
Sepasang mata yang terus memperhatikan bangunan yang di depannya. Rumah yang cukup besar dan halaman yang luas. Bimbang antara mengetok pintu buat menemui penghuni rumah. Atau ia balik pulang. Tapi ia udah telanjur berada di sini.
Perang bantin dengan diri sendiri. Lama ia menimbang. Ia putuskan untuk mengetok pintu.
tok... tok... tok...
"Tak ada jawaban! Oke mari coba lagi!"
tok... tok... tok...
Masih tidak! Oke satu kali lagi batinnya.
tok... to..k Ceklek! pintu pun di buka dari dalam. Dan keluarlah sosok perempuan dengan pakaian santainya. Rambut yang digulung habis. Terkesan acak-acakan.
Melihat sosok Kim dengan pakaian rumahnya, membuat Bim jadi salah tingkah. Tangan yang masih mengantung di udara segera ia turunkan.
Bunyi ketokan pintu dari luar, membuat Kim beranjak dari kasur. Apa ada tamu? Siapa yang bertamu siang-siang begini? pikirnya hendak membuka pintu. Di lihatnya seseorang berdiri di hadapanya dengan satu tangan mengantung di udara. Kalian tau dia siapa? ya, Bimtra Atnan Pangetus. Apa yang membawa laki-laki ini kerumahnya.
"Ngpain lo?" tanya Kim dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Gue ga di persilahkan masuk?"
"Gue ga menerima tamu. Mending lo pulang usir Kim pada Bim."
"Tapi, gue ingin bertamu." kekehnya.
Gue bilang, gue ga menerima tamu. Lo paham Bahasa Indonesia ga sih? tanya Kim greget dengan keras kepala Bim.
Tidak peduli ucapan Kim barusan. Bim mendrobos masuk tanpa di persilahkan sang tuan rumah masuk. Ia menelusuri setiap sudut. Dan melihat pigura sepasang orang dewasa mengampit seorang anak remaja. Dimana sang gadis remaja tersenyum ke depan. Senyum yang begitu lepas.
Di pegangnya foto itu sebentar dan menaruhnya kembali ke tempat semula. Belum sempat ia menaruh foto tersebut. Sebuah tangan merebutnya terlibah dahulu dan beralih tangan pada Kim.
"Lo... Gue benci sama lo." Sekarang lo keluar dari rumah gue! usir Kim pada Bim dan membuang muka ke arah lain.
Bim awalnya cukup kaget ucapan Kim barusan. Bukannya tersinggung. Bim malah menyerengai. Benci! Benarkah Kim membenci dirinya? Atau justru kebalikannya.
"Benci? Kenapa lo membenci gue? Atau ada sesuatu yang lo tutupi?"
"Lo jangan sok tau." Kim di buat gugup oleh Bim. Ia merasa aneh dalam dirinya. Di tipisnya pikiran itu.
Gue dengar dari anak-anak, lo orang yang paling tenang dalam mengendalikan diri. Umpama itu sepertinya salah. Sekarang gue malah melihat lo gugup. "Apa lo gugup karena gue?" ucap Bim jahil.
__ADS_1
"Semerdeka lo aja!"
Di lihatnya Kim yang mau pergi. Bim segera menahan lengannya.
"Lo mau kemana sih! Sini aja dulu!"
"Lepas!"
Tak ada niat buat melepaskan tangannya, pada lengan yang terasa kecil di telapak tangannya. Bim malah menarik lengan itu terlalu kencang. Akibatnya, Kim menubruk tubuhnya. Akh... ringis Kim dan mengusap keningnya.
"Maaf!" Kamu ga apa-apa? khawatir Bim. Coba sini aku lihat. Di helusnya kening itu dengan lembut.
Ini anak kenapa lagi? Perasaan tadi ngomongnya lo-gue. Kenapa jadi aku-kamu. Pakai khawatir segala lagi pikir Kim.
"Kok lo khawatir gitu?"
Jelas gue khawatir sama lo. Lo cewek yang... Bim tidak melanjutkan omongannya. "Lupakan!" ucapan gue barusan. Kalo begitu gue pulang dulu pamit Bim pada Kim.
Bagus kalo begitu! Sana... sana... kata Kim dengan gerakan tangan yang mengusir. Dasar aneh!
Setelah ke pulangan Bim dari rumahnya. Rumah itu nampak sunyi. Tak ada canda dan tawa. Hanya ada ke heningan. Seperti ke hadiran Bim beberapa saat lalu. Tiba-tiba ia tidak menyukai suasana ini. Kenapa hatinya merasa kesepian. "Ada apa dengannya? Kim membantin."
Lupakan. Paling ini hanya perasaan sesaat. Berlalu ke kamar dan menjatuhkan diri di atas kasur hingga Kim masuk ke alam mimpi.
Senyuman di wajahnya tak lepas dari pandangan sang Bunda. Bim masuk ke dalam rumah dan tak menyadari keberadaan keluarganya yang duduk di ruang tamu.
"Senyum-senyum sendiri, gila kamu Bim?" heran Bunda melihat tingkah laku anaknya itu.
Masuk rumah itu salam dulu sama orang tua, tegurnya lagi. Ini malah senyum ga jelas.
Hehe... ada Bunda sama Ayah ya. Pada ngpani di sini? tanya Bim dan menyalami kedua tangan orang tuanya.
Suka-suka Ayah lah! Toh ini rumah Ayah dan Bunda! Mau ngpain juga terserah Ayah. Dari mana kamu, jam segini baru pulang? Ingat kamu sekarang udah kelas XII. Jangan banyak main-main lagi beri tau Ayah pada gue.
Ayah gue ajaib benar dah timpal Bim dalam hati. "Kalo cari calon mantu boleh ga yah?" canda Bim pada orang tuanya.
Sekolah dulu yang benar. Kamu saja masih numpang hidup sama Ayah. Sok-sokan cari mantu segala buat kami.
Becanda yah cengesan. Kalo cari mantu ga boleh? Cari pacar boleh dong yah, bun? tanyanya lagi.
Sudah-sudah lebih baik kamu masuk ke kamar. Jangan lupa mandi habis itu makan. Bim segera masuk dalam kamar dan meninggalkan orang tuanya.
__ADS_1
Selesai mandi dan makan. Bim balik lagi ke dalam kamar. Mengerjakan tugas sekolahnya. Sambil menyetel lagu musik di Handphonenya. Baru ia mengerjakan setengah, sepangkal lirik lagu yang di dengarnya terasa menyidir dirinya.
Kalo cinta ya bilang cinta...
Kalo sayang ya bilang sayang...
Jangan di tunda-tunda...
Nanti di ambil orang...
Ini lagu nyidir gue bangat gumannya. Di ambilnya Hp tadi dan di tekannya tombol pause. Musik pun berhenti dan Bim melanjutkan mengerjakan tugasnya agar cepat selesai.
***
Sepasang anak adam hawa merasa jengkel pada kedua pasangan yang berada di hadapan mereka.
Satu pasangan yang mengubar kemesraan. Satu pasangan lainnya melakukan PDKT. Mereka berdua hanya memhempuskan napas karena bosan.
Mesra-mesraannya bisa di hentikan dulu ga. Gue di sini bukan mau nonton 21+ ke atas, ucap El dengan serius.
Dan lo Ram bisa hentikan dulu PDKTnya. Mau muntah gue dengar gombalan lo kata Dito malas.
Mulut lo El, pengen gue tabok rasanya. Apaan 21+ ke atas. Gini-gini gue tau batasan ya. Ya kali gue lakuin begituan, benar ga Yank kata Meg meminta dukungan pada Ferry.
Benar yang di katakan Meg. Bisa habis gue sama emak gue melakukan begituan. Meski gue nakal bukan berarti gue ngerusak anak orang kata Ferry menimpali ucapan Meg padanya.
Jadi, kalian semua udah pada tau permasalahan kita. Apa solusi kalian buat masalah kita ini. Kata El meminta pendapat pada yang lain. Menceritakan dari Dewi yang semula meminta maaf dan Kimmy yang memutus menjauh dari mereka. "Apa?" ucap El mulai kesel.
Di liriknya mereka semua dengan pikiran masing-masing. Tak ada satu pun mengeluarkan pendapat. Hanya gelengan kepala yang El lihat.
Benar nihil otak lo pada. Lama gue nunggu ga ada satu pun solusi dari kalian. Giliran buat mesra-mesraan cepat. Gombal-gombala cepat. Giliran begini pada diam. Bikin El bete habis.
Gue ada ide kata Dito pada mereka semua. Sini-sini ucapnya menyuruh mereka semua mendekat. Blablabla... Gue ga tau berhasil apa ga yang penting mencoba. Gimana kalian pada setuju ga.
"Gue ngikut aja"
"Ngikut kemana Wi? Ke hati gue ya canda Rama"
Gue juga setuju. Kalo gitu gue balik duluan Meg Wi semuanya. El meninggalkan mereka karena udah sore. Di susul Dewi selanjutnya.
Dan tingal Meg dan Ferry cs.
__ADS_1
Aku balik juga ya. Udah sore. Ga enak juga kata Ferry pada Meg pamit untuk pulang. Kita juga pamit ya Meg ucap yang lainnya.
Selepas para sahabatnya udah pada pulang. "Semoga saja berhasil!" gumannya berharap.