
"Cukup kak! , Berapa kali harus ku katakan!. Aku dan Kak Ayas hanya sekedar teman. Tak lebih!"
"Dan berapa kali harus ku katakan padamu Sasa, bahwa aku tak suka melihatmu dekat dengannya!" Hardik Amar tak senang.
"Kami hanya teman kak, dia temanku bahkan dia juga teman kak Amar" ucap Sasa pias
"Aku tak pernah mengatakan bahwa lelaki itu kawanku!" Sinis Amar
"Kami hanya sekedar bercerita dan aku memintanya memberiku sedikit solusi masalahku!"
"Solusi apa? Solusi agar kita berdua putus!" ucap Amar emosi
"Terserah apa yang kak Amar pikirkan, aku lelah" Sasa berdiri dari duduknya dan berlalu meninggalkan sang kekasih yang masih terlihat menahan amarah.
***
Selalu seperti ini , berakhir dengan emosi setiap kali ada teman lelaki yang dekat denganku. Kak Amar tak pernah berubah. tidak, hanya perubahan kecil dari apa yang ku perhatikan semenjak kita putus dan akhirnya bersama lagi karna bujuk rayunya waktu itu. Waktu itu dia berselingkuh dengan wanita ****** yang sialnya sexy. Oke, aku bahkan mengakuinya bahwa wanita itu sexy tapi sungguh, bisakah dia berselingkuh dengan wanita yang lebih baik dariku? lebih cantik, lebih pintar . Oh God!! ****** itu bahkan tak ada apa apanya dibandingkan dengan diriku! hanya bodynya saja yg sexy. Apa memang semua lelaki lebih suka wanita sexy?.
Dan akhirnya sudah 2 bulan ini kami bersama lagi. berusaha melanjutkan merajut cinta yang kami hentikan di tengah jalan. jujur saja aku mencintai Kak Amar, sangat jika kau ingin tau. Dia adalah kisah cinta nyata pertama ku. Lelaki pertama yang mengajakku berkencan dan sebagainya. seperti sewajarnya pasangan pada umumnya. Aku sungguh Kuno dengan baru merasakan masa berpacaran pada masa awal kuliah semester pertama dan berlanjut hingga semester 4 sekarang ini dengan berbagai macam masalah yang membuatku terkadang berfikir haruskah aku melanjutkan hubungan ini.
Kami adalah pasangan serasi, Aku yang Cantik, pintar, modis dan ramah bersanding dengan Kak Amar yang notabenenya lelaki cool, tampan namun tak banyak bicara tipe lelaki tsundere. maka tak jarang ada yang tak suka padaku karna berpacaran dengan kak Amar, secara kak Amar banyak yang naksir.
Tidak hanya waktu SMA , sekarang pun banyak yang naksir kak Amar. Dulu kami 1 sekolah sekarang pun 1 kampus. Sebenarnya akulah yang pertama menyatakan cinta pada kak Amar. Sungguh membuatku berdebar, dan tanpa ku sangka Kak Amar membalasnya dan menjadi pacarku hingga saat ini.
***
"Kenapa?, ditekuk Mulu tu muka?" tanya Mala mendekati Sasa yang tampak jengah di sudut koridor kampus.
"Kak Amar marah lagi karna tahu aku duduk berdua dengan Kak Ayas di Caffe Rabu lalu" jawab Sasa malas.
"Dasar lelaki, jiwa ngaturnya kalo keluar nyebelin kan" cibir Mala akupun terkekeh mendengar perkataannya.
"Bangettttt.... kalo udah gitu cerewetnya ngalahin tukang jual cabe kompleks sebelah tau gak" ucap Sasa semangat.
__ADS_1
"Haha.. dasar! , eh itu muka Kak Ayas kenapa?" tanya Mala mengalihkan topik dan seketika membuat Sasa memandang arah pandang Mala yg menanyakan wajah kak Ayas. Sasa yang melihat wajah Ayas pun terkejut karna wajah Ayas terlihat ada luka lebam berwarna biru dan juga darah mengalir di sudut bibirnya. Seketika itu pun Sasa berlari mendekat ke arah Ayas lalu menggenggam tangan kanan Ayas. Ayas yang merasa tangannya di genggam pun menoleh dan melihat siapa yang menggenggam tangannya. Ayas pun tersenyum memandang Sasa.
"Kak Ayas kenapa? ini.. kenapa bisa kayak gini?" tanya Sasa khawatir sembari tangannya mencoba menyentuh luka Ayas namun ia tahan karena takut membuat Ayas kesakitan.
"Aku gapapa kok Sa, santai aja kali. namanya juga cowo, luka kayak gini mah biasa" ucap Ayas menenangkan.
"Yakin?" tanya Mala ikut mendekat dan reflek menekan lebam pada wajah Ayas dengan telunjuknya.
"Akkhhh... Mala!" ringis Ayas menahan nyeri
"katanya ga sakit" cibir Mala
"Ya ga gitu juga dong La" jawab Sasa sedikit terkekeh
"Habisnya pake gaya, bilang ga sak..."
"Sasa!" Pekik suara Bariton yang terasa tegas dari arah belakang memotong percakapan mereka. Sontak membuat mereka menoleh dan melihat Amar mendekati mereka dengan tampangnya yang tak bersahabat.
"Sepertinya pelajaran yang gue kasih tadi belom bikin Lo jera buat berhenti deketin cewek gue" ucap Amar tajam dan mengancam.
"Kak Amar udah ayo kak" ucap Sasa dan mencoba menarik Amar menjauh dari Ayas. Sedangkan Ayas hanya diam namun pandangannya menatap tajam seolah menantang Amar.
Amar yang merasa tangannya terus saja di tarik dan juga mendengar suara rengekan kekasihnya meminta pergi pun akhirnya melempar remasannya pada kerah baju Ayas dan kembali memperingati Ayas agar menjauhi Sasa lalu pergi menjauhi koridor kampus dengan merangkul Sasa posesif.
"Masuk!" perintah Amar pada Sasa setelah membukakan pintu mobil. Sasa yang tak ingin membuat Amar semakin murka hanya menurut dan memasuki mobil Amar. Lama mobil Amar meninggalkan kampus namun hanya ada keheningan di dalam mobil. Tak ada yang mau memulai percakapan, lebih tepatnya Sasa takut memulai percakapan. setelah beberapa menit berlalu akhirnya Sasa membuka suara.
"Kak Amar"
"Apa"
"Kak Amar yang pukulin Kak Ayas" tanya Sasa takut
"Iya, kenapa? mau belain dia" ucap Amar tajam
__ADS_1
"E.. enggak kak, bukan gitu, kenapa harus di pukul begitu memang kenapa"
"Aku ga suka dia deketin kamu Sa!"
"Tapi ga gitu juga dong kak"
"Terus apa!" hardik Amar emosi lalu menepikan mobil untuk berhenti dan mengusap wajahnya kasar.
Hati Sasa terasa di remas saat mendengar kekasihnya membentak dirinya. Sasa yang melihat tampak merasa sedikit bersalah, karna seharusnya dirinya bisa memahami bahwa kekasihnya ini amat sangat pencemburu. tangan Sasa pun terulur untuk memeluk Amar dari samping dan menyandarkan kepalanya pada bahu Amar.
"Kak, udah dong jangan marah lagi, Sasa minta maaf. Sasa takut kalo Kak Amar bentak Sasa kayak gitu" cicit Sasa manja dengan jari-jari tangannya usil pada potongan baju Amar.
Amar yang melihat kelakuan kekasihnya itu mau tak mau membuat suasana hatinya lebih baik. dirinya pun akhirnya balik memeluk Sasa dan mengecup puncak kepala Sasa.
"Maaf, kalo tadi aku bentak kamu, tolong jangan di ulangin lagi Sa, aku cuma ga mau kehilangan kamu" ucap Amar sendu
Sasa yang mendengar ucapan Amar pun tersenyum dan memandang Amar.
"Aku juga ga mau kehilangan kak Amar" ucap Sasa serak dan entah kenapa air mata lolos jatuh mengalir di pipinya. Amar yang melihatnya pun mengusapkan kedua ibu jarinya untuk menghapus air mata kekasihnya, sungguh melihat kekasihnya menangis adalah hal yang menyakitkan bagi Amar.
"Maaf, maaf Sa, jangan menangis, maafkan aku" ucap Amar dengan rasa bersalah.
Sasa pun menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Amar dan memeluk erat Amar.
"Aku tak apa kak, Kak Amar tak perlu minta maaf"
***
Terimakasih sudah membaca ❤️
jangan lupa tinggalkan jejak jika kalian suka, cukup klik like, fav, komen dan vote 😚
bye bye..
__ADS_1