
Nining ingin turun ke bawah untuk melihat ponselnya, tapi Alzam menahan lengannya. ''Sudah, di ikhlaskan saja, nanti kita beli yang baru lagi ya,'' kata Alzam.
"Tapi aku nggak punya uang lagi Kak Ustadz'' kembali ingin melangkah, tapi lagi-lagi Ustadz Alzam masih menahannya.
"Nanti aku yang beliin ya,"
Nining terdiam, sedetik kemudian ia mengangguk.
"Kau sudah mandi?" Tanya Alzam menatap gadis itu.
Mengangguk. "Iya, sudah Kak,"
"Pakaian siapa yang kau pakai?" Tanya Alzam karena ia merasa tak asing dengan baju yang istrinya pakai.
Menyengir. "Umma Zahra"
Tersenyum lembut, "Pantas aku merasa tidak asing"
"Ya sudah, aku mau mandi dulu" tambah Alzam berjalan menuju ke kamar mandi.
Fuhhhh cowok itu tampan banget, eh, tapi tunggu, bukannya dia itu suamiku ya. Batin Nining berbicara dalam hati melihat punggung suaminya yang miliki bentuk tubuh sempurna.
,,,
__ADS_1
Malam hari.
Nining sudah bersiap untuk tidur, ia juga sudah membuka jilbabnya. Tampak wajah gadis itu sangat cantik dengan rambut panjang berwarna hitam.
Aku mau tidur di mana ya? Aku takut tidur di ranjangnya, bagaimana jika dia marah. Batin Nining tertanya-tanya dalam hati, sambil bediri melihat ranjang dan sofa secara bergantian.
Cklekkk
Alzam melangkah masuk ke dalam kamar, ia melihat istrinya yang sangat cantik tanpa jilbab yang menutupi rambut hitamnya lagi.
MasyaAllah, cantik sekali ciptaanmu. Batin Alzam.
Ia menyadari jika gadis itu sepertinya sedang kebingungan, Nining bahkan tak sadar jika suaminya sudah masuk ke dalam kamar.
"Ada apa?" Tanya Alzam yang lagi-lagi membuat gadis itu terloncat kaget.
"Apa yang sedang kau timbang-timbangkan?" Tanya Alzam membuyar lamunan gadis itu.
"Tidak ada Kak, aku hanya bingung mau tidur di mana" jujur Nining.
"Bingung? Tidur saja di ranjang, mau tidur dimana lagi? Ranjangkan tempat tidur," jawab Alzam melangkah ke ranjang dan mendudukkan bokongnya di sana.
"Itu dia masalahnya, apa Kak Ustadz tidak marah? Kalo aku tidur di ranjang?" Tanya Nining dengan wajah polosnya.
__ADS_1
Menggeleng dan tersenyum. "Untuk apa aku marah, kaukan istriku,"
Nining melangkah naik ke kasur, dan duduk di sebelah Ustadz Alzam. "Kak Ustadz, kerjaannya apa di Mesir?" Tanya Nining hanya sekedar berbasa-basi, perlahan merebahkan dirinya di bantal.
"Kenapa kau bertanya?" Tanya Alzam.
"Hanya sekedar bertanya Kak, apa Kak Ustadz mau kembali lagi ke Mesir?"
"Iya," ikut berbaring di sebelah Nining, menatap langit-langit kamar.
Tak berapa lama, Alzam mendengar dengkuran halus dari bibir gadis cantik di sebelahnya.
Tersenyum tipis, mendekati gadis cantik di sebelahnya, kemudian memeluknya, mencium pucuk kepalanya yang terasa beraroma sangat wangi.
,,,
Nining sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Karena ia memang tak izin libur di kampus ia belajar.
"Kau mau kemana Ning?" Tanya Alzam mendekati istrinya yang sedang memakai jilbab.
"Ke kampus Kak Ustadz"
"Kau tidak libur?"
__ADS_1
Menggeleng. "Tidak Kak, tapi kalau Kak Ustadz mau aku libur, nanti aku akan meminta libur" jawab Nining melihat ke arah suaminya sambil tersenyum polos.
Alzam menelisik wajah gadis di depannya yang tampak santai. Ia berpikir, apa gadis di depannya itu tak punya rasa sedikitpun padanya? Seperti mana yang ia rasakan selama ini pada gadis itu? Karena Alzam sudah lama menyukai Nining, tapi ia tak memiliki keberanian untuk mengutarakan perasaannya pada gadis itu.