Istri Kontrak Tuan Tiongkok

Istri Kontrak Tuan Tiongkok
Bab 3


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat lantaran semalaman pikiran terlelap dalam bunga mimpi. Kini matahari telah kembali terlihat dari ufuk timur. Yasmin mematikan lampu kamar dan membiarkan cahaya sang surya masuk dari jendela. Ketika cahaya memenuhi ruang, Zhao Yi terusik. Pandangan pertama membuatnya sadar bahawa sang istri sudah tak berada di sampingnya, melainkan di depan dua jendela kaca persegi yang memanjang ke bawah, istrinya itu berpenampilan tertutup seperti biasanya.


"Kau sudah bangun?"


"Hemm, dan Tuan Muda baru bangun?" Tanya balik Yasmin. Zhao Yi mengusap matanya, melihat jam dinding sudah pukul setengah 7.


"Bukankah aku bagun terlalu pagi?"


Yasmin menyunggingkan senyumnya. "Anda ini seorang bos sukses, tetapi kenapa bangun tidurnya terdahului oleh ayam jantan!" Sarkasnya, menarik selimut dari Zhao Yi lalu merapihkannya.


Zhao Yi baru ingat, negara yang sedang ia tinggali ini mayoritas muslim. Umatnya wajib bangun pagi-pagi untuk beribadah pada Tuhan agar mendapatkan keberkahan hidup termasuk pagi-pagi mencari rezeki. Namun, berbeda dengan dirinya yang terlahir dari keluarga ateis. Pemikirannya berbeda dengan Yasmin.


"Bersihkan diri dan keluar untuk sarapan," pesan Yasmin sebelum keluar dari kamar.


Kini lelaki itu telah rapih dengan setelan kemeja putih tanpa dasi. Kancing kerahnya dibiarkan terbuka dan lengan kemejanya tergulung, menambah kadar ketampanan suaminya Yasmin tersebut.


Ketika sampai di ruang makan, Zhao Yi melihat ibu mertuanya sedang berbincang dengan seorang pria yang terlihat lebih akrab dari pada ketika berbicara padanya. Sorot mata Yasmin ketika melihat lelaki itu juga berbeda, tak berani menatap, lebih banyak menunduk. Berbeda ketika dengannya, yang dengan berani menatap matanya. Jelas dalam hati istrinya ada sesuatu pada lelaki itu.


"Kau sudah datang?" Sapa Yasmin, sengaja menghilangkan panggilan formalnya agar terlihat normal di depan lelaki yang ia sukai, Ardana Pamungkas.


Perasaan hati lelaki asal Tiongkok itu setelah melakukan pernikahan tak begitu buruk. Meski pernikahan kontrak, dan mempunyai istri unik seperti Yasmin rasanya lumayan juga. Meski dengan ketiga syaratnya, wanita itu setidaknya tidak membosankan. Dia cerdik, energik, juga memiliki penampilan yang menarik. Yaa, tidak akan memalukan lah kelak ketika dirinya membawa Yasmin bertemu dengan para colega.


Namun, Zhao Yi masih tak mengerti. Sejak kemarin dia terus melihat kepala sang istri dibungkus dengan kain yang istrinya sebut dengan kerudung itu. Ingin ke kamar mandi pakai kerudung, tidur pakai kerudung, sampai ketika Zhao Yi membuka mata dari tidurnya pun masih menggunakan penutup kepala, apa tidak gerah ya? Pikir lelaki yang hampir berkepala tiga itu.


Namun, suasana hatinya berubah kala seorang lelaki di hari pertama pernikahannya berkunjung ke rumah yang kini ia tinggali. Lebih disambut ramah oleh ibu mertuanya, juga melihat tatapan istri kontraknya yang begitu berbeda terhadap lelaki itu.


Zhao Yi pernah mendengar, katanya saat wanita memiliki perasaan terhadap lelaki, wanita takkan berani menatap matanya. Zhao Yi tak melihat itu pada Yasmin, istrinya itu kelewat berani padanya.


Zhao Yi menghampiri meja makan, ada Yasmin, ibunya, juga lelaki itu. Tak ada kursi lagi, kursinya telah ditempati lelaki asing itu. Yasmin yang menyadari lekas bangkit dan menarik Zhao Yi agar duduk di kursinya, dan dia mencari kursi lain.


Dalam ruang makan yang biasanya hanya ada satu meja dengan dua kursi, kini bertambah dua. Terlihat ramai, hanya saja Zhao Yi tak kebagian banyak bicara. Selain tak begitu suka basa-basi, Zhao Yi juga sudah merasa kesal dengan kehadiran Ardana di sana. Sangat disayangkan, penampilan cool-nya pagi ini kalah dengan penampilan lelaki desa dengan kaos oblong itu.


Sebelum memulai sarapan, ibu mertuanya itu sedikit mengenalkan Ardana pada Zhao Yi. Katanya pemuda itu salah satu pengusaha sukses di daerahnya. Sudah hampir lima bulan menetap disini, ibunya Yasmin juga membangga-banggakan Ardana kalau lelaki itu memberikan dampak positif bagi penduduk desa. Membangun desa dengan mengajak warga berternak ayam menggunakan metodenya yang tidak biasa. Intinya seperti menyiratkan kata bahwa Ardana adalah menantu idamannya.

__ADS_1


Sehabis sarapan pun ibu mertuanya itu masih mengajak Ardana berbincang. Sudah kesal karena merasa tersaiangi, Zhao Yi memilih meninggalkan mereka ke dalam kamar dan kembali mengurus perusahaannya. Dia sungguh tak sudi, kemegahan dirinya masa dibanding-bandingkan dengan peternak ayam seperti Ardana.


Di luar sana, sebelum Ardana pamit pulang, lelaki itu ingin mengobrol sebentar dengan Yasmin. Yasmin yang juga ingin berbincang dengan Ardana sebelum keberangkatannya ke Tiongkok beberapa hari lagi, menyetujui keinginan pria tampan juga sukses itu.


"Kenapa tiba-tiba memutuskan untuk menikah? Kau tidak mengundangku pula!" Tanya Ardana pelan, tak lepas nada bicara khasnya, masih sama seperti biasanya.


"Ah iya, aku hanya mengundang keluarga dan kerabat terdekat saja, Mas." Jawaban Yasmin tepat mencacatkan sebuah perasaan pada hati Ardana. Jangankan keluarga, bahkan kerabat pun dirinya tak masuk dalam lintas pikiran gadis itu. Padahal bukanlah itu yang dimaksud Yasmin.


"Oke, lalu kenapa buru-buru menikah? Aku tak pernah tau atau mendengar kau memiliki hubungan dengan seorang pria. Ini sedikit aneh bagiku."


Tentu saja dalam hati Ardana, Yasmin ialah seorang wanita yang baik-baik. Dengan tampilannya yang menutup, sudah pasti juga menjaga perawainya sebagai wanita. Menurutnya manalah mungkin berhubungan asmara dengan lelaki lain. Dirinya saja butuh waktu lama sampai bisa sedekat ini dengan Yasmin.


"Apakah jawaban itu penting bagi, Mas?" Tanya Yasmin dengan santai. Ardana diam tak mampu menanggapi pertanyaannya yang malah dibalas pertanyaan balik oleh Yasmin.


"Kalau Mas Ardana hanya merasa aneh, Mas Ardana tenang saja nanti juga akan terasa tidak aneh." Lanjut Yasmin, Ardana kembali diam. Mau diutarakan perasaannya juga sudah tiada guna, pemilik hatinya sudah menjadi milik orang. Biarlah orang berpikir dirinya pengecut atau apalah, Ardana ingin kelak Yasmin mengetahui isi hatinya yang tulus dengan sendirinya.


Ardana terpaksa mengangguk lalu mengalihkan topik pembicaraan. Sedangkan dari jendela kamar Yasmin, Zhao Yi memandang aneh kedua makhluk yang saling menyukai itu dari dalam. Zhao Yi menjauhkan handphone dari telinganya. Ini bukan rasa cemburu, tetapi hatinya merasa tak menerima jika lelaki tak seberapa dari dirinya itu mendapatkan perhatian melebihi yang ia dapat. Zhao Yi kembali meletakan gawai di telinga, di sana terdengar asistennya masih bicara panjang lebar. Tak sadar bosnya telah mengabaikan dirinya.


"Intinya, Tuan Muda, kita belum mendapatkan cara yang lebih efektif. Warga masih tidak menerima, masih khawatir industri yang akan kita bangun kelak berpengaruh pada sungai di daerah mereka .... Atau seperti ini saja, Tuan, kita pindah lokasi saja."


"Hei Yinzhen, aku menggajimu bukan untuk bekerja seperti ini, kau tau! Kita sudah 2 bulan disini, kalau kita mengganti lokasi lagi kapan akan selesai? Kau tunggu aku di areal, aku akan segera ke sana!"


"Hao de!" Sahut Yinzhen netral, terbiasa dengan sifat bosnya. Sambungan terputus.


Zhao Yi melipat laptop, dan merapihkan dokumen-dokumen yang berceceran di meja belajar Yasmin. Memasukannya ke dalam tas. Sebentar merapihkan penampilan, lalu bergegas menuju pintu. Belum sempat meraih handle, dan pintu terbuka.


"Tuan mau ke mana?" tegur Yasmin. Tubuhnya terlihat separuh karena tertutup daun pintu.


"A, ada urusan dadakan," jawab Zhao Yi seraya menarik daun pintu agar terbuka lebih lebar. Yasmin berdiri di ambang pintu menghalangi jalannya. Bosnya Yinzhen itu mengerutkan keningnya.


"Saya juga mau keluar, bertemu teman. Boleh, ya!" Pamit Yasmin.


"Pergi tinggal pergi, kenapa harus izin?" Jawab suaminya datar. Yasmin kikuk dibuatnya.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban, Zhao Yi mendorong pelan tubuh Yasmin sampai keluar dari ambang pintu. Setelah itu dia bergegas pergi tanpa berkata-kata. Yasmin melihat punggung lelaki yang kemarin mengucap akad untuknya, lalu mengehendikkan bahunya.


Tak lupa juga pamit pada wanita yang melahirkannya, Yasmin pergi melesat menaiki motor matic warna putih, melewati jalan yang dipenuhi degan rumah warga dan toko kecil-kecilan di pinggir jalan. Sebelum melewati sekolah menengah atas tempatnya dahulu menimba ilmu, ada sebuah peternakan ayam yang sangat besar. Itu milik Ardana, dari depan gerbang Yasmin dapat melihat mobil pria yang dikaguminya itu terparkir di depan kantor pelayanan. Gadis itu lekas berpaling, memikirkan perasaanya sungguh sayang sekali. Menunggu Ardana apakah masih pantas baginya?


Yasmin memarkir kendaraannya di halaman cafe outdoor yang berada tepat di depan SMA-nya dahulu. Sudah ada sahabatnya di sana. Berpenampilan seperti biasa. Dres merah selutut, kulit yang tak begitu putih tetapi mulus, rambut dengan model keriting gantung separuh bluonde.


"Hai, Merr!" Sapa Yasmin. Duduk di hadapan sahabatnya. Merry melepas sedotan dan menelan susah es kopi di tenggorokannya. Terkejut dengan kehadiran Yasmin yang tiba-tiba.


"Aura nyonya Zhao memang beda! Sio loe pun berubah jadi kucing, ya!" Cerca Merry, mengingat sahabatnya yang datang tanpa suara seperti kucing.


"Apaan sih! Sio, sio .... eh iya, gimana? Sudah kamu utarakan pada orang tua?" Alih Yasmin, menaruh tasnya di atas meja.


"Syukurlah dengan sedikit bujukan dan ancaman, orang tua gue bersedia lepasin gue pergi ke Tiongkok!" Jawabnya sembari mengangkat-ngangkat kedua alis.


"Mantab, alhamdulillah deh kalau seperti itu."


"Hehe, ini juga 'kan berkat loe. " Merry dan Yasmin sejenak bertatapan, mengingat ide gila beberapa hari yang lalu. Meski Merry sempat merutuki Yasmin karena memintanya bersandiwara dengan ide memalukan, tetapi dia akhirnya bersyukur karena halangannya telah teratasi sebab ide gila itu. Kedunya pun tertawa geli bersama-sama.


Sebenarnya Merry sampai bersedia bersandiwara gila saat di ruang interview. Zhao Yi, bukan semata untuk membantu Yasmin agar terpilih menjadi seorang istri. Gadis kelulusan S1 Pendidikan Bahasa Mandarin itu berniat melanjutkan study-nya di Tiongkok, melakoni pekerjaannya sebagai guru bahasa asing di sekolah menengah tak membuatnya puas. Berat meladeni remaja yang seperti tak niat belajar, sudah begitu gajinya pun tak begitu besar. Merry ingin merubah nasib menjadi lebih baik. Mengejar profesi sebagai dosen. Namun, orang tuanya selalu melarang dengan alasan tak tega bila Merry seorang gadis tinggal sendiri di negeri orang. Merry sama dengan Yasmin, jika sudah ada kemauan maka harus lakukan.


Seminggu yang lalu Merry mendengar kabar bahwa ada seorang Tuan Tiongkok sedang mencari wanita untuk dijadikan istri kontrak. Awalnya ia ingin mendaftarkan diri sendiri, agar bisa punya peluang untuk ke Tiongkok dan kedua orang tuanya bisa lega melepas kepergiannya. Namun, ide itu juga ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tuanya. Bahkan sampai dikatai gila.


Merry tak habis akal, dia masih memiliki Yasmin yang juga ingin pergi ke Tiongkok untuk mencari ayah kandungnya. Dia pun mengusulkan Yasmin agar mengikuti seleksi, awalnya temannya itu menolak mengingat dia telah menyukai Ardana. Namun, Merry terus meyakinkan bahwa ini hanyalah nikah kontrak. Yasmin bisa bercerai setelah habis masanya. Saat itu Merry terlalu bersemangat, tak berpikir jika ada kemungkinan lain dari dugaannya.


"Terus kalau loe, bagaimana? Kedepannya ada rencana apa untuk mencari ayah loe?" Merry kembali meletakan gelas es kopi setelah menyeruputnya dua kali. Menatap Yasmin, bersiap mendengar apa yang akan terucap dari mulut sahabatnya.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2