Jadi, Dia Atau Siapa?

Jadi, Dia Atau Siapa?
Episode 3


__ADS_3

Amar memasuki kamar mandi dan dengan tergesa segera melepaskan seluruh pakaiannya dan menyalakan shower. Ia mengumpat dalam redaman gemericik air shower yang jatuh menghujam lantai kamar mandi. Hampir saja dirinya melewati batasan, menjaga Sasa tetap menjadi utuh tak kurang sedikit pun adalah hal yang dirinya perjuangkan. Ia berprinsip bahwa dirinya tak akan melewati batasan pada Sasa. Ia hanya akan menjadikan Sasa seutuhnya miliknya jika mereka telat menikah. Sungguh prinsip yang kuno untuk jaman seperti sekarang, namun Amar tetap berpegang pada prinsip miliknya. Jujur saja Amar memang beberapa kali terlihat keluar masuk club' malam, namun Ia berani bersumpah bahwa dirinya masih belum pernah merasakan ataupun melakukan apa yang mereka sebut 'surga dunia' itu. Ia lebih memilih menuntaskan dengan mengorbankan tangannya untuk bekerja ekstra dari pada menggunakan lubang para wanita rendahan.


Banyak orang yang mungkin tak percaya dengan fakta ini namun begitulah adanya. Bahkan dengan Zita mantan selingkuhannya dulu yang membuat hubungannya dengan Sasa hancur. Wanita ****** yang menggodanya bahkan memaksanya untuk menjadikan dirinya kekasih Amar walau hanya simpanan dan dengan bodohnya Amar menyetujuinya lalu tanpa tahu malu wanita sialan itu memberi tahu sebuah kebenaran yang bercampur kebohongan pada Sasa dan berakhir membuat hubungan mereka hancur.


Flashback On


2 tahun lalu, 2 bulan setelah Sasa menyatakan perasaannya pada Amar dan mulai berpacaran


Massage


'Kak, bisakah kita bertemu - Zita'


'Aku perlu bicara, ada hal penting yang ingin ku sampaikan'


'Aku tunggu. Alfon Caffe jam 7 malam ini'


Amar mengernyit tak mengerti, untuk apa wanita itu mengajaknya bertemu. Dirinya bahkan tak mengenal dekat Zita, yang Amar tau tentang Zita hanyalah wanita dengan pergaulan yang bebas.


Tak ingin ambil pusing, Amar menyetujui untuk bertemu Zita di tempat yang sudah wanita itu katakan. Sesampainya di tempat perjanjian, Amar mendekat ke arah wanita dengan busana yang mempertontonkan lekuk tubuhnya yang sexy, sungguh godaan bagi Amar yang juga lelaki normal.


Zita tersenyum ke arah Amar lalu mempersilahkan Amar duduk.


"Kak Amar ingin minum apa" tanyanya dengan nada yang dibuat semanis mungkin


Amar hanya menggelengkan kepala "To the point" ucapnya datar tanpa memandang Zita.


Zita yang melihat sifat Amar yang cuek hanya tersenyum getir lalu dengan perlahan menggenggam sebelah tangan Amar dengan kedua tangannya. Amar yang merasakan sentuhan di tangannya dengan cepat menatap Zita heran.


"Aku menyukai mu kak, sudah lama aku ingin mengatakannya, tapi tak pernah ada kesempatan, dan baru kali ini aku dapat mengatakannya" ucap Zita dengan sikap malu-malu. Amar yang mendengarnya mengernyit heran. Ia akan menjawab dan melepas genggaman tangan Zita di tangannya namun Zita menolak dengan terus menggenggam tangan Amar. Amar mendengus jengah


"Aku sudah memiliki kekasih" ucap Amar datar

__ADS_1


"Aku tau kak, apa kak Amar benar-benar mencintainya" tanya Zita memancing. Zita berfikir bahwa lelaki tampan dan cuek seperti Amar tak mungkin bisa langsung jatuh cinta pada gadis polos semacam Sasa, apa lagi dengan perkenalan mereka yang hanya sebentar di kampus, walaupun Sasa adalah gadis yang cantik tapi dia terlalu biasa dan polos.


Amar yang mendengar pertanyaan Zita pun sedikit terkejut dan mulai berfikir. Jika di pikirkan lagi mungkin memang benar apakah aku mencintai Sasa, jawabannya adalah tidak,


dirinya menerima Sasa waktu itu karena memang dirinya sedang tak menggandeng siapapun dan juga sebagai pengisi waktu luang, bahkan mereka jarang sekali pergi bersama selama 2 bulan pacaran ini. Amar tertawa meremehkan dirinya sendiri lalu menarik sebelah tangannya yang masih saja di genggam Zita dan mengusap wajahnya kasar.


"Apa maumu" tanya Amar to the point


"Aku ingin menjadi pacar kak Amar" ucap Zita manja


"Kau tau aku sudah memiliki Sasa"


"Putuskan saja dia, kau tak mencintai nya" ucap Zita tanpa ragu


"Aku tak bisa begitu saja memutuskannya" ucap Amar datar


"Tapi aku tetap ingin menjadi kekasihmu"


"Tak masalah jika aku jadi yang ke dua , lagi pula kau menganggapnya pengisi waktu luang bukan? kalian bahkan jarang bertemu bukan, jadi waktumu sekarang hanya akan denganku" ucapnya terkesan tanpa ingin penolakan.


Amar yang merasa penat dengan permasalahan ini hanya dapat menuruti permintaan Zita tanpa berniat menolak walaupun Zita tak secantik Sasa Amar mengakui bahwa Zita lebih sexy dan menggoda. Amar pun tau keputusannya ini mungkin akan mendatangkan penyesalan nantinya ataupun bisa tidak. Karena menurutnya apa yang di katakan Zita ada benarnya bahwa Sasa hanyalah pengisi waktu luang, tak ada cinta bersarang di hatinya. Jadi tak masalah bukan jika ia mencoba menjadi lelaki brengsek.


***


Setelah kejadian tempo lalu di Caffe, Zita resmi menjadi selingkuhan Amar namun dengan syarat bahwa dirinya tak akan membocorkan hubungan mereka pada Sasa.


Jam berlalu menjadi hari, hari berubah menjadi Minggu, dan Minggu berlalu menjadi bulan hubungan Amar dan Sasa masih sama hanya sekedar berbalas pesan tanpa hal lain seperti pergi berkencan atau yang lain, terkadang Sasa berfikir apakah begini rasanya berpacaran dengan orang yang cuek. Ingin sebenarnya dirinya mengajak Amar sekedar berjalan-jalan bersama menghabiskan waktu, namun dirinya terlalu malu meminta lebih. Dirinya di terimapun sebenarnya dirinya sudah sangat bersyukur bahwa pernyataan cinta pertamanya tak di tolak.


Sedangkan Zita dan Amar pun semakin sering pergi bersama. Amar menikmati semua perlakuan Zita yang agresif padanya. Ia juga lelaki normal. namun di satu sisi dirinya tak tau bahwa sebenarnya Zita telah melanggar janjinya pada Amar bahwa dirinya tak akan mengatakan hubungan mereka pada Sasa dan bahkan Zita mengancam Sasa agar memutuskan Amar. Dan benar saja tiba-tiba Sasa mengajak Amar bertemu dan menanyakan perihal apa yang di katakan Zita bahwa Zita dan Amar berpacaran apakah benar. Dan Amar tanpa mau mengelak hanya menjawabnya dengan anggukan dan jawaban singkat yang datar tanpa mau mencoba membujuk atau merayu Sasa.


Sasa yang melihat respon Amar yang acuh akhirnya mengerti, bahwa selama ini dirinya hanya dianggap sebagai hiburan semata.

__ADS_1


Dan akhirnya Sasa memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dengan menahan air mata yang tak tahu malu terus saja keluar membasahi pipinya.


"Maaf" hanya itu kata yang keluar dari bibir Amar sebelum akhirnya Sasa pergi meninggalkan Amar.


Setelah berita putusnya Amar dengan Sasa menyebar dan berita Amar yang tengah berpacaran dengan Zita juga menyebar. banyak dari kawan Amar yang merutuki kebodohan Amar yang menyebut bahwa Amar telah menyia-nyiakan wanita secantik dan sebaik Sasa hanya untuk wanita ****** semacam Zita yang rela membuka lebar pahanya untuk setiap lelaki. Dan dari situlah Amar akhirnya mulai menyadari kesalahannya.


Flashback off


"Kak Amar"


"Kak Amar" ucap Sasa menyadarkan Amar yang tengah duduk di sofa, melamun dengan wujud bertelanjang dada dan rambut hitamnya yang masih basah sehabis mandi. Amar pun tersenyum memandang Sasa lalu memeluknya erat dan menenggelamkan wajahnya pada perut Sasa yang berdiri di hadapannya.


"Kak, bajuku nanti basah" Rajuk Sasa


"Kak Amar memikirkan apa" tanyanya kemudian


"Maaf"


"Maaf dulu aku pernah.."


"Sstttt... tak perlu di ingat lagi, aku sudah memaafkan kak Amar" potong Sasa cepat lalu membalas pelukan Amar dan membelai rambut hitam Amar yang basah.


"Aku akan mengerikan rambut kak Amar, aku ambil handuk dulu" ucap Sasa sendu dan berlalu meninggalkan Amar.


"Terimakasih untuk segalanya sayang, love you" Ucap Amar penuh cinta dengan memandang netra cantik Sasa yang tengah mengeringkan rambutnya. Sasa pun tersenyum dan membalas ucapan Amar "Love you more "


***


Terimakasih sudah membaca ❤️


jangan lupa tinggalkan jejak jika kalian suka, cukup klik like, fav, komen dan vote 😚

__ADS_1


bye bye..


__ADS_2