Istri yang Dianggap Mandul

Istri yang Dianggap Mandul
1. Sindiran Halus


__ADS_3

Ada satu hal yang Sarah nginkan sejak lama, yakni menikah dengan pria yang ia cintai dan memiliki anak-anak yang lucu. Namun nyatanya Tuhan tidak mengabulkan keinginan keduanya. Setelah lima tahun menikah, Sarah tetap tidak memiliki keturunan. Padahal ia sudah mencoba berbagai cara untuk mendapatkan seorang anak. Mulai dari melakukan pengobatan alternatif maupun di kedokteran. Namun Ia tetap tidak mendapatkan hasilnya. Hari demi hari berganti, kehidupan rumah tangganya mulai terasa hambar ketika memasuki usia pernikahan yang kelima. Ketika Samuel, suaminya mendapat fakta jika rekan-rekannya di kantor sudah memilih anak yang lucu-lucu. Bahkan di antaranya sudah memiliki seorang putra dan putri. Hal tersebut membuat Samuel merasa minder. Pasalnya teman, kenalan, bahkan saudara jauhnya mulai bertanya pertanyaan serupa.


"Sudah punya anak berapa?"


Sama seperti hari ini, pertanyaan itu dilontarkan oleh Vicky ketika Samuel melakukan makan malam bersama koleganya di restoran. Nyaris semua rekan kerjanya mengajak istri mereka. Bahkan ada yang mengajak anak-anaknya untuk ikut serta. Pasalnya kegiatan bulanan ini memang membahas tentang rapat di kantor namun dilakukan secara santai.


Samuel memutuskan mengajak Sarah untuk ikut serta. Di sana Sarah yang terlihat sedikit pendiam terlihat sulit bergaul bersama istri istri dari rekan kerjanya. Sarah yang terlahir dari background keluarga kelas menengah tidak bisa berbaur dengan istri-istri dari rekan kerjanya yang mayoritas membicarakan soal barang branded seperti tas dan sepatu.


Sejujurnya Sarah tidak menyukai obrolan semacam itu, hingga akhirnya ia melipir dan memutuskan untuk duduk di samping suaminya. Niatnya hanya satu, yakni menghindari obrolan yang berlandaskan pada niat pamer harta dan menebar kesombongan seperti yang wanita-wanita dilakukan.


Mendapati pertanyaan semacam itu dari Vicky, Samuel hanya tersenyum tipis ia menatap Sarah yang tidak mengeluarkan ekspresi apa-apa. Padahal ia tidak nyaman setengah mati.


"Aku dan Sarah masih belum memiliki anak!"


Vicky terlihat menyesal atas pertanyaan yang ia lontarkan pada sahabat lama sekaligus atasannya itu. Ia menggaruk tengkuknya, namun sang istri, Marina, yang mendengar obrolan itu mulai bergabung bersama mereka bertiga dan melupakan obrolannya bersama geng-geng sosialita lainnya yang sedang membicarakan soal tas branded keluran terbaru. "Oh masih belum memiliki anak ya?"


Sarah yang sudah di tadi hanya menunduk, kini mulai mengangkat dagunya. Ia menatap wanita cantik di hadapannya itu lalu tersenyum. "Doakan saja ya," katanya.


Marina yang sejak awal merasa tidak suka dengan Sarah hanya bisa mengangkat alisnya. Ia mencoba memulai obrolan baru yang pasti bisa menyudutkan wanita itu. Sebenarnya, ketidaksukaan Marina dimulai ketika ia melihat kehidupan Sarah yang terlihat sempurna. Menjadi seorang dokter bedah yang terkenal, juga istri dari pria kaya raya, dan memiliki image sebagai wanita berkelas tanpa harus menunjukkan apa yang miliki membuatnya iri. Sarah bagaikan terlahir dari cangkang emas. Ia tidak perlu bersusah payah mencari pembuktian seperti yang Marina lakukan.


Alhasil, ia ingin mencari celah untuk membuat kehidupan Sarah sedikit goyah. "Padahal sudah berapa lama menikah ya..." serunya.

__ADS_1


Samuel tersenyum kecut. "Sudah lima tahun..."


"Oh sudah lama juga ya... Padahal adik iparku yang baru menikah setahun saja sudah memiliki dua anak loh. Kembar lagi!" ceritanya yang dibumbui dengan nada mengejek untuk Sarah.


Sarah tersenyum, ia memutuskan untuk tidak membalas kalimat itu. Ia mencoba mengabaikan kalimat Marina yang seolah memojokkannya. Namun berbeda dengan suaminya, Samuel seolah terpancing dengan kalimat semacam itu. Ia mulai menunjukkan wajah kecut pada Sarah dengan memelototkan matanya.


"Oh ya omong-omong, kenapa bisa masih belum memiliki anak? Kalian berdua berniat menunda ya... Biar tidak terganggu soal anak. Begitu? Atau memang tidak bisa memiliki keturunan?"


Marina mendapati Vicky mulai menatapnya dengan pandangan memperingatkan. Namun ia tidak akan membuang kesempatan berharga ini. Kapan lagi bisa memojokkan wanita sok hebat dihadapannya ini?


Sarah menggeleng. "Kami tidak pernah menunda keturunan. Hanya saja sepertinya Tuhan masih menyiapkan kado terindah untuk kami di waktu yang tepat!" jawabnya mencoba tidak terprovokasi pada situasi yang Marina buat.


Sarah yang mengetahui bahwa Marina berniat memojokkannya menoleh ke arah Samuel. Ia melihat wajah suaminya itu sudah memerah. Ia bahkan terlihat tidak nyaman untuk obrolan semacam itu. Sarah memutuskan untuk meraih tangan Samuel di bawah meja namun seperti biasa, ketika obrolan mengenai anak terjadi, maka Samuel akan bersikap dingin padanya. Pria itu mengibaskan tangan Sarah seolah menolak disentuh. Dan seperti biasa Sarah hanya bisa menghembuskan nafas dengan lelah. Percakapan soal anak selalu berhasil membuat suaminya marah entah kenapa.


"Wah selamat. Kami doakan semoga hasilnya positif..."


"Ah, terima kasih. Tapi omong-omong kalian berdua sudah periksa ke dokter? Bukannya Saras juga dokter ya? Pasti memiliki kenalan soal dokter kandungan, kan? Siapa tahu di antara kalian ada yang bermasalah..."


Marina tidak melanjutkan kata-katanya karena Vicky menegurnya dengan cara memukul paha istrinya itu. Vicky merasa jika apa yang istrinya katakan sudah kelewatan.


Namun bukannya diam, Marina malah menjadi-jadi. Ia menatap suaminya. "Kenapa sih, Sayang? Bukannya aku mengatakan hal yang sebenarnya? Pemeriksaan itu perlu loh supaya kita bisa tahu siapa yang sebenarnya bisa dan tidak bisa menghasilkan keturunan. Biasanya tidak hanya dari pihak istri tapi dari pihak suami juga bisa—"

__ADS_1


"Marina! Diam!" peringat Vicky. Kali ini terang-terangan membentak istrinya.


Mendengar kalimat itu Samuel semakin jengah ia tidak tahu bagaimana cara menenangkan hatinya yang mulai membara karena amarah.


Vicky kembali memperingatkan istrinya dengan cara melotot padanya dan memberikan sinyal agar istrinya berhenti mengatakan hal yang kelewatan terkait bosnya itu. Karena jika Samuel marah, pria itu bisa jajan memecatnya tanpa peduli bahwa selama ini mereka sudah bersahabat sejak lama.


Karena mendapati peringatan dari suaminya itu sudah cukup keras, Marina mulai diam. Ia tidak melanjutkan kalimatnya lagi dan dengan cueknya ia mulai bergabung dengan wanita-wanita lainnya untuk membicarakan soal barang branded.


"Maaf ya, Sam. Istriku memang sedikit keterlaluan tapi dia tidak bermaksud seperti itu..."


Samuel tersenyum namun dalam hati ia benar-benar tersinggung pada kalimat yang dilontarkan istri Vicky itu padanya. Samuel tidak mau berselisih paham dengan sahabat lamanya. Ia lebih memilih untuk tersenyum. "Tidak apa-apa!" jawabnya.


Namun ekspresi yang ditunjukkan Samuel benar-benar berbeda dari apa yang ia ucapkan. Ia menatap Sarah lalu berdiri beberapa detik kemudian. "Tapi maaf. Aku merasa sedikit tidak enak badan... Jadi kami harus pulang," katanya pada Vicky.


Sarah.yang mendapati hal itu ikut berdiri. "Kau merasa tidak enak badan? Apa kau baik-baik saja?" tanya Sarah mencoba memastikan bahwa suaminya baik-baik saja namun sampai malah bersikap dingin padanya dengan menyuruhnya diam.


Vicky yang mendapati ketegangan di antara dua orang dihadapannya itu hanya bisa menggaruk tengkuknya. Ia tidak memiliki pilihan lain kecuali membiarkan sahabat dan istrinya itu untuk pamit pulang. "Oh kalau begitu beristirahatlah! Kami akan membahas soal agenda bulan depan dengan baik. Kau jangan khawatir!"


Mendapati jawaban semacam itu, Samuel segera mengemasi jaket dan kunci mobilnya. Ia kemudian menggandeng tangan Sarah dan pergi dari restoran tersebut setelah mengucapkan pamit kepada semua rekan-rekannya. Sepasang suami istri itu keluar dan tidak melelehkan kepalanya lagi.


Mereka berdua sadar bahwa kini dirinya sedang menjadi bahan tertawaan dan gunjingan semua orang yang ada disana.

__ADS_1


__ADS_2