
Hari hampir malam saat Yinzhen sampai di depan kediamam Zhao, keramaian di depan gerbang sepenuhnya sudah hilang. Pria itu langsung memasuki kediaman utama sembari menggeret bawaannya. Beberapa pelayan yang sudah sangat hafal dengannya tak segan menyapa, Yinzhen pun membalas cukup ramah.
Saat sampai di ruang tengah, paman Zhang si pria dengan puluhan kunci tergantung di kantong celana ikut menyapa. Lalu mengarahkan Yinzhen ke ruang baca, tempat dimana Zhao Yi berada. Paman Zhang meninggalaknnya setelah tiba. Ruangan dengan pencayahaan yang hanya terfokus di meja, terkesan menenangkan. Di meja itu ada bosnya.
"Bagaimana, sudah menemukan caranya?" Tanya bosnya.
"Saya sudah melihat semua berita yang telah dirilis. Walau terkesan hanya gertakan dengan membocorkan pernikahan Tuan Muda, berita ini juga bisa menjatuhkan Tuan Muda kapan saja. Menurut saya, mengumumkan pernikahan dan mengakui memang sedang berniat membangun perusahaan di luar negeri untuk saat ini lebih baik. Namun, tetap tegaskan rumor yang beredar hanyalah rumor."
Zhao Yi mengangguk, dia pun sudah memikirkan itu dari sebelum Yinzhen mengatakannya. Tadi hanya ingin mendengar saran asistennya, barangkali punya pemikiran yang lebih baik.
"Persiapkan konferensi pers dan buatkan aku dan Yasmin sebuah naskah."
"Naskah?" Yinzhen berpikir sebentar lalu tak jadi bertanya. Ia mengangguk setelah itu pamit keluar. Mempersiapkan semua yang dibutuhkan oleh bosnya. Kopernya bahkan ditinggal di kediaman Zhao, sebenarnya seperti inilah Yinzhen. Bukan seperti ketika ia di Indonesia, rasanya sangat sulit bergerak dan mencari jalan keluar dari masalah.
Yinzhen menghubungi beberapa awak media yang berhubungan baik dengan perusahaan mereka, untuk menulis dan meliput berita sesuai dengan alur yang diinginkan. Terakhir memikirkan kisah indah seperti apa untuk menutupi pernikahan kontrak Zhao Yi dan Yasmin. Asisten Zhao Yi yang terbiasa melacak berbagai informasi, kini harus menghabiskan waktu berharganya untuk membaca kisah romansa. Baginya ini hal yang tak menarik, masalah percintaan seharusnya dirasakan secara langsung bukan lewat kalimat. Namun, kali ini ia mau tak mau harus membaca agar punya inspirasi. Cerita yang seperti apa untuk mewakili kisah pertemuan Zhao Yi dan Yasmin.
Beberapa novel nampak berceceran di meja, entah ini sudah yang keberapa. Namun, pria itu masih membolak-balikan setiap lembaran. Belum menemukan kisah cinta yang sedikit masuk akal, karena ia mencari kisah mendebarkan namun sederhana agar terkesan normal.
Yinzhen berhenti dari aktifitasnya. Mendorong tubuhnya ke sandaran kursi, lalu melepas kaca mata yang sering ia gunakan ketika membaca laporan semacamnya. Diliriknya jam bulat di pergelangan, hampir tengah malam. Ia sudah lelah, seharian ini tubuhnya terus tertiup angin karena tak berhenti bepergian. Belum lagi bokongnya, Yinzhen merasa daging yang melindungi tulang saat ia duduk itu sudah tepos karena kebanyakan duduk hari ini. Pria itu memejamkan matanya, berniat sembari memikirkan naskah untuk bosnya namun kantuk lebih dahulu menenggelamkannya.
Keesokan paginya, di ruang luas dengan lampu bersinar menerangi ruangan. Sebuah meja memanjang telah siap, di depannya ada banyak kursi berjajar rapih. Setelah dirasa ruangan siap untuk ditampung orang, Yinzhen menyuruh bawahannya untuk membiarkan awak media meliput konferensi pers hari ini. Ia melirik arlojinya, setengah jam lagi akan dimulai. Bosnya belum kelihatan. Ia kepikiran, apakah Zhao Yi dan Yasmin dapat mencerna ide dalam naskahnya? Semoga saja bisa, ia yakin. Keduanya sangat cerdas untuk mencerna idenya dalam naskah.
Tepat setelah matanya beralih dari arloji, gawainya berdering. Yang tengah ia cari kehadirannya meminta dijawab panggilannya.
"Bagaiamana persiapan disana?"
"Sudah siap semua, Tuan dan Nyonya kapan datang?"
"Tidak tau kapan akan datang, Yasmin berdandan sangat lama. Sampai sekarang masih belum turun dari kamar. A, kau lanjutkan saja persiapan disana." Seperti biasa, Zhao Yi mematikan panggilan jarak jauh dengan sepihak. Yinzhen kembali terfokus pada sekeliling ruangan, memperhatikan lagi apakah ada yang terlewat. Namun ketika melihat ke arah awak media, Yinzhen melihat Merry. Tepat di sebelah pria berbaju serba hitam membawa sebuah lensa. Merry sendiri masih berpenampilan seperti biasanya, hanya saja di tangnnya ada sebuah note dan bulpen.
__ADS_1
Saat Merry menyapu pandangan ke semua sudut ruangan, ia sempat takjub namun setelah melihat perawakan Yinzhen membuatnya tergugup. Lintas perilakunya yang asal jeplak membuatnya malu. Jangankan untuk berhadapan, untuk bertatapan pun ia tak berani.
Lain hal dengan Yinzhen, pria itu sedikit merutuki dirinya. Kenapa bisa bertemu dengan wanita itu lagi. Wanita yang sekilas hadir dalam mimpinya semalam. Mimpi yang kini telah ia jadikan sebuah naskah untuk disandiwarakan oleh Zhao Yi dan Istrinya. Mungkin karena percakapan di depan bandara dengan Merry, Yinzhen sampai membawa wanita itu ke dalam mimpi.
Dalam mimpi, Merry mendatanginya dengan wajah malu dan menyesal karena telah terlalu banyak pemikiran negatif. Karena Merry datang ke alamat yang ia berikan, maka mau tak mau Yinzhen memberi Merry pekerjaan. Setelah itu waktu berjalan begitu cepat dan Yinzhen menaruh perasaan pada Merry sebab seringnya bertemu. Kalimat tak menyukai Merry, rasanya sangat disayangkan terlalu cepat keluar dari lisan. Yinzhen menyesal dan berniat membelenggu Merry dengan cintanya. Namun, saat benda pipih berdering di meja, mimpinya terputus. Atasannya sudah menagih naskah, karena belum memiliki ide akhirnya Yinzhen menggunakan mimpinya.
Sedangkam di kediaman Zhao, satu-satunya pewaris kekayaan keluarga itu sedari tadi masih menunggu istrinya di ruang tengah tempat di mana biasanya keluarga berkumpul. Di tangannya ada majalah, banyak potret orang-orang terpandang dan artis papan atas terpajang. Saat terdengar hentakan alas kaki, mata Zhao Yi beralih pandang. Istrinya terlihat anggun dengan style batik khas indonesia. Ditambah perpaduan model kerudung yang Yasmin kenakan, menambah kesan keelegenan Nyonya muda Zhao tersebut.
"Tidak menyangka, Tuan Zhao memiliki selera yang baik untuk batik!" Puji Yasmin, Zhao membalas dengan senyuman. Melempar majalah ke meja, menghampiri istrinya.
"Bagus juga!" Puji Zhao Yi balik pada istrinya.
"Terima kasih untuk Tuan Zhao karena membelikanku banyak pakaian seperti ini. Secara tidak langsung membuatku melestarikan budaya negaraku."
"Kalau begitu, bagaimana caramu membalas kebaikanku ini?" Tanyanya sambil meraba pinggang istrinya, tak lupa menyeringai nakal.
"Ni juede na?" Bisiknya pelan di telinga Yasmin. Yasmin menahan geli, sambil mendorong pelan Zhao Yi agar menajauhi tubuhnya.
"Sepertinya hari ini kita tidak perlu ke gedung konferensi, kita pergi ke rumah sakit saja, bagaimana?!" Kata Yasmin sambil melirik sekilas ke bawah sana, masih menahan geli. Zhao Yi mendehem beberapa kali lalu meraih tangan Yasmin. Menarik istrinya menuju mobil untuk melaju ke suatu tempat.
Di gedung tempat Zhao Yi akan melakukan konferensi, waktu acara dimulai telah terlewat. Yinzhen nampak gusar karena si bos belum juga menampakam batang hidung. Ia mengecek arloji lagi, meski ia tahu takkan membuat waktu berhenti walau semenit.
"Tuan Fu, apakah Tuan Muda Zhao sudah ada kabar lagi?" Tanya seorang pria yang akan mendampingi Zhao Yi nanti di meja depan sana.
"Hai meiyou." Masih belum, kata Yinzhen. Kedua pria itu sama-sama berwajah khawatir. Apalagi ketika para awak media mulai ribut sendiri, bertanya-tanya karena waktu acara telah tiba tetapi belum ada tanda-tanda akan dimulai.
Di koridor ruangan, Zhao Yi berjalan terburu-buru berdampingan dengan Yasmin. Tak lupa di belakang keduanya ada pria berkacamata tebal, sang sekretaris. Ketiganya memasuki ruangan yang terdengar riuh, bisikan ikut terbawa rumor yang beredar sekaligus menjelekan Zhao Yi sekilas terdengar.
Ketika Zhao Yi dan Yasmin duduk, semuanya terdiam. Yinzhen menghampiri bos sekaligus kerabatnya itu, berdiri di belakangnya bersebelahan dengan si sekretaris. Pria yang tadi bertanya pada Yinzhen memulai konferensi, ada beberapa kalimat yang keluar sebelum giliran Zhao Yi ikut menimpali.
__ADS_1
"Yasmin hanya gadis desa yang tak sengaja sering saya temui ketika menuju ke suatu tempat di sana. Awalnya saya hanya tertarik dengan penampilannya, tetapi setelah mengobrol dengannya saya juga tertarik dengan kepribadiannya. Saya pun sebelumnya hanya berniat untuk memacari, tetapi apakah semuanya tau apa yang dia bilang pada saya?" Papar Zhao Yi sembari bertanya, para awak media terdiam. Menunggu kalimat selanjutnya dari direktur Huangzhao Group.
"Dia bilang tidak tertarik menghabiskan waktu dengan lelaki yang tak memiliki komitmen jelas. Seperti itulah dia memperlakukan setiap pria yang menyatakan cinta. Dan ada beberapa lagi yang membuat saya yakin untuk menjadikan ia sebagai Nyonya muda Zhao." Direktur Huangzhao group itu menggenggam tangan Yasmin lalu memamerkannya pada publik. Beberapa wanita disana nampak terbawa suasana.
"Tangan ini, tak bisa sembarangan disentuh oleh pria. Bahkan ia menutupi tubuh indahnya, lelaki selain suaminya kelak tak bisa melihatnya. Dari sini saya sadar, saya pasti akan sangat beruntung jika menjadi laki-lakinya. Jadi, saya memutuskan untuk menikahinya. Menjadi satu-satunya pria yang bisa melihat kecantikannya." Semua orang yang ada di dalam ruangan itu cukup terpana dengan pernyataan Zhao Yi. Terutama Yinzhen, ia juga sedikit berpikir lantaran naskah yang ia kirim berbeda dengan yang diucap bosnya.
"Saya pasti sudah mengejutkan kalian dengan berita ini. Apalagi tersebar foto menikahi istri saya diam-diam, dan tertangkap kamera terjun ke area kosong. Itu karena istri saya ingin agar kami merayakan pernikahan dengan sederhana disana. Dan untuk perusahaan, saya juga memang berniat membangun bisnis. Namun, bukan berarti saya akan melupakan kewajiban saya sebagai warga dan pengusaha di negara ini. Bahkan saya akan memperkenalkan kebudayaan kita di sana." Tandas Zhao Yi, beberapa kalimat berikutnya dilanjutkan oleh pria di sebelahnya. Selesai bicara, direktur Huangzhao itu menatap istrinya. Sedikit tersenyum sambil mengeratkan genggaman tangan. Sedangkan Yasmin sudah berdegub karena perkataan suaminya barusan. Seperti ada yang merekah di dalam hatinya.
Setelah selesai dari konferensi, kedunya lekas kembali ke kediaman Zhao. Tak lupa Fu Yinzhen ikut, di sebelahnya juga ada si sekretaris yang menyetir.
"Saya kira tadi kita akan ke rumah sakit!" Ceplos Yasmin, netranya memandangi gedung yang menjulang tinggi dari kaca mobil.
"Kenapa? Kau sangat menginginkannya? Bagaimana kalau kita coba dahulu, urusan itu belakangan! Aku juga tidak enak padamu karena menunggu terlalu lama." Yasmin mendesis kesal mendengar celotehan suaminya. Si sekretaris hanya mampu mendengar sambil kebingungan tak mengerti, sedangkan Yinzhen sesekali tersenyum.
"Apa yang kau senyumkan, Yinzhen!" Tegur direkzur Huangzhao Group tersebut. Yinzhen menggeleng, Zhao Yi menatapnya nanar.
"Kau jangan kira bisa lolos karena aku tidak membahas kinerjamu yang akhir-akhir ini semakin tidak kompeten, ya!"
"Tuan Zhao, kesalahan apa yang sudah saya buat?"
"Kau melupakannya? Pertama urusan di Indonesia, ingat sampai sekarang masih tertunda. Kedua, naskah apa yang semalam kau berikan padaku? Membosankan sekali." Cibirnya, Yinzhen lagi-lagi terdiam. Meratakan bibir, memutar mata dengan jengah. Ingin rasanya membalas, pikirkan saja sendiri kalau merasa hasil sendiri lebih baik dari pada hasil kerjanya. Namun, mengingat Zhao Yi juga mengatur banyak hal membuatnya memaklumi jika bosnya memiliki lidah seperti barusan. Yinzhen hanya menganggap sebagai perubahan mood belaka.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1