Jadi, Dia Atau Siapa?

Jadi, Dia Atau Siapa?
Episode 4


__ADS_3

"Aku akan menjemputmu besok"


"Oke, aku tunggu" ucap Sasa tersenyum lebar lalu melambaikan tangannya menghantar kepergian Amar meninggalkan gedung apartemennya untuk kembali ke apartemen miliknya.


Di umurnya yang menginjak 22 tahun, Amar sudah mulai menanjakan langkah kakinya dalam dunia bisnis yang tak kecil namun berskala besar. Dirinya bahkan telah mulai mengambil alih kuasa dalam kerajaan bisnis orangtuanya, jadi tak heran jika banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya tak beda halnya dengan Zita. Sungguh bodoh dirinya pernah menerima Zita menjadi kekasihnya seperti halnya kekasih kekasihnya dulu. Mereka memacari Amar hanya karena dirinya tampan dan juga kaya. Berbeda dengan Sasa yang bahkan tak pernah menuntut ini itu, minta ini itu yang membuatnya membuang banyak uang yang sebenarnya hal kecil baginya namun tetap saja pemborosan.


Sungguh Ia pernah menyesal sekali karena membuat Sasa kecewa dan sekarang dirinya tak akan mengulangi kesalahannya lagi. Cukup sulit baginya memenangkan hati Sasa kala itu, namun setelah lama ia bersabar akhirnya Sasa mau membuka kembali hatinya dan memberikan kesempatan bagi Amar untuk menjadi pengisi relung hatinya lagi.


***


Sasa merebahkan tubuhnya di sofa, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dan melihat notifikasi di ponselnya. Pesan dari Mala, juga Kak Ayas


Mala


'Hei, pacarmu itu sungguh terlalu posesif padamu walupun dia tampan'


'Ah, apakah kau tak apa'


'Dia tak memarahi dirimu lagi kan'


'Sasa?'


'Hei, balas pesanku'


Kak Ayas


'Kau tak apa'


'Amar tampak sangat marah tadi, kuharap dia tak menyakitimu'


Sasa tersenyum melihat kedua temannya memperhatikan kondisinya. Walau sebenarnya dirinya tak apa.


Ah, benar dirinya harus meminta maaf pada Kak Ayas karena membuatnya terluka di hajar Kak Amar yang pasti tak hanya sendiri.

__ADS_1


***Send Mala**


'kau terlalu berlebihan Mala , wajar saja Kak Amar posesif, aku ini pacarnya. walau terkadang aku juga kesal dengan sifat posesifnya haha*'


'Dia sempat marah namun akhirnya dia yang merasa bersalah'


'Besok akan ku ceritakan lagi'


***Send kak Ayas**


'Aku tak apa kak, kak Amar tak mungkin menyakitiku dia sangat menyayangiku'


'Sebelumnya aku atas nama kak Amar ingin meminta maaf padamu kak, karena Kak Amar memukulimu hingga terluka, aku sungguh minta maaf'


'Tolong maafkan aku dan kak Amar, terimakasih, dan aku minta tolong jangan dekati aku lagi, aku tak ingin kak Ayas terluka*'


Sasa menghela nafas berat lalu memilih untuk pergi beristirahat.


Sinar matahari tampak masuk melalui celah-celah lubang ventilasi juga celah pada tirai yang sedikit mengintip. Suara deru nafas yang awalnya teratur mulai terusik saat sinar matahari mulai mengenai netra cantiknya. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia terbangun dan terduduk di pinggir ranjang tempat tidur.


Sasa langsung berlari menuju pintu utama apartemennya dan membukanya dan benar saja bawah kak Amar tengah berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang sedikit menahan tawa juga memperlihatkan semburat rona merah di kedua pipinya. Tanpa basa-basi kak Amar pun memasuki apartemen Sasa lalu mendorong Sasa untuk masuk ke kamarnya.


"Cepatlah bersiap-siap jika kau tak ingin terlambat" ucap Amar dengan nada sedikit bercanda.


"Dan lain kali pastikan dirimu menggunakan baju yang sopan ketika membukakan pintu apartement mu untuk siapa saja"


...


"Aku tak ingin orang lain sampai melihat kondisimu seperti sekarang ini, lebih tepatnya aku tidak rela" lanjut Amar seraya membuang pandangan dari Sasa.


Sasa yang awalnya heran dengan perkataan Amar langsung tersadar dan melihat ke arah baju yang ia kenakan dan seketika semburat rona merah terlihat melintas di pipi Sasa, Sasa langsung mendorong Amar keluar dan menutup pintu kamarnya.


Sasa terus merutuki dirinya yang bertindak gegabah tanpa melihat kondisinya terlebih dahulu. Pantas saja wajah Kak Amar terlihat memerah ketika memandangnya. Dirinya hanya mengenakan kaos oblong tanpa bra dan juga celana pendek ketat yang bahkan tak terlihat karena tertutup kaos oblongnya yang oversize, dan jangan lupakan penampilannya yang yang nampak jelas orang yang baru bangun tidur yang pasti sangatlah buruk. sungguh Sasa merasakan malu luar biasa mungkin setelah ini ia akan merasa canggung ketika bertatap muka dengan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Jangan lah terus merutuki dirimu, cepatlah bersiap, sebenarnya kau tetap cantik walaupun baru bangun tidur, lebih tepatnya kau cantik dalam kondisi apapun" Ucap Amar yang mungkin tau keadaan kekasihnya di dalam kamar. Amar tersenyum mendengar tingkah kekasihnya itu.


"Tetapi walaupun kau cantik dalam keadaan apapun tetap jangan pernah mengenakan pakaian seperti tadi di hadapan orang lain karena aku tidak akan pernah mengizinkan nya, ingat baik-baik" lanjut Amar memperingati namun dengan nada yang sedikit menahan tawa.


Sasa yang mendengar perkataan Amar pun akhirnya bertambah malu lalu merutuki dirinya. "Iya-iya... dasar kak Amar menyebalkan" teriak Sasa dengan rasa kesal juga malu.


Amar yang mendengar teriakan Sasa pun akhirnya hanya bisa tertawa ringan lalu ia lebih memilih menuju dapur mini milik Sasa dan mulai menyiapkan sarapan untuk kekasihnya itu, karena Amar yakini Sasa pasti belum sarapan. Iya, dia yakin itu.


Sasa berjalan mendekati pantry karena mencium aroma harum dari coklat panas yang yang pasti Amar siapkan untuk dirinya. Seporsi roti panggang dengan selai kacang juga segelas coklat panas, dan jangan lupakan senyuman manis Amar yang melengkapi sarapan paginya hari ini. Sungguh hari yang sempurna jika semua dilakukan berdua dengan Amar menurut Sasa.


"Hmm sepertinya lezat" ucap Sasa terkekeh


"Terimakasih, hariku indah ketika diawali bersamamu" lanjutnya, dan dengan cepat Sasa mendekat ke arah Amar dan mengecup singkat ujung bibir Amar.


Amar sempat mematung dengan sikap agresif Sasa untuk pertama kalinya, dan seringai muncul di wajah Amar, dengan cepat Amar menarik Sasa lalu mengurungnya di sudut pantry.


"Sepertinya aku akan mengambil sarapan pagi ku lebih dulu" Ucapnya penuh makna, dan tanpa aba-aba Amar meraih tengkuk Sasa dan mencium rakus bibir Sasa. Sasa yang awalnya terkejut dengan aksi Amar akhirnya ikut terhanyut dan membalas setiap lumatan Amar pada bibirnya. Tangannya dengan refleks melingkar pada leher Amar.


Merasakan Sasa yang mulai kehabisan nafas Amar pun menghentikan Ciumannya dan menyatukan kening mereka berdua, lalu ketika pandangan mereka bertemu secara naluri Amar dan juga Sasa tertawa ringan menandakan mood mereka yang baik.


***


Setelah Amar mengantar Sasa sampai di depan gedung fakultasnya Amar pergi menuju gedung fakultasnya.


Amar berjalan santai menuju kelasnya dengan sikap dingin tak tersentuhnya.


Amar terus saja bersikap dingin dan cuek namun itu semua tak membuat para wanita berhenti mendekatinya walaupun mereka juga tau dirinya telah memiliki kekasih. mungkin dulu ia pernah melakukan kesalahannya dengan berkhianat namun dirinya berjanji bahwa dirinya tak akan mengulangi kesalahan yang sama, entah secantik dan sesempurna apapun baginya hanya Sasa lah seluruh Cintanya.


***


Terimakasih sudah membaca ❤️


jangan lupa tinggalkan jejak jika kalian suka, cukup klik like, fav, komen dan vote 😚

__ADS_1


bye bye..


__ADS_2