
Merry yang baru saja keluar, disambut oleh sebagian kandidat yang masih bertahan, karena sebagainnya lagi sudah kabur karena ketakutan. Walau sebagain yang bertahan itu sekedar ingin bertanya sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana.
"Tuan muda itu...," Merry pura-pura terisak tak sanggup mengatakan apapun. Para kandidat yang tersisa itu juga bisa mengerti apa yang terjadi di dalam sana setelah melihat penampilan Merry yang jauh berbeda dari awal ketika ia masuk.
"Aku sarankan lebih baik kita pergi, Tuan Tiongkok itu begitu tidak tahan melihat wanita yang lebih bening. Aku takut setelah menikah bahkan kita tidak punya kebebasan." Terakhir kata Merry lalu pergi, sebagian kandidat yang masih tersisa itupun akhirnya mengikuti saran dari Merry. Mereka takut kalau-kalau Tuan Muda di dalam sana sangat cabul. Juga takut pernikahan kontrak itu benar-benar menjadi nereka dunia nantinya.
Hal ini disadari kedua pria asal Tiongkok itu ketika salah satunya kembali memanggil kandidat berikutnya, hanya saja tak ada tanda-tanda akan ada yang datang. Yinzhen memutuskan memanggil kandidat yang lain namun sama saja, dari pada mati kebingungan Yinzhen lekas memeriksa ruang tunggu dan betapa terkejutnya saat menyadari bahwa dari begitu banyaknya wanita yang mengantri tadi kini sudah kosong melompong.
Zhao Yi yang menyadari hal itu menjatuhkan diri di atas kursinya dan memijat pelan pelipisnya. Saat keadaan sunyi, ponsel Yinzhen berdering.
"Tuan muda, ada rumor yang mengatakan bahwa Tuan Muda berkolusi ingin menentang pemerintah dengan membangun perusahaan di luar negeri supaya terbebas dari pajak. Dan yang menyebarkan rumor adalah .... Tuan Liu.... Dan menurut informasi berhubungan dengan perusahaan keluarga Gao." Lapor Yinzhen, sesaat setelah menerima komunikasi jarak jauh tadi.
Zhao Yi menekuk wajahnya, tetapi tak sedikitpun mengurangi kadar ketampanannya. Ia masih tak ingin berkata-kata, menyumpah serapah keluarga Gao dalam hati. Keluarga itu memang sejak dahulu selalu bersimpangan dengan keluarga Zhao. Kelihatannya mereka sudah tahu bahwa Zhao Yi berniat membangun perusahaan di sini. Sampai sudah tak tahan untuk meretakkan pondasi internal pada bisnis keluarganya.
"Bagaimana kalau Tuan memikirkan kembali syarat Nona Yasmin, bagaimanapun sekarang Tuan harus segera menyelesaikan semua ini dengan cepat."
"Kau gila? Setelah yang terjadi hari ini masih mengira ada yang beres dengan gadis itu?" Geram Zhao Yi. Mengingat wanita itu begitu percaya diri, bahkan sampai memberinya nomer telepon juga alamat rumah. Zhao Yi pikir, gadis itu pasti sudah tahu dia sudah lelah mencari kandidat terbaik, kemudian mengatur siasat dengan mengirim gadis aneh berambut keriting gantung tadi. Zhao Yi bahkan berpikir gadis itu juga antek-antek yang dikirim oleh keluarga Gao.
"Tetapi bukankah dia terlalu ceroboh, aku melihat tadi dia tidak seperti wanita yang bodoh." Kekeh Yinzhen.
"Dia bisa saja melakukan itu agar kita tidak mencurigainya."
"Zhao Yi, keluarga Gao semakin menjadi...," Yinzhen berhenti membantah, ponsel saudara sekaligus atasannya itu berdering. Zhao Yi juga meminta asistennya itu berhenti mengoceh menggunakan tangannya.
Melihat layar gawainya, terbaca 'Mama' di layar handphone-nya. Zhao Yi lekas menerima panggilan jarak jauh tersebut.
"Yi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa rumor seperti ini sampai bisa beredar? Kau juga kapan kembali? Sudah berbulan-bulan tidak pulang ke rumah!"
"Maaa, jangan marah lagi. Perhatikan tekanan darah anda. Yi, sudah menemukan lokasi yang lumayan cocok untuk amanah Paman Huang. Hanya saja untuk membelinya, Yi harus tercatat di kantor sipil. Namun, sampai sekarang masih belum mendapat kandidat yang pas."
"Ah masalah itu kenapa kau begitu pemilih? Bukankah hanya kesepakatan pernikahan saja? Ini bukan pernikahan sungguhan, Yi." Ceplos Nyonya Zhao, tak mengerti isi hati putranya yang ingin menghormati hubungan sakral seperti pernikahan.
"Ma ...," rajuk Zhao Yi.
"Mama ingin kamu segera urus masalah di sana, segeralah kembali dan lawan balik keluarga Gao." Sambungan terputus sepihak. Zhao Yi menatap Yinzhen lalu menarik napas dalam-dalam sebelum memerintah.
__ADS_1
"Selidiki gadis itu, apakah memiliki hubungan dengan keluarga Gao."
"Shi!" Kata Yinzhen mematuhi atasannya dengan nada semangat. Akhirnya pencarian istri kontrak untuk Bossnya akan segera berbuah hasil.
Tuan muda keluarga Zhao itu kembali terduduk di kursinya, mengingat-ingat amanah paman Huang, dan nasihat ayahnya ketika ia kecil. Memori masa lalu selalu ia jadikan bahan ajar untuk masa depan. Kedua hal itu saling berkaitan. Paman Huang mengamanahi keluarga Zhao untuk membangun perusahaan di Indonesia seperti yang pernah kedua keluarga lakukan dahulu. Namun, untuk mengabulkan amanah terakhir dari teman ayahnya itu, Zhao Yi harus terikat pernikahan dengan gadis asing.
Sedangkan ayahnya berpesan untuk tidak mempermainkan ikatan sakral tersebut. Masih kentara dalam ingatan Zhao Yi ketika usianya masih belia, saat dirinya bermain nikah-nikahan. Ayahnya menasehati, pernikahan bukanlah sesuatu yang dapat dipermainkan. Kelak jika menikah pun bukan dengan asal memilih seseorang, dia harus yang kau suka dan yang kau cintai. Maka pernikahan akan bahagia.
Zhao Yi masih tenggelam dalam pikirannya, matanya terpejam. Yinzhen yang menyadari kegelisahan Zhao Yi, meletakan beberapa kertas putih di meja bosnya dengan pelan.
"Dia berasal dari keluarga yang tidak mampu, sehingga tidak bisa melanjutkan sekolah sampai ke jenjang lebih tinggi. Nona Yasmin memang punya hubungan dengan gadis berambut keriting gantung tadi." Zhao Yi membuka matanya mendengar hasil pencarian Yinzhen.
"Yasmin dan Merry berteman baik sejak SMA. Gadis aneh itu lulusan S1 pendidikan bahasa mandarin. Mungkin Yasmin bisa berbicara mandarin karena belajar darinya. Kabar baiknya juga, mereka berdua tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga Gao."
"Bagaimana kalau aku memilih Merry saja?" Yinzhen mengerutkan dahinya mendengar usulan si bos.
"Gadis aneh itu?" tanyanya memastikan.
Zhao Yi sedikit berpikir, meski mengerti Merry bertingkah demikian karena berkolusi dengan Yasmin, tetapi dia memenuhi semua kriteria yang ia inginkan. Hanya saja di mata Zhao Yi wanita itu lebih aneh dari pada Yasmin karena menerima ide gila seperti tadi. Dan juga Merry bukan wanita tipenya. Lelaki itu menggeleng keras.
"Tidak-tidak, hubungi Yasmin saja. Aku sudah lelah dengan semua ini." Yinzhen mengangguk dan segera mengurus semuanya.
Sampai syarat kedua dari istri kontrak bosnya telah terpenuhi, masa-masa kesibukan Yinzhen belum berkhir. Dia masih ditunjuk untuk mengadakan pertemuan dengan warga setempat, kembali membicarakan keuntungan bila sebuah perusahaan dibangun di dekat daerah pemukiman mereka. Juga membicarakan kerugian dan cara penanggulan yang tepat.
Setelah pertemuan dengan warga setempat, sekitar pukul 10 malam Yinzhen mengabari Zhao Yi pasal negosiasi dengan warga sebelum membeli lahan yang diincar. Katanya, warga senang dengan keuntungan yang ada, tetapi juga masih keberatan dengan dampak negatif setelah pembangunan ini.
"Baiklah, kau fokus saja mengurusi tugas yang kuberikan di Tulang Bawang. Pikirkan lagi cara yang lebih efektif untuk masalah penanggulangan limbahnya. Aku ingin terfokus mengurus masalah di Tiongkok." Ucapnya seraya memperhatikan kamar istrinya yang sempit bahkan dindingnya belum di lepoh, tetapi terlihat menakjubkan karena didesain menarik sehingga tidak terlihat menyedihkan.
"Semaksimal mungkin segera saya selesaikan, Tuan muda Zhao tidak perlu khawatir." Setelah beberapa saat, komunikasi jarak jauh itu pun terputus.
Sekarang Zhao Yi menatap pintu kamar istrinya, sebenarnya sedari tadi dia sudah menyadari bahwa ada yang menguping di balik sana. Pelan-pelan lelaki itu membukanya dan mendapati Yasmin hampir terjatuh karena ulahnya.
"Wajahmu tidak cocok melakukan pekerjaan jahat seperti itu, Yasmin!" Sarkas Zhao Yi, menyindir Yasmin telah menguping obrolannya dengan Yinzhen.
"Kalau begitu dengan wajah saya ini, lebih cocok melakukan pekerjaan yang seperti apa?"
__ADS_1
"Seperti ini!" Lelaki itu merangkul pinggang istrinya dengan sekali tarikan, hingga keduanya begitu dekat. Yasmin gugup dibuatnya, tetapi sekuat mungkin gadis itu berusaha tetap tenang di hadapan Zhao Yi walau sedekat itu.
"Tuan Zhao harap tidak lupa dengan syarat saya yang ketiga." Yasmin menaruh kedua tangannya di pundak suaminya, memberi senyuman yang begitu manis.
Zhao Yi mendekatkan bibirnya pada Yasmin, membisikkannya sebuah pertanyaaan. "Kau tidak takut, kalau malam ini aku akan melanggarnya?"
Yasmin mendorong tubuh Zhao Yi dengan usaha keras, lantaran betapa eratnya rangkulan tangan suaminya di pinggang, juga masih tersenyum sembari menutupi kegugupannya. "Kalau begitu Tuan Zhao adalah pria bajingan." Tandas Yasmin.
Zhao Yi yang mendengar itu hanya menyunggingkan bibirnya. Lalu kembali menatap kamar istrinya.
"Kau yang mendesain ini?"
"Iya, saya sering melihat foto-foto desain interior ruangan. Karena saya tidak ada modal untuk mendesain agar terlihat mewah, maka saya jadikan saja seakan ini ruanganan tua. Namun, memiliki eksistensis memori yang dirindukan."
"Ide itu bagus!" Puji Zhao Yi.
"Terima kasih atas pujian Tuan Muda Zhao. Namun, maaf karena mungkin sudah membuat Tuan Muda merasakan hawa-hawa orang susah."
Ya, sebelumnya Zhao Yi tak habis pikir dengan Yasmin. Ternyata wanita itu masih punya permintaan-permintaan kecil selain tiga syarat sebelumnya. Yaitu tidak merayakan pernikahan dengan megah, hanya sekedar perjamuan keluarga dan para kerabat. Yasmin juga ingin tetap tinggal bersama ibunya karena beliaulah satu-satunya sang keluarga disini. Lelaki asal Tiongkok itu pun mau tak mau menerima, otaknya juga sudah pusing akibat ulah si marga Gao. Lagi pula permintaan kecil Yasmin tidak aneh dan tidak merugikan.
Malam itu tak ada yang spesial di kamar Yasmin, mengikuti syarat ketiga Yasmin. Keduanya tidur bersama, hanya saja dibatasi sebuah guling. Juga Yasmin tetap memakai pakaian tertutup termasuk tak melepas balutan kain di kepalanya. Keduanya sama-sama memegang prinsip masing-masing.
Zhao Yi yang memang terus belajar dari masa lalu, baik dari pengalaman hidup maupun pekerjaan, berpandangan bahwa harus jujur dan amanah. Keduanya merupakan dua nilai penting yang harus dimiliki dari beberapa nilai kebaikan dalam hidup.
Dalam berusaha, jika tidak dilandasi dengan jujur dan amanah maka bagaimana diri akan berhasil? Termasuk masalah pembangunan ini, bisa saja dia menyuap para warga tetapi nantinya dampak negatif dari pembangunan ini akan membuatnya menjadi pengusaha yang sukses, bukan, bukan itu, tetapi bajingan yang sukses. Zhao Yi tidak ingin. Terlebih paman Huang beramanah agar berusaha dengan baik dan legal.
Sedangkan bagi Yasmin, dia memang bukan wanita sholelah yang tau banyak soal agama. Dia hanya melakukan apa yang dia ketahui. Tidak melakukan zina meski yang paling kecil. Menikahi laki-laki seiman, walau mungkin suaminya itu tak menganggap penting pada ajaran agamanya.
Namun, ada satu yang membuat gadis itu tak berhenti memikirkannya. Yang tak lain masalah syarat ketiganya, apakah dia akan terkena dosa karena telah melarang sang suami menyetubuhinya? Atau dia tidak berdosa, karena bagaimanapun lelaki itu belum dikhitan.
Yasmin juga bingung, tak terpungkiri hatinya juga memiliki perasaan pada lelaki lain. Maka dari itu, untuk mengatisipasi terjadinya hal yang tidak ia inginkan, Yasmin akan tetap berpenampilan tertutup di hadapan suaminya. Entah sampai Zhao Yi menerima syarat ketiganya, atau dia yang menyerah pada perasaan terhadap lelaki lain. Atau mungkin takkan pernah sampai, karena mungkin nanti terjadi sesuatu hingga Zhao Yi menceraikannya terlebih dahulu. Entahlah, Yasmin berharap akhiran kisah ini lebih baik dari yang dia pikirkan.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung