Istri Manis Tuan Dingin

Istri Manis Tuan Dingin
6. Kabar Baik


__ADS_3

Keesokan paginya saat sampai di kantor Devan memanggil Gavin untuk menemuinya di ruang kerjanya.


Gavin sudah menebak apa yang akan Devan bicarakan padanya pasti soal perjanjian itu lagi. Akan tetapi Gavin terlihat santai karena ia telah mendapatkan jawaban dari adiknya dan jawaban adalah yang terbaik dari adiknya.


Sebelum masuk ke ruangan Devan, Gavin selalu mengetuk pintu Devan meskipun sudah diberitahu Devan bahwa Gavin tidak usah mengetuk pintu lagi untuk masuk ke ruangan Devan karena Devan sudah sangat percaya dan sudah menganggap Gavin sebagai saudaranya sendiri.


Meskipun begitu, Gavin tetap tidak ingin Devan memperlakukan nya dengan begitu karena Gavin merasa bahwa posisinya di kantor itu hanya sebagai keryawan Devan, sedangkan jika sudah di luar kantor itu dia menganggap Devan sahabat dan saudara nya sendiri.


Tok...tok...


"Permisi..."ucap Gavin sebelum masuk ke ruang Devan.


"Silahkan masuk"


"Kenapa dev memanggilku?"


Tanya gavin kepada Devan.


"Ada yang ingin aku bicarakan tentang hal yang kita bicarakan beberapa hari yang lalu" jawab Devan, kali ini nada bicara Devan agak pelan dari yang sebelumnya.


"Ohhh soal adikku kan?"


"Hmmm..."Devan hanya mengangguk.


"Dia setuju dan menerimanya Dev..."


Devan terkejut dan tak percaya jika adik Gavin menerima perjodohan ini, sebab ia pikir pasti adik Gavin menolak untuk menikah dengannya karena jarang jaman sekarang ada gadis yang mau di jodohkan. Tapi, sudahlah yang penting adik Gavin menerimanya dan Devan terbebas desakan orang tuanya untuk segera menikah.


"Ha?dia setuju?"


"Iya Dev dia setuju. Kok Lo eh maksudnya kok kamu kaget sih? Bukannya seharusnya kamu senang?"heran Gavin kepada Devan karena Devan terlihat seperti tak percaya dengan yang Gavin ucapkan.


"Eghh...tapi kenapa dia bisa setuju dan gak mungkin dia langsung Nerima begitu saja"


"Ya awalnya dia gak mau, tapi aku baru ingat pesan orang tua sebelum mereka pergi untuk selamanya. Mereka pernah bilang sama aku kalau aku udah nemuin laki-laki yang menurut aku dia pantas untuk adik aku, maka aku harus segera menikahkan dia. Bukan berarti aku lepas dari tanggung jawab aku, tetapi aku ingin melihat dia bahagia bersama pasangannya selagi aku masih ada, dan orang tua aku juga ingin sekali memiliki cucu dari aku dan adikku. Tapi, sayang Allah lebih sayang mereka..."ucap Gavin seketika raut wajahnya berubah menjadi senduh saat mengucapkan itu.


Devan merasa ia sudah membuat Gavin sedih karena menanyakan hal itu.


"Maaf Vin aku gak bermaksud untuk buat kamu sedih..."

__ADS_1


"Gak papa kok Dev, santai aja..."


"Maksih Vin, besok aku akan datang ke rumahmu dengan orang tuaku untuk membicarakan hal ini lebih lanjut"


"Baik Dev, aku harap kamu bisa mencintai dan menyayangi adikku dengan tulus dan jangan pernah menyakitinya"


Devan hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan menandakan ia siap untuk hal itu meskipun, akan membutuh kan waktu untuk nya karena tidaklah mudah baginya mencintai seseorang yang belum sama sekali ia kenal.


"Kalau begitu aku mau lanjutin pekerjaanku dulu..."pamit Gavin kepada gevan.


"Iya Vin...silahkan"


Dikampus yang sangat luas ini cukup membuat Liana kesulitan untuk mecari 3 orang temannya itu. Ia bergerutu sedari tadi dan rasanya ingin menggeprek teman-temannya itu.


"Ihh...kemana sih mereka"kesal Liana karena terik matahari yang menusuk kulitnya membuat Liana naik darah dibuatnya.


"Awas aja ya kalo ketemu bakal aku geprek tuh 3 makhluk astral itu"


Iya Liana sering menyebut mereka bertiga makhluk astral yang hidup di bumi, karena tingkah mereka memang ya begitulah kalian bisa menebaknya sendiri.


Tak lama kemudian terlihat batang hidung mereka bertiga oleh Liana di kantin fakultas mereka.


Cercah Liana sambil berjalan ke arah mereka.


"Enak ya makan-makan sampai lupa temannya ditinggal sendiri!!"protes Liana sambil duduk di kursi yang kosong sepertinya memang sudah dipersiapkan mereka untuk Liana.


"Ya salah siapa juga yang lelet kek siput..."sahut selin yang sedang menikmati jus apelnya.


"Ehhh gue gak lelet ya, cuma tadi kebelet pipis aja makanya agak lama..."tak terima Liana karena di bilang lelet oleh selin ya walaupun pada dasar ia memang lelet, dan karena ia lelet pernah ditinggl juga oleh kakaknya saat ingin pergi nonton pasar malam alhasil membuat Liana menangis.


"Ya...ya...deh terserah lo"timpal Rega yabg sedari tadi sedang asik memainkan ponselnya.


"Eh Li, tadi Abang Lo ngechat gue dia nanyain Lo"sifa hampir saja lupa memberitahu Liana kalau tadi Gavin mengiriminya pesan dan menanyakan kemana Liana. Tapi, untung saja kali ini sifa sepertinya diberi hidayah untuk tamabahn memori ingatan karena dari dulu jika menitip pesan dengannya selalu saja lupa.


"Wehhh tumben Lo inget biasanya kan beberapa hari kemudian Lo baru ngasih tau hhhh"timpal selin karena ia terkejut baru kali ini temannya itu tidak lemot.


"Mulut Lo ya, gue emang dari dulu tu memiliki ingatan yang kuat...."


"Wehhh...wehh...sebentar Lo bilang apa tadi? Ingatan yang kuat?"

__ADS_1


Hanya dibalas anggukan oleh sifa.


"Hhhh waktu nyokap gue nitip nasi goreng sama Lo dan Lo lupa terus Lo kasih tu nasi gorengnya udah beberapa hari kemudian. Nasinya pun udah jamuran, itu namanya memiliki ingyyang kuat?hhhh".


selin mencoba mengingat kan sifa atas kejadian yang dimana mama selin menitipkan nasi goreng kepada sifa dan sifa lupa memberikan nya kepada selin alhasil nasi gorengnya sudah basi dan sampai jamuran karena selin baru ingat beberapa hari kemudian untuk memberikan nya kepada sifa, sungguh harus menyiapkan kesabaran yang banyak untuk menghadapi sifat temannya yang satu ini. Oh ya rumah selin dan sifa memang dekat dan mereka tetanggan.


"Ehhh waktu itu kan gue buru-buru jadi lupa"balas sifa tak terima.


"Udah ahh kok kalian jadi berantem gini"Liana mencoba untuk melerai mereka karena kalau tidak mulut mereka akan membuat mereka menjadi pusat perhatian oleh seisi kantin ini.


Liana mengecek ponselnya dan benar saja ada beberapa panggilan tak terjawab dari kakaknya, sebab ia lupa kalau ponselnya dari tadi ia pasang mode hening. Tak menunggu lama Liana langsung menelpon balik kakaknya karena ia tau jika kakaknya sudah menelepon berarti itu penting.


"Sebentar ya guys, gue mau nelpon kakak gue kek nya penting deh ini"ucap liana kepada temannya sambil berjalan keluar kantin.


Ponsel Gavin berdering dan menampilkan nama adiknya di sana dan segera ia menjawab nya.


"Hallo kak?"


"Iya Li, kenapa?"


"Tadi kakak ngechat sifa ya ?"


"Ohh...iya tadi kakak ngechat sifa"


"Kenapa kak?"tanya liana penasaran.


"Dari tadi kakak ngehubungi kamu tapi kamunya gak dijawab-jawab telpon dari kakak, jadi kakak ngehubungi sifa buat nanyain kamu kemana"


"Hehehe...maaf kak tadi hp Liana mode hening jadi gak tau deh kalo kakak nelpon, ohh iya tumben kakak nelpon kenapa emang kak?"


"Ohh iya kakak hampir lupa juga besok calon suamimu dan mertuamu akan datang ke rumah untuk membicarakan pernikahan kalian lebih lanjut. Jadi hari ini kamu bersih-bersih rumah ya wkwkwk...malu loh nanti keluarga camer datang eh rumah mantunya kotor"ledek Gavin kepada Liana.


Seketika Liana terdiam dan merasa tak percaya bahwa dia akan segera menikah diusianya sekarang.


"heee...iya iya. Udah ya kak aku mau lanjut kelas dulu nih" bohong Liana kepada kakaknya dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Haiii bestiee gimana nih cerita bab ini??? Hehehe maaf ya jika ada yang typo


Ikuti dan komen ya disetiap cerita aku🙏✨🤗

__ADS_1


Semoga hari-hari kalian selalu menyenangkan 🌤️🌈☁️


__ADS_2