
Satu minggu kemudian semuanya berjalan normal baik. Baik Samuel maupun Sarah mulai melakukan rutinitasnya seperti biasa. Sebagai seorang dokter ia berangkat ke rumah sakit dan melakukan pekerjaannya dengan baik tanpa gangguan. Namun perbedaan yang begitu kentara dari sosok Samuel setelah malam itu adalah bahwa suaminya selalu berangkat pagi-pagi sekali dan pulang tengah malam. Sarah bahkan nyaris tidak mendapati Samuel berada di rumah saat hari libur. Padahal dulu mereka selalu menghabiskan waktu itu berdua saja seperti makan malam dan liburan.
Sarah jadi kesepian. Ia tidak mendapati sosok suaminya itu di rumah. Mungkinkah Samuel marah? Apakah Sarah melakukan kesalahan sehingga tanpa sengaja menyinggung perasaan suaminya? Kalaud ipikir-pikir, tidak juga. Malahan sebaliknya, Samuel selalu menyakiti hatinya dengan mengatakan jika Sarah adalah wanita tidak bisa memiliki anak.
Namun Sarah tidak gentar. Ia mulai mengirimkan pesan pada suaminya itu ketika bekerja.
"Besok, kita periksa ke Dokter Adzani ya... Kebetulan besok beliau ada jadwal praktek RS. Gimana?"
Pesan tersebut tidak langsung dijawab oleh Samuel. Padahal tanda WhatsApp pria itu sedang online. Sarah bahkan harus menunggu sekitar tujuh menit hingga kemudian pria itu membalas pesannya singkat. "Besok? Oke!"
Dan kemudian Samuel tidak lagi online. Padahal Sarah ingin mengingatkan pria itu untuk tidak lupa makan dan istirahat.
Sarah menghembuskan napasnya dengan kasar. Ingatan mengenai pertemuannya dengan Samuel sepuluh tahun lalu membuatnya tersenyum. Dulu, mereka tanpa sengaja bertemu disebuah kafe. Kala itu Sarah sedang duduk di meja nomor empat belas. Ia yang kala itu masih muda, tepatnya kelas dua SMA, menangis karena ayahnya yang diktator pasti akan marah ketika mengetahui nilai UTSnya anjlok. Bukan apa-apa, pasalnya nilai tersebut begitu penting. Ayahnya bahkan harus berhutang sana-sini sekedar untuk membayarkan biaya ujiannya. Dan ia pasti akan kecewa saat mengetahui anak yang digadang-gadang akan menjadi Dokter dimasa depan bernilai anjlok.
"Hei, kau kenapa?" tanya Samuel kemudian.
Ia mendongakkan kepalanya dan menyadari jika sosok dihadapannya adalah teman SMUnya juga. Namun tentunya mereka berbeda jurusan. Sarah di IPA, dan entah pria ini mengambil jurusan apa karena Sarah hanya sesekali melihatnya mondar-mandir di lapangan. "Kau... Bukannya..."
Pria itu mengulurkan tangannya. "Aku Samuel. Dari kelas 12 IPS1. Kau si cerdas dari IPA 4, kan?"
Eh, cowok ini mengenalnya?
Sarah perlahan menjabat tangan besar dan Kokok itu sembari menyebutkan namanya. "Sarah," ia sama sekali tidak menyebutkan kelas dan jurusannya karena cowok itu sudah mengetahuinya barusan.
Tanpa permisi, Samuel langsung duduk dihadapannya. "Kenapa kau menangis sendirian di sini? Kau tidak malu jika ada orang-orang yang melihatmu?"
Dan semua cerita yang ia rasakan mengalir dari bibirnya. Ia mulai bercerita soal nilai Fisikanya yang entah mengapa bisa anjlok, ia bercerita mengenai betapa diktator sang ayah, dan Samuel mulai menenangkan Sarah yang terlihat begitu rapuh. Sesederhana itu.
Hubungan mereka berdua dimulai sejak pertemuan di kafe siang itu sepulang sekolah. Mereka diam-diam selalu bertemu, hingga setahun PDKT, kemudian Samuel meminta Saras menjadi kekasihnya. Saras yang notabene menyukai Samuel langsung menerima pria itu.
__ADS_1
Dan empat tahun kemudian, setelah lima tahun mereka mengenal, Samuel mengajaknya menikah. Lamaran itu diucapkan pria itu ketika ia sudah lulus dari fakultas kedokteran sebuah universitas ternama melalui beasiswa.
"Aku tahu ini bukan hal yang mudah. Ketika menikah nanti, aku tahu akan banyak masalah yang datang. Namun kita sudah bertahan selama empat tahun. Jadi aku tidak mau membuat hubungan kita sia-sia. Menikahlah denganku, Sarah! Aku tidak tahu sampai kapan kita akan bersama. Tapi aku janji akan selalu membuatmu bahagia... Akan sabar menghadapi sikapmu, dan aku akan selalu menghargaimu tanpa pernah menyakitimu.... Sekali lagi, menikahlah denganku, Sarah..."
Dan Sarah menitikkan air matanya. Ia tahu Samuel baru saja merintis karirnya dan Sarahpun baru saja mendapatkan tawaran bekerja di rumah sakit. Namun Sarah percaya jika semuanya akan lebih mudah ketika mereka bersama...
Dan Sarah menganggukkan kepalanya. Ia bersedia menjadi istri Samuel karena pria itu berjanji akan menghargai, sabar, dan tidak pernah menyakiti Sarah. Tiga hal yang membuat Sarah percaya bahwa takdir baik dan masa depan yang cerah sedang menantinya.
Namun kini setelah lima tahun pernikahan, semuanya terasa berbeda. Ia tidak lagi mendapati Samuel diam-diam mengangetkannya dengan memeluknya seperti biasa. Ia tidak lagi mendapati pria itu menciumnya dengan hangat seperti dulu. Dan Sarah tidak lagi menemukan suaminya bergairah seperti ketika menatapnya dulu.
Yang ada hanya rasa kesal yang Samuel selalu tunjukkan sepulangnya dari bekerja. Entah apa yang terjadi di kantor, Samuel selalu saja melampiaskan rasa kesalnya pada Sarah di rumah. Padahal pria itu berjanji tidak akan menyakitinya...
Kemana janjinya?
Sarah tersenyum sendu menatap bingkai yang terpajang dalam dinding rumah mereka. Hingga kemudian lamunannya buyar ketika ponselnya berdering nyaring. Membuat Sarah langsung mengangkatnya setelah berpikir jika Samuel yang menelepon. Namun dering itu bukan berasal dari suaminya. Melainkan dari ayahnya. Sarah menghembuskan napas. Bukannya ia tidak suka pada panggilan ayahnya. Tapi pasti ini soal...
"Halo, Nduk. Sedang apa?" tanya sang ayah, Marjian.
"Lagi di rumah saja, Ayah. Ayah dan Ibu apa kabar?" tanya Sarah sopan.
"Kabar kami baik. Cuma kami ada sedikit masalah..." ucapnya.
Sarah langsung membulatkan mata. "Masalah? Masalah apa? Ibu baik-baik saja, kan? Luna bagaimana?" tanya Sarah menyebut nama Aluna, adiknya yang masih duduk di bangku menengah atas.
"Lha justru itu masalahnya. Adikmu itu mogok sekolah..." kata Marjian dengan nada cemas.
Sarah mengernyit. "Kenapa, Yah?"
"Adikmu itu bilang kalau dia tidak punya baju untuk menghadiri ulang tahun temannya besok. Ayah bilang supaya tidak usah datang, toh acara seperti itu tidak penting. Tapi adikmu yang manja itu malah tidak mau sekolah. Malu katanya, takut teman-temannya meledek..."
__ADS_1
Sarah mendesah. Aluna memang berbeda sekali seperti dirinya diusia yang sama. Entah kenapa ayahnya itu selalu bersikap diktator padanya dan sebaliknya pada Aluna. "Memangnya berapa harga gaunnya?"
"Satu juta, katanya yang tiga ratus ribu mau dibelikan sepatu sama adikmu!"
Sarah menghembuskan napasnya.dengan lelah. Minggu lalu, ia bahkan sudah menrasfer sejumlah uang untuk biaya berobat ayahnya di rumah sakit. Dan sekarang Sarah harus memberinya uang lagi. "Ya sudah, suruh Aluna masuk sekolah besok karena dia akan datang ke acara ulang tahun temannya. Jadi tidak perlu malu diolok-olok. Aku akan transfer uang ke rekening Ibu."
"Wah. Bagus! Ayah akan sampaikan ke Aluna ya. Dasar anak itu memang..."
Beberapa kalimat ayahnya menguap di telinga Sarah yang sibuk memikirkan dirinya sendiri. Sepertinya uang tabungannya harus raib lagi. Padahal kalau boleh jujur, Sarah jarang sekali membeli skincare. Sementara krim malamnya sudah habis sejak dua minggu lalu. Biarlah. Yang penting tidak ada masalah di keluarganya.
"Ah ya, Nduk. Ayah juga butuh uang..."
Astaga!
"Tahun ini Ayah gagal panen. Jagungnya jelek dimakan tikus di ladang. Ayah jadi harus berhutang pada Juragan Adang untuk... Kau kan Dokter, penghasilanmu pasti banyak... Suamimu orang kantoran... Jadi... Lalu... Jadinya kan..."
Sarah menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia kemudian kembali bersuara tanpa perlu mendengarkan kalimat sang ayah yang panjang padahal hanya menjurus pada satu tujuan, minta uang.
"Ayah butuh berapa?"
"Hutangnya lima juta sama bunganya... Kan ini... Jadi..."
"Besok Sarah transfer ya, Ayah. Semuanya." putus Sarah. Lagi-lagi tanpa mendengarkan keluhan sang Ayah yang dipastikan akan memerlukan waktu untuk mendengarnya.
Terdengar nada senang dari ayahnya.
"Eh, Mas Sam sudah pulang. Sudah dulu ya, Ayah. Nanti Sarah telepon lagi!" bohongnya.
Ayahnya mengucapkan terima kasih ketika Sarah menutup panggilan telepon. Bahunya luruh juga. Ia ingin istirahat sebentar. Otaknya panas minta didinginkan.
__ADS_1