi semakin marah. Bukan tanpa sebab bagi Marcelo Dewantara terlihat sangat marah hari ini. Ada alasan lain, yang membuat kepalanya semakin pening.
"Katakan padaku, kenapa kau mengajukan pinjaman dengan nominal yang sangat tidak masuk akal? Apa kau berniat memeras perusahaan dengan mengatasnamakan dedikasi?"
Kiara menggelengkan kepalanya dengan cepat, "bukan seperti itu maksud saya. Keadaan yang saya alami saat ini memang menuntut saya untuk melakukan hal tersebut."
__ADS_1
"Tapi kau juga bisa mengira-ngira sendiri bukan? Kau hanyalah pegawai rendahan, kenapa berani sekali mengajukan pinjaman sebesar 1 miliar?" teriakan penuh murka dari cucu pemilik perusahaan, membuat Kiara ingin menghilang saja dari tempatnya.
Apalagi, ketika menatap pada Tuan Leo, wajahnya yang memerah, menandakan bahwa pria itu sedang diliputi oleh amarah yang sangat besar. Kiara sadar jika dirinya sedang menggali lubang kematiannya sendiri.
Akan tetapi, apalagi yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan uang sebanyak itu?
Leo tampak mengacak rambutnya dengan frustasi, ia kemudian menatap pada asistennya yang berdiri di sudut ruangan.
"Liam, katakan padaku. Apakah pegawai rendahan sepertinya mendapatkan pinjaman sebanyak itu? Bahkan untuk sekelas manager saja, mereka akan berpikir dua kali untuk mengajukan pinjaman sebesar 1 miliar rupiah, apalagi dia hanya seorang office girl."
Sebenarnya, bagaimana cara berpikir dari wanita yang saat ini sedang menunduk dengan takut di hadapan Leo. Apa yang dia pikirkan ketika mengajukan pinjaman sebanyak 1 miliar rupiah? Mungkinkah otaknya itu sudah tidak waras dan tidak bisa berpikir secara rasional sembari menilik siapakah dirinya?
Pinjaman yang dia ajukan barusan adalah sesuatu yang tidak bisa dinalar oleh pimpinan perusahaan itu.
__ADS_1