
Di dalam mobil Samuel masih teringat-ingat kalimat yang diutarakan Dokter Adzani bahwa siapapun yang bermasalah di antara dirinya ataupun Sarah, maka yang harus ia lakukan adalah menerimanya. Karena benar yang dikatakan dokter tersebut bahwa pernikahan haruslah dilandasi dengan kerelaan dan saling menerima kelebihan serta kekurangan masing-masing.
Samuel menolehkan kepalanya ke samping lalu menatap Sarah. Wanita itu terlihat lelah, matanya berkali-kali menyipit seolah menahan kantuk. Tidak heran, Sarah tidak pernah libur ketika melakukan praktek di rumah sakit. Wanita itu selalu saja bersemangat. Sebagai seorang dokter bedah, dirinya memang dituntut untuk selalu siap sedia di rumah sakit untuk menangani pasien yang membutuhkan dirinya.
"Kau mengantuk?" tanya Samuel, kemudian kembali menatap jalanan dan fokus mengemudi.
Mendapati suaminya bertanya, Sarah membuka matanya lebar-lebar. Setelah bermenit-menit tanpa ada obrolan apapun, ia senang ketika Samuel bertanya mengenai keadaannya. Sarah menggeleng. "Tidak sepertinya aku hanya lelah."
Sarah menggangguk kecil. Ia kemudian menatap Sarah kembali. "Kalau kau mengantuk, istirahatlah!"
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Nanti aku akan langsung istirahat begitu kita sampai rumah!"
Samuel tidak berkomentar lagi. Mereka kemudian terdiam untuk waktu yang cukup lama seperti yang sudah mereka lewati bermenit-menit yang lalu.
Hingga kemudian Samuel memanggil wanita itu. Sarah menolehkan kepalanya lalu menatap suaminya dengan alis terangkat. "Ya?"
"Seandainya aku yang mandul, apa yang akan kau lakukan?" tanya Samuel kemudian. Ia ingin tahu reaksi Sarah seandainya ia memang tidak bisa memberikan salah seorang anak.
Namun respon Sarah benar-benar berbeda dari yang Samuel pikirkan. Wanita itu menepuk bahu Samuel dan tersenyum teduh. "Seandainya kau yang mandul, tidak ada masalah. Kita bisa mendapatkan anak dari cara apapun. Aku tidak akan pernah mempermasalahkannya!"
"Maksudmu?"
"Ya aku akan tetap bersamamu, berada di sampingmu, dan menemanimu di sampai akhir hayatku. Dan aku juga berharap siapapun yang bermasalah di antara kita tidak akan ada yang menjauh. Karena kita memang menikah karena cinta. Kekurangan yang kita miliki masing-masing adalah cara Tuhan untuk memperkuat hubungan kita. Jadi aku akan menerimanya."
"Kau tidak akan meninggalkanku?"
__ADS_1
Sarah menggeleng. "Tentu saja tidak. Sejak awal kau adalah pria pilihanku. Kalaupun kita tidak bisa memiliki anak secara biologis, mungkin Tuhan sedang menyiapkan rencana lain yang lebih baik untuk kita!"
Pandangan Samuel kemudian berubah tegas. "Tapi bagaimana jika kau yang mandul?"
Sarah menolehkan kepalanya lagi. Dari situ ia berpikir bahwa jika Samuel yang memiliki kekurangan, maka Sarah tidak akan melakukan hal bodoh dengan meninggalkan pria itu. Tapi jika Sarah yang mandul, apakah itu akan membuat suaminya meninggalkannya?
Sarah tersenyum sendu. "Jika aku yang mandul, maka aku berharap bahwa kau bisa menerimaku seperti aku bisa menerima segala kekuranganmu. Kita akan berusaha mencari jalan lain untuk memecahkan masalah ini bersama-sama. Asalkan kau tidak meninggalkanku, maka aku akan kuat. Tapi jika sekali saja kau berpaling dariku maka aku akan rapuh!"
Samuel kembali fokus pada jalanan di hadapannya. Ia tidak lagi berkomentar apa-apa sepanjang jalan sampai mereka sampai di rumah.
Ia benar-benar kelelahan dan tidak tahu harus mengatakan apa mengenai permasalahan yang sedang menimpa rumah tangganya. Di sisi lain ia benar-benar mencintai Sarah. Sedangkan di sisi lain ibunya mulai ikut campur untuk masalah rumah tangganya, Samuel benar-benar bingung.
Sarah yang melihat suaminya langsung masuk kamar dan istirahat begitu mereka pulang, benar-benar sedih. Ia tidak bisa melihat Samuel murung seperti itu. Tapi sayangnya, untuk masalah ini Sarah tidak bisa melakukan apapun kecuali berdoa pada Tuhan agar semua masalahnya bisa teratasi.
***
Dan Sarah menuruti kalimat itu. Ia datang ke ruangan Dokter Adzani begitu dirinya selesai melakukan praktik seperti biasa. Di jam pulang ia menyempatkan untuk berbincang dengan Dokter Adzani.
Dada Sarah benar-benar ingin meledak karena ia merasa panas dingin menantikan hasil yang Dokter Adzani berikan. Wanita cantik berhijab dan bertubuh gempal tersebut kemudian mengatakan kalimatnya.
"Ini adalah hasil pemeriksaan yang sudah saya lakukan!" kata Dokter Adzani sembari menunjuk map yang ia sodorkan pada Sarah.
Sarah meraih map tersebut dan tersenyum pada Dokter Adzani untuk menghilangkan ketegangan pada wajahnya. "Bagaimana hasilnya? Apa salah satu diantara kami memang tidak bisa memiliki keturunan?"
Dokter Adzani tersenyum, ia tidak menjawab secara gamblang namun wanita itu mempersilakan Sarah untuk membaca sendiri mapnya. "Silakan dokter Sarah membaca hasil laporan medisnya sendiri!"
__ADS_1
Cara membuka map tersebut dengan dada yang berdentum dan tubuh yang terasa panas dingin. Ia mulai membaca kalimat perkalimat yang disajikan dalam tabel yang hanya seorang dokter bisa membacanya. Matanya yang awas kemudian membulat ketika melihat laporan medis tersebut.
Sarah bahkan harus membacanya berulang kali untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia lihat dan baca benar-benar akurat. Semua tanda medis dari laporan kesehatan mengenai kesuburannya dan sang suami menunjukkan hasil yang tidak Sarah duga.
"Jadi..." kata salah tertahan.
Dokter azani mengangguk. Ia mengerti bahwa rekan sejawatnya itu bisa membaca laporan tersebut tanpa ia perlu menjelaskan dengan rinci. "Benar, Dokter Sarah. Memang ada masalah pada salah satu diantara kalian berdua. Dan yang tidak bisa memberikan keturunan adalah Pak Samuel sendiri!"
Sarah tidak bisa bicara.
"Setelah saya melakukan pemeriksaan dan uji laboratorium dengan melibatkan Dokter yang lain, ternyata pak Samuel tidak memiliki ****** yang subur sehingga tidak bisa membuahi sel telur. Hal tersebut disebut dengan Oligozoospermia atau ****** rendah. Hal tersebut terjadi ketika seorang pria memiliki lebih sedikit ******. Jadi dari pemeriksaan itu, menunjukkan lebih sedikit peluang untuk membuahi sel telur."
"Apa saya juga memiliki permasalahan pada kandungan saya?"
"Setelah melakukan dan USG saya tidak menemukan adanya masalah pada sel telur, tuba falopi, dan kandungan. Semuanya baik."
"Apa anda yakin?"
"Saya yakin. Jika kemandulan yang terjadi itu diderita oleh suami anda, Pak Samuel."
Tubuh Sarah langsung luruh. Ia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan pada Samuel mengenai laporan medis yang mengungkapkan fakta tersebut. Sarah tidak mungkin tega mengatakan jika permasalahan mengenai kemandulan berasal dari pria itu. Ia tidak akan bisa membuat Samuel menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa memiliki keturunan.
Mata Sarah memanas. Ia benar-benar sedih sampai menangis hingga tidak tahu harus melakukan apa untuk meyakinkan suaminya. Samuel pasti akan terpukul jika mendengar berita ini. Dan ia tidak ingin itu terjadi bagaimanapun caranya. Sarah harus membuat Samuel tidak mengetahui hal tersebut ia akan menyembunyikan fakta ini bagaimanapun caranya.
Karena Sarah akan selalu menerima dan mencintai Samuel meskipun pria itu tidak bisa memberinya keturunan.
__ADS_1
***