Istri Kontrak Tuan Tiongkok

Istri Kontrak Tuan Tiongkok
Bab 4


__ADS_3

"Belum ada sih. Aku tadinya berniat meminta bantuan padanya, tetapi aku belum yakin dengan dia." Tutur Yasmin.


"Belum yakin bagaimana?"


"Aku belum mengerti dia itu orang yang seperti apa. Aku baru tahu sedikit-sedikit, ya dia tegas dan sedikit ... gasrek juga mungkin otaknya." Merry yang sedang memakan brownnis tersedak mendengar kata-kata terakhir Yasmin, ia lekas meminum es kopinya. Namun, masih sedikit terbatuk.


"Jangan bilang, dia beneran ...." Yasmin mengangguk, mengiyakan pemikiran Merry perihal plot yang mereka buat dengan memfitnah Zhao Yi sebagai lelaki cabul.


"Tidak cabul sih, hanya saja ketika melihat matanya aku selalu merasa dia akan menerkamku. Kau tau? Aku sangat bersusah payah mengekspresikan wajah agar terlihat tidak gugup! .... Untung saja sebelumnya aku sempatkan menggali informasinya, dan mendapatkan kalau dia itu sangat amanah. Jadinya aku manfaatkan saja. Sebelum menandatangani kontrak kemarin, aku beri dia tiga syarat, salah satunya jika dia ingin menyentuhku kelak, dia terlebih dahulu harus dikhitan." Beber Yasmin.


"Gila-gila, hebat sih. Hahahaha!" Merry tertawa lepas, sambil bertepuk tangan sekilas.


Tanpa disadari keduanaya, ada lelaki yang dikagumi Yasmin tengah berjalan menuju tempat duduk mereka. "Wuih, lagi pada ngumpul nih!" Sapanya sebelum tiga langkah sampai di meja tujuan.


"Eh, Mas Ardana!" Sapa balik Merry dengan ramah. Lalu menyilahkan pria itu duduk.


"Mas Ardana kenapa kemari? Biasanya jam segini pertemuan dengan para warga untuk berdiskusi tentang metode peternakan?"


"Owh, kebetulan aku lagi gak enak mood. Jadi pertemuannya aku undur sore nanti. Nih, makanya aku ke sini juga. Balikin mood sambil minum kopi, iya gak?" Tuturnya seperti biasa, penuh semangat dan pandai membangun suasana.


"Bener tuh yang dibilang Mas Ardana!" Kata Merry bari mengangguk, sedangkan Yasmin masih terdiam.


"Kamu 'mah aneh, kenapa tanya aku ke sini? Seharusnya tanya temen kamu ini, masih pengantin baru kok sudah keluar rumah? Iya tidak? Baru kemarin loh akadnya!" Cetusnya lagi seraya melirik wajah Yasmin yang sudah berubah eskpresi menjadi sulit diartikan. Merry yang mengetahui perasaan Yasmin, tersenyum kikuk sembari menatap sahabatnya juga. Sekarang Merry menjadi kasihan pada Yasmin.


"Semua salah gue, Mas Ardana. Sebenarnya ini mini party kami, karena gue akan segera pergi ke Tiongkok. Aduh sorry banget gue sama loe, Yasmin." Kilah Merry, membantu sahabatnya. Dibalas anggukan dan senyuman sekilas oleh Yasmin.


"Tiongkok? Mau ngapain kamu ke sana?"


"A, lanjut S2, Mas."

__ADS_1


"Oiya, kamu kelulusan S1 Mandarin 'kan? Mau lanjutin itu?" Tanyanya lagi, dibalas anggukan dan senyuman malu dari Merry. "Mantab-mantab. Lanjutkan!"


Tanpa ketiganya sadari, percapakan di meja cafe mini itu terekam sekilas oleh penglihatan Zhao Yi dari kaca mobilnya, dia melihat Ardana tengah berbincang riang di sebuah meja. Tak melihat Merry, dia hanya menangkap bayangan wanita yang tadi meminta izin padanya untuk keluar juga. Zhao Yi mengerutkan keningnya, tengah mengira istri kontraknya telah berkencan dengan pria lain.


"Tuan Muda, ada apa?" Tanya Yinzhen, yang menyadari perubahan raut wajah bosnya.


"Tidak ada apa-apa," ungkapnya lalu kembali fokus pada jalanan yang mereka lalui. "Urus saja urusanmu, fokus pada jalanan jangan padaku!" Timpalnya lagi, Yinzhen lagi-lagi hanya terdiam. Kembali fokus menyetir, menuju rumah makan. Tadi mereka sudah tiba di lokasi yang diincar, tetapi cuaca sangat panas. Mereka tak sanggup berlama-lama di luar, jadi berencana untuk mengisi perut terlebih dahulu sambil berdiskusi langkah selanjutnya.


Sore hari di rumah Yasmin. Selepas kembali dari tongkrongan, wanita itu sesekali melihat pekarangan rumah. Wujud maupun deru mobil suaminya belum tersapa di inderanya, kemana lelaki itu? Penasarannya tanpa sadar. Sekarmanah yang menyadari gerak-gerik putrinya jadi berpikir apakah hubungan pernikahan mereka baik-baik saja?


Dahulu saat awal dia menikah dengan ayahnya Yasmin sangat baik-baik saja. Suaminya itu sangat ramah dan suka mendengarkan apa yang ia katakan, curhatan, keluhan, semua dia dengarkan. Sekarmanah sangat nyaman, sampai jatuh di lombang cinta dan terjebak sampai sekarang. Kembali melihat Yasmin yang tengah membantunya memasak. Apakah menantunya sebaik ayah Yasmin dahulu? Sekarmanah mencoba menerka dengan keras.


"Nak, kamu pergi mandi saja sana! Urusan dapur biar Ibu saja!"


"Sebentar lagi, Bu."


Yasmin menurut, menjauh dari dapur. Berjalan menuju kamar untuk mengambil handuk dan pakaian ganti, setelah itu lekas menuju kamar mandi yang terletak di ruangan paling belakang dekat dengan ruang sembahyang. Yasmin langsung memulai aktivitas untuk membersihkan dirinya di ruangan sana, sampai lupa mengunci pintunya.


Sedangkan di luar, Zhao Yi yang baru memasuki pekarangan rumah tanpa sengaja melihat Sekarmanah yang terburu-buru entah pergi ke mana. Zhao Yi tak menghiraukan, memilih masuk rumah dan segera disambut oleh aroma masakan. Zhao Yi sekilas melihat-lihat dapur yang nampak masih berantakan, juga menghirup aroma sedap yang cukup pas untuk seleranya. Pria itu bertanya-tanya siapa manusia yang tengah memasak makanan ini, kenapa ditinggal? Dan kemana istrinya?


Zhao Yi beralih ke kamar. Kosong, di sana pun tak ada istrinya. Apakah Yasmin belum pulang berkencan? Batin lelaki itu. Ah tidak, tadi ia melihat motor istrinya di teras rumah tadi. Pada akhirnya pria itu menghendikkan bahu lalu melepas seluruh kancing kemeja dan membuangnya asal di atas ranjang. Cuaca hari ini sangat panas, meski sudah dua bulan tinggal di sini tak membuatnya beradaptasi. Kemejanya saja tadi sampai dibasahi oleh keringat.


Zhao Yi mengambil handuknya, berjalan menuju kamar mandi. Barangkali rasa gerah dan lelahnya dapat hilang setelah membersihkan diri. Saat hampir sampai, Zhao Yi merasa ada yang aneh. Dia berpikir keras, dan segera tersadar bahwa lupa membawa pakaian ganti. Ah, masih banyak hal yang belum menjadi terbiasa. Sebelumnya ia selalu menggunkan kamar mandi di dalam kamar, jadi tak perlu membawa pakaian ganti seperti sekarang. Nampaknya jika Zhao Yi hendak menatap kebih lama, perlu merombak rumah Yasmin agar lebih nyaman untuk ditinggali.


Zhao Yi mendorong pintu kamar mandi dengan tangan kirinya, karena tangan sebelah kanan membawa perlengkapan mandinya. Namun, tiba-tiba kamar mandi yang tadinya sunyi kini menjadi ramai bak seorang fans bertemu idolnya. Yasmin berteriak histeris saat melihat pria bertelanjang dada di hadapannya, begitupun Zhao Yi ikut berteriak kaget tiba-tiba diteriaki oleh Yasmin.


Sekarmanah yang baru saja kembali dari warung setelah membeli bumbu penyedap, ikutan terkejut mendengar teriakan dari arah belakang. Ia lekas menghampiri dan bertanya dari luar kamar mandi yang masih tertutup pintunya, sama seperti ketika sebelum ia pergi ke warung.


"Ada apa, Nak?"

__ADS_1


Zhao Yi dan Yasmin saling bertatap, pria dia hadapan Yasmin menggeleng kepala. Reflek Yasmin lekas menjawab dengan kata yang selintas lewat di otaknya. "Tikus Bu, tikus besar banget. Yasmin kaget." Zhao Yi menatap tak terima pada Yasmin karena telah menyebutnya tikus barusan.


"Waduh, Ibu harus beli racun tikus lagi ini. Ya sudah lanjutkan mandinya, Ibu kira apa!" Sekarmanah kembali menyibukkan diri di dapur.


Di dalam ruangan sempit bercat putih, Zhao Yi yang tadinya tak terima karena disebut tikus oleh istrinya telah lupa. Kini tengah fokus pada wajah Yasmin lalu rambut hitam sebahu yang diikat asal, beberapa helainya mencuat dan menjuntai sembari meneteskan air dengan perlahan. Yang membuatnya merasakan adrenalin lain ialah ketika melihat tubuh istrinya yang basah. Meski tubuh istrinya itu tertutup dengan baju putih cukup tebal, tetapi Zhao Yi mampu melihat dan menerawang lekuk tubuh yang selalu dibungkus dengan pakain tertutup tersebut. Lelaki berkepala tiga itu menelan salinya perlahan saat menyadari ular purbanya sudah bangun dibawah sana.


"Kenapa masih lihat? Hadap sana!" Panik Yasmin dengan suara pelan, sembari menunjuk arah pintu. Dengan reflek Zhao Yi malah menuruti. Lelaki itu berdiri dengan tangan kiri sedikit menopang tubuhnya di tembok. Otak kotornya terus dibayangi oleh sekelebat potret indah istrinya barusan, tubuhnya memanas apalagi dibagian bawah sana ularnya seakan sudah berontak ingin nyasar ke dalam goa.


"Tuan kenapa main nerobos saja sih! Masa tidak mendengar kalau saya sedang mandi!" Kesal Yasmin, masih memelankan suaranya.


"Kamu kok salahin aku? Siapa yang tidak mengunci pintunya? Sudah begitu mandi kok tidak ada suaranya!" Sanggah Zhao Yi dengan susah payah karena keadaan tubuh prianya bereaksi normal ketika dihadapkan pemandangan seperti tadi.


"Ya terus? Saya harus pukul-pukul gayung gitu supaya ada suaranya. Atau pukul panci supaya tambah ramai!"


Zhao Yi segera berbalik menghadap Yasmin karena kesal dengan jawaban istrinya. Niatnya ingin berkilah, tetapi setelah melihat Yasmin lagi dia menjadi sadar dan kembali ke kamar, tak jadi berkilah apalagi bersih-bersih. Pria itu melewati dapur tanpa sadar tengah diperhatikan oleh ibu mertuanya.


"Owh, apakah itu tikusnya?" Gumam Sekarmanah sembari melihat menantunya dengan punggung polos memasuki kamar.


Di dalam kamar Zhao Yi melempar handuk dan pakaian gantinya dengan asal, kepalanya pusing, bagaimana dia menidurkan kembali ular purbanya. Sial, kenapa Yasmin harus memberinya syarat seperti itu. Kasihan ularnya akan berpuasa padahal bulan ramadhan bulan tiba. Zhao Yi juga masih tak habis pikir dengan Yasmin, dengan tubuh indah seperti itu kenapa selalu ditutup. Kalau tau daya tarik Yasmin akan sehebat ini, Zhao Yi takkan menerima syarat-syaratnya itu dari awal. Kini pria itu berbaring tengkurap di atas ranjang, badannya masih lelah karena baru pulang dari calon lokasi yang akan ia beli, belum lagi sekarang ketambahan ularnya berdiri tegak. Zhao Yi memandang kosong dengan wajah ditekuk, memikirkan masa depannya jika sering terjadi hal seperti ini.


"Apa aku ikuti saja syarat ketiganya, ya?" Gumamnya, tetapi tak lama menggeleng keras saat mengingat pobianya terhadap jarum suntik.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2