
Zhao Yi lekas pergi menuju lokasi yang dikirimkan mata-matanya. Sudah berhari-hari dia mencari keberadan Tuan Liu, untuk negosiasi. Namun, karena Yinzhen bawahannya yang kompeten itu tak disisinya semua terasa seakan dipersusah. Asisten terpercayanya itu jika diberi tugas selalu cepat dan rapih, sayangnya kini pria itu tengah mengurusi proyek barunya di Indonesia. Zhao Yi hanya bisa bersabar karena mengandalkan bawahan lainnya yang tak sehebat Yinzhen.
"Tuan Liu tertangkap CCTV melewati jalan ini sehari setelah anda datang ke Tiongkok, sampai sekarang belum ada bayangan dia kembali melewati jalan ini lagi, atau jalan yang berhubungan. Kemungkinan masih di persembunyian sampai sekarang. Menurut kemungkinan Tuan Liu sepertinya menuju ke pusat kota Suzhou." Jelas pria berkacamata tebal yang tak lain sekretaris Zhao Yi. Keduanya sudah duduk di dalam mobil yang melaju ke tempat Tuan Liu yang sudah diperkirakan.
"Pusat kota Suzhou? Kenapa kau bisa yakin tua bangka itu ke Suzhou?"
"Selain pusat kota Suzhou, dua daerah yang dilintasi jalan ini sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Tuan Liu. Hanya pusat kota, tujuan pasti Tuan Liu saat ini, karena di sana berkumpulnya sanak saudara. Bahkan bukankah putrinya dibesarkan di sana?"
"Tuan Liu melarikan diri jelas karena dia mengetahui aku akan mencarinya. Menurutmu apakah dia masih akan bersembunyi di tempat yang aku ketahui?"
Pria berkacamata terdiam, membenarkan pemikiran atasannya. "Lalu seharusnya Tuan Liu pergi kemana, Bos?"
Zhao Yi menatap garang sekretarisnya, sudah salah perkiraan masih bertanya pula. Secara tak langsung menyuruhnya berpikir kemana perginya si tua bangka Liu. Suaminya Yasmin itu menghela napas, memikirkan betapa bagusnya jika ada Fu Yinzhen di sampingnya.
"Ah benar, Yinzhen!" Lelaki itu lekas menghubungi Yinzhen. Barangkali pria itu paham jalan pemikiran Tuan Liu.
"Selain Suzhou, diantara 3 kota itu menurutmu Tuan Liu bersembunyi dimana?" Tanya direktur Huangzhao Group itu setelah mengirim potret lalu lintas yang sudah dilalui Tuan Liu.
"Tetapi kedua kota ini sepertinya agak tidak mungkin. Yang di sebelah selatan ini adalah kekuasaan keluarga Zhang, sebelumnya Tuan Liu pernah bersinggungan. Yang di sebelah barat ini juga dikuasi keluarga Chen, kedua keluarga ini kita tahu mereka semua bersinggungan dengan Tuan Liu. Meski Tuan Liu memiliki banyak koneksi, tetapi orang-orang kedua keluarga ini seharusnya tidak akan tinggal diam. Namun, sepertinya Tuan Liu sudah bersembunyi dengan aman dan cukup lama 'kan?"
Zhao Yi berpikir lagi, apakah benar lelaki tua itu sebenarnya pergi ke Suzhou? Apakah lelaki Tua itu sengaja bermain bodoh untuk membodohi?
"Bos Zhao, Tuan Muda Fu, apakah kalian ingat pada Festival Bulan tahun lalu, keluarga Chen resmi bersekutu dengan keluarga Gao?" Zhao Yi menatap si pria berkaca mata dengan senyum membenarkan, Yinzhen yang masih tersambung komunikasi jarak jauh juga ikut membenarkan yang dikatakan oleh pria di sebelah atasannya itu.
"Cepat, pergi menuju barat kota Suzhou!"
Akhirnya dia akan segera menemui si tua bangka Liu. Andai saja tak memiliki hubungan kerabat, dahulu Zhao Yi tidak akan menerima rubah tua reseh itu. Sekarang malah ada rumor ingin yang tidak-tidak tentangnya, membuat hidupnya tambah sulit saja.
Saat hampir tiba, Zhao Yi memilih beristirahat sambil melacak tempat tinggal Tuan Liu saat ini, dari luar kota tujuan. Dia tidak buru-buru masuk ke dalam kota, lagi pula itu juga termasuk daerah kekuasaan musuhnya. Harus hati-hati jangan sampai lawan menjadi waspada dan malah menggagalkan rencananya.
"Bos, sudah ketemu! Tuan Liu, di jalan Ping An, ruko nomer 087." Lapor si pria berkaca mata. Huft, akhirnya Zhao Yi bisa bernapas lega. Mungkin malam ini bisa tidur nyenyak.
"Kirim beberapa mata-mata, jangan sampai kehilangan jejak lelaki tua itu. Besok baru kita hampiri dia."
"Baik, siap Bos."
__ADS_1
Zhao Yi kembali sendiri dalam kamar penginapan, sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang seempuk miliknya di rumah. Ingat ranjang, mengingatkannya juga pada Yasmin. Seharian ini ia sibuk memikirkan si tua bangka Liu sampai melupakan istrinya yang imut itu. Sedang apa ya dia sekarang? Bagaimana kalau ditelepon saja! Batin pria itu.
Sayang, lelaki itu sedikit kecewa lantaran sang istri sedang berada dalam panggilan lain. Zhao Yi terus memikirkan, siapa yang sedang teleponan dengan istrinya yang berparas imut itu. Ibu mertuanya atau lelaki yang mendapat rasa cinta istrinya? Ah, lelaki itu tanpa sadar mulai posesif. Dan sepertinya tak jadi tidur nyenyak malam ini.
Keesokan paginya Zhao Yi tengah berdiri memandangi Tuan Liu dari jendela kaca sebuah toko pakaian, sembari sesekali menguap. Pria berkaca mata hitam itu mampu melihat lelaki tua yang sudah beberapa hari ia cari susah payah tengah duduk santai sembari mengscrool tab, ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok. Saat sekretarisnya mengirimi sebuah pesan, ia segera turun ke lantai satu dan menghampiri mangsa di seberang sana.
"Sungguh kehidupan yang tenang, bukankah begitu Tuan Liu?" Zhao Yi menghampiri pria tua yang bersantai di depan teras rukonya, tak lupa diikuti sang sekretaris.
Awalnya si Tua Liu sedikit kaget mendengar suara Zhao Yi. Namun, tak lama ia tersenyum sembari mematikan sumbu rokoknya.
"Tak menyangka demi ketenangan, Paman Liu rela tinggal di kota kumuh seperti ini." Katanya lagi setelah duduk tanpa disuruh, sesekali menyibakan tangan karena sisa asap rokok yang menghampirinya.
"Na, shi bushi wo mafan ni le?" Tanyanya sambil tertawa ringan, seolah kelakuannya akhir-akhir ini hanya permainan anak kecil semata.
"Kau benar Liu tua, kau begitu merepotkanku!"
"Namun, aku senang. Berarti kau menganggapku penting bukan?" Zhao Yi ingin sekali membalikan meja di hadapannya dan menyiram kopi panas ke wajah si rubah tua.
"Berhentilah membuat onar, malulah dengan usiamu dan hubungan keluarga kita, Paman Liu." Sesantai mungkin Zhao Yi mengatakan itu tetapi matanya tetap fokus dan tajam agar tetap terkesan serius.
"Nikahi juga putriku!" Kata Tuan Liu, kembali meletakan tab-nya di atas meja.
"Liu tua, kau sudah gila? Aku baru saja membawa istri sah, kau ingin putrimu menjadi selir?"
"Aku tidak pernah bilang seperti itu." Lelaki tua menggeleng sembari memamerkan senyumannya yang menyebalkan. "Kau menikahinya karena ingin properti di negara lain 'kan? Bukankah sebentar lagi kesampaian, lekas ceraikan jika sudah kau dapatkan apa yang kau inginkan. Dan jadikan putriku istri sahmu."
Zhao Yi tersenyum kecut dan bangkit dari duduknya, menghindari asap rokok karena si tua bangka mulai menyulut api lagi pada batang rokoknya. Sejenak ia memandang seberang jalan yang juga dipenuhi oleh ruko-ruko sederhana dan juga sekilas melihat bawahannya memberi kode dari kejauhan, kini gilirannya membalikan kondisi si Liu tua.
"Ada dua hal yang perlu aku beritahu kau, Liu tua. Satu, aku tidak mungkin menikahi Liu Minchu, putrimu. Karena dia adalah teman sepermainanku. Kedua, aku tidak ingin punya hubungan terlalu dekat dengan mereka yang tak menghargai hubungan, apalagi seperti pernikahan."
"Bukankah ibumu juga seperti itu? Sekarang kau tidak punya pilihan lain. Untuk apa berkata seperti itu!" Tepat setelah Tuan Liu bertanya sambil tertawa mengejek, gawai Zhao Yi berdering dua kali.
"Kau yakin aku yang tak punya pilihan lain, Paman Liu?" Zhao Yi memperlihatkan hasil kerja anak buahnya, ada sebuah foto dan vidio yang memuat perilaku senonoh Tuan Liu saat mabuk di sana.
Tuan Liu menelan salivanya dengan susah. Dia merebut gawai Zhao Yi dan menghapus kirimin dari nomer yang tak dikenal tadi. Namun, Zhao Yi hanya menertawai aksi konyol Paman Liu-nya itu.
__ADS_1
"Apakah Paman Liu terlalu banyak minum alkohol kemarin, sampai menjadi bodoh! Jelas menghapusnya disini tiada guna. Aku punya banyak salinannya. Sampai bisa dikirim ke..., saluran tv, radio, koran digital, atau bahkan ibunya Liu Minchu, mungkin!" Kini Zhao Yi sungguh puas bisa balik mengancam sambil tertawa.
Tuan Liu yang mendengar, membulatkan matanya menatap Zhao Yi. Marah, kesal, dan merasa tak berdaya.
"Sekarang lebih baik bersih-bersih dan pulang ke rumah supaya tidak ketahuan istrimu. Dan jangan lupa lakukan tugasmu, kalau tidak ...." ancam Zhao Yi bernada santai, tetapi tangannya menepuk bahu Tuan Liu penuh intimidasi sebelum pergi meninggalkannya.
Di perjalanan pulang Zhao Yi dipenuhi aura senyum kemenangan. Untung saja dia tetap fokus dan tidak terburu-buru kemarin. Sehingga masih memikirkan cara menaklukan lelaki tua itu untuk waktu yang lebih lama. Untung saja keluarga Gao memberi si tua Liu apresiasi seperti itu, yang malah memberi peluang baginya untuk menyerang balik.
"Beritahu ke empat pemegang saham lainnya, agar bisa tenang. Mulai sekarang si Liu tua takkan berani membuat rumor aneh-aneh mengenaiku ataupun Huangzhaou gruop lagi."
"Siap, Bos!" Sambut sekretarisnya.
Ketika mobil melesat keluar dari daerah kekuasaan keluarga Chen, gawai Zhao Yi berdering. Nomer tak dikenal menunggu tuk dijawab. Tanpa pikir panjang Zhao Yi lekas menerima, meletakan benda pipih itu di telinga.
"Bagaimana apakah sudah bisa bernapas lega?" Tanya lelaki Tua di seberang sana. Zhao Yi tersenyum sinis mendengar suara itu.
"Jangan terburu-buru direktur Zhao!" Cegah pria diseberang sana, seolah ada CCTV di sekitar Zhao Yi sehingga mengetahui Zhao Yi akan mematikan sambungan.
"Tuan Gao, aku maupun keluargaku tak pernah menyinggung keluargamu. Kenapa kau seperti ini pada kami?"
"Benarkah? Lalu tragedi puluhan tahun itu? Kau sudah lupa?" Zhao Yi memijat pelipisnya, pria tua ini selalu merusak mood-nya.
"Jangan terburu-buru, Yi. Aku masih ada satu kejutan di rumahmu." Kata pria itu, tertawa ringan namun terdengar membebani yang mendengarnya.
"Apalagi yang kau rencanakan tua bangka!?"
"Hei-hei! Sopan sedikit pada yang lebih tua!" Tuan Gao kembali tertawa ringan. "Anggap saja ini ucapan selamat dariku karena sekarang kau sudah menikah. Kau harus berterima kasih ya setelah melihat hadiahnya!"
"Gao Ertai!" Pekik Zhao Yi, membuat sekretaris dan sopirnya terkejut. Namun, sambungan sudah terputus terlebih dahulu. Zhao Yi ingin membanting benda pipih di tangnnya, tetapi mengingat edisi terbaru dan hanya ada satu, ia hanya bisa mengepal tangannya dan memukulkannya pada kaca mobil.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...