
"Mas, tunggu dulu!" kata Sarah sembari memegang tangan suaminya yang berjalan terlebih dahulu dengan langkah yang cepat dan panjang-panjang. Sarah tidak bisa mengimbangi kecepatan berjalan suaminya hingga ia harus meminta Samuel untuk sedikit menelankan cara jalannya.
Hingga kemudian Samuel berhenti di depan mobilnya yang terakhir di basement restoran. Ia menatap Sarah dengan pandangan sebal. "Tunggu bagaimana? Aku sudah benar-benar muak berada di dalam sana!"
Cara mendesah ia mencoba menenangkan suaminya dengan menyodorkan air minum. Namun suaminya itu menggeleng. "Aku sedang tidak butuh minum. Aku membutuhkan seorang anak dan pewaris dari perusahaanku!"
"Soal istrinya Pak Vicky tadi?" tanya Sarah kemudian.
"Siapa lagi? Wanita itu benar-benar bermulut seperti ular. Membahayakan. Kau tahu kan, betapa hebohnya orang-orang di sana setelah Marina bicara? Dia seolah sedang mempermalukan kita!" serunya dengan nada menggebu-nggebu.
"Kau sabar dulu kita bisa bicara pelan-pelan!" peringat Sarah. Ia benar-benar tahu sifat suaminya yang mudah tersinggung. Akan sulit baginya mengontrol rasa muak dan sebalnya ketika seseorang sudah berani menyinggung dirinya.
"Aku tidak tahu bagaimana cara berpikirmu yang kolot itu. Kau bahkan masih terlihat tenang dan memintaku untuk bicara pelan-pelan ketika semua orang benar-benar menyindir kita," sergah Samuel. Ia tidak menyangka jika istrinya itu benar-benar seperti orang mati. Tidak berekspresi. Entah bagaimana telinganya bisa cukup tebal untuk mendengar semua ocehan orang-orang.
Sarah terdiam cukup lama. Ia hanya bisa menatap suaminya yang menghembuskan nafas dengan sebal. Sarah tahu dengan jelas jika Samuel benar-benar tidak suka berada di dalam sana. Tadi ia bahkan menunjukkan ketidaknyamanannya dengan pergi. Tapi tidak heran juga, istri dari Vicky memang keterlaluan. "Aku mengerti. Tapi apa kau tidak bisa memelankan suaramu sedikit? Orang-orang akan menyangka jika kita sedang bertengkar!"
"Memelankan suaraku pada wanita mandul seperti ini? Sarah, ayolah kita sedang tidak bermain drama percintaan di sini. Biar saja orang mendengar kalau kita bertengkar memangnya kenapa?"
Wanita mandul... Sarah mencoba menulikan telinganya untuk sebutan itu. Dua kata untuk menggambarkan kekurangan yang ia miliki. Sarah membulatkan mata mendengar ucapan suaminya yang begitu menyakiti hatinya. Ia masih tidak percaya hingga harus kembali bertanya. "Apa katamu?"
"Kenapa? Kau marah ketika aku menyebutmu mandul bukankah kita memang tidak bisa memiliki keturunan karena kau tidak bisa menghasilkan pewaris untukku?"
__ADS_1
Sarah merasa hatinya seolah ditusuk oleh belati. Ia tidak peduli jika semua orang mengolok-olok tentang dirinya yang masih belum bisa memberikan keturunan untuk Samuel. Tapi ketika Samuel mengatakan hal tersebut Sarah merasa hatinya seolah sedang dirobek. Pria yang ia cintai bahkan mengatakannya mandul...
"Aku sudah lelah dengan pernikahan ini, Sarah. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menanggapi orang-orang yang mengomentariku soal anak. Kita sudah menikah selama lima tahun. Apa kau tidak pernah berpikir jika aku benar-benar menginginkan seorang pewaris?"
"Tapi kita masih bisa mencoba. Bukankah kau bilang kita akan berobat ke luar negeri?Mungkin kita bisa menemukan jawaban untuk segala pertanyaan kita... Mungkin kita bisa menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi," ucap Sarah mencoba menenangkan Samuel.
Namun jawaban itu malah membuat Samuel semakin geram. "Tentu saja di sini yang bermasalah adalah kau. Aku baik-baik saja tapi kau yang mandul!"
"Mas!!!" sergah Sarah. Meminta agar Samuel menghentikan kalimatnya.
Mandul... Kata itu diucapkan sebanyak dua kali oleh Samuel tidak kurang dari lima menit belakangan. Pria itu menyakitinya...
Samuel berkacak pinggang. "Kenapa kau tersinggung? Apa kau tidak bisa mendengar nada penuh penghinaan dari istri Vicky itu? Kenapa kau tersinggung pada kalimatku tapi tidak dengan apa yang orang lain ucapkan?"
"Tapi apa kau bisa sabar seandainya seseorang mengolok-olokmu?"
"Aku akan mengabaikannya jika itu orang lain dan bukannya kau..." jawab Sarah yang diabaikan oleh Samuel. Ia tetap berkesimpulan jika tadi Marina sudah menghinanya. "Aku akan mengabaikan kata-kata orang lain. Tapi aku akan terluka jika kau yang mengatakan hal buruk soal aku!"
"Tadi rasanya aku benar-benar ingin menyobek mulutnya yang lancang itu!" balas Samuel tanpa menatap Sarah.
"Kita harus bersabar... Mungkin Tuhan sedang menguji kita. Mungkin sebentar lagi seorang anak akan hadir di tengah-tengah kita dan mengisi kehidupan kita yang sepi ini..." ucap Sarah. Ia benar-benar mengatakan hal itu untuk meyakinkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sampai kapan aku harus menunggu? Sampai aku tua? Atau sampai teman-temanku sudah memiliki cucu?" kata Samuel sebal. Ia masih juga tidak bisa memahami jalan pikiran istrinya. Wanita itu terlihat sok bijak. Padahal yang Samuel butuhkan saat ini bukanlah nasihat.
"Kita hanya bisa berusaha, tapi Tuhan yang memberikan dan menitipkan seorang anak dalam rahimku. Kita tidak bisa memaksa kehendak-Nya!"
"Kenapa yang lain bisa dan kenapa kita tidak bisa? Sudahlah Sarah. Jangan menceramahiku! Aku tidak butuh ceramah dari siapapun karena percuma saja, kau tidak akan bisa hamil anak untukku!"
"Jangan menghakimiku begitu. Kita masih belum tahu letak masalahnya dimana..."
"Tentu saja ada padamu!"
Sarah menahan air mata yang merebak keluar. Ia tidak sanggup lagi mendengar kalimat dari Samuel. Ia menghentakkan kakinya, lalu masuk ke dalam mobil dan menutupnya.
Menyadari jika sang istri benar-benar tersinggung dengan kalimat yang baru saja ia lontarkan, Samuel menyusul Sarah ke dalam mobil. Dan benar saja, wanita itu sudah menangis tanpa suara di sana.
Samuel merasa hatinya hancur ketika melihat cara menangis. Namun ia juga tidak kuasa untuk melawan semua kalimat-kalimat dari teman-temannya yang mengatakan bahwa ia tidak bisa memiliki keturunan. Dan jujur saja hal itu menyakitinya.
Perlahan, Samuel meraih tangan Sarah. Menggenggamnya erat. "Aku minta maaf..." katanya dengan nada lembut. Semua kalimat yang Marina ucapkan tadi menguap entah kemana dalam benaknya. Yang perlu ia pikirkan saat ini adalah cara untuk membuat Sarah tidak lagi marah padanya.
Sarah terdiam.
"Aku minta maaf karena sudah membentakmu tadi. Aku tidak bermaksud begitu..."
__ADS_1
Sarah mendongak dan mendapati wajah pria yang ia cintai itu dengan nanar. Baginya Samuel sudah banyak berubah dari yang terakhir ia ingat ketika mereka masih berpacaran dulu. Samuel tidak lagi hangat. Dan pria itu mudah tersinggung. Padahal dulu, Samuel adalah pria yang sangat periang, memiliki banyak teman, dan begitu mencintainya. Tiga hal itu membuat Sarah menerima pinangan pria itu meskipun ia tahu sang calon ibu mertua tidak pernah menyukainya sejak awal.
Tapi kenapa Sarah merasa jika Samuel tidak lagi sama? Apa karena Saran belum bisa memberikan keturunan seperti yang suaminya itu inginkan? Atau karena ia memang tidak pantas karena kekurangannya itu?