Istri Kontrak Tuan Tiongkok

Istri Kontrak Tuan Tiongkok
Bab 8


__ADS_3

Mobil sampai di gerbang kediaman Zhao. Ada wartawan mengerubuni di sana. Kamera, lensa, microfon, dan semacam peralatan lainnya nampak melengkapi penampilan. Bodyguard kelauarga Zhao dengan style jas serba hitam keluar dan mengatur para wartawan agar mobil Zhao Yi punya ruang untuk masuk ke dalam kediaman. Banyak lontaran pertanyaan saat mobil melewati wartawan yang tak mampu mendekati karena bodyguard keluarga Zhao membuat pagar dengan tubuh mereka.


Zhao Yi turun tepat di kediaman utama, Mamanya sudah menunggu di depan pintu sembari sesekali melihat ke arah gerbang yang tampak ramai.


"Yi, ada apa lagi ini?" Tanya Nyonya besar Zhao dengan risau.


"Ma, serahkan saja pada Zhao Yi. Mama jangan khawatir, perhatikan saja kesehatan Mama. Oke!" Zhao Yi mengantar ibunya ke kamar untuk istirahat. Sebisanya senyum dipancarkan agar mengurangi rasa khawatir wanita yang telah mengandungnya selama sembilan bulan tersebut.


"Yi, Mama tidak lemah apalagi sakit-sakitan!" Protes Nyonya besar saat putranya ikut memasuki kamar.


"Memangnya Mama kira, Yi tidak tahu? Dua minggu lalu Mama kontrol 'kan ke rumah sakit?"


"Hanya cek kesehatan biasa, kau ini kenapa sih! Ingin Mamanya jadi penyakitan beneran, ya!" Dalih Nyonya besar lagi.


"Ma .... apa perlu aku panggil saksinya?" Nyonya besar membalikan badannya. Ia membuang napas dengan kasar.


"Dasar Paman Zhang, bisa-bisanya dia mengadu padamu!"


"Bukan paman Zhang yang mengadu, Yi yang memintanya untuk memperhatikan Mama." Nyonya besar terdiam tak bisa berkata-kata lagi. "Mama jangan banyak pikiran, biarkan semua masalah perusahaan Yi yang urus. Masalah rumah juga sekarang Mama bisa percayakan pada Yasmin. Mama tinggal menikmati hari saja!"


"Yi .... Mama tidak terima. Okelah Mama akan membiarkanmu mengurus perusahaan, tetapi tidak untuk rumah. Yi, kamu jangan lupa! Dia hanya bidak kamu!"


"Baik-baik ikuti kata Mama, tetapi harus tetap menjaga kesehatan!" Zhao Yi mengalah, otaknya juga sudah berasap karena Tuan Gao memberinya pekerjaan lagi. Ini bagaikan menunggu air laut kering.


Zhao Yi keluar dari ruangan pribadi Mama-nya, senyumnya tergantikan dengan wajah dongkol setelah menutup pintu. Ia menuju kamarnya, mencari sang istri. Tadi setelah Tuan Gao menelpon, ia lekas mengecek media sosial. Banyak berita yang tidak-tidak tentang dirinya. Bahkan masalah yang bersangkutan dengan Tuan Liu, muncul lagi sebuah opini publik karena Tuan Liu menarik argumennya kembali. Banyak yang bilang Zhao Yi bermain kotor, menyuap, mengancam dan sebagainya. Walau kenyataan memang dia mengancam, tetapi ini memang kesalahan Tuan Liu. Zhao Yi juga bukan sengaja karena ingin menutupi kesalahannya.


"Yinzhen, kamu kembali ke Tiongkok saja untuk saat ini. Bantu aku bereskan masalah disini." Titah Zhao Yi lewat panggilan jarak jauh saat memasuki kamar. Terlihat Yasmin tengah memegang gawainya juga di sofa. Kedua mata mereka bertatapan. Zhao Yi telah meninggalkannya semalaman, apakah gadis ini mengkhawatirkannya? Hatinya bertanya-tanya, tetapi sekarang itu tidaklah begitu penting baginya.


"Saya sudah baca berita, apakah ada yang bisa saya lakukan?" Tanya Yasmin sambil bangkit dari duduk, menghampiri suaminya beberapa langkah.

__ADS_1


"Tunggu Yinzhen pulang dulu." Pinta Zhao Yi, kini gantian dia yang duduk di sofa sembari memijat pelipisnya.


Pagi menuju siang di Indonesia. Lelaki berusia 25 tahun menapaki kakinya di lantai bandara sembari menggeret koper, membelah kumpulan manusia yang sama-sama akan masuk bandara lebih dalam. Nampak terburu-buru. Setelah atasannya bertitah, ia segera mencari penerbangan terkini. Walau cukup susah karena minimal pemensanan tiket dilakukan sehari sebelum keberangkatan, tetapi hal seperti ini bukan apa-apa bagi Yinzhen.


Ketika Yinzhen menaruh kopernya untuk diperiksa, dia menyadari ada yang aneh di sekitarnya. Tepat di sebelahnya seorang gadis tengah menutupi wajahnya menggunakan majalah dan sedang menghindarinya. Namun, setelah kemarin melihatnya, mata Yinzhen menjadi mudah mengenali siapa gadis itu ketika melihat rambut model keriting gantung dan separuh blounde tersebut.


"Nona Merry, 'kan?" Ceplos Yinzhen, sukses membuat yang punya nama berhenti dan menahan malu di balik majalah yang menutupi wajah.


"Kau mau ke Tiongkok, juga?" Tanya Yinzhen lagi, mengingat dirinya mendengar perdebatan Merry dengan kedua orang tuanya mengenai Tiongkok kemarin. Namun, Merry hanya melambaikan tangannya dengan kata lain ingin menjawab tidak pada Yinzhen. Setelah itu Merry lekas pergi, masih menutupi wajahnya dari samping menggunakan majalah. Yinzhen menghendikan bahu dan melanjutkan aktifitas. Sudah tertangkap basah pun masih tidak mau mengaku, pikirnya.


Sedangkan Merry yang tanpa sengaja berpapasan dengan lelaki tampan yang pernah melihat kegilaannya itu hanya bisa merutuki Yasmin. Gara-gara si gadis berkerdung, sekarang dirinya tak punya muka lagi bila bertemu dengan kedua lelaki tampan di dalam ruangan itu. Beruntung ketika bertemu dengan Zhao Yi beberapa waktu yang lalu, dia tak begitu memedulikannya. Namun, dirinya juga tak akan melupakan karena ide memalukan temannya itu, kini dirinya bisa melanjutkan study S2 di Tiongkok.


Merasa cukup menjauh dari pandangan Yinzhen, Merry memutuskan untuk memasuki kabin pesawat dan segera duduk di kursi bagiannya. Di sebelahnya ada seorang penumpang lainnya, Merry menyapa dengan senyuman dan anggukan pelan selayaknya orang Indonesia yang ramah tamah. Hanya saja setelah menatap mata penumpang di sebelahnya, sahabat baiknya Yasmin itu segera memalingkan wajah dan menelan salivanya dengan kasar.


"Hao jiu bu jian, Meili xiaojie!" Sapa Yinzhen santai. Memanggil Merry dengan nama mandarinnya.


"Kenapa malah jadi sebelahan sih!" Gumam Merry yang terdengar sedikit menyedihkan.


"Mohon maaf Pak, ini peringatan yang terakhir. Mohon untuk tidak memainkan handphone, ya Pak!" Kali ini Pramugari lain, mungkin yang sebelumnya sudah kesal dan bosan mengingatkan pria itu. Yinzhen terpaksa mengangguk dan memasukan gawainya ke dalam saku. Kini matanya beralih pada gadis di sebelahnya, karena terlalu serius melihat permasalahan yang tengah dialami atasannya, ia sampai lupa mengepoi sahabat dari istri Zhao Yi tersebut.


"Nona Merry melanjutkan S2-nya di mana?"


Merry tercengang, dari mana pria itu mengetahui dirinya akan melanjutkan S2 di Tiongkok?


"Nona Merry jangan terkejut seperti itu, orang yang bekerja seperti saya memang bukan aneh jika mengetahui banyak hal." Angkuhnya, Merry masih tak ingin berkata-kata. Masih sungkan, mengingat kegilaanya di ruang interview saat itu.


"Bila aku tebak, kalau tidak di Shanghai maka di Nanjing, betul tidak?"


"Jangan buat gue merasa, loe lagi nguntit gue, oke!"

__ADS_1


"Hemm, pasti Shanghai karena Nyonya Yasmin tinggal di sana. Apakah kau sudah punya pekerjaan?" Celetuk lagi dari pria di sebelah Merry, kini rasa malu yang sempat ia rasa telah berubah menjadi rasa waspada. Ia menjadi takut, setahu apa pria di sebelahnya tentang dirinya. Otaknya berpikir Yinzhen tengah menguntit dirinya, mengingat perkataan Yasmin bahwa otak Zhao Yi agak gasrek. Jadi mungkin saja asistennya sama, atau mungkin lebih parah 'kan?


"Nona Merry tidak perlu begitu waspada. Sudah tugas saya memeriksa segala sesuatu sebelum bertindak. Saya tidak ada niatan buruk." Ungkap Yinzhen, mengetahui raut wajah wanita di sebelahnya.


"Kalau begitu masalah gue pura-pura gila dan bersekongkol dengan Yasmin, loe juga tau?"


Yinzhen tersenyum simpul. "Tentu saja, aku tau semunya. Eh, ngomong-ngomong dibayar berapa oleh Nyonya Yasmin?" Merry merengut tak suka. Memilih mencueki Yinzhen. Kembali menghadap ke depan.


"Menurutku Nyonya Yasmin sangat hebat. Tanpa menempuh pendidikan lebih tinggi tetapi mampu menguasai bahasa kami dengan baik. Sudah begitu berhasil memegang kunci kelemahan bosku. Aku rasa, dia pasti sudah menduga kalau akan diterima bahkan sebelum masuk ruangan interview."


"Meski tanpa gue bersandiwara?" Merry kembali menoleh pada Yinzhen. Pria itu menggeleng lalu menjawab pertanyaan spontannya.


"Tidak, itu poin penting lainnya. Dan dia juga memiliki nasib baik saat itu, sampai Tuan Muda Zhao mau tak mau memilih dia. Namun, sekarang kalau diingat-ingat ada yang ganjil. Mengapa Nyonya Yasmin begitu ingin menjadi istri kontrak Tuan Muda Zhao? Aku rasa alasannya tak sesederhana karena uang, bukan?" Yinzhen menelisik mata Merry. Gadis itu membuang muka, tebakan Yinzhen benar. Namun, Yinzhen belum berpikir terlalu jauh. Baginya wanita desa seperti Yasmin dan Merry bisa merencakan hal jahat seperti apa? Yinzhen merasa, orang Indonesia tak memiliki banyak motif seperti itu.


Yinzhen dan Merry saling terdiam sampai kembali mendarat di bumi, setelah perbincangan yang tak terlalu singkat di pesawat tadi. Saat keluar dari bandara, mereka sempat bertemu lagi setelah sempat berpisah di keramaian orang. Yinzhen mengingat sesuatu saat mendengar Merry berdebat dengan kedua orang tuanya kemarin.


"Kalau Nona Merry membutuhkan pekerjaan, bisa datang ke alamat ini." Yinzhen memberikan selembar kartu pada wanita di hadapannya. Masih mengira ada yang salah dengan Yinzhen, kartunya belum sempat diterima, wajah Merry sudah merah padam. Merry merasa direndahkan.


"Maaf gue memang butuh uang, tetapi tidak jual badan!" Sungutnya. Yinzhen terkekeh pelan lalu membuang sembarang kartunya.


"Maaf, saya juga tidak tertarik dengan tubuh anda." Kata Yinzhen, berlalu menaiki mobil. Segera menuju kediaman bosnya. Yang ia katakan tadi benar adanya, setelah menjadi aisten Zhao Yi, ia pergi ke banyak tempat, banyak juga wanita yang telah ia temui. Ada banyak wanita yang menyukainya, baik dari fisik maupun materi. Yang seperti Merry tidak begitu menarik baginya.


Sedangkan Merry melihat kepergian pria itu dengan perasaan campur aduk. Apalagi setelah mendengar Fu Yinzhen berkata tak tertarik dengan tubuhnya, merasa harga dirinya menjadi turun.


Dilihatnya kartu yang tadi disodorkan, teronggok di atas paving begitu saja. Merry meraihnya, membaca teliti isi tulisan yang seratus persen berupa hanzi. Merry jadi malu sendiri, tadi ia mengira Yinzhen memberi alamat rumahnya atau sebuah tempat gelap penuh kemaksiatan. Sekarang ia semakin tak punya muka bila kembali bertemu dengannya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2