
Tiba-tiba ia mendengar suara tak asing dari seberang panggilan sedang memanggil Ummanya.
"Umma, Nining mau pulang dulu Umma," kata Nining pada Umma Zahra.
Ustadz Alzam yang masih berada di seberang panggilan, melengkung senyuman di wajah tampannya, saat menyadari jika suara gadis di seberang panggilan itu adalah calon istrinya.
"Nanti saja kau pulang Nining, ini, apa kau mau berbicara dengan calon suamimu?" Memberikan ponselnya pada gadis di depannya.
"Tidak usah Umma, nanti saja," tolak Nining malu ingin berbicara dengan Ustadz Alzam, karena mereka berdua sudah tiga tahun ini tak pernah ada komunikasi sama sekali.
"Udah, bicara saja sebentar" Umma Zahra memaksa Nining.
Menyengir, "Nanti saja Umma, ada pengunjung," Nining buru-buru pergi dari hadapan Umma Zahra karena menghindar.
"Anak itu." Gumam Umma Zahra melihat punggung Nining sambil menggeleng.
"Alzam, kapan Alzam datang sini, kasih pasti dong ... Umma juga sudah kangen sama kamu"
"Bagaimana jika akhir bulan ini Umma?" Tanya Ustadz Alzam.
"Alzam tidak bohongkan? Akhir bulan inikan?" Umma Zahra memastikan penuh selidik.
"Astagfirullah, Umma, bohong itu itukan dosa"
"Baiklah, Umma tunggu akhir bulan ini,"
"Iya Umma"
__ADS_1
"Umma tutup dulu, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam Umma"
Umma Zahra langsung mematikan ponselnya.
,,,
Malam hari.
Drrrrttt Drrrttt Drrrttt
Ponsel Nining berdering.
Lady
"Ning, kau di mana?" Tanya Lady.
"Aku di rumah ibu," jawab Nining sedikit mengecilkan suaranya, karena takut ibunya yang berada di sebelah kamar, akan mendengarnya.
Mpok kasih sudah membeli rumah sendiri satu tahun yang lalu, hasil jualannya dari rumah makan tempat Mpok Kasih menjual bakso yang lumayan laris. Karena bakso Mpok Kasih memang sangat enak, membuat orang berbondong-bondong untuk mampir makan di rumah makan Mpok kasih.
Sebenarnya Umma Zahra dan Ilham ingin membelikan Mpok kasih rumah, tapi Mpok kasih bekeras tak ingin jika mereka membelikannya rumah, bukan tanpa alasan Mpok Kasih tak mau, itu karena ia malu bergantung hidup, meski Ilham dan Umma Zahra sudah seperti keluarga sendiri, tapi tetap saja ia merasa malu dan tak enak.
"Ning kau bisa nggak tolong aku malam ini?" Tanya Lady pada Nining.
"Tolong? Tolong apa malam-malam begini?" Tanya Nining.
__ADS_1
"Kau ke rumahku dulu, ambil aku di rumah, aku ingin mencari kakakku, soalnya mobilku mogok," ujar Lady meminta tolong pada Nining. Lady juga berasal dari keluarga yang lumayan berada.
Nining terdiam sejenak dan menimbang-nimbang. "Tapi mungkin ibu tidak mengijinkan aku untuk pergi Lady, apa lagi sekarang sudah hampir jam 10 malam" sedikit berbisik agar tak di dengar oleh ibunya.
"Hanya sebentar Ning .. Aku tidak tau mau meminta tolong sama siapa lagi,"
Menarik nafas berat. "Ya sudah, aku lihat ibu dulu, nanti aku hubungi lagi"
"Iya, aku tunggu ya"
"Iya" Nining menutup panggilannya. Keluar dari kamar untuk meminta izin pada ibunya. Tapi ia tak berani untuk pamit pada ibunya.
Apa aku pergi diam-diam saja ya? Soalnyakan ibu juga kayaknya sudah tidur deh. Batin Nining.
Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Nining memilih keluar dari rumah secara diam-diam.
Beberapa menit perjalanannya, ia sudah tiba di rumah temannya. Ternyata Lady juga sudah menunggunya di luar rumah.
Nining bertanya pada Lady, jika sebenarnya dia mau kemana, tapi Lady hanya berkata ikut saja, nanti dia akan kasih tau jika sudah tiba di tempat tujuan.
Nining tetap masih positif dan mengikuti ucapan temannya. Tak berapa lama mereka tiba di sebuah Bar.
"Loh, ini bukannya Bar, kayak yang di TV-TV itu," Tanya Nining polos.
"Iya, ini Bar, ayo masuk ke dalam, aku mau cari kakakku di dalam," menarik tangan Nining masuk ke dalam.
"Tapi aku tidak mau masuk, nanti ibu marah, jika tau aku pergi tempat seperti ini" Nining menarik tangannya, tapi Lady tetap memaksanya masuk ke dalam untuk menemaninya.
__ADS_1