Istri yang Dianggap Mandul

Istri yang Dianggap Mandul
8. Menang Sendiri


__ADS_3

Keesokan harinya, Sarah mendapati Samuel bangun lebih dulu. Pria itu terlihat rapi dengan setelan jas kerjanya. Ia terlihat sedang menelepon entah siapa. Sarah yang beru saja membuka mata hanya bisa mengernyit memandangi suaminya yang mondar-mandir.


"Iya, Bu... Nanti malam saja... Ya... Nanti akan kusampaikan pada Sarah ya..." kata Samuel yang sarah duga sedang bicara dengan Lyla, ibu mertuanya.


Lila, mertuanya yang selalu hobi mencepol rambutnya dengan sasakan tinggi itu adalah satu-satunya orang yang tidak menyukainya. Sarah tahu jika hubungannya dengan sang mertua tidak akan pernah akur karena wanita setengah baya itu seolah tidak menyukainya. Ia selalu mengomentari apa saja yang terlihat salah dimatanya dalam diri Sarah. Mulai dari baju yang ia kenakan, potongan rambut, hingga soal keturunan. Tidak jarang Lila mencacinya. Wanita itu bahkan pernah terang-terangan menghinanya.


Hal itulah yang membuat Sarah tidak kerasan tinggal di mansion utama milik mertuanya. Ia lebih senang tinggal di rumah biasa saja bersama Samuel. Keputusan itu pernah ditentang oleh Lila. Dengan alasan bahwa ia sendirian di rumah besar dan tidak memiliki siapa-siapa. Sarah awalnya merasa kasihan, namun bibir Lila yang terus saja menghujatnya membuatnya harus bersikap tegas.


Dan diulang tahun pernikahannya yang pertama, ketika Samuel bertanya apa yang Sarah inginkan... Ia mengatakan untuk tinggal terpisah dari sang ibu mertua.


"Ada apa, Mas?" tanya Sarah kemudian. Ia menatap Samuel yang kala itu sedang menutup teleponnya dan memasukkan ponsel pintar itu ke dalam saku celananya.


"Ini, ibu menelepon..." serunya. "Katanya, nanti malam kita diminta untuk datang ke sana. Ibu ada syukuran kecil, jadi kita disuruh makan malam di sana!"


Sarah mengangguk. Lila memang sering sekali membuat syukuran. Entah untuk acara apa, namun yang pasti nanti malam Sarah harus datang. Ia tidak mau melukai perasaan sang ibu mertua. Toh, Sarah sudah lama tidak berkunjung ke sana. Mungkin saja, perlahan Sarah bisa memperbaiki hubungan mereka yang tidak terjalin dengan baik.


"Kau tidak ada masalah, kan, kalau kita ke sana?" tanya Samuel tampak ragu. Ia pasti berpikir jika Sarah akan menolak ajakan ibunya itu, namun Sarah menggeleng. Menunjukkan persetujuan.


"Tidak apa-apa. Sekalian mengunjungi ibu. Rasanya sudah lama sekali ya, kita tidak kesana..." senyumnya.


"Iya. Mau bagaimana lagi. Toh, kau yang tidak cocok dengan ibuku!" kata Samuel dengan nada biasa. Namun Sarah bisa mencium kalimat penuh arti dari ucapan Samuel barusan.


Seolah ia yang memang tidak bisa akur dengan Lila. Seolah Sarah yang memulai ketidakcocokannya dengan mertuanya itu.


Sarah mendesah. "Mas, kok kau bicara begitu?" tanyanya.

__ADS_1


"Apanya yang begitu? Bukannya kau memang yang tidak pernah bisa akur dengan ibuku? Itu, kan, fakta. Kita yang mengasingkan diri jauh-jauh ke mari dan tidak memikirkan kondisi ibu yang sendirian, Sar..." katanya lagi.


Sarah yang baru bangun langsung didera rasa kesal, bagaimana bisa Samuel mengatakan hal tersebut? Tidak bisa akur, katanya?


"Mas, apa kau tidak ingat kalau Ibu sendiri yang selalu memusuhiku? Ibu sendiri yang tidak pernah suka padaku. Bagaimana aku bisa betah? Ibumu punya standar sendiri untuk menantunya. Kaya, dari keluarga terhormat, dan memiliki kelas sosialita yang tinggi. Jelas aku tidak bisa memenuhi standarnya..." ucap Sarah membela diri.


Samuel memijat pangkal hidungnya yang mendadak nyeri. "Kalau begitu seharusnya kau yang mengusahakan untuk betah tinggal di rumah ibu. Kita ini, kan anak. Seharusnya bisa ngalah sedikit dong..."


Sarah langsung turun dari tempat tidurnya dan mendekati Samuel. Ia merasa begitu terluka karena kalimat suaminya itu. "Mas, kurang mengalah apa aku? Selama setahun kita tinggal di rumah ibu. Apa aku pernah marah? Atau apa aku pernah menyinggung perasaan ibu? Tidak. Aku selalu diam ketika dia membandingkan aku dengan anak teman-temannya..." Sarah sekuat tenaga menahan tangis. Ia tidak mau menunjukkan kesedihannya pagi-pagi begini.


"Kau bilang ibuku punya standar sendiri dan selalu membanding-bandingkan dirimu, kan? Apa salahnya kalau kau memenuhi standar ibuku dan berusaha mengambil hatinya?"


Sarah bergerak frustasi. Nyatanya selama setahun, ia selalu berusaha membuat Lila terkesan padanya. Ia selalu tampil seperti yang mertuanya itu inginkan. Dan Sarah juga hampir setiap hari mencari perhatian untuk membuat mertuanya inginkan. Namun semuanya sia-sia. Lila tidak pernah menghargai usahanya.


"Sarah. Kenapa kau terus saja berpikir begitu?"


"Memang begitu faktanya. Dan kini kau bilang aku tidak mau berusaha menjadi yang ibumu inginkan dan mengasingkan diri? Lalu apa yang harus kulakukan ketika ibumu menghinaku dan keluargaku? Diam saja?"


"Sarah..." sergah Samuel.


"Aku hanya tidak menyangka kau bisa mengatakan hal itu padaku. Itu sangat menyakitiku..."


"Aku hanya mengatakan fakta. Tidak bermaksud menyakitimu," jawab Samuel kemudian. Pria itu seolah tidak peka dengan apa yang Sarah rasakan.


Sarah terduduk lemas di atas tempat tidur. Ia bingung bagaimana perdebatan ini bisa terjadi pagi-pagi begini. Padahal Sarah sudah berusaha banyak. "Sudahlah, Mas. Aku tidak ingin membahas hal ini!"

__ADS_1


"Aku minta maaf..." seru Samuel kemudian.


Sarah mengangkat dagunya menatap Samuel. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun berlalu, pria itu mengalah dan mengucapkan maaf. "Mas—"


"Tapi memang benar kan apa yang ibu katakan. Kau seharusnya termotivasi. Bukannya merasa marah dan tidak terima begini..."


Sarah mendesah. Ia baru saja akan tersanjung untuk kata maaf yang Samuel katakan. Tapi sayangnya percuma saja. Semuanya memang menyudutkannya. Baik mertuanya maupun Samuel sendiri.


"Jadi kau mau bagaimana? Kembali ke rumah ibu?" tanya Sarah kehabisan kalimat.


"Tidak mungkin," ucap Samuel sembari menggeleng. "Jarak rumah ibu dan kantorku sangat jauh. Kau juga sudah dipindahtugaskan kemari. Akan sulit untuk mengatur soal pindahan lagi!"


"Makanya..." sergah Sarah. "Makanya... Kumohon... Jangan pernah mengatakan seolah-olah aku tidak bisa akur dengan ibumu. Karene sejujurnya, aku tidak pernah merasa memiliki masalah dengan ibumu. Aku pun sudah menganggapnya seperti ibuku sendiri. Hanya saja, terkadang sikap ibu yang membuatku seperti terasing."


"Kau yang mengasingkan diri, Sarah. Bukan ibu yang membuatmu merasa begitu!" jawab Samuel.


Sarah yang kehabisan stok kalimat hanya bisa mendesah keras. Entah untuk yang keberapa kalinya.


"Aku mau mandi. Sudah siang. Aku harus berangkat ke rumah sakit..." seru Sarah lagi. Ia meraih handuk bersih dari dalam lemari pakaian dan hendak membawanya ke dalam kamar mandi.


Namun langkahnya tertahan ketika mendengar Samuel mengomel. "Semua istri nyatanya sama saja. Ingin menang sendiri!"


Ingin menang sendiri, katanya?


Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukannya yang ingin menang sendiri itu Samuel?

__ADS_1


__ADS_2