
Nining dan Lady sudah tiba di dalam Bar. "Dimana kakakmu, aku tidak ingin lebih lama lagi di sini," Nining membisik Lady dengan kepala yang terasa pusing karena melihat lampu-lampu berputar dan berkelip-kelip, ia benar-benar tak biasa dengan suasana dalam Bar itu, karena ini pertama kali ia masuk ke dalam Bar.
"Sebentar Ning, aku cari kakakku dulu," jawab Lady celingak-celinguk mencari keberadaan kakak perempuannya.
"Aku pulang dulu saja ya, aku benar-benar tidak nyaman berada di sini Lady." Kata Nining gelisah.
"Kenapa sih! Sebentar lagi!"
Nining akhirnya diam mengikuti punggung sahabatnya yang masih terus mencari keberadaan kakaknya.
Tiba-tiba terdengar ricuh dari arah pintu, banyak orang saling berlarian. Ada apa ini. Batin Nining panik.
"Ning, Bar ini terkena razia! Ayo lari!" Lady langsung berlari mencari jalan keluar dari Bar. Nining juga ingin melarikan diri dari sana. Tapi ia merasa tak mungkin bisa, akhirnya ia mencari tempat untuk bersembunyi di sudut ruangan.
Sudah dua jam ia bersembunyi, tapi polisi belum juga pergi dari sana. Tanpa sadar, Nining malah tertidur di tempat persembunyiannya yang berada di sudut Bar.
,,,
Keesokan harinya, ia terbangun. Ia kaget saat sadar ia masih berada di tempat persembunyiannya semalam.
"Bagaimana bisa aku ketiduran di sini" Nining melihat jam, ternyata masih jam 5 subuh, ia bergegas keluar dari Bar. Tiba di luar, ia tak merlihat motornya di parkiran.
Ternyata semalam polisi menahan beberapa kenderaan yang di duga milik mahasiswa, karena ada beberapa orang yang sempat melarikan diri dari lokasi.
__ADS_1
"Aduh, mati aku ... Bagaimana ini ..." Nining benar-benar takut saat ini. Ia menghubungi temannya Lady. Ternyata Lady juga sempat melarikan diri semalam.
"Lady, kau di mana? mana motorku?" Tanya Nining saat temannya itu mengangkat panggilannya.
"Maafkan aku Ning, motormu di bawah ke kantor polisi" lirih lady.
"APA????" Nining berteriak.
"Maaf" lirih Lady.
"Ya sudah, aku tutup dulu," Nining langsung menutup ponselnya dengan wajah pucat pasi, ia sangat khawatir jika sampai ibunya tau apa yang terjadi.
"Ya Allah bagaimana ini," gumam Nining, bola matanya sudah berkaca-kaca karena takut.
,,,
Cklekkk
Umma Zahra menyerjit saat melihat menantunya mendatangi rumahnya di pagi hari.
"Assalamualaikum Umma," Nining memberi salam terdengar lirih.
"Waalaikumsalam, Nining, kau tidak kuliah?" Tanya Umma Zahra. Abi Sulaiman baru saja berangkat ke kampus, hanya tinggal Umma Zahra dengan beberapa pembantu yang berada di rumahnya.
__ADS_1
"Boleh aku masuk Umma," ujar Nining tak menjawab pertanyaan Umma Zahra.
"Ya sudah, mari masuk" Ummi Zahra mengajak calon menantunya masuk ke dalam rumah.
Nining masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tengah. "Ada apa Nining?" Tanya Umma Zahra tidak sabaran karena wajah gadis itu terlihat sangat cemas.
"U ... Umma, apa aku bisa meminta tolong?" Tanya Nining menunduk takut.
"Tentu saja, ada apa Nining?" Umma Zahra semangkin penasaran.
Menarik nafas dalam, memberanikan diri untuk menceritakan apa yang berlaku semalam, dan juga meminta Umma Zahra untuk mengeluarkan motornya, ia lebih baik meminta tolong dengan calon mertuanya, dari pada memberitahukan ibunya, yang nanti akan membuat ibunya shock.
Umma Zahra menggeleng. Ia malah teringat dengan kisahnya dulu, di mana dia terkena razia, dan terpaksa menghubungi Ustadz Sulaiman memaksanya untuk mengeluarkannya dari sel tahanan.
"Umma akan membantumu, tapi ingat, di lain hari kau jangan coba-coba lagi untuk masuk ke tempat seperti itu." Kata Umma Zahra.
Mengembang senyumannya, "Makasih Umma" Nining langsung memeluk Umma Zahra dengan wajah bahagia.
"Eh, jangan senang dulu, ini semua tidak gratis, karena kau melakukan kesalahan, maka Umma akan menghukummu,"
"Loh, kok gitu Umma"
"Ya iyalah, di dunia itu tidak ada yang gratis"
__ADS_1