
"Saya terima nikahnya Zamila Yasmin binti Acheng dengan perhiasan emas seberat 20 gram dan seperangkat alat solat dibayar tunai." Zhao Yi menghela napas dengan lega ketika tangannya terlepas dari jabatan tangan pria berkopiah hitam dengan bordiran benang emas menghiasi. Akhirnya kalimat yang ia hapal mati-matian dapat terucap dengan lancar dan cukup sempurna.
Saat orang-orang berkata sah dan berdoa menurut keyakinan mereka, sembari tangan meraup, ia diam-diam memandangi ruangan di mana ia mengucap akad tadi. Jendela-jendela kaca bening dengan model eropa, bagian dalamnya terdapat banyak huruf arab yang ia tak tahu apa bacaannya. Yang jelas dari blog yang pernah ia baca itu berukirkan nama-nama indah Tuhan mereka. Ya, Zhao Yi di masjid. Masih tak menyangka hari ini bisa terjadi. Walau rencana datang ke Indonesia sudah ada dalam list tahunannya, tetapi sampai memiliki agama dan menikah di dalam masjid tidak pernah terpikirkan.
Zhao Yi tersadar saat wanita dengan kebaya putih panjang sampai menyelimuti rok batik coklat, mendatangi saat tangannya masih menengadah padahal doa sudah selesai dibacakan tadi. Dia wanita yang baru saja ia sebut, istrinya. Lebih tepatnya istri kontraknya.
Beberapa hari yang lalu saat melihatnya dia tak begitu cantik, tetapi kini dengan tampilan khas pengantin Indonesia dia terlihat begitu berbeda. Terlebih kain mengkilat yang menutupi juga melindungi kecantikan yang terpancar, membuat jantungnya berdegub. Direktur Huangzhao Group itu tak mengerti, sering melihat wanita cantik seperti apapun tetapi jantungnya tak pernah berdetak sehebat ini.
"Waduh, Mas. Kegiatan nanti malam direncanakan nanti saja. Itu kasian Neng-nya sudah menunggu diterima salaman tangannya." Pak Penghulu sukses membuat pria berkepala tiga itu ditertawakan oleh kerabat Yasmin yang menghadiri prosesi. Lekas ia menerima jabatan tangan Yasmin sambil melihat wajahnya, dia bermuka datar tetapi tetap terlihat anggun dan teduh. Tadi hatinya sejenak mengira Yasmin akan merona karena malu atas ucapan pak penghulu.
Tiba saatnya Zhao Yi mengecup kening, telinganya samar-samar mendengar gumaman Yasmin. "Kalau ingin seperti yang dikatakan penghulu, Tuan jangan lupa syaratku yang ketiga!"
Zhao Yi lekas menjauhkan bibirnya dari kening Yasmin. Kedua jemari gadis itu sudah mendarat di pahanya dan bergerak bak gunting. Dia tersenyum manis, sang suami hanya menelan saliva perlahan sambil mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat ia memutuskan Yasmin menjadi rekan hidup sekaligus rekan bisnis.
Masih ingat sekali dalam ingatan Zhao Yi, kala itu hari keenam setelah pencariannya yang tak kunjung berhasil, panggilan nama berikutnya, nama yang baru saja ia sebut di depan penghulu, terpanggil dalam ruangan putih tempatnya meng-interview kandidat calon istri kontraknya.
"Zamila Yasmin, usia 23 tahun, lulusan SMA...," asisten terpercaya Zhao Yi membaca dengan lantang CV milik Yasmin.
"Kau mau dipecat? Sudah kubilang yang tidak berpendidikan langsung tolak saja! Ini nih yang membuat pekerjaanku tidak selesai-selesai!" Protes Zhao Yi pada Fu Yinzhen.
"Tuan Zhao begitu angkuh, sampai tak ingin melihatku terlebih dahulu...," hentakan alas sepatu di atas lantai mengalihkan pandangan mengarah pada empunya yang mulai memasuki ruangan. Wanita dengan pakaian casual muncul, wajah imut namun meneduhkan, memberi kesan dia belumlah berumur 23 tahun.
"Zhao xiao ye, nin hao. Nin keyi jiao wo, Moli. Renshi ni hen gaoxing!" Sapa Yasmin pada Zhao Yi lalu memperkenalkan dirinya. Menerangkan nama panggilannya dalam bahasa mandarin yaitu Moli, yang berarti bunga Jasmine.
"Mandarinmu bagus juga!" Puji Zhao Yi. Pelafalan vokal dan nada gadis itu begitu tepat. "Tetapi aku tidak tertarik pada wanita yang tidak berpendidikan." Ucap Zhao Yi lagi, masih kukuh menginginkan seorang istri yang memiliki gelar pendidikan.
"Kalau dilihat-lihat wajahku ini menarik, tubuhku tinggi, bisa berbahasa mandarin, hampir semua persyaratan aku penuhi. Memangnya kenapa kalau tidak berpendidikan? Lagi pula, apakah dapat menjamin yang berpendidikan melebihi kempuanku ini."
"Hanya menyapaku saja semua orang juga bisa mempelajarinya dalam satu hari. Fu Yinzhen antar nona ini keluar ruangan." Belum sempat asistennya menjalankan amanah, Yasmin terlebih dahulu menyahut.
"Silahkan tuan bicara atau bertanya menggunakan bahasa mandarin, kalau perlu berikan yang paling sulit."
__ADS_1
Zhao Yi menatap sejenak pada wajah imut yang berbalut kerudung tersebut. Dia pun mulai berbicara, ketika Yasmin dapat menjawab dan mengartikan setiap ucapannya, Zhao Yi mencoba menggunakan aksen dari utara yang berhasil membuat Yasmin berekspresi terkecoh. Namun, setelah selesai bicara Zhao Yi malah mendapat tawaan mengejek dari Yasmin.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Masih mengira bahwa dirinya lebih hebat, Tuan kira saya tidak tau aksen yang Tuan gunakan.' Jangan memandang air yang keruh, karena dasarnya tak pernah terlihat. Juga jangan menapakinya atau kau bisa tenggelam'. Bukankah itu artinya?"
Zhao Yi terdiam, begitupun Yinzhen asistennya. Yinzhen saja yang lahir dan besar di Tiongkok tak begitu paham dengan aksen itu. Sebenarnya siapa gadis ini sampai bisa mengerti. Bukankah dia hanya lulusan SMA?
Tuan muda asal Tiongkok itu termenung, benar juga pikirnya. Melihat dari segi pendidikannya saja memang tak adil. Terlebih 4 dari 5 persyaratannya terpenuhi, masalah pendidikan masih bisa ditutupi. Lagi pula dengan mental gadis itu yang berani beradu bahasa dengannya sudah pasti dia cerdik. Pria itu juga berpikir telah menghabiskan banyak waktu untuk mencari kandidat yang cocok. Dia sudah lelah. Juga mengingat perlu banyak waktu lagi untuk mengurusi properti yang akan ia beli. Secepatnya masalah pernikahan ini harus selesai.
"Baiklah, Yinzhen jadikan dia istri kontrakku." Yasmin tersenyum menang.
Fu Yinzhen berjalan membawa map berisikan kesepakatan pernikahan. Tentang hak dan kewajiban pihak pertama dan kedua untuk dipahami Yasmin.
Pihak pertama akan membeli properti dan membangun perusahaan, pihak kedua sebagai perantara akan mendapatkan keuntungan sebesar 5%. Pihak kedua akan melakukan apapun yang diminta oleh pihak pertama. Pihak pertama tidak berniat untuk menceraikan pihak kedua, kecuali pihak kedua melakukan hal yang berpengaruh buruk bagi pihak pertama.
"Tuan muda saya juga memiliki 3 syarat," aju Yasmin setelah membaca separuh persyaratan, dibalas tatapan memicing dari Zhao Yi.
Zhao Yi bangkit dari singgahsananya. Menghampiri wanita yang berkerudung di depannya. Mengenai syarat satu dan dua masih bisa ia terima, karena dia terlahir sebagai ateis, baginya agama hanyalah seperti budaya. Namun untuk syarat yang ketiga....
"Pernikahan ini memang hitam di atas putih, tetapi disini saya mencari istri maka tentu saja saya juga ingin dia melakukan tugas sebagaimana seorang istri." Perjelas Zhao Yi.
Sebenarnya ia tak berniat bercerai setelah pernikahan ini. Meski kelak tak ada cinta diantaranya dengan sang istri, Zhao Yi akan terus berusaha mempertahankan ikatan sakral itu selama pihak kedua tidak merugikan keluarga apalagi sampai ke ranah perusahaannya. Oleh sebab itu, Zhao Yi menginginkan kelak pihak kedua dari kontrak ini bisa menjadi teman ranjangnya juga. Karena ia tetaplah laki-laki normal.
"Baiklah, maka segeralah untuk khitanan. Saya tidak akan menolak." Tawar Yasmin lagi dengan santai. Yinzhen terdiam mendengar tawar menawar dua sejoli itu sembari membayangkan bagaimana jika bosnya itu benar-benar dikhitan.
YinZhen pernah membaca masalah khitanan itu, katanya sebelum dikhitan akan disuntik beberapa kali dibagian ********. Ya ampun, lengan bosnya disuntik saja sudah menggigil dan memanggil ibunya beberapa kali, apalagi di bagian sana. Yinzhen diam-diam tersenyum sembari menggelengkan kepala.
"Maka batalkan saja, masih banyak wanita di sini yang mau menikah dengan saya. Yang sepertimu juga bukan hanya satu." Pungkas Zhao Yi, dia tahu batas kesanggupannya.
Yasmin tersenyum mengejek, merogoh dompetnya dan mengeluarkan secarik kertas bertuliskan nama dan alamat rumah, menaruhnya di atas meja.
__ADS_1
"Tidak menyangka nyali Tuan Muda begitu kecil, hehe. Oiya, saya masih belum berubah pikiran, jika anda kembali mempertimbangkannya bisa gunakan itu. Saya pamit undur diri!" Ketika wanita itu sudah sampai di depan pintu, dia sedikit mengacak tampilannya. Lalu kembali menghadap Zhao Yi, sedikit tersenyum dan memperagakan kedua jarinya bak gunting sebelum membuka pintu dan menghilang tergantikan oleh daun pintu.
Zhao Yi dan asistennya menatap kepergian Yasmin dengan raut kebingungan. Sebenarnya wanita seperti apa dia itu. Mentalnya berani juga sedikit aneh.
"Tuan muda kenapa tidak menerima semua persyaratannya? Tuan muda punya kekuasaan, setelah menjadi istri, Tuan muda bisa melakukan apa saja." Tanya Yinzhen, menurutnya gerakan yang dilakukan Zhao Yi hanya menurunkan wibawanya sebagai lelaki. Padahal 'kan masih bisa terima saja di awal. Ketika sudah menjalani, menerima syarat ketiga atau tidak, seharusnya tidak menjadi penghalang bagi seorang tuan muda berkuasa seperti Zhao Yi.
"Jangan memerintahku! Apalagi memerintahku menjadi lelaki yang tidak bisa dipercaya janjinya." Balas Zhao Yi, menatap tajam pada asistennya. "Potong gaji sebulan karena sok tahumu itu!"
Fu Yinzhen hanya meratakan bibirnya, kembali melihat-lihat CV. Bersiap memanggil peserta berikutnya.
Sedangkan di luar sana, setelah Yasmin keluar dari ruangan dengan pakaian yang cukup berantakan dan raut wajah yang ketakutan membuat para kandidat yang berjajar menunggu panggilan, berpikir yang tidak-tidak. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, sekilas Yasmin menoleh ke arah kandidat yang akan dipanggil setelah dirinya.
"Merryana Suci, usia 23 tahun, lulusan sarjana pendidikan...," Yinzhen berhenti membacakan CV ketika seorang wanita dengan dres hitam tanpa bahu, rambutnya di style keriting gantung dan di warnai separuh blounde. Cantik, satu kata yang akan langsung terucap bila melihatnya.
"Anda kelulusan dari univ...." pertanyaan Yinzhen berhenti ketika suara lemparan high heels cukup keras mengenai meja atasannya.
Ya, gadis cantik itu telah mengayunkan kaki yang membuat high heelsnya terlempar ke sembarang tempat, salah satunya mengenai bagian depan meja, membuat orang di dalam maupun luar ruangan terkejut karena bunyinya. Zhao Yi dan Yinzhen berdiri dan memandang kebingungan pada gadis dengan dress hitam tersebut.
Merry sekilas tersenyum dan mengusap asal bibirnya menggunakan punggung tangan sehingga gincu merah yang ia pakai menjadi berantakan. Sedangkan Zhao Yi lekas meminta Yinzhen menghentikan aksi aneh gadis itu. Namun, ketika Yinzhen baru mendekat, Merry terlebih dahulu berteriak kencang dan menabrakan dirinya sendiri di daun pintu kemudian keluar dengan bercucuran air mata.
Yinzhen berjibaku dengan mulut menganga, memandang atasannya yang juga kebingungan.
"Lao ban, ta zenme le?" Yinzhen menanyai keanehan gadis itu pada bosnya.
"Kau tanya aku, lalu aku tanya siapa!"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...