
Keesokan harinya Sarah yang saat itu sedang sarapan bersama dengan suaminya menatap Samuel. "Sayang nanti kamu ingat kan kalau ada janji dengan dokter Adzani?" tanyanya sembari mengingatkan.
Samuel menatap Sarah tanpa ekspresi seperti biasanya. Ia selalu menunjukkan ekspresi datarnya ketika bicara dengan Sarah begitu berbanding terbalik dengan ekspresi Sarah yang selalu riang meskipun dalam hati ia selalu bertanya-tanya kenapa sikap suaminya berubah.
"Hari ini kau kerja? tanya Samuel kemudian.
Sarah mengangguk. "Tapi praktekku akan selesai pukul sebelas siang nanti. Kau mau aku menunggumu di rumah atau kau saja yang langsung datang ke rumah sakit dan kita bertemu dengan dokter Adzani?"
Samuel yang menatap Sarah, lalu menggeleng "Tidak usah pulang, kau tunggu saja aku di rumah sakit. Aku akan datang begitu praktekmu selesai!"
Sarah mengangguk senang. "Ya sudah kalau begitu," jawabnya. Sarah dan Samuel memang sudah lama tidak keluar dengan suaminya dan menikmati udara segar bersama-sama.
Denting sendok dan garpu di atas piring Samuel kemudian berhenti tepat ketika pria itu menyelesaikan sarapannya. Ia mengangguk sekali pada Sarah dan bangkit dari kursinya. Pria itu melangkahkan kakinya keluar dari meja makan tanpa mengatakan apapun lagi. Sarah yang menatap Samuel hanya bisa tertegun.
Setiap pagi ia selalu mendapatkan perlakuan yang sama yakni Samuel selalu bekerja tanpa berpamitan padanya. Bahkan pria itu tidak pernah mencium keningnya seperti dulu ketika mereka baru saja menikah.
Dan itu adalah alasan kenapa Sarah menganggap bahwa Samuel sudah berubah...
"Mas tunggu dulu!" kata Sarah yang kemudian berlari menyusul suaminya karena ia menyadari jika Samuel meninggalkan map penting di atas meja makan.
Samuel membalikkan badan lalu menatap Sarah dengan pandangan membenci. "Apalagi?! Bukannya kita sepakat akan bertemu di rumah sakit saja?!"
Sarah mendadak gemetar. "Bukan begitu... Aku hanya ingin mengatakan kalau kau meninggalkan ini!" kata Sarah sembari menyodorkan map tersebut pada Samuel.
Pria itu sedikit terkejut sekaligus merasa bersalah karena nyatanya Sarah hanya berniat mengembalikan map yang ia tinggalkan tanpa sengaja di atas meja makan. Menutupi rasa bersalahnya Samuel kemudian meraih map tersebut dan mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Kalau begitu aku berangkat dulu!" kata Samuel untuk yang pertama kalinya setelah berbulan-bulan mereka tidak pernah saling berpamitan ketika ingin keluar rumah.
Senyum Sarah mengembang sempurna. Ia begitu senang ketika Samuel mengatakan hal tersebut. "Ah ya, semoga harimu menyenangkan. Hati-hati di jalan!" ucap Sarah sembari melambaikan tangannya sampai Samuel menghilang di balik kemudi mobilnya.
Samuel menyadari jika selama ini sikap Sarah tidak pernah berubah padanya. Wanita itu selalu hangat dan menyenangkan Sarah juga orang yang pendengar yang baik ketika diajak mengobrol. Sarah tidak pernah mengeluh ketika Samuel menghadapi masalah seberat apapun.Pernah suatu ketika Samuel hampir bangkrut karena teman sekantornya menipunya sehingga perusahaan yang ia pimpin mengalami kerugian yang cukup besar.
Saat itu Sarah benar-benar tidak pernah meninggalkannya. Wanita itu selalu menggandeng tangannya dan tidak pernah mengatakan hal buruk pada Samuel. Padahal saat itu Sarah bisa saja meninggalkannya dan mencari pria lain yang lebih baik untuknya daripada dirinya, seorang pria yang kala itu tidak berguna dan hanya bisa menganggur untuk waktu yang lama.
Namun Sarah tetap berada di sisinya. Wanita itu tidak pernah membahas soal masalah kantor ketika Samuel tidak ingin membahasnya. Sarah sangat menghargai perasaan dan privasi Samuel. Dan hal itu membuatnya bangga memiliki istri sepertinya.
Namun kali ini Samuel tidak bisa melakukan hal yang sama untuk Sarah. Ketika semua orang bertanya mengenai Sarah yang tidak kunjung hamil, Samuel jadi gelap mata perlahan ia mulai mengabaikan Sarah. Samuel tahu jika sebenarnya Sarah selalu berusaha untuk membuatnya kembali ceria seperti dulu. Namun sejujurnya saja ia tidak bisa melakukan hal apapun. Dirinya begitu lemah menghadapi omongan orang lain, sehingga ia menjadi sangat terpuruk. Ia benar-benar menginginkan seorang anak dan untuk saat ini Sarah belum bisa mengabulkan permintaannya. Maka dari itu, Samuel berkomitmen untuk sedikit mengabaikan istrinya. Setidaknya itu adalah balasan yang juga ia rasakan akibat sakit hati akibat omongan orang.
Mobil yang dikemudikan Samuel berjalan perlahan. Hingga kemudian panggilan telepon pada ponselnya membuat benda itu berdering cukup nyaring. Samuel segera mengangkat panggilan tersebut yang nyatanya berasal dari ibunya, Lila Harsono.
"Halo, Ibu!" sapa Samuel mengawali percakapan.
"Aku baik, Bu. Bagaimana kabar Ibu?" tanya Samuel kemudian sedikit khawatir karena Ia berpikir jika ibunya sedang sakit sehingga menelpon.
"Kabar baik. Kau sedang di rumah?" tanya Lila kemudian.
"Tidak aku sedang berada di mobil hendak menuju kantor."
"Apa kau sekarang bersama dengan Sarah?"
"Tidak aku berangkat menggunakan mobilku sendiri. Sedangkan Sarah diantarkan oleh sopir. Tempat kerja kami berbeda arah!" jelas Samuel panjang lebar.
__ADS_1
"Oh kalau begitu Ibu pasti mengganggumu. Kau berangkat saja, bagaimana kalau nanti saja itu menelpon lagi?"
"Tidak kok tidak mengganggu. Memangnya ada apa?"
Lila mendesah di ujung telepon. "Kebetulan kalau tidak ada istrimu. Sebenarnya tidak ada yang penting. Ibu hanya ingin bercerita kalau kemarin Ibu baru saja berkumpul bersama teman-teman arisan Ibu. Di sana Ibu bertemu dengan wanita-wanita kelas atas dan istri pejabat. Mereka benar-benar bersemangat ketika menceritakan soal menantu dan cucu mereka. Sedangkan ibu hanya bisa diam dan mendengarkan ocehan mereka. Ibu iri sekali, lho!"
Samuel tidak mengerti maksud dari ibunya. "Lalu kenapa?"
"Lalu kenapa, bagaimana? Kenapa kau tidak kunjung memberi Ibu cucu. Memangnya Sarah tidak mau memiliki anak karena dia sibuk sebagai Dokter?"
"Bukannya begitu, Ibu. Tapi aku sedang sibuk mengurus kantor dan Sarah pun juga sedang memiliki jadwal praktek yang sangat padat l. Jadi apa salahnya menunda momongan terlebih dahulu?" kata Samuel berbohong pada ibunya.
Lila yang tidak mempercayai kalimat putra tunggalnya itu hanya bisa berdecih. "Kamu tidak perlu berbohong pada Ibu dan membela Sarah. Ibu tahu kamu sangat menginginkan seorang anak kan? Namun Sarah tidak bisa memberikan keturunan untukmu benar kan? Karena dia mandul makanya dia tidak kunjung hamil."
Samuel memijat pangkal hidungnya dengan satu tangannya yang bebas. Ia tidak menyangka jika ibunya agak bisa membaca dan mengetahui apa yang ia pikirkan. Tidak mau membohongi ibunya, Samuel pun berkata, "Bukannya tidak bisa memberikan keturunan ibu tapi kami sedang berusaha."
"Ibu tahu bahwa selama ini sebenarnya kamu juga jengah kan karena tidak memiliki seorang keturunan? Memangnya kamu tidak malu ketika teman-temanmu bertanya kamu sudah memiliki berapa anak? Ibu saja yang mendengarkan cerita teman-teman arisan ibu mengenai cucu-cucu mereka hanya bisa mengelus dada dan sedikit merasa tersindir!"
"Ibu,.tidak ada yang perlu Ibu khawatirkan. Semuanya akan baik-baik saja!"
"Terserah padamu lah. Tapi kalau Sarah tidak kunjung hamil apa tidak sebaiknya kamu menceraikan dia?"
"Ibu apa-apaan sih? Kenapa harus ngomong sampai sana?"
"Karena dalam rumah tangga yang terpenting adalah kehadiran seorang anak dan jika istrimu mandul, kamu berhak mencari wanita lain yang bisa memberimu keturunan dan itu wajar-wajar saja!"
__ADS_1
"Sudahlah Ibu. Nanti aku akan menelpon Ibu lagi sampai jumpa!"