Jadi, Dia Atau Siapa?

Jadi, Dia Atau Siapa?
Episode 8


__ADS_3

Sudah lebih dari 1 tahun setelah wisuda Amar berlangsung. Amar mulai sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan hingga menunda pendidikannya untuk melanjutkan S2. Namun sesibuk apapun Amar, Amar tetap berusaha selalu ada untuk Sasa. Ia juga masih aktif mengantar jemput Sasa ke kampus, juga sekedar menemaninya jalan-jalan melepas penat atau hanya menghabiskan waktu akhir pekan bersama di apartemen.


"Kau akan pulang bersama manusia es itu" tanya Mala santai sembari mengaduk-aduk jus jambu miliknya


"Kenapa kau suka sekali memanggil kak Amar dengan sebutan manusia es" Zeline balik bertanya


"Karena kekasihmu itu memang seperti manusia es yang dingin"


"Ah, sudahlah aku menjadi pusing jika memikirkan kalian bersamaan, pasti tak akan ada yang beres"


Mala terkekeh geli "Kau sudah mengajukan judul skripsi milikmu" tanya Mala


"Belum, rencana Minggu depan baru akan ku ajukan"


"Aku juga ingin mengajukan Minggu depan, tetapi aku belum menyiapkan kemungkinan apapun, mungkin aku akan mengajukannya akhir bulan ini saja" pasrah Mala


"Kau ada waktu luang setelah ini?"


"Tentu"


"Aku ingin ke perpustakaan kota, temani aku"


"Lalu setelah itu masakkan aku steak daging" ucap Mala menuntut sebagai bayaran untuk menemaninya pergi ke perpustakaan


Sasa memutar bola matanya dan terkekeh "Baiklah, akan ku masakkan steak daging yang lezat"


***


'Bruukkk'


"Ahh, maaf saya tak sengaja" ucap Sasa saat dirinya tanpa sengaja menyenggol seseorang yang tengah membawa tumpukan buku.


"Tak apa" jawabnya singkat


"Ini, maaf jadi jatuh semua" cicit Sasa sembari mengambil dan menyerahkan beberapa buku yang ia ambil dari lantai.


"Umm, ku bantu membawa, kau membawa terlalu banyak buku"


"Tak perlu, aku bisa"


"Akan kau bawa kemana?" tanya Sasa tanpa mau memperdulikan tolakan lelaki itu.


Lelaki itu tersenyum lalu menunjuk ke arah salah satu sudut rak buku.


"Terimakasih" ucapnya sembari meletakkan dan menata tumpukan buku yang ia bawa.


"Sama-sama, apakah ada lagi yang bisa ku bantu?" tanya Sasa


"Tak perlu, jika boleh tau siapa namamu?"


"Salsabila, tetapi semua orang biasa memanggilku Sasa" ucapnya tersenyum ramah


"Oke baiklah terimakasih atas bantuannya Sasa" lelaki itu tersenyum ramah


"Ka.."


"Sasa, disini kau rupanya, cepatlah. Apakah kau mendapatkan buku yang kau cari?" ucap Mala memotong ucapan Sasa.


"Udah kok, nih" Sasa menunjukan buku di genggamannya.


"Kalo gitu ayo, cacing di perutku udah mulai demo Sa" rengek Mala


Sasa terkekeh geli

__ADS_1


"Ya udah ayo" ucap Sasa merangkul lengan Mala


"Oh iya, aku duluan" ucapnya pada lelaki itu. entah siapa namanya, Mala telah menariknya menjauh.


08.15 PM


'........'


Suara bel apartemen Sasa berbunyi


"Mala tolong bukakan pintunya, lihat siapa yang menekan bel"


"Oke" ujarnya sembari bangkit menuju pintu dan membukanya.


Amar berdiri tegak dengan senyuman manis dan seikat bunga mawar yang telah ia beli sebelum menuju apartemen Sasa, setelah Sasa mengirimkan sebuah pesan ajakan untuk makan malam bersama di apartemen.


Bayangan akan makan malam romantis berdua, menghabiskan waktu bersama hingga larut malam, nyatanya semua tak sesuai harapannya.


Senyum yang ia persiapkan luntur seketika saat melihat siapa yang membukakan pintu untuknya.


"Kenapa kau ada di sini?"


"Kenapa kau kemari?"


Amar menggeram kesal "Minggir" dan berlalu melewati Mala yang masih berdiri di ambang pintu.


"Sayang, kenapa ada wanita aneh itu di sini? bukankan kita akan makan malam bersama?" ucap Amar


"Kita memang akan makan malam bersama Kak, bersama yang ku maksud adalah bersamaku, kakak dan juga Mala" ucap Sasa tanpa dosa.


"Sayang, tak bisakah kita hanya makan malam berdua" melas Amar


"Kak..."


"Baiklah-baiklah" Amar menghela nafas berat dan memilih duduk di sofa depan TV.


"Kenapa kau mengundangnya?"


"Memang kenapa?" tanya Sasa heran


"Kau ini!" Mala berdecih sebal


Sasa hanya tersenyum menanggapi ocehan Mala , ia sudah terbiasa mendengarnya. Sasa masih terus memilih menata makan malam pada meja pantry, sedangkan Mala hanya menonton dan mengamati setiap gerakan yang Sasa buat.


"Sa, aku ingin mengenalkanmu pada orangtuaku" ucap Amar di sela makan malam mereka.


Sasa dan Mala berpandang-pandangan.


"Umm, apakah kak Amar yakin, orangtua kak Amar akan menerimaku?" cicit Sasa


"Sayang, orangtuaku bukanlah orangtua yang kolot, mereka pasti akan menerimamu.. percayalah" yakin Amar


"Kapan? kapan kak Amar akan mengenalkan ku pada orangtua kakak?"


"Bulan depan, saat perayaan ulang tahun pernikahan kedua orangtuaku, aku ingin semua orang juga tau, bahwa siapa pemilik hatiku" senyum sumringah Amar tercetak jelas. Sasa ikut tersenyum bahagia melihatnya. Namun kekhawatiran tetap ada di sisi terujung relung hatinya.


Semoga, semoga saja semua akan berjalan baik.


***


"Baiklah aku pulang dulu"


"Aku juga Sa, sampai bertemu besok di kampus" ucap Mala

__ADS_1


"Setelah ini tidur, jangan begadang! love you sweetheart"


'Cup'


Amar mengecup bibir Sasa sekilas


"Good Night"


"Night" ucap Sasa sekilas dengan senyumnya.


"Kalian sungguh menyebalkan, Manusia es , cepatlah ayo"


"Kau ini yang meminta tumpangan tetapi gayamu seperti yang memberikan tumpangan"


"Sudahlah kak, cepatlah pulang, tolong antarkan Mala pulang juga kak"


"Kami pergi dulu" ucap Mala melambaikan tangannya sembari semakin melangkah pergi bersama Amar.


08.30 AM


"Pagi ma" sapa Amar saat mendatangi dapur dan melihat wanita cantik superheronya.


"Pagi sayang" balas wanita cantik yang disebut mama oleh Amar.


Amar mendudukkan pantatnya pad kursi pantry dan mengamati setiap gerak-gerik sang mama.


"Kenapa memandangi mama seperti itu"


"Tidak, hanya saja, aku jadi teringat dengan kekasihku yang cantik, dirinya terlihat seperti mama saat sedang memasak, masakannya bahkan tak kalah enak dari masakan mama" cerita Amar dengan leluasa


"Hmm, benarkah? mama jadi tak sabar ingin bertemu dengan kekasihmu, seperti apa orangnya, kenapa dirinya bisa membuat anak lelaki mama satu-satunya ini jatuh cinta" senyum terukir di wajah sang mama.


"Siapa ma yang jatuh cinta" sela seorang pria menghampiri meja pantry dan ikut menduduki kursi pantry.


"Siapa lagi kalo bukan si Amar pa" goda mama Amar.


"Ma....." rengek Amar, namun sang mama hanya tersenyum.


"Oh, benarkah? seperti apa dia? kenapa tak pernah kau kenalkan pada papa dan mama?"


tanya sang papa heran


"Nanti pa, pasti akan Amar kenalkan, Amar janji akan mengenalkannya saat acara ulangtahun pernikahan mama dan papa bulan depan"


"Baiklah kalau begitu" ucap sang papa


"Aku akan mengajaknya berdansa pada lagu pertama acara dansa" ucap Amar dengan setengah melamun


"Jangan melamun, dasar anak ini" tegur sang mama mencubit pipi Amar gemas


Amar dan sang papa hanya terkekeh geli


__________


Terimakasih sudah membaca ❤️


jangan lupa tinggalkan jejak jika kalian suka, cukup klik like, fav, komen , rating 5 dan vote 😚


like dan komen kalian sungguh bikin aku terharu dan bikin aku semangat nulis.. 🥰


dan jika mau, kalian bisa mampir ke ceritaku yang lainn... judulnya


'Barcelona I love you' & 'Endless love'

__ADS_1


Maaciwww


bye bye..


__ADS_2