Jadi, Dia Atau Siapa?

Jadi, Dia Atau Siapa?
Episode 7


__ADS_3

Amar membawa Sasa memasuki mobilnya dan melaju pergi meninggalkan kampus.


Selama dalam perjalanan tak ada satu ucapan pun yang keluar dari salah satu sepasang kekasih itu. Mobil berhenti tepat di parkiran apartemen Sasa, Amar turun dan membuka pintu mobil untuk Sasa lalu menggandeng tangannya erat memasuki gedung bertingkat itu.


Setelah berhasil membuka pintu apartemen Sasa, Amar langsung menarik Sasa menuju kamar Sasa lalu menghempaskan tubuh mereka berdua di atas ranjang dengan Amar yang terus memeluk Sasa erat.


"Aku mencintaimu, sangat. Kau adalah segala-galanya bagiku" ucap Amar lirih namun dapat di dengar jelas oleh Sasa


"Aku juga mencintaimu kak, dan aku tak ingin kehilanganmu" ungkap Sasa membenamkan wajahnya pada dada Amar


Amar terus mencium puncak kepala Sasa. Sebenarnya Sasa sudah merasa sangat malu dengan tingkahnya di kampus tadi, sungguh itu adalah tindakan yang agresif di depan umum, namun dirinya seakan tak memiliki ide lain untuk menghentikan kekasihnya.


"Aku lelah, biarkan aku tidur sejenak" pinta Amar yang telah menyembunyikan wajahnya di sela ceruk leher Sasa.


"Hmm, tidurlah, aku akan menemani kakak hingga tertidur" tangan Sasa terulur mengusap kepala Amar lalu mencium puncak kepala Amar.


05.15 PM


Sasa mengerjapkan matanya beberapa kali setelah ia terbangun, lalu meraih ponsel di atas nakas dan menatap jam pada sudut layar ponselnya. Ini sudah sore, Sasa berusaha bangkit dari tidurnya, namun tangan kekar itu masih melingkar erat pada perut Sasa dan semakin mengerat.


"Kak, aku harus mandi, ini sudah sore"


"Buatkan aku makan malam, aku lapar" cicit Amar dengan suara serak


Sasa tersenyum lalu, mengusap kulit wajah Amar. "Baiklah, jadi lepaskan aku, aku harus mandi lalu menyiapkan makan malam"


Amar mengecup ringan leher belakang Sasa dan melepaskan pelukannya. Sasa bergegas menuju kamar mandi dan segera menuntaskan mandinya. Setelah Sasa, Amar bergerak memasuki kamar mandi. Sasa membuka lemari pakaiannya dan mencoba mencari pakaian yang sekiranya akan muat digunakan oleh Amar, dan pilihannya jatuh pada celana training hitam dengan logo centang serta kaos putih oversize miliknya yang memiliki gambar hati pada ujung bawah kaos. Sasa pun meletakkannya di atas ranjang dan segera berlalu menuju dapur.


"Apa yang sedang kau masak" tanya Amar sembari memeluk Sasa dari belakang dan meletakkan dagu di pundak dengan sedikit membungkuk.


Sasa sedikit terperanjat saat tangan Amar yang tiba-tiba memeluknya dari belakang dan berakhir di depan perutnya.


"Kak Amar mengagetkan ku" Sasa merasa sedikit kesal dan memukul ringan tangan Amar yang ada di depan perutnya.


"Aku sedang memasak pasta, duduklah di kursi pantry, jangan menggangguku kak" perintah Sasa yang berusaha melepas kaitan jari jemari Amar yang saling bersatu mendekap tubuhnya.

__ADS_1


Amar terkekeh geli dan melepas pelukannya


"Baiklah Chef, saya sungguh menanti masakan anda" canda Amar yang di balas sebuah anggukan anggun dari Sasa yang terlihat menahan tawa


"Minggu depan kak Amar akan wisuda, aku jadi tak senang mendengarnya" keluh Sasa setelah ia selesai meletakkan piring yang telah usai ia cuci


"Memang kenapa" tanya Amar yang memperhatikan setiap gerakan Sasa dari meja pantry


"Aku tak akan lagi bisa sering bertemu kak Amar jika begitu, bahkan tak akan ada lagi yang menungguku selesai kelas"


Amar meraih tangan Sasa dan menggenggamnya "Sayang, jika aku tak segera wisuda, lantas bagaimana aku akan mulai bekerja dengan serius agar kelak dapat menikahimu juga membagikan kamu" ucap Amar dengan wajah pias. Sasa yang awalnya ingin menangis lantas tertawa melihat ekspresi wajah Amar yang menurutnya lucu.


"Kenapa kamu jadi tertawa, apa yang lucu" tanya Amar heran


"Ekspresi kakak menggemaskan" senyum Sasa mengembang


"Berjanjilah padaku, kakak tak akan mengkhianatiku atau meninggalkanku" pinta Sasa


Amar memandang jauh ke dalam netra cantik kekasihnya, lalu menarik tangannya agar masuk ke dalam dekapannya


"Aku tak akan pernah melepaskanmu apapun yang terjadi, cukup sekali aku pernah melepaskanmu dan aku sangat amat menyesal, hanya kamu satu-satunya yang ku cinta dan selamanya akan tetap seperti itu, percayalah padaku, aku mencintaimu, sangat" ungkap Amar yang terus mendekap Sasa dengan sesekali mengecup puncak kepala Sasa.


***


"Selamat atas kelulusan mu kak" ucap Sasa tersenyum sembari menyerahkan seikat rangkaian bunga pada Amar


"Selamat lulus kak, akhirnya aku tak perlu melihat wajahmu lagi di kampus" cerca Mala dengan gayanya yang di buat-buat.


Amar hanya menatap datar Mala dan dengan segera merangkul Sasa dan mengecup pelipisnya singkat. "Aku sungguh heran denganmu sayang, kenapa kau betah sekali berteman dengan wanita bar-bar seperti itu" olok Amar dengan wajah datarnya


"Hei manusia es, yang ada aku yang heran dengan semua temanmu, kenapa mereka bisa punya teman sepertimu, bahkan aku heran dengan Sasa yang mau-maunya kembali bersama manusia es yang tidak ada manis-manis. olok Mala tak mau kalah


"Kalian, apakah kalian sungguh akan terus bertengkar seperti ini" ucap Sasa jengah


"Kekasihmu dulu yang memulainya" kesal mala, sedangkan Amar tetap diam memandang Mala malas.

__ADS_1


"Kak Ayas" seru Mala melambaikan tangannya pada Ayas. Ayas yang merasa terpanggil akhirnya mendekat lalu menatap ketiga orang yang sedang berkumpul.


"Selamat atas kelulusanmu kak" ucap Mala menjulurkan tangannya.


Ayas tersenyum tipis dan menjabat uluran tangan Mala


"Selamat atas kelulusanmu juga kak" ucap Sasa pada Ayas dan mendapat tatapan tajam dari Amar.


"Berhentilah menatapnya seperti itu, atau matamu akan keluar sebentar lagi" kesal Ayas pada Amar. Amar balik menatap tajam Ayas.


"Aku tak bermaksud ingin menghancurkan atau merebut Sasa darimu, aku mencoba merelakannya. Aku percayakan Sasa padamu, bahagiakan dia jangan membuatnya menangis, jika aku tahu kau menyakitinya lagi, aku tak akan mengalah lagi padamu" jelas Ayas menepuk pundak Amar


"Tak akan terjadi" ucap Amar mantab


"Akan ku pegang janjimu" lirih Ayas dengan sorot mata yang berusaha merelakan


"Aku akan terbang ke Amsterdam untuk melanjutkan S2 hukum ku, doakan aku agar menjadi pria sukses juga dapat bertemu dengan seorang tambatan hati" lanjut Ayas


"Semoga berhasil" ujar Sasa juga Mala bersamaan


"Good luck" ucap Amar tanpa memandang Ayas. Ayas tersenyum mendengar ungkapan Amar, setidaknya dirinya akan pergi tanpa membawa beban.


"Thanks everyone"


__________


Terimakasih sudah membaca ❤️


jangan lupa tinggalkan jejak jika kalian suka, cukup klik like, fav, komen , rating 5 dan vote 😚


like dan komen kalian sungguh bikin aku terharu dan bikin aku semangat nulis.. 🥰


dan jika mau, kalian bisa mampir ke ceritaku yang lainn... judulnya


'Barcelona I love you' & 'Endless love'

__ADS_1


Maaciwww


bye bye..


__ADS_2