
Sarah memoles make up pada wajahnya. Sejujurnya saja, Sarah kurang mahir memoleskan berbagai macam riasan pada wajahnya yang selalu terlihat natural. Hanya pada acara tertentu saja Sarah akan melakukan hal itu. Dan mala mini termasuk dalam hitungan tersebut. Seperti yang Samuel katakan tadi pagi, malam ini Lila memang akan mengadakan syukuran di rumahnya. Dan baik Samuel maupun Sarah memang diundang dalam acara itu. Yah meskipun Sarah pun mendapatkan kabar tersebut dari sang suami, tapi tetap saja, kewajibannya sebagai istri Samuel adalah untuk menemani suaminya kemanapun ia pergi.
Dan kejujuran keduanya untuk mala mini adalah Sarah sama sekali tidak menyukai acara tersebut. Bukan rangkaian acaranya yang Sarah benci, melainkan tamu undangan yang diundang oleh mertuanya. Sosialita kelas atas, yang dipastikan akan menggunakan Sarah sebagai objek bahan gunjingan yang tidak ada habisnya.
Katakanlah Sarah memang overthingking. Namun begitulah fakta lapangan yang terjadi. Sama seperti tahun-tahun lalu ketika Sarah dihadapkan dengan lautan manusia dengan kekayaan berlebih di hadapannya itu, Sarah selalu mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan. Dipandang sebelah mata dan selalu menjadi bahan ejekan.
Terakhir kali, Sarah memoleskan lipstick pada bibirnya sebelum mengecek riasannya terakhir kali. Syukurnya tidak ada cela pada penampilannya. Setidaknya menurutnya begitu... sebelum akhirnya Samuel dengan pakaian batiknya dating dan menatap Sarah dengan mata memincing.
"Kok pakai baju begitu?" tanya Samuel tetap menatap Sarah dan memperhatikannya dari atas ke bawah.
Sarah menunduk. Memperhatikan bajunya. Ini acara syukuran, kan? Bukankah dalam acara syukuran terdapat acara semacam pengajian atau sejenisnya? Lalu apakah ia salah memilih tema baju? "Memangnya ini acara syukuran bagaimana sih, Mas? Aku salah kostum, ya?"
"Bukan. Tapi bajumu itu terlihat murah, Sar. Kan aku sudah bilang untuk membeli baju baru yang mahal?"
Sarah melongo. Bajunya terlihat murah? Murah bagaimana, kan baju ini Sarah beli di butik ternama yang membuat Sarah tidak bisa tidur karena harganya yang kemahalan? Dua juta rupiah. Dengan nominal segitu, Sarah tentu bisa membeli sepuluh potong baju yang bisaa ia gunakan sehari-hari. "Ini, kan baju yang beli di butik Eve, Mas. Menurutku baju ini terlalu bagus. Mananya yang terlihat murah?"
"Oh, sekarang aku paham dimana letaak kesalahannya, Sar. Ternyata bukan bajunya yang salah, tapi kau. Baju itu tidak pantas dipakai di tubuhmu... hahaha..." kata Samuel dengan nada bercanda. Pria itu tertawa terbahak-bahak hingga ujung matanya berair.
Sarah yang mendapati hal tersebut merasa ingin menangis saja. Bagaimana seorang suami bisa mengatakan hal itu pada istrinya dan membuatnya sebagai lelucon?
__ADS_1
Melihat Sarah yang tidak bereaksi dihadapannya, Samuel langsung menghentikan tawanya. Merasa bahwa ia sudah salah bicara, Samuel segera menutup mulutnya. "Maaf, Sayang. Aku hanya bercanda. Kau jangan marah ya..."
Sarah hanya bisa terpaku dihadapan Samuel. Ia menghembuskan napas kasar. Mungkin karena acara ini, moodnya jadi berantakkan. Mungkin pula karena acara ini, Sarah jadi menganggap serius gurauan Samuel padahal sesungguhnya pria itu sedang bercanda. Mungkin Samuel tidak bermaksud begitu... dan mungkin saja Sarah hanya sedang terbawa emosi. "Baiklah... tidak apa-apa."
Samuel tersenyum. "Ya sudah, ayo turun. Aku akan mengeluarkan mobil dan menunggumu di luar..." ucapnya sebelum mebalikkan badan, melewati ppintu, dan berlalu.
Didetik tersebut, Sarah sadar bahwa ia tidak lagi mendapatkan pujian dari sang suami. Tidak ada kata apapun yang merujuk pada kalimat bahwa Samuel melihat Sarah sebagai wanta yang cantic. Tidak seperti dulu... Malahan, bagi Samuel... Sarah seperti barang murahan yang tidak cocok memakai baju mahal. Pria itu hanya mengukur dirinya dari tampilan luarnya saja. Dan Sarah tahu bahwa semua itu bermula dari ketidakberdayaan hubungan pernikahan mereka yang sudah terjalani selama lima tahun belakangan.
Tanpa mau memikirkan banyak hal yang sukses membuat moodnya semakin buruk, Sarah memilih meraih tas mungilnya dan berjalan keluar kamarnya.
***
Ah, mungkin ia akan bersembunyi di kamar mandi selama beberapa waktu sebelum acara berlangsung. Setelah acaranya dimulai, Sarah akan keluar dan mengikuti rangkaian acaranya seolah tidak terjadi apa-apa. Begitu saj-
Dering ponsel yang ada dalam tas mungil Sarah, membuyarkan rencana wanita itu. Samuel menoleh pada Sarah saat wanita itu melihat siapa yang menelepon. Ayahnya... celaka! Kenapa pula ayahnya harus menelepon dijam begini? Bukannya apa-apa, tapi Sarah tahu jika ayahnya menelepon karena ingin meminta sesuatu. Dan berada di samping Samuel membuatnya sedikit tidak enak.
"Dari siapa?" tanya Samuel ingin tahu.
Sarah menoleh sebentar. Mati-matian menguarkan senyum. "Dari ayah..."
__ADS_1
"Ah, pasti dia mau minta sesuatu lagi. Wah, aku heran, bagaimana bias pengangguran seperti ayahmu bias menghidupi anak dan istrinya kalau tidak ada kau?"
"Mas!!" sergah Sarah. Ia tidak suka dengan kalimat yang Samuel katakana mengenai ayahnya itu. Ayahnya memang sudah lama tidak bekerja karena sakit dan hanya mengelola tanah garapan keluarga yang ditanami singkong dan jagung. Namun bukan berarti Samuel bias mengatkan hal-hal buruk mengenai orang tuanya, kan? "Kok tega bicara seperti itu?"
Samuel tersenyum miring. Setengah berdecih. "Bukannya faktanya memang begitu? Kau kan sering sekali mengirim uang padanya? Ayahmu piker kita ini bank uang apa? Kenapa menelepon ketika hanya ada keperluan finansial saja?"
"Mas, Ayah menganggur kan karena beliau memang sakit-sakitan. Bukan karena ayah senang hati melakukannya!"
"Oh ya, aku bias saja maklum kalau ayahmu hanya meminta uang untuk keperluan sehari-hari. Tapi kalau untuk beli motor dan memenuhi keperluan adikmu yang manja itu, bagaimana aku bias terima?"
"Cukup!" kata Sarah setengah membentak. "Kalau kau bicara hal buruk mengenai ayahku lagi, lebih baik turunkan aku di pinggir jalan dan hadiri acara santunan keluarga sosialitamu itu seorang diri!" ancam Sarah.
Samuel berdecih. Ia memilih diam meskipun dalam hati masih dongkol dengan bentakkan dan ancaman yang Sarah lakukan padanya. Rupanya wanita itu kini sudah berani melakukan hal itu padanya. Benar-benar tidak memiliki sopan santun pada suami!
Dering telepon masih tetap berbunyi dan meminta Sarah untuk segera mengangkatnya. Sarah menarik napas Panjang dan menjawab panggilan masuk dari ayahnya tersebut. Dengan sura yang jernih, Sarah mencoba mengawali pembicaraan. "Halo, Ayah?"
"Halo, Nduk!" balas Marjian yang selalu memanggil Sarah dengan panggilan Nduk. "Bagaimana, kok uangnya belum ditrasfer ya? Adikmu nggak mau sekolah ini."
Sarah menahan napas. Menatap suaminya yang kini sedang fokus menatap jalanan sembari tersenyum miring, setengah mengejek.
__ADS_1
Samuel tertawa. "Sudah kubilang, kan?" sindirnya dengan senyum puas.