
Hari telah berganti lagi menjadi malam. Tepat setelah adzan isya, Yasmin sudah berada di dalam mobil, melesat cepat menuju bandara terdekat. Zhao Yi sesekali melirik mata sembab istrinya yang terus memandangi jendela mobil, sedikit merasa tak enak. Namun, risau juga melanda pikiran. Yang ditangisi istrinya itu hanyalah ibunya atau juga ada sosok lain, memikirkannya saja membuat Zhao Yi kesal. Zhao Yi tak suka bila apa yang telah menjadi miliknya melirik orang lain.
"Kenapa tiba-tiba memutuskan berangkat lebih awal?" tanya Yasmin yang sudah beralih pandangan, tertuju pada suaminya yang terlihat tak ingin membalasnya.
Zhao Yi juga sebenarnya tak berniat pulang lebih awal, mengingat warga belum begitu mempercayai metode dalam mengolah limbah industrinya kelak. Namun, semalam Mama-nya menelpon kalau para pemegang sahamnya mulai menanyakan pasal rumor yang telah beredar. Semakin lama akan berpengaruh pada perusahaan, meskipun terasa kecil tetapi tidak bisa dianggap remeh juga. Bagaimanapun seperti kata pepatah, kecil-kecil menjadi bukit. Kali ini bukitnya bukan sembarang bukit. Bisa berubah menjadi gunung yang kapan saja dapat menyemburkan abu vulkanik dan memutahkan lava.
Namun, kini ia merasa keputusannya tepat juga dengan membawa Yasmin pergi ke Tiongkok. Pasalanya semenjak insiden di kamar mandi, rekam tubuh indah Yasmin selalu terbayang-bayang dalam ingatannya. Bahkan ketika wanita itu menutupi keindahan itu seperti biasanya, Zhao Yi masih bisa membayangkan.
Tadi ketika pasca keberangkatannya ke bandara, ada dua manusia muncul berbarengan. Merry dan Ardana. Awalnya ia tak tertanggu, tetapi ketika istrinya dan Ardana berbicara hanya empat mata di kejauhan membuat hatinya sedikit tak tenang.
Zhao Yi sebagai pria paling tahu isi otak kebanyakan kaumnya. Contohnya saja dirinya. Dengan pakaian Yasmin yang cukup tertup seperti itu saja masih bisa membuat otaknya berimajinasi yang tidak-tidak. Bagaimana dengan pria lain? Tidak-tidak, Zhao Yi mulai posesif. Ingin menikmati keindahan itu sendirian. Tidak salah Mama-nya memintanya pulang semalam.
"Sepertinya Tuan tidak begitu suka tinggal bersama ibu saya, ya?" Zhao Yi sadar dari lamunannya. Pura-pura merapihkan tata rambutnya, menutupi keterkejutan.
"Ehem, bukankah seharusnya aku yang berkata, bahwa sepertinya ibumu tidak suka tinggal bersamaku, ya?" Akhirnya uneg-uneg itu bisa keluar juga dari mulut Zhao Yi. Lelaki itu kesal, ibunya Yasmin dari kemarin setelah akad sampai kepergiannya ke Tiongkok pun tak bisa seakrab ketika berhadapan dengan Ardana. Dia masih tak terima, kemegahan dirinya malah dianggap tak sebanding dengan Ardana.
"Itu ibu saya merasa kesal, karena Tuan membawa saya pergi jauh darinya. Ditambah sekarang malah dipercepat." Hanya itu jawaban yang masih masuk akal untuk saat ini, beruntung kelihatanya lelaki itu percaya. Di satu sisi Yasmin cepat-cepat menggigit lidahnya karena merasa bersalah.
Padahal sebenarnya sang ibu tidak menyukai Zhao Yi lantaran mengingat masa lalunya yang juga pernah menjadi istri kontrak dari Tuan Tiongkok. Hidup mewah dan tak perlu memikirkan besok makan dengan apa, itu enak. Hanya saja setiap pilihan di dunia ini memiliki timbal balik. Rasanya tak sepadan jika kemegahan yang ia rasakan dalam dua tahun, kepahitannya harus ia tanggung seumur hidup.
Ibunya Yasmin tak pernah menyangka bahwa jalan yang diambil putrinya untuk mencari tahu kabar sang ayah kandung, malah membuka perasaan mendalam yang selama ini ia uruk perlahan. Namun, wanita paruh baya itu tak punya pilihan lain jika putrinya sudah membuat keputusan. Jadi hanya bisa melampiaskannya pada Zhao Yi yang telah menerima dan menjadikan Yasmin sebagai istri kontraknya.
"Oiya, apakah kau menyukai pria yang tadi pagi?" Kini Yasmin yang tak mampu menjawab pertanyaan intimidasi dari Zhao Yi.
"Mas Ardana?" Zhao Yi memicing tak suka, Mas Ardana? Akrab sekali terdengarnya.
"Kuberitahu kau, Yasmin. Sekarang kau bukan lagi hanya seorang gadis desa. Sekarang kau telah menjadi Nyonya Zhao. Nyonya keluarga terpandang di Tiongkok. Perhatikan kalimat dan perangaimu, jangan sampai membuatku terpaksa menceraikanmu." Ancam Zhao Yi, mengingatkan agar istrinya hati-hati dalam bertindak. Jangan sampai membuat rumor yang merugikan bagi dirinya.
"Saya mengerti." Suaminya tak melanggar syarat ketiganya saja sudah sangat bersyukur. Jangan sampai salah langkah atau ia akan terpaksa dibuat mengalah oleh keadaan.
Hati wanita itu terasa bak nano-nano dari kemarin. Kecanggungannya belum hilang karena tertangkap telah berbohong pada ibunya mengenai tikus besar di kamar mandi. Ini semua salah pria sok agung itu, kalau berniat keluar kenapa tidak dari awal. Malah membuatnya berbohong pada sang ibu.
__ADS_1
Namun, Yasmin juga bersyukur karena Zhao Yi memilih keluar dari kamar mandi saat itu. Kalau tidak mungkin akan sangat canggung berduaan di ruangan basah dan sempit seperti kemarin. Apalagi saat itu netranya tak sengaja menangkap sesuatu yang menonjol tetapi bukan bakat pada tubuh suaminya. Wanita itu sampai tak bisa tidur semalaman karena otaknya terus berpikir yang tidak-tidak, takut suaminya lepas kendali dan menerkamnya tiba-tiba.
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan, akhirnya keduanya tiba di kediaman utama Keluarga Zhao. Bangunan putih besar yang terlihat mewah meski bergaya kuno.
Mobil yang membawa pengantin baru itu memasuki pekarangan kediaman lalu berhenti di antara air pancuran dan pintu masuk kediaman utama. Yasmin tersadar dari tidurnya setelah Zhao Yi memanggil namanya.
Terlihat langit masih gelap, udara pun terasa sangat dingin ketika pertama kali turun dari mobil. Namun tak lama pundak Yasmin terasa menghangat, dia menoleh ke samping. Ada suaminya yang menyelimuti dirinya dengan jas sambil merangkulnya. Lalu menggiringnya masuk ke dalam kediaman utama. Yasmin kaget mendapat perlakukan tak biasa dari suaminya, tetapi seperti biasa dia akan pura-pura tenang.
"Zhao xiao ye!" Sapa kepala pelayan di bangunan besar itu pada Tuan Mudanya. Pria dengan puluhan kunci yang terlihat mencuat di saku celananya itu akrab dipanggil Paman Zhang.
"Emm, dimana Mama? Apakah sudah tidur?" Tanya Zhao Yi, masih merangkul pundak Yasmin.
"Iya, Nyonya besar tadi sempat menunggu. Namun, karena terlalu malam beliau kembali untuk istirahat, tidak jadi menunggu."
"Tidak masalah, matahari sudah hampir kembali. Kalau Mama menunggu ditakutkan malah masuk angin nanti."
"Iya benar, Tuan Muda memang berbakti. Oiya, kamar Tuan Muda sudah saya bersihkan, tetapi nona ini...?"
"Kelak tidak perlu sehormat itu pada pelayan, kau ini Nyonya. Tidak segolong dengan mereka." Protes Zhao Yi saat menaiki tangga menuju kamar mereka, tangan lelaki itu belum bergeser dari pundak istrinya.
"Iya-iya, saya 'kan kebiasaan ramah dengan siapa saja di Indonesia."
"Indonesia-Indonesia, Tiongkok ya Tiongkok. Kau harus belajar beradaptasi dengan budaya disini."
"Baiklah mengerti," balas Yasmin lalu melepas rangkulan di pundaknya.
Ketika pagi telah menyingsing, Zhao Yi dan Yasmin turun berdampingan menuju meja makan. Di bawah sana sudah ada Nyonya Zhao. Wanita yang terlihat seumuran dengan ibunya Yasmin itu begitu sumringah menyambut kedatangan putra satu-satunya, hanya saja tak begitu senang saat menyambut Yasmin. Namun, gadis itu tak begitu memperhatikannya. Cukup sadar diri, bahwa posisinya tak lebih dari bidak untuk mencapai tujuan mereka. Yasmin juga sadar, dirinya kesini bukan untuk menjadi menantu keluarga Zhao.
"Ma, Yasmin tidak memakan makanan seperti kita." Lelaki itu menghentikan sumpit ibunya yang hendak memberikan Yasmin sepotong daging ke dalam mangkuknya.
"Zenme le?" Ada apa? Tanya ibunya.
__ADS_1
"Setelah sarapan, Yi, akan ceritakan semuanya," lelaki itu mengarahkan sumpit yang menghimpit daging di tangan sang ibu ke dalam mulutnya, kemudian tersenyum pada ibunya sambil mengunyah.
Yasmin yang melihat kedekatan ibu dan anak di hadapannya seketika mengingat ibunya di tempat kejauahan. Pasti kesepian, setelah ada waktu luang dia berencana untuk menghubungi wanita yang telah melahirkannya itu.
Setelah sarapan mereka bertiga sedikit membicarakan niat untuk mengadakan perjamuan, merayakan kepulungan Zhao Yi. Juga untuk memperkenalkan Yasmin pada kerabat lainnya. Walau Nyonya Zhao menganggap Yasmin hanya sebagai bidak, tetapi tidak ingin menutup-nutupinya dari publik. Menurutnya kalau masalah ini ditutupi, takutnya nanti malah tersebar rumor yang tidak-tidak.
Setelah obrolan mengenai perjamuan, Nyonya besar Zhao ingin berbicara berdua dengan putranya, meminta agar Yasmin kembali ke kamar untuk istirahat, pasti masih lelah karena baru dari perjalanan panjang, alibi Nyonya besar. Gadis berdarah nusantara itu dengan senang hati bergegas menuju kamar untuk menghubungi sang Ibu, untuk bertanya kabar dan melepas rindu.
Sedangkan di lantai bawah, Nyonya Zhao dan putranya telah berpindah tempat ke ruang baca. Keduanya duduk bersebelahan, raut wajahnya tak sesantai tadi ketika berbincang bersama Yasmin. Mereka berdua mengkhawatirkan masalah beberapa hari yang lalu.
"Sayangnya Tuan Liu memiliki banyak koneksi, dan sebagian pemegang saham di perusahaan kita berhubungan baik dengannya. Mama coba pikirkan, si tua Liu itu bisa-bisanya menghasut mereka dengan rumor ini untuk menyusahkanku!"
Nyonya besar Zhao membuang napas dengan kasar, ikut merasakan kesulitan yang dihadapi putranya. "Memang sulit, baik melepaskannya maupun menahannya di Wangzhao Group."
"Sekarang hanya bisa menggunakan hubungan jauh kita untuk membujuk. Yi, masih belum punya cara lain."
"Yi, kenapa tidak memanfaatkan Liu Minchu saja? Dia 'kan sering berkunjung kemari. Mama paham, gadis ini seharusnya memiliki motif padamu. Benar 'kan?"
"Maksud Mama, dia menyukaiku? Tidak, Ma."
"Laki-laki seperti kamu mana mengerti, wanita sepertiku ini baru mengerti. Dari kecil sampai sekarang dia tidak pernah berhenti mengikutimu. Kalian juga sering dijodoh-jodohkan dan memang tampak serasi, percaya Mamah! Sekali dayung dua pulau terlampui."
"Ma, percayakan masalah perusahaan pada, Yi. Jangan memasukan wanita manapun lagi dalam hal ini. Lagi pula, Yi sudah menikahi istri sah, dengan kepribadian Tuan Liu apa ingin anaknya menjadi selir? Bukankah gerakan ini sama saja meniup bara api agar tambah besar?" Ucap Zhao Yi lalu bangkit, merapihkan tuxedo sebentar lalu pamit keluar ruang baca. Mood-nya berubah lantaran sang mama terus menyuruhnya memainkan pernikahan.
Ketika membuka pintu, lagi-lagi Zhao Yi memergoki Yasmin tengah menguping pembicaraan. Gadis itu tampak linglung sejenak sebelum memutuskan untuk menetralkan napasnya karena sedikit kaget melihat sang suami.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...