Istri yang Dianggap Mandul

Istri yang Dianggap Mandul
7. Obrolan Dimalam yang Dingin


__ADS_3

"Bagaimana hasilnya?" tanya Samuel begitu melihat Sarah pulang dari rumah sakit. Wanita itu terlihat lesu. Hari ini adalah hari dimana laporan kesehatan Samuel dan Sarah diberikan oleh Dokter Adzani. Samuel sampai tidak bekerja karena menunggu laporan tersebut. Ia menunggu di rumah sementara Sarah tetap berangkat ke rumah sakit. Tadinya Samuel ingin menemani Sarah untuk mengambil hasil pemeriksaan tersebut, Namun Sarah menolaknya dan mengatakan bahwa ia akan memberitahu Samuel di rumah saja.


Dan kini ketika melihat Sarah lesu, Samuel menduga bahwa Wanita itu sudah mendapatkan hasil pemeriksaannya. "Aku lelah. Bisakah kau biarkan aku tidur di kamar sebentar?" tanya Sarah kemudian.


Sarah menghindari pertanyaan Samuel. Ia hanya tidak tega mengatakan hal yang sebenarnya terjadi padanya. Samuel yang melihat hal tersebut hanya bisa mengernyitkan dahi. "Kenapa kau buru-buru masuk ke kamar? Aku kan bertanya bagaimana dengan hasil pemeriksaannya?"


Sarah dari lihat tidak mempedulikan bentakan suaminya tersebut. Ia tetap melangkahkan kakinya hingga naik ke atas anak tangga yang membawanya ke kamar utama.


"Sarah! jawab aku!" kata Samuel sekali lagi namun Sarah tetap bergeming, ia tetap tidak menolehkan kepalanya hingga kemudian Samuel harus meraih tangan wanita itu.


"Sarah kau tidak mendengarku ya?" kini mereka saling berhadapan. Sarah tanpa ekspresi dan Samuel yang menggebu-gebu. Mereka berdua saling menatap dengan sorot mata yang sulit diartikan.


"Bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya Samuel lagi.


Sarah mencoba memutar otak untuk mencari alasan agar Samuel tidak mengetahui hasil pemeriksaan kesehatan tersebut. Ia menggeleng. "Hasilnya belum keluar, kita harus menunggu besok atau lusa!"


Samuel yang mendengar hal tersebut hanya bisa mengernyitkan dahinya. "Besok? Bagaimana bisa? Bukannya Dokter Adzani sudah mengatakan bahwa hari ini pemeriksaan keluar?"


Sarah mengangguk. "Ya, tapi ada beberapa masalah di rumah sakit. Jadi Dokter Adzani tidak bisa memberikan laporannya saat ini."


"Benarkah?" tanya Samuel sedikit tidak percaya. Namun tidak mungkin pula Sarah berbohong padanya.


Sarah menganggukkan kepalanya singkat. Setelah merasa jika Samuel cukup puas dengan jawabannya, ia kemudian pamit lagi. "Kalau begitu apa aku boleh istirahat di kamar sebentar? Kepalaku pusing sekali. Aku ingin memejamkan mata!" kata Sarah lagi.

__ADS_1


Samuel pun tidak menjawab. Ia membiarkan Sarah untuk istirahat di kamarnya. Lagipula ia harus menunggu sampai besok hingga hasil pemeriksaannya keluar. Samuel kemudian menatap punggung Sarah yang berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Wanita itu terlihat berbeda. Ada apa?


Di sisi lain Sarah menangis. Bukannya ia tidak menerima kenyataan bahwa suaminya tidak bisa menghasilkan keturunan untuknya. Namun karena ia merasa begitu kasihan terhadap Samuel. Ia tidak ingin suaminya itu mengetahui fakta tersebut. Dan kini di luar suaminya sedang menunggu kabar mengenai hasil pemeriksaan yang sudah ia terima tadi pagi. Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus semua kenyataan yang didapatinya?


Ataukah Sarah harus jujur dengan mengatakan semuanya pada Samuel?


Nyaris pukul setengah sepuluh malam ketika ia mendengar langkah kaki masuk ke dalam kamar. Sarah pura-pura tidur ketika Samuel membuat pergerakan di samping tempat tidur. Ia segera membaringkan tubuhnya di samping Sarah.


"Aku tahu kau tidak tidur..." ucap Samuel yang melihat bulu mata Sarah terlihat bergerak-gerak. Wanita itu masih belum memejamkan mata.


Sarah langsung membuka matanya begitu Samuel mengetahui sandiwaranya. Ia langsung menatap suaminya itu dengan bingung. "Bagaimana kau tahu jika aku masih belum tidur?"


"Aku sudah hidup bersamamu lima tahun lamanya. Mana mungkin aku tidak tahu kalau kau masih belum terlelap?"


Sarah menyadari kalimat suaminya yang tepat. Ya, mereka sudah hidup selama lima tahun. Sarah jelas hafal bagaimana perangai Samuel. Seperti dimana pria itu biasa meletakkan handuk basahnya. Lalu di mana pria itu biasa menghabiskan waktu ketika keduanya sedang bertengkar.


"Kau benar. Kita sudah menikah selama lima tahun... Tapi aku selalu merasa kalau kau sudah tidak lagi mencintaiku..." seru Sarah dengan nada rendah. Nyaris lirih.


Samuel menoleh menatap istrinya. "Bagaimana kau bisa berpikir demikian?"


"Aku selalu melihat kau buta karena menginginkan seorang anak. Sedangkan kita masih belum bisa memilikinya. Dan hal itulah yang membuatmu selalu mengabaikanku..." ucap Sarah, untuk yang pertama kalinya berani menyuarakan isi hatinya.


Samuel tidak menjawab. Pria itu hanya memandang kosong ke langit-langit kamar yang tampak muram. "Kau tahu betapa aku mencintaimu, Sar. Aku hanya..."

__ADS_1


Hanya...


Sarah terdiam cukup lama. Ia tidak mau mendebat suaminya lebih lama lagi. "Maaf..." katanya kemudian, yang memiliki banyak arti.


"Maaf karena aku tidak bisa memberitahukan semuanya padamu dan maaf karena membuatmu harus merasa sedemikian sakit. Seharusnya aku yang divonis mandul bukan kau," kata Sarah dalam hati. Ia seolah tidak kuasa mengatakan jika Samuel lah yang mandul.


Samuel tahu jika Sarah akan selalu mengucapkan maaf ketika wanita itu merasa kelewatan. Pun dalam setiap perdebatan yang mengakibatkan keduanya harus adu mulutpun, Sarah selalu yang mengucapkan maaf terlebih dahulu. Wanita itu selalu mengalah padanya. Sarah tidak pernah bersikap egois ataupun keras kepala. Wanita itu selalu menunjukkan kesabaran seorang istri yang membuat Samuel tidak pernah ingin melepaskannya.


Karena tidak tega, atau karena memang Samuel mencintainya? Entahlah, Samuel juga tidak tahu apa yang ia rasakan.


Perlahan Samuel menggangguk, pria itu terlihat diam untuk beberapa saat. "Kau hanya perlu tahu bahwa perasaanku tidak akan pernah berubah. Itu saja."


"Aku percaya..." kata Sarah. Mereka berdua berhadapan. Seolah mengatakan sesuatu dari balik pandangan masing-masing. "Apapun yang membuatmu ragu, aku harap kau tidak mempedulikannya dan fokus pada rumah tangga kita saja..." seru Sarah kemudian.


Yang membuatmu ragu... Apakah ibunya juga termasuk kategori tersebut?


Apakah ibunya juga termasuk seseorang yang membuatnya ragu akan pernikahan yang ia jalani selama lima tahun dan cintanya pada Sarah?


Abaikan saja? Bisakah Samuel melakukan hal tersebut ketika ia tahu bahwa ibunya selalu memiliki alasan yang kuat untuk membuatnya meninggalkan Sarah?


Samuel tidak mau membahas tentang hal ini. Ia memilih menyudahi pembicaraan. "Sudahlah, Sar. Lebih baik kita tidur saja malam ini aku sudah sangat lelah..."


Sarah tidak menjawab kalimat itu, ia lebih memilih untuk tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Malam ini... Peluk aku ya..." pintanya malu-malu.

__ADS_1


Samuel tersenyum. "Baiklah. Istirahatlah..." ucapnya. Ia kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang Sarah hingga wanita itu terlelap.


Namun dua jam kemudian, Samuel urung tidur dan memilih merokok di balkon.


__ADS_2