
"Di coba dulu, ini enak loh" kata Arman lagi, kembali mendorong minuman beralkohol pada Nining.
Menggeleng, "Tidak, terima kasih.'' Mengalih pandangannya pada Lady. "Lad, aku pulang dulu ya, aku takut ibuku akan mencariku" Nining langsung berdiri dari duduknya.
"Masih awal loh Ning," jawab Lady.
"Sorry Lad, aku juga harus ke rumah Umma Zahra sebentar lagi, aku pamit ya,"
"Baiklah, hati-hati di jalan"
"Hm" Nining tersenyum dan pergi dari Cafe.
"Itu beneran temanmu Lady?" Tanya Arman pada Lady.
"Why? Kau tertarik dengan gadis itu?" Tanya Lady.
"Ya, dia cantik sekali"
"Ya sudah, kejar saja kalau mau, usaha dong," sahut Lia masih bermain dengan asap rokoknya.
"Kalau cewek yang cantik seperti itu aku juga mau," sahut Feral salah satu dari ketiga pria itu.
"Potong jalan aja lo" jawab Arman tak terima.
__ADS_1
"Bentar, bagaimana jika kalian berdua taruhan saja, siapa yang berhasil mendapatkan gadis itu, dia yang menang, bagaimana?" Saran Lia.
"Nah, itu baru benar" sahut Mika yang dari tadi hanya diam.
"Ok, dil ni kita taruhan?" Arman menjulur tangan untuk berjabat dengan Feral.
"Ok, siapa takut" menjabat tangan Arman. Mereka sepakat untuk mendapatkan Nining, si gadis polos, tak tau saja mereka jika sebentar lagi gadis itu akan menikah.
,,,
Setelah dua minggu Ustadz Alzam berada di indonesia, kedua orang tua Alzam dan Nining sepakat untuk menikahkan mereka berdua. Mengingat jika Nining juga sudah berusia 18 tahun.
"Ku terima nikah dan khawinnya Nining Sarwendah binti Abimanyu dengan mas khawin seperangkat alat sholat di bayar tunai," ucap Alzam dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah"
"Sah"
Acara pernikahan mereka hanya biasa-biasa saja, karena Nining tak ingin ada acara pernikahan yang mewah, alasannya karena ia malu.
Nining mendekati Umma Zahra, ia masih memakai baju pernikahannya. "Umma" panggil Nining.
__ADS_1
"Iya, ada apa Ning?" Tanya Umma.
"Umma, aku kebelet pipis Umma," kata Nining berdiri gelisah.
"Loh, kok nggak dari tadi saja ke toilet Nining,"
"Kalau begitu, aku mau ke toilet dulu, bajunya aku buka saja ya Umma, ini sangat merepotkan,"
"Ya sudah, kau pergi saja di kamar suamimu, di lantai atas"
"Ya Umma" Nining berjalan naik ke lantai dua sedikit berlari. Ia terlihat sangat lucu, Membuat Alzam tersenyum melihat tingkah wanita yang baru saja menjadi istrinya itu.
,,,
Ustadz Alzam melangkah masuk ke dalam kamarnya. Ia tak melihat istrinya di dalam sana, membuatnya tertanya dalam hati, karena terakhir kali ia hanya melihat gadis itu naik ke kamar.
Kemana dia?. Batin Alzam melangkah ke balkon kamarnya untuk mencari keberadaan Nining. Ia melihat punggung seorang gadis yang duduk membelakanginya sedang bermain ponsel.
"Assalamualaikum" Alzam memberi salam pada istrinya.
"Allahu Akbar" Nining terloncat kaget, alhasil ponselnya berakhir terjatuh dari balkon kamar.
Ia membalik badan dan mengusap-usap dadanya masih dengan wajah kagetnya. "Kak Ustadz bikin kaget saja"
__ADS_1
"Ponselmu terjatuh," Alzam menunjuk ke arah tempat ponsel istrinya terjatuh.
Nining baru teringat dengan ponselnya yang terjun bebas ke bawah. "Duh, ancur ponselku" kata Nining bersedih.