Istri Manis Tuan Dingin

Istri Manis Tuan Dingin
4. Memberitahu


__ADS_3

Tak hanya Liana yang terkejut namun Gavin juga terkejut saat melihat adiknya itu tiba-tiba didepan pintu.


"Lia...kamu mau kemana?"tanya gavin.


"Gak kemana-mana kok cuma mau nganterin selin, gera sama sifa ke depan".jawab Liana sambil menoleh kearah temannya itu.


"Ohhh...gitu"sambil melangkah masuk Gavin meletakkan tas kerjanya di atas meja ruang tamu.


Saat Gavin melepas dasi dan sedikit membuka kancing bajunya pesona tampan Gavin bertambah menjadi 1000 kali lipat dengan postur tubuh tinggi dan tegap membuat teman-teman Liana terkagum-kagum pada ketampanan Gavin.


Sedari tadi tanpa mereka sadari tadi mulut mata mereka tidak berkedip karena melihat pesona dari kakak temannya ini yang seperti oppa-oppa Korea.


Liana yang melihat teman-temannya itu hanya bisa geleng-geleng kepala karena ia pikir muka kakaknya itu hanya B aja dan jika teman-temannya tau sifat kakaknya yang sering moodyan ia pastikan teman-temannya itu pasti tidak akan sekagum ini pada kakaknya.


"Woytt...tutup tuh mulut nanti di masukin lalat"sambil memutar bola matanya malas Liana menegur teman-temannya dan membuat mereka semua kelagapan dan salah tingkah karena rupanya sedari tadi Gavin sedang memperhatikan mereka.


"Ehh...eghhh...kita pulang dulu ya Li"ucap mereka bersamaannya sambil berjalan menuju ke depan gerbang rumah Liana.


Sambil berjalan menuju ke depan mereka tak henti-hentinya merutuki diri masing-masing karena merasa malu kepada gavin.


"Aduhh...malu banget gue sama kak Gavin bisa-bisa ilfeel dah dia sama gue"ucap selin karena jujur selin sudah lama kagum dengan kakak dari temannya itu sendiri bukan karena ketampanannya saja namun, karena kepribadiannya yang menurut selin sangat baik dan selain itu juga selin kagum dengan publik speaking bagus yang dimiliki Gavin.


"Aslii...woytt apa lagi gue mana mulut gue lebar banget lagi kebukanya"balas gera dan sifa hanya fokus berjalan dan memesan taxi online untuk mereka bertiga pulang.


Gavin hanya tersenyum lucu melihat tingkah dari teman adiknya itu. Sementara itu Liana tak terima sang kakak sangat dikagumi oleh teman-temannya karena itu akan menjadi poin plus Gavin untuk menyombongkan dirinya di depan Liana saat mereka berdebat.


"Idihhh...pasti merasa paling tampan tuh"sindir Liana pada Gavin.


"Sewot aja neng, lagi PMS ya hhhhh". Ledek Gavin yang pasti membuat sang adik naik darah dengan sindirannya tadi.


"Ohhh apaan sih...sok ganteng"balas liana sambil berjalan menuju ke kamarnya.


Sementara itu Gavin masih tertawa dan mulai berlagak sok ganteng di depan adiknya yang malah justru memancing emosi sang adik semakin meledak-ledak.

__ADS_1


"Lah emang gue ganteng, kalo kalah saing bilang sayang...tetetetetet"sambil joget tiktok Gavin di depan liana.


Karena tidak ingin membuat darahnya semakin naik Liana segera masuk kamar dan mengunci pintunya.


Saat pulang kerumah Devan sudah ditunggu oleh mama dan papanya untuk makan malam bersama.


Mia Alexander yaitu mama Devan tidak sabar lagi ingin membicarakan hal yang menurutnya penting apa lagi ini menyangkut masa depan Devan putra satu-satunya yang sangat ia sayangi.


Melihat Devan sudah pulang Mia langsung menyuruh Devan untuk segera makan malam bersama.


"Devan...kamu kok tumben pulangnya malam?"tanyanya pada Devan.


"Iya ma tadi soalnya ada meeting penting"


"Ohhh yaudah yok makan malam dulu dari tadi mama sama papa nungguin kamu loh"


Devan berjalan menuju ke meja makan untuk makan malam bersama orang tuanya.


Saat makan mereka sesekali berbincang tentang kegiatan hari ini terutama papa Devan yang harus bolak balik Singapur untuk mengurus kerjasamanya dengan perusahaan disana. Oh ya disini perusahaan Devan dan papanya memang berbeda karena Devan ingin mendirikan perusahaannya sendiri tanpa ada campur tangan papanya, sebab menurutnya lebih baik ia memiliki perusahaan sendiri karena ini adalah salah satu cita-citanya sedari kecil.


"Iya pa?"


"Bagaimana kamu sudah punya kan calonnya?"


Iya Alexander sedang memastikan Devan untuk tidak lupa dengan janjinya bahwa setelah umur Devan 27 tahun dan dia sudah berhasil memimpin perusahaan nya sendiri maka Devan akan menikah dengan pilihannya sendiri akan tetapi jika Devan belum menemukannya maka orang tua Devan yang akan mencarikannya.


"Iya Dev kamu sudah punya kan"kini mama Devan yang bertanya dan berharap anaknya memberikan jawaban yang mereka inginkan.


Devan bingung harus jawab apa sedangkan ia belum mendapatkan jawaban dari Gavin tentang Liana mau atau tidak menikah dengan Devan.


"Dev kok diem aja? Mama sama papa kan nanya"


"Kalau kamu belum punya nanti biar mama sama papa yang akan carikan. Papa banyak kenalan dengan teman kerja papa yang mempunyai anak perempuan dan mempunyai pendidikan yang bagus"

__ADS_1


"Bagaimana Dev?" Tanya Mia untuk memastikan anaknya itu sudah memiliki pilihannya sendiri.


"Eghh...iya Devan sudah punya ma"bohong Devan kepada orang tuanya karena jika Devan menjawab belum maka Devan terpaksa akan menikahi wanita pilihannya orang tuanya yang belum tentu sesuai dengan kriteria Devan. Bahkan untuk menjadikan Liana sebagai istrinya pun itu hanya sebagai pura-pura karena Devan tidak ingin orang tuanya terus menanyakan calon istrinya.


"Serius Dev?"Mia terlihat lega dengan jawaban anaknya itu.


"Dev kamu tidak berbohong kan pada mama sama mama?"Alexander tak kalah leganya dengan jawaban Devan.


"Iya ma, pa Devan sudah ketemu calon istri yang selama ini Devan inginkan"


"Alhamdulillah... akhirnya mama punya mantu juga"Mia terlihat menangis karena sangat terharu akhirnya anak semata wayangnya itu akan segera menikah dengan wanita pilihannya sendiri.


"Oh iya dia tinggal dimana?kok kamu gak pernah kenalin dia ke mama sama papa? Umurnya lebih muda dari kamu atau lebih tua? Dan..."


"Maa...biarin Devan jawab satu-satu dulu pertanyaan dari mama"celah Alex ketika mendengar pertanyaan beruntun istrinya itu.


"Dia tinggal di X ma, Devan baru kenal beberapa bulan yang kau dengan dia dan Devan rasa kami memiliki banyak kesamaan jadi Devan memutuskan untuk dia menjadi istri devan. Umurnya lebih muda dari Devan ma."


"Mama yakin dia pasti cantik. Siapa namanya?"


"Liana Almahendra, ma"


"Nama yang indah"ucap Mia dengan senyum bahagia.


"Tapi...ma pa...dia bukan dari keluarga yang sekelas dengan kita, kakaknya kerja di kantor Devan dan dia juga belum menyelesaikan pendidikan nya jadi dia sekarang masih kuliah"Devan memberi tahu yang sejujurnya agar orang tuanya tidak berharap lebih dari Devan.


"Gak papa Dev...mama sama papa gak peduli dia mau dari kalangan keluarga yang setara dengan kita atau sederhana itu gak masalah, bagi mama sama papa yang penting kamu bahagia sama dia dan saling mencintai satu sama lain"jelas Mia kepada Devan dengan serius.


"Iya Dev betul apa yang mama kamu bilang tadi..."timpal Alex.


"Makasih ma pa"sambil tersenyum Devan kepada mama dengan papanya.


Haiii bestiee gimana nih cerita bab ini??? Hehehe maaf ya jika ada yang typo

__ADS_1


Ikuti dan komen ya disetiap cerita aku🙏✨🤗


Semoga hari-hari kalian selalu menyenangkan 🌤️🌈☁️


__ADS_2