
"Penuh! ga ada meja kosong buat kita duduk?" Mau duduk dimana woy? tanya Rama pada mereka semua.
Tanpa lo kasih tau, kita juga tau ini kantin penuh. Lo pikir kita ga punya mata, balas Dito.
Etdah... duduk dimana woy. Ga lapar lo pada. Kesal gue lama-lama.
Lo bisa diam bentar ga Ram. Nyorosos bae lo kayak cewek. Ferry jadi kesel pada Rama, ia juga lagi cari tempat duduk buat mereka semua.
Bim yang sedari tadi diam. Melihat bagian sudut kantin. Dimana mereka bisa duduk. Dan mengajak para sahabat untuk mengikutinya.
Pov Kim
"Apa kita boleh bergabung?" tanya seseorang ntah pada siapa.
Gue hendak mulai makan, ga jadi. Mengumpat dalam hati. Semua sumpah serapah, siap gue lontarkan. Syukur, gue belum makan. Jadi, gue urungkan niat awal tadi.
"Boleh ga?" tanyanya lagi.
Ingin berkatar kasar rasanya, batin Kim!
Lo pikir gue punya meja ini. Mau duduk ya tinggal duduk, ucap Kim datar. Mereka pun duduk pada kursi yang masih kosong.
Di antara mereka berempat. Cuma satu orang yang ga Kim tau namanya. Seseorang yang bicara barusan padanya. Ada Ferry cowoknya Meg, Rama yang 11 12 kelakuannya sama seperti Dewi dan Dito yang berdiri paling ujung.
"Aaaa... teriak Dewi senang" Ia bahagia bisa satu meja, barang cogan di sekolah ini.
Wi! tegur El, memperingatinya agar berhenti bersikap konyol. Lo cari mati Wi desis El.
Tak peduli dengan peringatan El. Ia malah asik memperkenalkan dirinya, gue Dewi. Di samping Ferry itu, namanya Mega. Di sebelahnya lagi Elma dan...
Dewi berhenti sebentar. "Matilah gue pikirnya dalam hati!" dengan susah payah Dewi melanjutkan ucapannya, Dan... dan Kimmy lirihnya takut-takut menatap Kimmy.
Bimtra Atnan Pangetus, kalian bisa panggil gue Bim. Ucap seseorang itu memperkenalkan diri.
Oke, masih gue lihatin ucap Kim. Di lihatnya keadaan meja. Apa masih ada yang mau bicara? Sepertinya sudah tidak ada pikirnya. Kim berharap ia bisa makan dalam keadalan tenang saat ini. Satu sendokan siap masuk ke mulutnya. Tapi tertahan mendengar...
See! harapannya pupus...
Senang berkenalan dengan lo Bim, ucap Dewi menimpali perkataan Bim. Tak sadar dengan atmosfer yang berubah di meja itu.
Suasana yang cukup akward.
P**rang!
Satu sendok makan yang masih bertahan di udara. Terlepas dari tanga Kim. Nafsu makannya benar-benar hilang. Ia benci keadaan ini.
"Sudah gue duga" guman Meg pelan. Ia sudah memprediksi ini bakalan terjadi.
Elma tak ingin ikut campur. Bukankah ia sudah memperingati Dewi tadi.
__ADS_1
"Apa kalian kaget?" ucapnya tenang. Tak ada rasa bersalah sedikit pun. Meski tenang, ada emosi yang siap ia keluarkan. Dan lo? tunjuk Kim pada Dewi. "Bisa lo diam!"
Cogan-cogan yang ikut bergabung. Di buat diam atas tindakan Kim barusan. Mereka mulai menyetuh makanan itu dengan diam. Makan dalam seperti ini. Ada ke canggungan yang di rasakan Bim. Ia merasa bersalah pada Kimmy.
"Kim ... " panggil Dewi, merasa bersalah telah merusak suasana makan mereka.
"Tidak sekarang Dew, sanggah Meg cepat."
Tapi...
Anak ini benar-benar Oon, pikir El.
"Gue cabut!" beri tau Kim pada semuanya. Hilang sudah rasa laparnya. Tanpa menunggu jawaban yang lain. Kim pergi dan meninggalkan kantin. Makanan yang ia pesan itu ia tinggalkan. Pergi meninggalkan mereka dalam keadaan belum makan.
Punggung Kim yang makin jauh. Berbelok arah menuju kelas. Meg hanya bisa mendengus, menatap tajam pada biang masalah.
El pun ikut menatap Dewi tajam. Dewi melihat tatapan itu. Menunduk dan berkata, "maaf".
Pov Bim
"Melamun terusss..." ucap Rama.
Ajari aku...
Mencintaimu...
Seperti yang kamu mau...
"Nyanyi Dito, menyanyikan sepenggal lirik lagu."
Berisik lo Dit, sakit kepala gue dengar suaro lo. Ucap Ferry yang duduk sebangku bersama Dito.
Tenang Fer, kalo lo sakit kepala. Ada pertolongan pertama si Meg. Selagi ada pacar gunakan dengan sebaik-baiknya canda Dito.
Lo yang buat gue sakit. Kenapa jadi cewek gue yang harus menolong. Dasar tak bertanggung jawab lo? sentak Ferry pada Dito.
Brak!
Kaget gue ucap Rama. Lo mau ngebrak meja kasih tau dong Bim. Kaget ini... Rama tak terima.
"Berisik lo!" balas Bim.
Apa yang sedang lo pikirkan? tanya Ferry. Coba cerita sama kita-kita.
"Kimmy, ujar Bim. Gue merasa bersalah padanya." Apa gue mundur buat dekatin dia. Sepertinya, ia tak menyukai kehadiran gue.
"Lemah lo, baru tau gue ada orang macam lo" ucap Rama serius. Hanya seorang pecundang yang mundur sebelum perang. Lo bukan termasuk salah satu dari pecundangkan? tanya Rama pada gue.
Dalam bangat itu kata. Tak ku sangka, tak ku duka. Rama pintar ternyata, puji Dito.
__ADS_1
Jangan memulai sesuatu yang ga lo yakini berhasil. Lo bakal gagal Bim, bila lo tak mempercayai kemampuan lo sendiri, saran Ferry pada Bim.
Lo muji gue, apa ledek gue Dit? Gini-gini gue juga pintar kali ucap Rama.
Kenapa kalian yang pada debat sih. Kita lagi bahas Bim ini, lerai Ferry. Gue tendang juga lo berdua dari kelas ini. "Mau lo Ram, Dit?"
Bim tersenyum melihat kelakuan absurd sahabatnya itu.
"Gitu dong Bim" seru Rama. Senyum, jangan melamun lagi. Ntar lo kesambet, bisa geger ini kelas.
tak...
Satu jitakan mendarat di kening Rama. Siapa lagi pelakunya, kalo bukan Dito.
"Sakit gila. KDP lo."
"KDP, apaan tuh?"
"Kekerasan Dalam Persahabatan" gitu aja lo ga tau. Payah lo seru Rama terhadap Dito.
Lo aja yang absurd, balas Dito tak terima dibilang payah.
Sesama payah dan absurd ga usah berantam, Bim menengahi.
"Haha.." Ga kuat gue tawa Ferry. Sudahlah kita mulai belanjar. Guru bentar lagi masuk.
Jadi, gimana Bim keputusan lo. Lanjut apa mundur buat deketin Kim, tanya Ferry menambahi.
"Gue coba, kata Bim yakin." Senyum Bim merekah, setelah ia pikir ulang kenapa ia harus mundur. Ia bukan seorang, "loser".
"Gue dukung lo Bim, ucap Rama memberi semangat."
"Kita juga, ucap Dito Ferry berbarengan."
Thank's bro. Senyum Bim pada akhirnya. Karena dukungan para sahabatnya. Setelah itu guru memasuki kelas mereka untuk mengajar. Mereka pun belajar dengan serius.
***
Di lain tempat. Di kelas sebelah. Kelas yang di tempati oleh Kimmy. Ada seseorang yang menghamprinya.
Selepas perginya Kim. Dewi merasa bersalah, dengan cepat ia menyudahi acara makannya. Membeli roti dan sebotol minuman. Ia tau Kim belum makan. Apa lagi melihat makanan Kim, yang belum tersentuh sedikit pun.
"Bawa apa lo?" tanya El melihat bawaan di tangan Dewi.
Roti dan sebotol minuman. "Lo mau makan lagi?" tanya Meg kepada Dewi. Penasaran, itu yang terlintas di benak Meg. Pasalnya ia tau. Sahabatnya itu sudah makan banyak tadi di kantin bareng mereka.
Merasa di acuhkan. El dan Meg menyusul Dewi menuju ke kelas mereka. Dewi yang buru-buru pergi. Di kelas, mereka lihat Dewi menyodorkan sebuah roti dan sebotol minuman kepada seseorang. Terjawab sudah, rasa penasaran mereka. Mereka pun ikut bergabung.
"Kim..." panggil Dewi dan menyodorkan sebuah roti dan sebotol minuman di hadapan Kim. Menunduk dengan tangan ke depan memegang roti dan sebotol minum di dua sisi tangannya. "Maaf" lirih Dewi.
__ADS_1