
"Dia siapa?"
Semua mata menatap ke arah suara.
"Mata-nya biasa aja dong! Rasa di kuliti hidup-hidup gue!" El ikut nimbrung duduk bersama dengan yang lainnya.
Lagian lo! Baru nyampai ucapin permisi kek. Ini malah main tanya aja. Kayak jelangkung lo El, cetus Dito.
"Hey, Kim!" sapaan lembut seseorang. Duduk sini! Tangannya menepuk-nepuk sofa di sebelahnya agar Kim mendudukinya.
Alis mata Kim terangkat ke atas. Ia pun menduduki tempat di sebelah cewek yang menyapanya tadi. Bodo amat! Siapa pun dia Kim tak peduli.
"Habis ngapain?" ujar Bim ntah pada siapa. Tidak menjawab pertanyaan El barusan.
Hening!
Yang lain saling lirik. Ini si Bim nanya sama siapa. Rama menatap sahabatnya tersebut seakan berkata 'lo bertanya sama siapa?' Bim yang mengerti maksud tatapan itu menyahut, "Kimmy".
Kim yang mendengar namanya di sebut-sebut menoleh. "Apa?" ujarnya.
"Kamu habis ngapain?"
"Menurut lo!" ketus Kim.
"Habis makan nonton shopping" ujar Dewi menjelaskan. Dewi emang mulutnya lemes dengar lancarnya memberi tau kegiatan mereka sedari tadi di mall. Bim pun tak bertanya lagi. Ia mengarahkan pandangnya pada cewek di dekatnya.
Posesif bangat lo Bim ujar Ferry. Arah matanya menatap tangan yang saling mengenggam itu. "Dia siapa?" bisik Meg duduk di dekat Ferry. Ia penasaran siapa cewek ini. Kenapa Bim begitu posesif terhadap cewek itu.
"Balik yuk!" Kim melirik para sahabatnya. Bosan. Ia benar-benar bosan. Kim kira ia bisa refreshing di tempat ini. Perkiraannya salah.
"Aduh... bentar lagi ya" Dewi memberi penawaran pada Kim. Kim memutar bola matanya malas. Lalu ia menatap pada yang lain. Meg dengan gelengan kepalanya. Tinggal El harapannya. Ia pun melirik pada sahabatnya tersebut. Sebuah anggukan kepala. El tentu memilih pulang bareng Kim dari pada jadi obat nyamuk.
Yuk' El ajak Kim. El pun berdiri. Ia menghampiri Kim. Kim hendak siap melangkah berhenti sebentar. Kepalanya menoleh ke belakang 'terima kasih' ujarnya. Lalu melangkap pergi bersama El.
Benar sulit buat di tebak batin seseorang!
"Terima kasih untuk apa?" tanya Arleta bingun. Dia unik bisik Leta di telinga Bim. Bibir sudut Bim terangkat ke atas. Dan mengacak-acak rambut Leta dengan gemes. Bimmm... kesel Leta melihat tindakan kembarannya tersebut.
Hmmm... deheman panjang Meg membuat yang lain menoleh padanya. Pasalnya ia penasaran. Apa lagi melihat keakraban pasangan di hadapannya ini. Bukahkan cowok ini suka pada sahabatnya. Terus apa yang ia lihat ini.
H-hai... sapa Arleta gugup. Ia sungguh canggung. Mata itu menatapnya begitu intens 'gue Arleta' ujarnya memperkenalkan diri.
Hai, gue Dewi ucapnya gembira. Dan itu Mega. Lo bisa panggil dia Meg. Iya kan Meg tanya Dewi mencolek tubuh Meg.
Hm! guman Meg. Lo siapanya Bim? tanya Meg terhadap Leta.
__ADS_1
Gue! tunjuk Leta pada dirinya sendiri. Gue itu Kem------
"Kita pulang sekarang!" potong Bim cepat.
Gue balik ujar Bim pada sahabatnya terlebih dahulu. Di tariknya tangan Arleta hingga punggungnya menjauh dari pandangan mereka.
Ck. si Bim main potong aja. "Teman kamu tuh" ucap Meg kesel.
"Kok marahnya ke aku" ujar Ferry.
"Siapa yang marah. Aku cuma bilang teman kamu tuh" tekan Meg.
"Sama aja" ucap Ferry cemberut. Keselnya sama siapa. Marahnya sama siapa gumannya cemberut.
"Kita pulang yuk Wi" ajak Rama. Dewi pun menerima ajakan itu. Kita tinggalin aja mereka berdua bisiknya. Diam-diam mereka melangkah pergi.
Meg dan Ferry yang masih ribut tak sadar di tinggalkan teman mereka.
"Kok sunyi ya Fer?"
"Iya, kok ada yang aneh ya?"
"Aneh kenapa?"
Mereka menoleh ke belakang. Lalu saling lirik. Tiba-tiba---
Aaaa... teriak mereka berdua. Teman *******. Teman durjanah. Teman minta di ajar. Sumpah serapah mereka keluarkan. Mereka pun akhirnya memilih pulang.
"Gara-gara kamu ini" tuduh Meg pada Ferry. Coba aja kamu---
Cup
Ferry *******. Cowok kurang ajar. Gue adui babak gue lo. *******! ujar Meg marah-marah.
Baru cium tangan. Belum bibir. Ceramahnya minta ampun. Lagian kamu cerewet bangat sih cetus Ferry.
Belum bibir. Meg semakin murka. Cowoknya ini benar-benar. Tanpa babibu Meg melayangkan satu pukulan di wajahnya. Akh... ringis Ferry akan tonjokan itu.
Meggg... teriak Ferry. Aduh... muka tampan gue gumannya pelan.
"Makan tuh muka tampan lo" cetus Meg. Ia menatap sinis pada Ferry. Syukurin! mau jadi apa lo. Otak lo isinya mesum semua. Ga sia-sia gue belajar ilmu bela diri sama Kimkim ucapnya bangga.
Canda sayang. Kamu kok jadi bar-bar gini. Pukulan kamu sakit bangat loh ini. "Sejak kapan kamu belajar bela diri?" ujar Ferry.
"Canda sayang" ulang Meg. Kalau gue bar-bar. Terus belajar bela diri. Masalah! ketus Meg terhadap Ferry.
__ADS_1
Aku nanya baik-baik loh Meg. Kamu kok ketus gitu ngomongnya. Ferry tak habis pikir. Meg ini emosian orangnya. Gue cari cewek lain tau rasa lo gumannya pelan.
"Cari saja sana!"
***
Ke esokan nya di kantin.
"Apa lo? Mau gue colok tuh mata" Meg masih kesel akan cowok satu ini. Apa lagi soal kemaren. Para sahabat mereka terheran. Tumben pasangan ini tidak mengubar ke mesraan.
"Tumben" celetuk Dito.
"Sensi benar buk" canda El pada sahabatnya tersebut. Lo pms Meg?
"Maklum masalah rumah tangga El" ucap Rama geli.
Pantas! ucap Elma tergelak.
Ferrr teriak seseorang. "Gue boleh gabung ga?" tanyanya tanpa melihat tatapan yang lain. Ferry menelan salivanya. Pandangannya bertemu. Mata itu menatapnya permusuhan. Seakan-akan 'berani lo nyakitin teman gue habis lo' bisa lo pergi usirnya pada cewek tersebut.
Fer... panggilnya manja. Meg yang melihat itu pengen muntah.
"You again!" ucap seseorang. Merasa ada yang bicara padanya. Cewek itu mencari sumber suara. Deg. Ia menelan salivanya dengan kasar. Mata itu menatapnya tajam. Seperti tatapan waktu itu.
"Mengingat sesuatu!" ucapnya lembut. Teman-temannya diam dan menonton. Mereka menunggu kira-kira apa yang akan Kim lakukan pada cewek ini.
"Lo siapa?" ujarnya sok galak. Nyatanya ia merasa ke takutan. Ingatan itu masih jelas terekam di otaknya. Kata lembut Kim barusan pertanda sesuatu yang buruk baginya.
Apa perlu gue memperkenalkan diri kata Kim menyeringai. Sahabatnya yang melihat seringai itu mengedik ngeri. Kim berdiri. Beranjak. Satu langkah Kim maju. Satu langkah cewek itu mundur.
"Kenapa mundur?" ucap Kim dengan mimik sedih. Ia berhenti sebentar. Meg dan Bim cs cengo melihat itu. Mereka tak percaya. Kim sedih. Lalu ia melangkah lagi. Lagi! cewek itu kembali mundur. Kim kembali berhenti.
"Mundur lagi" guman Kim sedih. Wajahnya benar-benar sedih. Ia menunduk ke bawah sejenak. Terus menongak ke depan. Masih wajah sedih. "Bisa kau pergi sekarang?" ujar Kim datar. Wajah sedih tadi berubah menjadi dingin.
"Jika aku tidak mau" ucapnya pura-pura tegas. Padahal ia udah keringat dingin. Ia takut. Namun gengsi untuk mengakui.
Mati gue kalau ia melakukan kayak waktu itu. Di tempat yang sama pula gumanya dalan hati
"Begitu!" ujar Kim. Ia menghirup napas dalam-dalam . Lalu di hembuskannya. Ia berjalan dengan langkah cepat. Dirinya udah beranjak pindah di depan wajah cewek itu. Tangan Kim terangkat ke atas. Namun...
Arleta!
Angel!
Sahut mereka bersamaan.
__ADS_1