
Samuel tahu, tidak mudah untuk menerima bahwa Sarah masih belum juga mengandung anak untuknya. Namun ia sama sekali tidak terpikirkan untuk menceraikan Sarah selama ini. Ia begitu mencintai wanita itu, Sarah adalah satu-satunya wanita yang membuatnya bisa tersenyum tanpa beban. Dan Sarah adalah satu-satunya wanita yang bisa menerimanya apa adanya.
Selama ini pun Samuel tahu, jika ibunya Lila sedikit tidak menyukai Sarah karena dulu Samuel sudah dijodohkan oleh wanita pilihan ibunya ketika berhubungan dengan Sarah. Samuel yang kala itu ngotot untuk menikah dengan Sarah untuk yang pertama kalinya berani menentang sang ibu untuk membatalkan perjodohan yang sudah diatur olehnya.
Tentu saja Lila yang merasa sudah sreg dengan calon menantu yang ia pilihkan untuk Samuel, mendadak saja geram ketika anaknya malah menolak wanita pilihannya. Kala itu Samuel meminta ibunya untuk tidak lagi menjodohkannya dengan siapapun karena dirinya sudah memiliki kekasih.
Keesokan harinya, Samuel mengenalkan Sarah pada Lila. D nyatanya gadis sederhana calon dokter yang mendapatkan beasiswa dari universitas tempatnya kuliah itu, tidak berhasil membuat ibunya terpesona. Ibunya tetap saja tidak menyukai kehadiran Sarah karena selain wanita itu berasal dari kalangan sosial kelas menengah ke bawah, Lila juga merasa bahwa calon menantu yang ia pilihkan untuk putranya jauh lebih baik daripada sosok Sarah. Seorang anak pejabat kedutaan Perancis yang kebetulan dikenal oleh Lila.
Samuel yang tetap kukuh menikahi Sarah. Bahkan ia tidak mempedulikan jika pada saat pernikahannya berlangsung, sang Ibu mendadak sakit. Rasa cintanya pada Sarah begitu besar hingga ia bisa melakukan apa saja untuk wanita itu.
Namun kini rasa cintanya tidak berbalas karena nyatanya salah tidak bisa memberikan keturunan untuknya.
"Mas? Kenapa melamun?" kata Sarah setengah menyikut bahunya. Samuel kemudian tersadar jika kini ia berada di lobby rumah sakit tempat Sarah bekerja. Ia baru saja pulang dari kantor dan langsung menuju tempat ini seperti yang sudah mereka janjikan untuk bertemu dengan Dokter Adzani. Seorang dokter kandungan tempat Sarah bekerja. Rencananya mereka akan memeriksakan diri mereka masing-masing dan menemukan masalah yang mungkin bisa diselesaikan oleh dokter kandungan tersebut.
"Tidak apa-apa!" jawab Samuel singkat. Mereka berdua kemudian berjalan bersisian memasuki lift yang membawanya ke lantai tiga tempat Dokter Adzani berada.
Sarah terlihat tenang ketika berada di depan pintu praktik dokter tersebut. Sedangkan Samuel seperti panas dingin. Ini adalah kali pertama ia melakukan pemeriksaan untuk mengecek siapakah yang memiliki masalah sebenarnya.
"Ayo kita masuk! Sepertinya Dokter Adzani sudah menunggu kita!' kata Sarah dengan senyum lebar. Wanita itu kemudian meraih lengannya dan menggandengnya. Seolah menunjukkan bahwa mereka berdua tidak memiliki masalah apapun dan akur-akur saja.
__ADS_1
Samuel membiarkan hal itu terjadi, ia bahkan lupa kapan terakhir Sarah menggandeng tangannya. Perlahan senyumnya mengembang. Ia benar-benar berharap bahwa anak akan hadir ditengah-tengah mereka. Dan saat itu terjadi Samuel berjanji bahwa ia akan kembali mencintai Sarah seperti dulu kala.
Sarah membuka pintu praktik Dokter Adzani. Seorang wanita berkacamata bertubuh gempal menyambutnya dengan senyum ramah. "Eh dokter Sarah sudah datang?"
"Iya nih, Dok. Suami saya baru baru saja pulang dari kantor!"
Seolah memahami jika kedua pasangan tersebut sedang memiliki masalah terhadap kandungan, Dokter Adzani segera menyilakan keduanya untuk duduk. "Silakan duduk dulu!"
Sarah mengikuti instruksi dari rekan kerja sekaligus sahabatnya itu dengan duduk di hadapan Dokter Adzani.
"Jadi apa yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Adzani. Kemudian ia beralih menatap Sarah dan Samuel secara bergantian.
Dokter Adzani tersenyum. Wanita berhijab tersebut meraih tangan Sarah. "Kalau begitu saya akan melakukan tes dan membawanya ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut. Hasilnya tidak bisa keluar hari ini. Tapi harus menunggu dua sampai tiga hari lagi."
Samuel menyimak penjelasan dari Dokter Adzani tersebut dengan penuh konsentrasi.
"Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pemeriksaan ini, saya harus melakukan empat tahap pemeriksaan. Yang pertama adalah saya harus mengecek jumlah sel ****** pada pihak suami. Kemudian saya harus melakukan tes hormon darah, tes patensi tuba, dan usg pada Dokter Sarah. Apa kalian berdua siap?"
Sarah mengangguk. Ia menoleh pada Samuel di sampingnya. Pria itu juga terlihat tidak memiliki masalah dengan serangkaian pemeriksaan dan tes yang akan Dokter Adzani lakukan terhadap mereka berdua.
__ADS_1
"Kalau begitu silakan berbaring di atas tempat tidur, saya akan memulai dari Dokter Sarah terlebih dahulu..." seru Dokter Adzani mempersilahkan Sarah untuk berbaring di atas tempat tidur pemeriksaan.
Sarah berdoa bahwa ia akan menemukan masalah yang selama ini menjadi penghambatnya. Sebab dengan ditemukannya masalah pada dirinya semuanya akan berangsur-angsur membaik. Sarah berdoa agar ia bisa mengabulkan keinginan sang suami untuk memiliki seorang anak.
Pemeriksaan yang panjang itu dilalui Sarah dengan tenang dan telaten. Ia begitu rileks ketika diperiksa oleh Dokter Adzani, mengingat bahwa wanita itu sudah ia kenal selama ia bekerja di rumah sakit ini. Mereka berdua selalu berhubungan baik dan bersahabat meskipun mereka tidak pernah menceritakan masalah masing-masing. Dokter Adzani hanya mengetahui bahwa Sarah belum juga memiliki keturunan. Itu saja. Selebihnya Sarah pun tidak pernah menceritakan apapun pada rekan sejawatnya itu.
Beberapa jam mereka lakukan dengan melakukan pemeriksaan tersebut, Dokter Adzani begitu telaten dan sabar ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Samuel terkait dengan masalah kandungan.
Hingga kemudian, mereka selesai melakukan semua rangkaian tes tersebut, Dokter Adzani pun menyilahkan Samuel dan Sarah untuk kembali duduk dan berbincang.
"Permasalahan mengenai keturunan memang acap kali terjadi pada pernikahan yang memasuki usia lebih dari tiga tahun. Biasanya kedua belah pihak akan melakukan tes kesuburan. Tapi kembali lagi, apakah ada masalah pada pihak suami ataupun pihak istri, saya berharap tidak akan menimbulkan masalah apapun. Kita hanya mencari sumber dari permasalahan itu. Jikalaupun ada masalah, maka yang kedua belah pihak bisalakukan sebagai suami istri adalah menerima keadaan tersebut. Karena kembali lagi, pernikahan itu adalah tentang komitmen untuk menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Saya sebagai dokter, hanya bisa melakukan serangkaian pemeriksaan dan pengobatan medis. Tapi kembali lagi masalah keturunan itu kita serahkan pada yang maha kuasa..."
Sarah mengangguk mendengar nasehat tersebut. Ia tahu bahwa Dokter Adzani mengatakan hal tersebut bukan tanpa tujuan. Ia hanya tidak ingin masalah mengenai keturunan menimbulkan masalah lain yang lebih kompleks pada pernikahan sahabatnya.
"Kalau begitu saya mengucapkan terima kasih. Kami harus segera pulang. Saya akan mengambil tesnya setelah Dokter Adzani memberitahukan kepada saya!" seru Sarah..
"Tentu, Dokter Sarah. Kalau begitu silakan kembali lagi dua atau tiga hari yang akan datang."
Mereka berdua pun saling bersalaman pada Dokter Adzani. Mereka berdua mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum pergi meninggalkan ruangan dokter tersebut.
__ADS_1
"Kita terima apapun hasilnya ya, Sayang..." seru Sarah sembari bergelayut pada bahu suaminya dengan sayang.